
Atas saran Fandi semuanya masuk ke dalam mobil, satu mobil ambulan mengantar ibunya Fika.
Bisa jadi karena traumanya juga sejak Fandi mengatakan pendapatnya Anggontidka merasa tenang. Berulangkali kejadian dulu yang menimpa Pak Han terus membayanginya. Anggi tidak bisa tenang dan kini dia yang tampak tidak baik-baik saja.
Anggi duduk di samping Fandi, dia sudah beberapa kali terlihat meminum air, napasnya juga naik turun. Fandi tentu saja bisa langsung menebaknya, sekilas melihatnya saja dia bisa langsung tahu.
"Aku sudah menghubungi polisi tenang saja semua akan baik-baik saja!" Ucap Fandi menenangkan.
Perkataan Fandi tentu saja bisa didengarkan sekaligus oleh Yunita hingga tadi dia langsung mengintip ke arah Anggi yang duduk bersama Fandi.
Anggi masih berusaha yakin dan terus memaksa hatinya untuk tenang. Dia sudah menutup mata ketika mobil akhirnya mengawali perjalanan mereka. Sampai beberapa menit Anggi tidak berani untuk membuka matanya.
Sebenarnya bukan hanya dia sendiri yang merasakan trauma itu, namun juga Fandi. Bukan hanya Anggi yang ketakutan, tapi dalan kondisi seperti ini Fandi harus lebih waras dan memikirkan segala sesuatunya dengan tenang. Terutama hanya dia orang dewasa satu-satunya dan harus bertanggung jawab untuk keselamatan orang-orang.
Jika terjadi sesuatu dengannya, jika sampai insiden itu terulang lagi berarti selama ini yang membuat kekacauan, yang menyebabkan insiden kematian Kak Han adalah Edo. Anggi merasa tidak memiliki masalah dengan yang lain kecuali dengan Edo. Tiba-tiba saja pemikiran itu sepintas dia ingat entah kenapa Anggi berpikir seperti itu.
Ketika beberapa menit berlalu Anggi sudah mulai bisa mengendalikan diri, dia lebih tenang dan juga sekarang bisa mengamati jalan yang ada di depannya. Beberapa kali Anggi juga melihat ada mobil polisi yang mengawal mobilnya, itu sungguh membantu Anggi karena setidaknya dia tenang sudah merasa aman.
Anggi berbalik melihat ke belakang, kebetulan Yunita sudah langsung menatapnya. Fika tampak sangat lemas saat itu, mungkin baginya semua kejadian yang sudah dilalui membuat Fika benar-benar haru menguras habis tenaga dan pikirannya. Sangat tertekan sekali sampai-sampai Fika masih belum bisa mengatakan apapun sampai saat itu.
__ADS_1
"Beberapa mennit. lagi akan sampai!" Seru Fandi memberitahu pada orang-orang di dalam mobil.
Beruntung sekali Anggi memiliki akses kebebasan untuk semua aset yang sudah tertulis atas namanya, termasuk uang saku bulanan dan pendapatan perusahaan yang terbagi beberapa persen dari keuntungan ke Dalma rekening pribadinya. Meskipun dia tidak begitu dekat dengan sosok ayahnya, meskipun hubungan mereka tidak baik-baik saja, tapi ayahnya membiarkan hal itu diterima Anggi dengan baik terutama perusahaan yang sebetulnya itu adalah milik ibunya yang sudah meninggal.
"Pegang kartu ATM ini, kau jarus mengurus semuanya untuk ku. Dan maaf sekali tolong lakukan!" Pinta Anggi sambil menyerahkan kartu ATM di tangannya.
"Hei, sebagai saja jangan merasa sungkan. Aku senang melakukannya demi Fika dan Yunita juga!" Jawab Fandi.
Meski kenyataannya sangat jauh berbeda, Fandi dan Pak Han tidak sebaiknya dibandingkan terus, sudah saatnya Anggi menerima jika Fandi orang yang bisa dia percayai mulai saat ini.
Anggi meyaksikan sendiri situasinya, dia bisa menebak dan sekaligus merencanakan sesuatu.
Dia harus memastikan Fika selamat dan aman, kemudian Yunita dan terakhir adalah dirinya sendiri. Ada begitu banyak kesulitan nanti, mungkin dia juga tidak akan pernah menyangka. Entah akan seperti apa nanti bagaimanapun itu dia akan selalu mengabaikan yang terbaik untuk orang-orang terdekatnya.
"Itu milik Pak Han, aku menemukannya lagi di dompetku kembali. Dulu Pak Han memegangnya juga." Anggi memberitahu Fandi yang sebenarnya, tapi memang bukan maksud dia untuk membuat Fandi tersinggung.
"Terimakasih, setidaknya aku mulai bisa dipercayai kan?" Fandi mengatakannya dengan yakin.
"Ayah ku juga, jika dia tidak mempercayaimu dia tidak akan membiarkan mu tetap bersama ku kan?" Anggi kemudian mengatakan satu hal lagi yang membuat Fandi segera sadar kenyataannya. Dia tidak mengatakan apapun lagi, sudah lebih dari cukup dan Fandi merasa dia tenang bisa merasakan perasaan tenang setelah sekian lama.
__ADS_1
"Selanjutnya kau yang mengatur keuangan ku, termasuk belajar beberapa arsip dan catatan keuangan keluarga, kau harus belajar tentang bisnis dan sesekali mengambil peran ku di perusahaan." Anggi kembali menambahkan sesuatu di luar yang diharapkan oleh Fandi, padahal hanya sebatas ini saja sudah cukup baginya.
"Aku tidak mengharapkan lebih, aku hanya ingin aman dan tenang lalu Kakak ku di sana juga tenang setelah melihatnya." Tukas Fandi sembari menyetir mobil.
"Berapa lama lagi? Apa kita masih memerlukan banyak waktu untuk sampai di ruang sakit?" Tanya Anggi, dia sudah bosan duduk di kursi terus.
"Setidaknya hanya tinggal 10 menit perjalanan lagi." Jawab Fandi, kemudian dia juga mengintip ke arah Fika dan Yunita. Fandi sudah tahu tugasnya juga harus memastikan hidup mereka aman.
"Pak Han memiliki beberapa orang kepercayaannya, kau bisa bertanya pada ayah atau menunggu Ayah mengatakannya." Anggi memberitahunya sesuatu lagi. Fandi hanya menunggu Anggi sampai dia selesai bicara.
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian ya." Gumam Fandi yang masih terdengar jelas oleh Anggi saat itu.
"Kau harus belajar semuanya. Cari tahu sesuatu tentang Pak Han dan belajar dari caranya." Ucap Anggi. Sebelum Anggi mengatakannya Fandi sudah melakukan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh siapapun. Dia masih ingat dengan catatan yang belum selesai, rekaman cctv itu masih ada dan suatu saat setelah selesai Anggi akan melihatnya dan menyimpulkan sendiri.
"Jika ada sesuatu kau harus cepat memberitahu ku, aku tidak berharap harus menunggu dulu." Ucap Anggi di tengah-tengah pikiran Fandi yang baru saja memikirkannya.
"Tentu saja." Jawab Fandi singkat.
Tak terasa 10 menit tepat sudah berlalu. Beruntung perjalanannya lancar dan tidak ada kendala apapun. Ibunya Fika sudah di tempatkan di tempat yang paling aman di dalam rumah sakit dan sekarang waktunya Fandi untuk bicara, merencanakan kepulangan Fika dan Yunita.
__ADS_1
"Aku ingin melihat Ibu dulu!" Ucap Fika saat itu. Ketika berjalan dia sedikit sempoyongan. Dan wajahnya memperlihatkan jika Fika tidak baik-baik saja. Fandi segera mendekat dan memeriksanya sekilas, Fika syok beruntung dia masih bisa bertahan dan sadar.
"Kau juga harus menjaga diri mu sendiri untuk Ibu mu. Percayalah kali ini Ibu mu aman di dalam sana, semua sudah kembali seperti semula dan seharusnya, kau harus percaya jika semua masalah dan kesulitan sudah berakhir." Fandi berbicara meyakinkan Fika. Memang seharusnya seperti itu tapi entah mengapa Fika bereaksi lain, dia langsung menangis dan seperti masih menyimpan beban yang entah sampai kapan akan dia ceritakan.