
Tidak ada yang tahu siapa yang paling bersedih atas semua yang terjadi dengan keluarga, saudara kandungnya sendiri selain hanya keluarganya saja yang tahu. Jika ada yang melebihi dari rasa sedih mungkin itu bisa disebutkan untuk lebih tepatnya.
Fandi tidak pernah sedetikpun melupakan kejadian yang merenggut nyawa kakaknya sendiri. Semuanya terasa nyata di depan mata, sampai saat ini kejadian itu terus menghantui.
Fandi merasa gagal jika saja dia tidak bisa menemukan siapa pelaku yang membuat kakaknya meninggal.
"Astaga, kau bisa melihat berita yang tersebar di ***** mengapa masih saja videonya terkirim ke publik." Rendra masuk ke dalam kamar Fandi sambil berbicara.
Ketika Rendra melihat Fandi yang tertidur dengan laptop di sampingnya dia kemudian menjadi diam lagi. Matanya melihat ke arah laptop yang tentu saja bukan sesuatu yang asing baginya. Laptop milik Pak Han.
Tak lama tiba-tiba Fandi membuka matanya lagi, terbangun kemudian melihat Rendra sudah berdiri di depan pintu.
"Kau harus membawa Anggi ke luar negeri secepatnya." Ucap Rendra tanpa sebuah basa-basi.
Fandi terperanjat mendengarkannya. Rendra berjalan mendekat sambil menunjukkan foto dan video tak senonoh dari layar hp nya. Rendra terus memegang kepala dan sepertinya dia benar-benar sudah berakhir sekarang.
Fandi melihatnya ternyata foto dan video yang diunggah ke salah satu browser internet? Fandi terperangah kaget. Dia kemudian mengambil hp itu dan mengulangi videonya sendiri. Memang tidak terjadi apapun dari video yang berdurasi 5 detik itu, hanya seperti seseorang sedang merekam Anggi yang pingsan dan juga Fika tidak sadarkan diri.
"Besok kalian berangkat!" Serunya pada Fandi.
"Siapa yang melakukan itu?" Fandi balik bertanya dia masih tidak mengerti dengan situasinya.
"Astaga. Apa aku harus menjelaskannya." Gumamnya masih terdengar jelas oleh Fandi saat itu.
"Aku datang ke hotel karena dihubungi oleh seseorang. Mereka adalah para penjaga rumah dan mengatakan kau tengah merekam Anggi dengan seorang wanita lalu menyebutkan dengan sebuah ancaman kau akan menyebarkannya di internet. Tapi sayang sekali itu sudah terjadi." Terang ayahnya Anggi.
Fandi tidak berkomentar apapun, dia sangat syok dengan alur cerita yang dijelaskan oleh Rendra tadi. Terdengar Rendra menerima beberapa telpon saat itu, jelas saja reputasinya akan hancur dengan video seperti itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Rendra akan menyalahkan Edo dan mengakhiri hubungan mereka?
__ADS_1
Terdengar adik sekali jika Rendra akhirnya memutuskan hubungan keluarga yang tidak ideal itu. Adik untuk Anggi, tapi mengapa Edo harus merusak reputasinya juga? Apa Edo hanya main-main saja?
Fandi masih tidak percaya, kemudian dia langsung mengambil hp dan mengeceknya sendiri apakah benar berita tentang Anggi sudah tersebar di internet.
Ketika laman anonim itu dibuka ternyata unggahan yang dilakukan sekitar 2 menit yang lalu itu sudah dibanjiri dengan komentar-komentar tidak menyenangkan. Selain menyindir tentang gaya bebas anak sekolah, mereka memaki dan tidak tanggung-tanggung secara publik menyindir ayahnya Anggi tak lain adalah Rendra. Nama keluarga Anggi benar-benar dipertaruhkan saat ini. Apa.yanh akan dilakukan Rendra untuk mengatasinya?
Fandi masih tidak tahu dia harus berbuat apa sekarang yang pasti Anggi masih belum kembali ke rumah. Apakah Rendra tidak berusaha untuk menemukannya dulu? Mengapa Rendra hanya bersantai saja di sana?
Merasa tidak begitu nyaman Fandi kemudian keluar dari kamar, jika tidak ada orang yang peduli dengan Anggi kenapa dia harus tetap berdiam diri terus?
Fandi berjalan keluar rumah awalnya dia menunggu di depan pintu melihat ke arah gerbang yang bekuk juga menunjukkan tanda-tanda seseorang datang. Dia benar-benar gusar mengapa bagi Rendra Edo begitu berartinya lebih dari anaknya sendiri, sebenarnya apa yang dia harapkan dengan bersikap seperti itu?
Tidak ada yang bisa diharapkan dari semua orang, tentang ambisi Edo dia sampai tega melakukan hal semacam itu.
"Fandi!" Terdengar suara familiar memanggilnya.
"Kalian harus pergi ke luar negeri secepatnya, jika bisa nanti malam kalian pergi." Ucapnya pada Fandi.
Fandi melotot tidak percaya mendengarkan Rendra berbicara seperti itu.
"Demi kebaikan Anggi." Rendra mengatakannya lagi.
Dilihat Darii raut wajahnya Rendra nampak tidak baik-baik saja, tapi haruskah secepat itu dia pergi bersama Anggi? Lantas apakah dengan dia pergi bersama Anggi akan mengubah sesuatu atau menyelesaikan sesuatu?
Tak lama mengobrol tiba-tiba terdengar suara klakson mobil datang. Rendra cepat berlari memburu mobil itu dia mungkin tahu siapa yang datang.
Seseorang membuka mobil sambil membawa Anggi yang masih dipengaruhi oleh minuman atau obat, dia tidak sadar sepenuhnya.
__ADS_1
Fandi juga membantu membawa Anggi ke dalam rumah. Sebagai dokter tentu saja mudah baginya memberikan pertolongan untuk Anggi.
Mobil yang membawa Anggi tadi sudah pergi lagi. Heran sekali Rendra membiarkan kejadian besar seperti ini menimpa Anggi.
"Kau sudah melapor?" Tanya Fandi tak sabar mendengarkan Rendra bicara.
Rendra tak menjawabnya, dia fokus membaringkan Anggi di kasur lalu kemudian pergi dengan begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Fandi menghela napas. Sekarang semua alasan sudah dia dapatkan, semua keadaan ini mengharuskan dia dan Anggi pergi.
"Pergilah secepatnya!" Rendra menghamburkan beberapa kartu ke dekatnya. Termasuk sebuah hp.
"Hubungi aku melalui telpon itu, dan jangan biarkan Anggi kembali dalam beberapa tahun. Jika bisa dia juga harus menyelesaikan pendidikan di sana." Ucap Rendra secara tiba-tiba. Setelah menjelaskannya Rendra kemudian diam dan menatap dalam sekali ke arah Anggi.
Fandi tak mengerti itu. "Apa kau akan baik-baik saja?" Tanya Fandi.
Fandi menoleh menatapnya, sekarang lebih jelas bagaimana sorot matanya itu menjelaskan.
"Semua harta ku cukup untuk membuat Anggi sukses, tolong jangan biarkan dia gagal!" Ucapnya lagi terdengar seperti salam perpisahan. Apakah artinya Anggi sendiri tidak akan melihatnya lagi nanti?
"Aku akan tetap di sini dan baik-baik saja." Sambungnya.
Fandi bingung, dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh lelaki yang tidak muda lagi itu. Padahal kabar buruk seperti ini saja sudah bisa langsung menghancurkan hidupnya namun dia masih tetap tegar dan ingin Anggi pergi, seperti tidak ingin puteranya sendiri menyaksikan kegagalan atau hal apapun yang menjatuhkannya.
"Mobil akan menjemput sebentar lagi." Ucapnya kemudian keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun lagi.
Fandi hanya orang lain, dia bisa berbicara sebatas memberikan sebuah saran saja tapi tidak bisa memaksakan apa yang dia pikirkan tentang keluarga ini. Satu pilihan yang tidak bisa ditolaknya yaitu tetap pergi ke luar negeri dan menyudahi segala sesuatu yang masih tanda tanya di kota ini. Dia juga tidak ada tempat untuk pulang lagi selain menuruti apa yang dulu diucapkan kakaknya, yaitu untuk selalu bersama Anggi.
__ADS_1