
Pak Rendra tampak semakin gusar. Beberapa kali dia terus menghubungi orang-orang dari telponnya.
"Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Fandi saat itu, meski sebenarnya dia butuh beberapa waktu lagi untuk istirahat.
Padahal tadinya dia marah-marah dan berbicara kasar, sekarang sudah seperti orang yang kehilangan sesuatu tak berdaya. Pikir Fandi sepanjang dia berjalan bersama Pak Rendra.
"Kau bisa lebih cepat lagi, kita akan mencari Anggi!" Pak Rendra semakin tidak tenang.
"Serahkan semuanya pada polisi, aku benar-benar tidak berdaya lagi." Ucapnya pada Rendra sengaja dia berbicara seperti itu.
"Bagaimana dengan Anggi? Apa yang kau katakan kita tidak bisa hanya berdiam diri saja." Protesnya pada Fandi.
Mendengarkan hal itu Fandi segera menoleh dan melihat orang tua yang sedang merengek lagi di hadapannya. "Salah mu sendiri mengirim penjahat ke rumah, aku tidak bersalah apapun." Ucapnya pada Rendra.
Kemudian Pak Rendra tidak bicara apapun lagi, dia sekarang fokus berpikir dan menunggu dengan was-was. Setidaknya dia sudah cukup mengerahkan banyak orang untuk mencari Anggi.
"Kemana kau mau membawa Anggi tadi?" Tanya Fandi.
"Di luar ada ambulan, aku sudah menyiapkannya." Jawabnya.
Dua orang itu kemudian berjalan terus sampai akhirnya tiba di depan hotel. Bisa dilihat sekarang ternyata ambulan itu masih ada di sana, siapa lagi yang akan disalahkan untuk itu?
Fandi kemudian duduk, dia masih merasa sakit dan ngilu di seluruh tubuhnya.
"Periksa cctv hotel, minta seseorang untuk melakukannya dengan cepat!" ucapnya lagi seperti memberikan perintah pada Pak Rendra. Sedangkan dia harus beberapa.kalo duduk lagi karena seluruh tubuhnya sangat ngilu, sakitnya masih membekas.
Fandi kemudian masuk lagi ke dalam hotel dia menghampiri Rendra yang sedang mengadu, dia datang dan menjelaskan situasinya. Setelah dirinya bicara orang-orang kemudian menjadi panik.
"Apa yang kau katakan? Rencana pembunuhan?" Rendra mencela perkataan Fandi saat itu.
"Kau harus mengkhawatirkannya sampai pada masalah itu, memangnya apa yang akan dilakukan mereka pada Anggi?" tanya Fandi membuat wajah Rendra seketika berubah.
"Silahkan tuan, untuk rekaman cctv nya bisa dijelaskan waktunya secara detail!" Seorang petugas meminta agar Fandi bicara tentang waktu kejadiannya.
"Sekitar dari satu jam di hotel, kamar A303 lantai 5." Ucap Fandi.
Rendra seksi mendekat melihat dengan detail apa yang tampak dari rekaman itu. Kemudian apanyang diharapkan oleh Fandi benar-benar terjadi, bukti jika bukan dirinya yang melakukan itu, Fandi tidak melakukan apapun karena pelaku sebenarnya adalah para penjaga rumah. Itu hanya fitnah untuknya dan tidak lebih dari itu dia tidak bersalah sama sekali.
Sekarang Rendra bisa menyaksikan sendiri dengan matanya apa yang terjadi pada puteranya itu. Ada raut penyesalan yang membuat dia langsung menundukkan kepala.
__ADS_1
"Sudah terimakasih, aku harus cepat menghubungi polisi lagi untuk konfirmasi tindakan polisi." Ucap Rendra menghentikan orang-orang. Dengan begitu Rendra sudah mulai bisa percaya dengan Fandi. Sejujurnya Fandi sudah percaya dari tadi, namun dengan rekaman yang dia lihat sendiri hatinya semakin yakin.
"Kau sudah mengirim polisi ke rumah juga? Kau harus membereskan rumah itu dari awal. Di sana sangat banyak sekali kamera tersembunyi yang dipasang." Jelas Fandi.
"Sekarang yang lebih penting adalah Anggi." Ucapnya sambil beberapa kali menghubungi orang lain lagi entah siapa.
"Para penjaga itu tidak satupun dari nomornya yang aktif. Kenapa menjadi seperti ini?" Gumamnya kemudian. Tampak frustasi tentu saja seorang ayah merasakan hal yang tidak pernah bisa dirasakan oleh orang lain.
"Sekarang kemana kita?" Tanyanya pada Fandi.
Fandi kemudian melihat Rendra yang benar-benar sangat terpukul.
"Aku akan menyetir dan mencari Anggi juga. Mereka tidak akan pergi jauh jika kita tidak membiarkan waktunya terus berputar lama." Ucap Fandi. Dia berjalan ke area parkir mobil.
"Kita akan pergi bersama." Ucapnya pada Fandi.
"Baiklah. Semoga Anggi masih baik-baik saja." Gumamnya membuat Rendra langsung terlihat semakin panik.
Di dalam mobil Rendra terus saja menelpon orang-orang, dia memang cukup cekatan dan sudah setidaknya mengerahkan banyak personil polisi dengan uangnya itu. Lantas kenapa tidak dia lakukan juga pada waktu itu, jika saja dengan bantuan sedikit itu bisa membuat kakaknya hidup mengapa dia tidak melakukannya? Andai saja Kak Han masih hidup, dia akan berterima kasih sekali pada tuhan.
"Fandi masih fokus menyetir, di sepanjang jalan yang dia lalui tidak ada sedikit hatinya merasa curiga pada salah satu kendaraan yang terus lewat di depan matanya sendiri. Entah dimana Anggi, dia juga sangat khawatir dan sangat kasihan.
Di tengah-tengah menyetir Fandi seperti langsung diingatkan sesuatu lagi, dan penyebabnya adalah Fika.
Tentu saja orang sesungguhnya yang terlibat ada di balik Fika, sedangkan orang yang paling bermasalah dengan Anggi hanya Edo seorang, apakah mungkin jika Edo yang terlibat?
"Pak, maaf sekali ada yang ingin saya tanyakan tentang Edo." Ucap Fandi dia bermaksud ingin bertanya hal penting pada Rendra.
"Memangnya kenapa?" Jawab Rendra singkat.
Mendengarkan jawabannya langsung membuat Fandi bisa menyimpulkan apanyang terjadi, sebenarnya dia tidak butuh bertanya lagi karena pasti Edo sudah sangat lama mengenal keluarganya Rendra kecuali Anggi.
"Edo berteman dengan Anggi, itu sangat memudahkan mu untuk membuat keduanya akur ya!" Tiba-tiba Fandi berkata lain, itu hanya alibi untuk mengalihkan perhatian.
"Ah, itu. Benar sekali." Jawab Rendra singkat.
"Kau tahu rumah ya Edo?" Tanya Fandi kemudian.
"Tentu saja. Tapi kenapa tiba-tiba membahas tentang Edo?" Tanya Rendra mulai terpancing dan penasaran.
__ADS_1
"Wanita tadi dia adalah temannya Anggi." Fandi langsung memberitahunya, lebih tepatnya mengingatkan Rendra pada Fika.
Rendra terlihat kembali berpikir seperti sedang mengingat-ingat lagi. "Benar sekali, dia pernah ke rumah bersama Anggi." Seru Rendra setelah mendapatkan ingatannya itu.
"Fika dan Ibunya mengalami musibah, Edo sangat baik dengan memberikannya tumpangan. Fika berkata jika Edo memberinya rumah sewaan atas namanya." Fandi terus menjelaskan, dia bermaksud untuk melibatkan Edo pada masalah yang berlangsung sekarang.
"Dengan Edo?" Rendra langsung bereaksi seperti tidak percaya apa yang dikatakan Fandi.
"Edo memberinya fasilitas, dia sangat baik." Puji Fandi.
Rendra langsung terdiam seribu bahasa, dia tidak mengatakan apapun lagi saat itu, namun sekilas melihatnya Fandi sudah mengerti sesuatu jika saat itu Rendra sudah memikirkan apa yang dirinya pikirkan saat ini. Fandi tidak pernah ingin menuduh seseorang, tapi dia akan menunjukkan sendiri dengan caranya. Apapun itu kebenaran tetap harus diungkapnya.
"Anggi sangat ingin mengetahui dimana rumah Edo, dia akhir-akhir ini menyelidikinya bersama teman-teman." Fandi masih membahas hal yang sama.
Fandi langsung menatapnya cemas. Tapi masih tidak bisa mengatakan apapun saat itu.
"Fika mengalami sesuatu yang janggal, Anggi menebaknya sendiri dan mulai mencari tahu." Ucap Fandi masih terus berusaha agar Rendra bicara.
"Edo anak yang baik tidak mungkin dia seperti itu." Tapi perkataan Rendra langsung membuat Fandi mengerti sesuatu. Dia mengerti mungkin Rendra sednaag menyembunyikan sesuatu antara dia Edo. Tentu saja ada sesuatu diantara mereka, kesannya membela Edo berarti Rendra tidak bisa berbuat apapun, dia dikendalikan entah mungkin oleh Edo atau keluarganya.
Fandi ingat sesuatu hal ketika pesta makan malam, ucapan Rendra yang cukup tertarik dengan pamannya Edo, seorang pengusaha kaya pastinya. Apa karena alasan itu?
"Sekarang kita akan pergi kemana?" Tanya Fandi kemudian.
Rendra tidak menjawab dia tampak sibuk mengetik sebuah pesan untuk seseorang. Entah apa dia tidak tahu hal itu pastinya.
"Kita akan kembali ke rumah saja, tadi kau bilang perlu sekali untuk pergi kesana kan?" Rendra mengalihkan topiknya atau dia sedang mengukur waktu? Lebih tepatnya sedang mengulur waktu, lantas bagaimana dengan Anggi.
Fandi menghela napas dia sangat ingin tenang dari semua yang dia jalani dan yang dia ketahui sekarang. Pikiran itu sangat berat apalagi jika melibatkan Rendra sendiri dalam masalahnya. Fandi bisa menebak sendiri jika Anggi akan baik-baik saja, mungkin sekali masalah itu memang karena Edo dan atas pesan yang dikirimkan Rendra pada Edo tentang permohonannya sendiri untuk keselamatan Anggi. Bisa jadi seperti itu.
"Kita akan menyerahkannya pada polisi, kau sudah mengatakannya tadi kan." Ucapnya lagi membuat Fandi yang saat itu ingin pergi sendiri saja. Dia semakin muak dan tidak tahan hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat aneh ini. Jika dia memang menyayangi puteranya sendiri lantas kenapa dia melakukan sebuah hubungan dengan musuhnya. Sungguh skenario yang membingungkan.
Fandi tidak menjawab dan anggap saja dia sudah setuju, sekarang dia hanya ingin pulang ke rumah dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Anggap saja juga masalahnya sudah berakhir, tentang maslah sekarang sudah berakhir dengan dugaan pelaku utamanya adalah Edo. Namun itu tidak membuatnya cukup puas karena Fandi ingin tahu apa yang membuat Kakaknya meninggal dulu. Dia tidak berharap jika kejadian dulu dan sekarang bisa saja sama, rasanya ada sesuatu yang lain saja.
Tak lama setelah berputar-putar di sekitaran pusat kota, akhirnya dia kembali pulang ke rumah. Setibanya di sana Fandi melihat penampakan rumah yang masih sepi, pasti para penjaga itu sudah pergi dari tadi.
Fandi tidak harus khawatir lagi dan itu sudah cukup untuk hari ini. Dia sangat capek karena dipermainkan oleh orang-orang sialan tadi terutama oleh Edo.
Ketika kembali ke dalam kamar Fandi melihat laptopnya masih ada di sana, beruntung sekali tidak diambil tapi untuk apa juga mereka mengambil laptop itu itu artinya mereka tidak membutuhkan sesuatu atau barang-barang penting milik Kak Han, atau mereka tidak tahu jika laptop itu milik Kak Han.
__ADS_1
Fandi kemudian tidur di atas kasur lagi. Dia masih memikirkan tentang kakaknya itu, siapa yang terlibat dengan pembunuhan kakaknya, apa yang membuat Kakaknya meninggal.
Tak tahan dengan ingatan yang terus muncul membuat Fandi seketika merasa emosi yang menjadi. Andai saja dia sudah menemukan pelakunya dia tidak akan memberikannya ampun lagi.