Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Janji di warung depan sekolah.


__ADS_3

"Loh, Fika? Edo?" Yunita tampak tak percaya melihat Edo dan Fika sudah ada di dalam kelas.


Fika segera bangun. "Tadi aku sama Edo udah janjian datang ke kelas duluan, kita lagi membicarakan pelajaran sekarang yang akan diujiankan. Ini!" Fika menunjukkan sebuah buku di tangannya. Memang terlihat buku bahasa indonesia.


"Kamu kenapa gak bilang kalau mau belajar di kelas, aku sama Anggi bisa dari tadi nyamperin ke sini." Yunita tampak menunjukkan sikapnya yang merasa tidak enak.


"Sudahlah, kita bisa belajar bersama sekarang kan?" Tanya Fika. Namun kemudian mata Fika kembali menatap Edo seolah dia sedang meminta sebuah persetujuan darinya. Entah mengapa di mata Anggi itu adalah hal yang tidak biasa.


"Kamu juga belajar bersama kami kan?" Fika tiba-tiba bicara sambil menatap ke arah Anggi.


Anggi segera terperanjat. "Tidak. Kalian saja yang belajar di sini. Aku tidak perlu." Namun Anggi cukup tegas menolak.


"Oh, seperti itu." Ucap Fika.


"Kamu kok nolak-nolak gitu kalau lagi diajak baik-baik." Yunita tampak marah karena sikap Anggi.


"Biarkan Anggi memilih sendiri, Yun!" Ucap Edo akhirnya menghentikan.


Anggi benar-benar pergi saat itu, dia keluar dari kelas dan meninggalkan mereka bertiga yang kini masih di dalam kelas.

__ADS_1


Seharusnya Anggi tidak boleh bertemu Fika tadi, dengan begitu dirinya tidak melihat hal janggal dan mulai menerka-nerka seperti sekarang. Mau tidak mau gak itu bisa terus dipikirkannya sampai nanti dia pulang. Tapi Anggi sedikit terganggu dengan ucapan Fika agar dia menunggunya di warung depan sekolah, Anggi berpikir apakah harus pergi ke sana lebih dulu dan hati-hati, harusnya seperti itu dan dia tidak boleh terlihat oleh Edo kan?


Sepanjang langkah terus berjalan Anggi sudah berada di ujung sekolah lagi, di sana adalah kelas XII IPA, gerbang sekolah di kelas XII tidak cukup tinggi, bahkan dengan berdiri seperti itu Anggi bisa melihat pemandangan langsung di luar sana, sebuah lapangan luas sekali dan juga pohon kelapa berjajar di sana.


Tak terasa setengah jam lagi sudah hampir memasuki jam masuk sekolah, dia melihat anak-anak lain sudah berdatangan. Apalagi sekarang masih hari ujian kan mereka pasti datang lebih awal agar tidak terlambat, bisa patal jika sampai terlambat. Satpam yang tampak ramah juga bisa kembali menakutkan dalam satu detik, apalagi jika sudah memasuki 10 menit waktu setelah bel sekolah berbunyi dan seperti waktu itu.


Anggi mengingat kembali dimana dia sengaja keluar gerbang sekolah dan berlari menuju warung yang ada di depan sana, seharusnya Anggi tidak terlambat namun dia sengaja melakukannya karena melihat Fika yang tampak berlari sendirian kesiangan. Aneh sekali karena Fika tidak menyadari langkahnya saat itu.


Masih terasa singkat, waktu itu belum terjadi masalah yang tiba-tiba datang bertubi. Anggi merasa senang apalagi ketika dia tidak pernah menunjukkan diri di depan Fika, Anggi bisa senang karena dia hanya diam-diam saja melihat Fika. Namun ketika dia melakukannya, menemui Fika dan muncul lagi di depannya ternyata malah membuat suatu masalah yang tidak diharapkan.


Semua terjadi seperti kebetulan saja, Anggi tidak pernah menyangka jika Maslaah itu datang setelah dia mulai dekat dengan Fika, tampak semuanya seperti disengaja.


kemudian kedatangan adik Pak Han, Anggi selalu mengkhawatirkannya setiap saat. Dia paling tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Anggi tidak pernah berharap jika kejadian buruk kembali terulang pada Kak Fandi adik dari Pak Han. Bukan hanya Pak Han maupun Fandi, orang yang paling membuatnya khawatir adalah Fika.


Fika sudah melewati hal banyak yang mungkin lebih berat dari siapapun, saat ini Fika harus kehilangan ayahnya dan selang satu hari kemudian dia juga harus kehilangan aset rumahnya.


Setelah kejadian itu Fika mulai berubah, ada hal yang membuat Anggi tidak bisa mengerti dengan akal sehatnya. Fika berubah kemudian Edo benar-benar menunjukkan jika dia sekarang mulai terlibat dengan Fika, seolah Edo memang mengendalikan Fika.


Lamanya melamun tiba-tiba bel sekolah berbunyi, itu artinya dia harus cepat masuk ke kelas. Hari ini dia akan mengerjakan ujiannya, dan harus dipastikan jika gak itu menjadi nilai yang sempurna. Setidaknya Anggi akan melakukan sesuatu yang baru, hal yang tidak dia lakukan sebelumnya. Tidak apa-apa kan?

__ADS_1


Anggi tampak berjalan kembali menuju kelasnya, di sekelilingnya anak-anak lain berlarian cemas masuk ke kelas masing-masing.


Ketika memasuki kelas semua orang sudah ada di sana, dan termasuk pandangan mereka yang tiba-tiba memperhatikan Anggi ketika dia masuk ke kelas.


Anggi sempat mematung dan terperanjat kaget melihat tatapan orang-orang. Sesuatu yang terjadi lagi, karena kejadian di kelas matematika dia menjadi topik pembicaraan dan perhatian anak-anak lain. Sungguh tidak pernah diharapkan olehnya namun itu benar-benar terjadi.


Sampai Anggi duduk di kursi anak-anak masih memperhatikannya. Entah harus bagaimana Anggi hanya bisa terus tertunduk bingung.


"Selamat pagi anak-anak." Seru seorang guru yang masuk ke kelas.


"Pagi, Bu!" Ucap semuanya serempak.


Bersyukur sekali ternyata pengawas ruangan sudah cepat masuk, setidaknya Anggi bisa bernapas lega karena dia baru saja bisa menghindari tatapan semua anak-anak padanya saat itu.


Jam 08.10 WIB. Jam dimulainya pengisian soal-soal ujian kenaikan kelas. Seperti biasa kelas akan menjadi sangat hening karena semuanya fokus dan sudah memulai. Dan Anggi tidak terlalu tertarik dengan baca membaca, soal Indonesia yang selalu banyak berlembar-lembar hanya karena bacaan yang terlalu panjang. Anggi harus mengeluh kembali dan menarik napas, mengumpulkan semangat, lalau mengerjakannya dengan tepat waktu dan juga benar.


Tidak terlalu bisa fokus, Anggi terus sesekali menatap ke arah Fika di sana. Dia masih memikirkan ucapan Fika tadi, apakah dia harus pergi ke warung itu atau lebih baik jangan? Tiba-tiba bimbang, Anggi dikit jika Fika akan membatalkannya mungkin karena Edo tidak lagi mengantarnya pulang.


"Waktunya tinggal setengah jam lagi." Bak mendengarkan sebuah peringatan di ruang operasi, dokter yang terus sedang fokus memperhatikan waktu dan juga ketepatannya. Sangat menggetarkan hati dan kewarasan. Anggi masih menatap malas ke arah kertas yang selalu panjang dengan bacaan. Dia tidak bersemangat dan entahlah apakah dia harus mengakhirinya saja dan mengumpulkan kertas, atau diam dan biarkan saja.

__ADS_1


Anggi nampak mencari sesuatu, dia melihat ke arah Fika lagi. Namun akhirnya setelah beberapa menit dia baru sadar jika Yunita tidak satu ruangan dengannya.


__ADS_2