Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Tragedi mobil


__ADS_3

"Kau mau diam saja terus?" Fandi masuk ke dalam kamar Anggi, dia melihat Anggi yang masih tidak berangkat ke sekolah juga padahal sudah 5 hari berlalu.


Anggi menanggapinya cuek. Dia tidak melihat ke arah Fandi saat itu.


"Kau sungguh luar biasa sekali, kau tidak membutuhkan sekolah kan?" Ucap Fandi yang kemudian duduk di tepi kasur.


"Pergilah!" Ucap Anggi sambil berusaha menggeser badan Fandi agar turun dari kasurnya.


"Kenapa kau malas sekali!" Seru Fandi sambil berdiri.


Anggi masih tak menghiraukan saat itu, dia melihat Fandi yang menatapnya galak. Anggi kemudian berdiri dan berjalan cuek ke arah kamar mandi.


"Setidaknya kau harus mandi dan menyambut setiap paginya. Pergilah ke suatu tempat!" Ucap Fandi sengaja sedikit berteriak, tak peduli dia sengaja agar Anggi masih bisa mendengarkannya.


Fandi cukup penasaran mengapa kali ini dia bisa langsung berhadapan dengan seorang anak yang bahkan menjengkelkan seperti Anggi. Tidak bisa diatur dan yang paling penting dia meninggalkan sekolah cukup lama.


Tak lama Anggi sudah keluar dari kamar mandi. "Pakailah pakaian yang rapih, kita akan pergi ke sekolah!" Ucap Anggi.


"Sekarang?" Tampak syok Fandi tak percaya jika Anggi memintanya ke sekolah padahal sudah jam 10 siang.


"Kau serius?" Masih tak percaya.


"Cepatlah aku tidak ada waktu lagi!" Bentak Anggi mulai menggunakan cara simpel untuk sekedar merapihkan baju dma berangkat ke sekolah.


Fandi menggelengkan kepala, dia pergi ke kamarnya untuk mengganti baju seperti yang dikatakan Anggi. Padahal sudah siang, untuk apa ke sekolah membuat malu saja yang mengantarnya.


"Aku sudah siap!" Ucap Fandi dari luar pintu. Dia sudah tidak sabar dan melihat waktu yang terus berlalu bahkan sekarang sudah sekitar setengah jam berlalu.


"Kau benar-benar lama sekali!" Teriak Fandi dari luar.


"Sarapan!" Ucap Anggi membuka pintu, lalu dia kembali lagi ke dalam kamar.


Fandi menggerutu kesal, sebenarnya dia benar akan pergi ke sekolah atau mau kemana?

__ADS_1


Masih kesal Fandi masuk ke dalam kamar Anggi saat itu. Tampak semuanya sudah rapih, bahkan ada sarapan yang tersaji di meja. "Sarapan dulu!" Ajak Anggi sambil terus menyantap sepotong sandwich di tangan.


"Astaga kau masih ingin bersantai." Gerutu Fandi. Namun dia juga tidak melewatkan sarapan seadanya itu. Tidak peduli lagi yang sekolah adalah Anggi mengapa dia harus merasa kesal dan repot.


"Kita akan pergi ke sekolah, sebentar saja." Ucap Anggi mengejutkan.


Fandi berhenti dan mencerna kembali kata-kata Anggi. "Hanya sebentar saja? Kau mau apa?" Komentarnya tak mengerti.


"Kau seorang dokter kan? Bawakan aku surat rumah sakit saja atau catatan kesehatan. Aku tidak akan pergi ke sekolah selama seminggu." Ucap Anggi dengan santainya.


Ohok....


Fandi sampai batuk ketika mendengarnya.


"Kau tidak akan ke sekolah, seminggu? Benar-benar berandal." Gerutunya mengomentari sikap Anggi.


"Kau akan melakukan apa dengan tidak pergi ke sekolah? Memangnya kau berguna dengan tidak pergi ke sekolah?" Fandi masih menyerangnya dengan kata-kata. Tidak cukup hanya sekedar marah-marah, harusnya dia menyadarkan Anggi dan mulai serius belajar.


"Apa aku harus menulisnya jika kau ini benar-benar gila saja." Fandi sangat kesal. "Setidaknya pergilah ke sekolah, kau harus lebih pandai, mana mungkin bisa mendapatkan Fika jika kelakuan mu seperti itu." Sindirnya.


Mendengar nama Fika disebut Anggi langsung menoleh. "Memangnya perempuan seperti Fika akan menyukai ku?" Tanya Anggi terdengar polos.


Fandi langsung tertawa puas mendengarkan lelucon itu. "Dia tidak akan pernah menyukaimu yang seperti sekarang. Sudahlah lupakan saja wanita itu, kau akan menemukan yang lain setelah dewasa nanti kan." Celoteh Fandi. Namun Anggi menghiraukannya saat itu.


Anggi sudah siap pergi ke sekolah, dia sudah memakai baju rapih, tapi sepertinya dia tidak perlu memakai seragam kan?


"Aku ganti baju lagi!" Ucap Anggi.


Fandi langsung melotot padanya. "Kau masih belum beres juga?" Keluhnya padahal waktu sudah hampir jam 11 siang.


"Terserah, lakukan saja." Ucapnya. Fandi keluar dari kamar Anggi saat itu.


Ketika keluar dia cukup kaget karena di sana sudah ada salah satu penjaga rumah. Padahal tadi jelas-jelas dia tidak melihatnya berdiam diri di sana kan, tidak ada orang di sana tapi kenapa penjaga itu datang lagi?

__ADS_1


Tidak terlalu memikirkannya, Fandi berjalan ke arah kamarnya dan mengunci pintu dari luar. Tapi dia benar-benar mulai terjaga, ketika melihat dan sadar penjaga rumah itu ada di sana membuat pikiran Fandi mulai tidak tenang. Setidaknya penjaga harus selalu di sana, tapi dia merasa jika penjaga itu sedikit aneh.


Fandi mengintip ke arah penjaga yang sedang berdiri itu, namun seketika dia cepat mengalihkan lagi tatapannya bersikap seolah dia tidak menyadari sesuatu.


"Ayo kita pergi sekarang!" Anggi baru saja keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda. Fandi mengikutinya dari belakang. Dia harus pergi lagi tapi entah mengapa perasaannya sedikit merasa aneh.


Di sepanjang jalan dia melihat satu persatu wajah para penjaga di sana, harusnya rumah Anggi adalah tempat yang paling aman karena mereka bekerja untuk keamanan rumah. Tapi mengapa Fandi tidak merasa tenang jika lama-lama di sana.


Fandi harus menghapal wajah mereka semua, dia sadar sudah lalai dan melupakan sesuatu yang penting. Yaitu untuk tetap waspada.


"Kau lelet sekali." Teriak Anggi.


Fandi menoleh, dia melupakan sesuatu dan mungkin terlalu santai berjalan hingga Anggi harus meneriakinya seperti itu.


"Kau harus lebih sopan pada orang dewasa!" Ucap Fandi sengaja. Dia masuk ke dalam mobil, Anggi sudah duduk di sampingnya.


"Cepat nyalakan mobilnya!" Tegur Anggi.


Entah mengapa Fandi menjadi banyak berpikir sekali, kali ini sesuatu mengganggunya namun entah apa dan dia merasa jika ada sesuatu yang terlewatkan.


Matanya menatap kemudi penuh teliti. Padahal tinggal menyetir dan pergi seperti biasa tapi hatinya merasa ada sesuatu yang berbeda.


Dru mesin mobil terdengar. Anggi dan Fandi yang masuk dalam mobil biasanya sudah meninggalkan garasi dan masuk ke halaman rumah. Tapi sebelum sampai ke gerbang mobil tiba-tiba berhenti.


Beberapa.kali Fandi berusaha menyalakan mesin mobil lagi, tapi tidak ada yang terjadi.


"Yah, mogok lagi." Ucap Anggi kesal.


Anggi langsung keluar dari mobil sedangkan Fandi masih berusaha membuat mobilnya menyala padahal itu sudah tidak mungkin.


Ketika kakinya menginjak gas lebih dalam lagi tiba-tiba mobil bergerak sulit dikendalikan bahkan rem nya tidak bekerja. Dan akhirnya mobil harus menubruk gerbang rumah baru bisa berhenti.


Anggi yang berdiri di luar mobil tampak tercengang dan tidak bis berkata-kata. Kenapa dengan mobil itu? Padahal semua baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2