Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Keberuntungan, akhirnya.


__ADS_3

Anggi tak sempat menyelesaikan apanyang dia amati saat itu karena pintu kamar terdengar dibuka kembali dan Edo langsung keluar dari dalam begitupun dokter.


Edo masih berdiri di depan pintu melihat ketiga orang yang sedang menatapnya. Sebaliknya Edo tetap berekspresi santai seperti biasa.


"Fika kau sudah datang juga." Ucap Edo dengan kedua matanya yang langsung melihat ke arah Fika.


Anggi langsung berbalik melihat ke arah yang sama, begitupun Yunita dan kak Fandi.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya Fika sambil berjalan melewati ketiganya. Padahal jelas-jelas jika Anggi dan Yunita ada di hadapannya saat itu, namun seolah tidak melihatnya Fika langsung berjalan begitu saja memburu pintu dan masuk ke dalam kamar Ibunya yang dirawat.


Anggi mematung diam saja ketika Fika sudah pergi melihat kondisi ibunya bersama Edo. Mungkin tidak ada kesempatan baginya lagi, bahkan Fika sama sekali tidak menyadarinya tadi.


"Gimana nih?" Yunita langsung bertanya, bukan Hannya Anggi tapi dia juga merasa tidak nyaman dengan situasinya.


"Yasudah kita pulang saja lagipula Fika sudah datang." Fandi menjawab pertanyaan Yunita.


Yunita melihat ke arah Anggi yang masih diam saja, dia menunggu Anggi bicara dan keputusannya.


"Fika tidak akan kembali membuka pintu dan keluar dari ruangan sebelum kita benar-benar pergi. Kita pergi saja!" Anggi kembali menebak situasinya saat itu. Meski hatinya tidak bisa sabar lagi tapi dia masih harus menggunakan logikanya. Kedekatan Edo dan Fika bukan sesuatu yang biasa, dalam satu kondisi Edo juga merendahkan Fika bahkan mengatakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun. Harusnya Edo tidak seperti itu.


Ketika Anggi berbalik dan sudah akan pergi tiba-tiba suara mencurigakan terdengar dari arah kamar. Seperti suara keributan orang yang sedang bertengkar.


Anggi jelas mendengarkannya, dia melihat

__ADS_1


ke arah Yunita dan melihat bahwa reaksi Yunita juga sama sepertinya.


"Fika! Fika!" Teriak Anggi sambil beberapa kali mengetuk. Ketika dia sudah menarik kenop pintu tapi kemudian terlihat Edo di balik pintu.


"Jangan membaut keributan. Cepat pergi!" Edo tidak tinggal diam dia benar-benar terus menghalangi Anggi untuk bicara dengan Fika.


Beberapa detik mata Anggi tertahan balas menatap Edo yang juga melihat sinis ke arahnya. Kemudian tanpa ditebak ketika Edo lengah Anggi segera mendorong pintu hingga membuat Edo yang tanpa kendali langsung terjatuh.


Kini Anggi bisa melihat situasi yang ada di dalam kamar Ibunya Fika. Seperti yang sudah diduganya tidak ada yang baik-baik saja. Fika nampak gemetar dan snagat ketakutan, dia bahkan menangis sambil berusaha untuk menahan Ibunya yang terjatuh dari atas kasur. "Bagaimana bisa ibunya yang pingsan terjatuh ke bawah jika bukan karena seseorang yang sudah sengaja melakukannya." Batin Anggi.


Bukan hanya Anggi, Yunita, dan Fandi juga melihat langsung situasi yang ada di dalam ruangan itu.


Tapi ketika Anggi berjalan perlahan dia tidak tahu jika Edo kemudian mendorong tubuhnya sampai terjatuh dan menimpa tubuh Ibunya Fika secara tak sengaja.


"Maafkan aku." Ucap Anggi segera membenarkan posisi tubuhnya, dia juga membantu Ibunya Fika agar kembali ke atas kasur.


"Panggilkan dokter!" Ucap Anggi panik pada Fandi saat itu. Beruntung dokter yang tadi juga kebetulan akan kembali memeriksa ibunya Fika jadi Fandi tidak perlu susah payah untuk mencarinya.


Fika masih menangis, untuk beberapa saat dia masih tidak bisa diajak bicara tentunya, semua pikirannya larut dalam kesedihan yang mungkin sudah ditahannya beberapa lama ini.


Anggi tidak segan lagi, dia menarik tubuh Fika dan menahannya agar bisa tenang. Entah mengapa Anggi bisa tahu dan membayangkan bagaimana perasaan Fika saat itu. Anggi tidak pernah menyangka jika keadaan ibunya Fika bisa separah itu, pantas saja Yunita tidak bicara apapun tadi ternyata karena itu alasannya.


"Fik. Udah sabar ya. Yuk kita keluar dulu." Yunita menghampiri dan menggantikan Anggi memeluk Fika sahabatnya itu. Anggi menepi berdiri sejajar dengan Fandi.

__ADS_1


"Beruntung sekali tidak terlambat." Ucap Fandi lirih. Terdengar sebuah beban yang kemudian lepas dari pundak Fika. Tentu saja Edo adalah alasan Fika tidak bisa berbuat apapun. Beruntung karena sekarang Edo sudah pergi dari sana.


Ketika Fika terlihat sedikit sudah tenang, dia juga bisa meminum air yang diberikan Anggo saat itu. Meskipun keadaannya sudah berangsur membaik tapi Anggi yakin sekali bukan saat yang tepat untuk menanyai Fika.


"Aku syok sekali, ibumu, kenapa dengan Ibu mu?" Tiba-tiba Yunita bertanya dan langsung membuat Anggi bereaksi.


"Tenang, sekarang semuanya sudah baik-baik saja kan! Kau bisa bicara nanti tidak perlu terburu-buru. Yang terpenting ibu mu sudah aman dan Dalma perawatan." Anggi cepat menanggapi ucapan Yunita tadi. Dan dari pernyataannya berhasil membuat Yunita mengerti jika sekarang bukan saatnya untuk bicara atau bertanya apapun pada Fika, lihat saja kondisinya benar-benar dalam trauma yang tidak bisa pulih dalam beberapa menit.


Yunita melihat ke arah Anggi, seolah anyangan bicara saat itu bagaimana selanjutnya dengan Fika.


"Oh, ia. Fika Ibu mu sementara akan kami pindahkan ke rumah sakit yang lebih aman di sana. Jadi kau tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit ini lagi untuk menjenguk atau menemani ibu mu di rumah sakit." Anggi meredakan sedikit kekhawatiran Fika. Ketika Anggi bicara Fika langsung melihatnya dengan tatapan yang sangat ketakutan, bola matanya masih bergerak ke beberapa sudut dan mulutnya benar-benar terkunci untuk bicara. Fika tidak menjawabnya dia terus melihat ke arah Anggi dan pertanda itu jelas sekali jika dia sangat meminta tolong padanya.


Anggi tak percaya Fika di hadapannya benar-benar dalam kondisi yang di luar dugaan, Fika sangat tertekan sekali dan ketakutan.


"Aku akan membantu mu sebagai teman. Tenanglah, kau masih mempunyai Fika dan kak Fandi juga yang akan mendengarkan mu. Jangan khawatir!" Anggi kembali meyakinkan Fika, dia berusaha mengembalikan ras percaya Fika.


Yunita kembali menatap Anggi dengan penuh isyarat, sebenarnya Anggi belum menyelesaikan masalah lain, sekarang mungkin akan sulit bagi Fika untuk kembali pulang ke tempat yang sama. Lalu Fika akan pulang kemana?


"Untuk sementara dan sebaiknya kau tinggal di hotel dulu. Aku akan mengantarmu." Ucap Anggi. Tapi reaksi Fika Napak tidak setuju, dia langsung menundukkan wajahnya saat itu.


"Yun, apa Fika bisa tinggal sementara dengan mu?" Kak Fandi tiba-tiba bicara memperbaiki ucapan Anggi tadi. Dia lebih tahu alasan Fika tidak ingin pergi ke hotel lagi.


"Em. Tidak apa-apa kak lagipula Fika sudah sering datang ke rumah dari dulu. Tapi aku harus berbicara dengan bibi dulu." Jawab Yunita.

__ADS_1


Anggi sedikit merasakan sesuatu yang aneh, jika terbiasa Fika menginap di sana tapi mengapa Yunita harus bertanya dulu pada bibi nya?


__ADS_2