Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Fitnah yang diterima Fandi


__ADS_3

Fandi menyipitkan matanya menunggu jawaban yang akan dikatakan penjaga.


"Kau tahu sesuatu kan?" Fandi mendesaknya lagi.


Penjaga itu masih terdiam namun dari reaksinya Fandi bisa menebak sesuatu jika saja antara para penjaga dan seseorang ada sesuatu yang membuat mereka semua bekerja sama.


"Kau tak mengatakannya, sialan. Sebenarnya kalian bekerja untuk siapa?" Emosinya.


"Sekarang kau katakan, cepat katakan!" Paksa Fandi.


"Aku, aku tidak tahu. Aku hanya anak baru di sini." Jawabnya terbata.


"Apa yang kau katakan? Memangnya aku akan percaya?"


"Aku benar anak baru, lihatlah!" Sambil menunjukkan sebuah kartu tanda pengenal.


Fandi merebutnya langsung dan melihatnya teliti. Dia menghela napas dan melemparkan kartu itu. Sekarang dia menyetir lagi pergi keluar dari rumah, tidak peduli akan seperti apa nanti dia hanya memiliki satu jalan pasti yaitu pergi ke tempat yang disebutkan Fika.


Penjaga itu duduk seperti tikus tak berdaya, sekilas melihat ke arahnya membuat Fandi semakin emosi. Jika saja terjadi sesuatu dengan Anggi apa yang akan dilakukannya? Dia bertanggung jawab penuh dengan Anggi.


Fandi melihat kembali ke arah hp nya lagi, tapi niatnya itu kemudian diurungkannya tidak ada keberanian sedikitpun untuk menelpon ayahnya Anggi dulu, dia tidak ingin terjadi keributan dan membuat situasinya semakin kacau.


Tak terasa mobil terus melaju ke tempat yang disebutkan Fika. Hanya tinggal beberapa menit lagi Fandi sudah sampai di sana. Meski batinnya tidak begitu yakin, dari pada tidak berbuat apapun sama sekali dan keadaan tidak akan ada yang berubah.


Setibanya di hotel semua memang tampak normal saat itu, dia masuk ke dalam hotel dan menanyakan kamar yang diberitahu oleh Fika sebelumnya.


Ketika akan pergi ke kamar itu dia kembali meyakinkan hatinya dan bahwa tidak ada yang salah jika pergi ke sana sekarang.


Hanya tinggal berjalan sedikit ketika Tiba di lantai 5 hotel, Kamar paling sudut itu adalah kamar yang disebutkan Fika. Tapi batinnya merasa ada sesuatu yang salah di sana, dia tidak melihat apapun dan memang tampak normal, lantas untuk apa Fika memanggilnya juga?


Fandi tak bisa mengelaknya juga jika dia tidak ingin pergi kesana, namun sangat penasaran sekali dan dia ingin tahu apa yang membuat Fika menelponnya pasti karena sesuatu yang sangat penting.


Langkahnya mulai hati-hati, hingga ketika sampai di depan pintu dia berpikir lagi apakah memang perlu masuk ke dalam kamar? Membuka pintu dengan tangannya?


Langkah awal Fandi mencoba mengetuk pintu beberapa kali dari luar, dia tidak mendapatkan respon apapun kemudian dia mencobanya lagi. Tapi masih tidak ada respon juga. Tangannya mukai meraih gagang pintu kamar, lalu didorongnya dan siapa sangka jika pintu kamar itu bisa dibuka.


Fandi merasa panik dan berniat untuk kembali, tentu saja dia tidak ingin terjadi sesuatu dan lebih baik pergi lagi.


Ketika berbalik tak disangkanya lagi di hadapannya terlihat Pak Rendra Ayahnya Anggi yang juga berjalan ke arahnya. Seketika melihat pak Rendra berjalan di sana hatinya tidak bisa tenang, mengapa terjadi kebetulan seperti sekarang.


"Apa yang kau lakukan dengan putera ku?" Serang Pak Rendra berteriak padanya.


Fandi tidak mengerti sama sekali, dia hanya melongo mendengarkan Pak Rendra membentaknya seperti itu.

__ADS_1


"Sialan!" Pak Rendra semakin emosi. Spontan membuat Fandi melangkah mundur karena takut.


Beberapa orang penjaga tiba-tiba datang juga, Fandi semakin syok melihatnya kenapa para penjaga rumah datang bersama Pak Rendra.


"Kau ingin menghancurkan masa depan putera ku? Sekarang akui saja!" Pak Rendra sudah tiba di depannya dan tanpa di sangka para penjaga tadi sudah mengunci tubuh Fandi hingga dia tidak bisa berkutik sekalipun.


Fandi dibawa oleh para penjaga itu kemudian tampak Pak Rendra masuk ke dalam kamar begitupun dia bersama oara penjaga tadi.


Pemandangan kali ini lebih membuatnya tidak bisa bicara apapun. Di dalam kamar hotel terlihat Fika yang tidak sadarkan diri tampak tidak memakai sehelai kain pun dan yang dibalut selimut adalah Anggi.


Fandi melotot melihatnya, dia tidak pernah menyangka jika arti dari Fika menghubunginya adalah karena ini? Mengapa ahrus seperti ini.


"Aku tidak akan membiarkan mu menyebarkan video apapun, ingat sekali lagi kau tidak akan pernah bisa menemui putera ku lagi bahkan kau tidak bisa tinggal di manapun!" Ancam ayahnya Anggi. Tak lama setelah mengatakannya muncul beberapa perawat yang membawa tubuh Anggi saat itu.


Sedangkan Fika dibiarkannya seperti itu. Kemudian Fandi juga dibiarkan di kamar hotel itu dan semua orang pergi.


Fandi segera sadar dia berlari ke arah Pak Rendra secepat kilat.


"Tuan, apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak tahu apapun." Ucapnya. Tapi salah satu penjaga di sana langsung menahannya dan menutup mulut Fandi.


Fandi berusaha agar bisa lepas dari tangan para penjaga di sana, sekuat yang dia bisa kali ini perlahan namun pasti kenyataan lain mulai muncul di benaknya. Seseorang sudah membuatnya menjadi tersangka.


"Lepaskan dia!" Tiba-tiba Pak Rendra menghentikan langkahnya, kemudian seperti yang dikatakannya semua penjaga juga terdiam dan melepaskan Fandi.


Ada perasaan yang memberitahunya jika itu adalah satu-satunya kesempatan dia untuk bicara dan meyakinkan Pak Rendra, tidak akan ada kesempatan lagi baginya.


Fandi tampak menarik napas dan balas menatap Pak Rendra, dia sedikit mulai tenang dan berusaha agar lebih tenang lagi sambil berpikir apa yang akan dikatakan olehnya pada Pak Rendra sekarang.


"Saya. Saya memiliki bukti, ada sebuah bukti yang tidak diketahui oleh orang-orang seperti mereka. Saya tidak akan mencegahnya jika Bapak lebih percaya pada mereka, silahkan saja. Tapi bukti itu sudah cukup dan bisa membuat orang yang menyuruh mereka semua bertanggung jawab. Saya tidak takut meski tidak hidup lagi Saya akan menyeret dalang dari semuanya agar bertanggung jawab di hadapan Bapak." Ucap Fandi, entah dari mana kekuatannya itu berasal tapi dia bicara dengan sangat tegas dan meyakinkan.


Fandi bisa melihat bola mata Pak Rendra bergerak seperti mulai bisa memahami maksud dari pembicaraannya.


Tidak ada yang berkutik saat itu, Fandi bisa tahu wajah para penjaga itu sekarang ini. Semuanya tidak bisa mengatakan apapun atau membela diri. Tentu saja mereka akan saling pandang satu sama lain dan mulai goyah dengan ancaman itu.


"A-Apa yang kau katakan? Kau tidak bisa menuduh seperti itu. Memangnya kau tahu apa?" Seorang penjaga berbicara lantang kemudian dan mengalihkan perhatian orang-orang padanya saat itu.


"SATU." Ucap Fandi dengan santai.


"Kau memangnya tahu apa? Kau ingin menuduh kami?" Ucap yang lainnya.


"DUA." Ucap Fandi lagi.


"Sialan!" Seseorang tiba-tiba saja langsung melemparkan tinju ke punggung Fandi hingga membuatnya jatuh.

__ADS_1


"TIGA." Dengan sedikit suara yang bercampur dengan rintihan sakit Fandi mengatakannya.


"Sialan! Kau ingin membuat kami seperti bersekongkol dengan seseorang? Memangnya apa yang kamu ketahui hah?" Sambil menyerangnya dengan kata-kata lalu Fandi juga mendapatkan sebuah tendangan pada tubuhnya.


Benar-benar menyakitkan ketika semua orang memukuli badannya dan itu adalah kejadian pertama untuknya.


"Kau pikir bisa membela diri Hah? Kau pikir siapa dirimu?" Seseorang masih menyerangnya beberapa kali, dia tidak tahu berapa kali lagi pukulan yang akan diterimanya sekarang. Dan tanpa tanda-tanda akan berhenti Fandi meringkuk tubuhnya yang beberapa kali terus dikeroyok.


"Hentikan! Hentikan!" Teriak seseorang yang suaranya tidak cukup meredam orang-orang itu.


Kemudian 5 orang berlari dan segera melayangkan pukulan dengan tongkat satpam barulah orang-orang itu berhenti karena kesakitan.


"Kalian membuat keributan disini, cepat ikut kami!" Satpam-satpam yang bertubuh tinggi dan gagah menggiring orang-orang itu, para penjaga yang berhasil diamankan.


Dan orang yang memanggil mereka tak lain adalah Pak Rendra sendiri.


Fandi berusaha kembali untuk bisa duduk. Dia kesakitan sekali karena harus menerima amukan dari orang-orang yang tak tahu diri seperti mereka.


Matanya melihat ke arah Pak Rendra yang masih berdiri di hadapannya saat itu. "Aku ingin melihat buktinya, kau bisa menyerahkannya sekarang!" Ucap Pak Rendra padanya. Fandi mengerti dengan ucapan itu tapi dia tidak akan kesulitan hanya menyerahkan bukti rekaman Edo yang beberapa kali masuk ke dalam rumah kan, juga beberapa kamera yang sengaja dia simpan sebagai bukti.


Pak Rendra tampak tak ingin menunggu dan jangan sampai pikirannya berubah.


"Sekarang di rumah ada siapa?" Tanya Fandi pada Pak Rendra.


Pak Rendra balas menatapnya heran. "Para penjaga sudah kembali pulang sebagian ke rumah." Jawabnya membuat Fandi langsung berdecak kesal.


"Kau mengundang para penjahat ke dekat putera mu sendiri. Dan yang ikut mendampingi putera mu sekarang siapa?" Tanyanya lagi masih mengkhawatirkan Anggi.


"Para penjaga." Jawab Rendra dengan reaksi berbeda.


"Astag! Cepat kita cari Anggi!" Teriak Fandi.


Mendengarkan Fandi berbicara seperti itu Pak Rendra mulai berpikir jika ada sesuatu yang salah dengan semuanya. Entah apa yang terjadi tapi batinnya sendiri lebih memilih mengikuti Fandi dibandingkan dengan para penjaga tadi. Sebenarnya Pak Rendra sangat mempercayai Pak Han, karena alasan itu dia juga mempercayai Fandi. Tidak ada alasan lain dan yang terpenting sekarang adalah puteranya sendiri.


Fandi cukup kesulitan ketika ingin kembali berjalan. "Hubungi polisi sekarang, kita tidak bisa bertindak sendirian. Katakan untuk mencegah penculikan putera mu." Ucap Fandi masih beberapa kali dia meringis kesakitan. Fandi kemudian duduk di salah satu kursi tunggu.


"Kenapa kau malah duduk!" Rendra mulai protes.


"Hubungi saja polisi dan cepat kau pergi sendiri aku akan menelpon seseorang untuk datang." Jelas Rendra.


"Kau ingin melarikan diri?" Tanya Rendra cetus.


Fandi segera menoleh. "Astaga kau ingin nyawa putera mu benar-benar melayang." Ucapnya dan membuat Rendra segera terburu-buru menghubungi seorang polisi seperti yang dikatakan Rendra. Dia juga menelpon beberapa orang kepercayaannya untuk datang membantu.

__ADS_1


__ADS_2