Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

"Kau masih kecil kemana orang tua mu?" Tanya seorang wanita tampak seumuran dengan Ibunya.


Fika diam saja, matanya tampak gemetar takut. Saat melangkah mundur dia melihat dua lelaki dewasa tepat di belakangnya, hingga kakinya langsung berhenti. Fika mulai terjaga situasi saat itu tidak membuatnya nyaman. Seorang wanita berpakaian terbuka setinggi lutut keluar menemui Fika.


"Kau anaknya Bang Fahri?" Tanyanya pada Fika.


Fika langsung menoleh mulai menatapnya serius. "Ayahku dimana?" Tanya Fika masih memperlihatkan ketakutannya.


Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaannya, dia sedikit tersenyum ketika melihat Fika kedua kalinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Seorang lelaki tiba-tiba menerobos masuk dan memegangi tangan Fika, sampai keduanya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang tadi.


"Anggi?" Ucap Fika. "Kau mengikuti ku?" Tanya Fika.


Anggi tak menjawabnya. "Cepat baiklah!" Anggi membuka pintu mobil meminta Fika untuk segera naik. Tentu saja itu adalah mobil miliknya.


Fika tampak canggung berdiri ragu-ragu. "Kenapa kau_" Belum sempat beres mengatakan maksudnya Fika sudah didorong masuk oleh Anggi hingga dia masuk ke dalam mobil.


"Antarkan kami pulang!" Ucap Anggi pada supirnya.


"Kau mengikuti ku dari tadi?" Fika masih penasaran dengan jawaban yang akan dikatakan Anggi.


"Yunita menyuruhku mengikuti mu, dia khawatir." Jawab Anggi asal. Kali kedua dia berbohong.


"Pak tolong turunkan aku di depan ya!" Tiba-tiba perkataan Fika membuat Anggi membulatkan matanya. Dia tak percaya apa yang dikatakan Fika. Namun Anggi tidak mungkin membuatnya terus bicara dan menjelaskan apa yang tidak ingin dikatakan olehnya. Anggi diam saja sampai mobil benar-benar berhenti.


"Fik." Ucap Anggi.

__ADS_1


"Terimakasih ya, aku pamit dulu mau berputar-putar sekitar tempat ini." Jawaban Fika membuat Anggi tak berkutik.


"Hati-hati." Ucap Anggi.


Mobil sudah berlalu lagi sedangkan Fika masih berdiri di belakang. Anggi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya, mengapa Fika senekat itu mendatangi tempat-tempat yang seharusnya tidak dia datangi juga.


"Kau ingin tahu siapa orang tua dari anak tadi kan?" Ucap supirnya sambil menyerahkan hp yang di dalamnya terdapat beberapa foto keluarga Fika.


"Lihat, itu adalah ayah dari anak tadi. Apa sekarang kau ingin tahu dimana ayahnya?" Tanyanya pada Anggi.


Anggi tampak menghela napas, pikirannya tidak begitu baik setelah cukup kecewa karena Fika tidak bisa mudah menerima apapun yang diberikannya, entah itu adalah hal kecil sekalipun atau sesuatu yang tidak berarti.


"Kita akan pergi ke tempat ayahnya sekarang!" Ucapnya. Anggi tak menjawab apapun dia masih duduk tenang di dalam mobil.


"Kenapa kita ada di komplek perumahan ini?" Tanya Anggi.


Tidak ada yang aneh dari sepanjang jalan, pemandangan orang-orang sibuk dengan kehidupan mereka. Ada sisi iba antara perasaan yang terpendam di hati Anggi saat itu. Tentu saja dia tidak merasakan bagaimana bisa hidup bersama dengan Ayah dan ibunya.


"Di depan sana, itu adalah ayah Fika." Terang supirnya.


Anggi langsung membulatkan mata, seolah menjadi Fika hatinya juga merasakan sakit setelah melihat pemandangan itu. Sebuah keluarga lain yang terjalin di sana, artinya ayah Fika memang mempunyai keluarga lain di komplek perumahan ini, mungkin itulah alasannya mengapa Fika dan ibunya sampai terlantar.


"Kau sangat peduli dengan anak gadis tadi, apa kau mau aku bisa melakukan sesuatu untuk keluarganya." Tawarnya.


Anggi cukup merenung, entahlah apa yang bisa dia pilih untuk Fika. Apakah lebih baik dia berterus terang tentang keluarga ayahnya di rumah ini, atau menemui ayahnya dan berbicara bersama lalu membujuk agar bisa kembali.


Mustahil, Anggi tidak bisa sejauh itu mencampuri urusan orang lain terutama urusan Fika.

__ADS_1


"Kita kembali saja. Pindahkan saja dia ke kantor lain atau berhentikan saja!" Ucap Anggi tampak kesal. Benar, tidak ada salahnya meminta solusi seperti itu. Lagipula ayah Fika sudah lama mengabaikan keluarganya dan memilih hidup bersama wanita lain di tempat ini.


Supirnya tampak tersenyum. "Lalu dengan anak gadis tadi?" Tanyanya sengaja.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan, kau mengejekku dari tadi. Dia tidak menyukai ku." Bahkan setengah berteriak Anggi bicara pada supirnya itu. Namun apa yang terjadi hanya sebuah tertawaan renyah yang dia dengar sebagai balasannya.


"Aku bisa membuatnya pergi ke luar negeri juga." Ucapnya sambil memandangi Anggi serius dari balik kaca.


Anggi termenung lagi, dia sudah melakukan kesepakatan itu kali ini tidak ada sebuah alasan yang membuatnya tidak bisa pergi ke sana.


"Kau akan bahagia bersamanya di sana, tak perlu khawatir aku bisa melakukan hal seperti itu." Sebuah tawaran yang menjanjikan, namun tidak membuat Anggi begitu puas. Bagaimana bisa dia membuat orang lain suka atau jatuh cinta dengannya, jika dengan cara yang tidak murni.


"Tidak perlu. Tenanglah aku akan menepati janjiku!" Tegasnya tampak tidak ingin berbasa-basi lagi.


"Anak gadis tadi pasti begitu istimewa, beruntung sekali karena bisa disukai oleh tuan. Pasti kau sudah menyukainya sejak lama kan?" Sebuah obrolan, rasa kepo supirnya.


"Kau tak perlu tahu sudahlah." Anggi tampak frustasi saat itu, dia juga tidak mengerti mengapa bisa menyukai Fika selama itu. Dia tidak tahu apakah rasa cinta itu harus hadir dengan alasan karena dia juga menyukai Fika tanpa alasan. Dan entah sampai kapan.


"Tuan, sebenarnya sekarang adalah hari kematian mendiang Ibu mu. Apa kau mau pergi ke pemakaman?" Tanya supirnya mengingatkan.


"Aku tahu, tapi biasanya di sana ada seorang lelaki yang sudah lebih dulu datang selain aku, dia selalu datang dan akan terus datang sampai sepekan." Jawab Anggi. Dia membayangkan bagaimana ayahnya saat itu datang ke pemakaman mendiang Ibunya. Di sana dengan mata kepalanya sendiri Anggi menyaksikan rasa cinta ayah yang begitu tulus untuk ibu, bahkan cintanya tidak selesai meski mereka sudah terpisahkan lama, tentu saja setelah kelahirannya sekaligus hari kematian untuk ibunya sendiri.


"Kau juga berulang tahun hari ini. Meski kau membencinya aku akan menyerahkan sesuatu untuk kau simpan." Ucap supir itu.


Anggi masih diam saja dari tadi, sebenarnya dia sangat benci dengan kelahirannya sendiri, bahkan Anggi tidak bisa begitu dekat dengan ayah, kelahirannya sudah membuat keluarga ini hancur sejak lama, karena ayah tidak bisa hidup tanpa ibu sedangkan dirinya tidak bisa hidup dengan rasa bersalah.


"Itu sudah lama sekali, tuan sangat menyayangi mu mulai saat ini. Percayalah!" Ucap supirnya berusaha meredakan luka lama yang tidak akan mudah bisa dilupakan oleh anak kecil bahkan ketika dia sudah berusia dewasa.

__ADS_1


__ADS_2