
"Kau masih memikirkan Fika?" Terdengar suara yang kemudian membuyarkan lamunan Anggi saat itu.
Tepat di balkon gedung lantai 20, suasana langit sesudah salju turun dan mereda, angin yang berhembus masih membuat tubuh menggigil. Anggi masih berdiri di sana menatap luas ke arah pemandangan kota yang hanya terlihat hingar bingar lampu warna-warni di sepanjang kota.
Anggi berbalik pelan melihat Yunita berdiri di depan pintu masuk.
"Kau menebaknya benar." Sambil sedikit tersenyum Anggi bicara.
Yunita masih melihat sosok lelaki yang sama 4 tahun lalu, termasuk perasaannya yang tidak pernah berubah sama sekali. "Kenapa waktu itu kau pergi? Harusnya kau temui Fika dan tetap menahannya. Atau kalian pergi bersama saja." Yunita terdengar kesal sekali, itu memang unek-unek yang dia simpan selama ini. "Karena kau seperti itu, jangan salahkan sekarang jika Fika pergi." Padahal mulut Yunita terasa kelu dan tak tahan ingin menangis ketika mengatakannya. Dia yang paling kehilangan, dia yang paling dekat dengan Fika sahabatnya itu.
Anggi tertunduk tak berdaya sekali. Dia juga sudah lama berpikir mengapa dia pergi meninggalkan Fika dengan cara seperti itu.
"Tolong jangan melarikan diri terus. Aku pun ingin tahu dimana Fika dan bagaimana kabarnya. Dia pasti benar-benar hancur saat itu." Tak tahan kemudian Yunita terisak. Air matanya mengalir deras, sebuah tangisan yang sudah dia tahan selama 4 tahun ini.
Anggi melihat tangisan Yunita tapi entah mengapa hatinya sangat kosong dia bahkan tak mengerti harus bereaksi seperti apa. Nalurinya sendiri membawa Anggi segera mendekat ke arah Yunita dan menahan tubuh mungil Yunita dalam pelukannya. Dalam kondisi seperti itu meski dia bersama wanita lain tapi pikirannya selalu bergelut tentang Fika.
"Aku akan cari Fika. Tenanglah!" Tiba-tiba Anggi mengatakannya.
Yunita berhenti dan melepaskan diri dari dekapan Anggi, dia menatap mata Anggi yang kini memperlihatkan keyakinannya itu, Anggi benar-benar akan pergi seperti yang dia katakan artinya dia akan kembali pulang ke tanah air.
Tapi tangisan haru Yunita masih tidak bisa tertahan, akhirnya sebuah cara tak terduga ini bisa membuat Anggi pulang dan kabar baik ini akan dia bicarakan bersama Kak Fandi nanti.
"Kak Fandi memang sudah merencanakan kepulangan kami. Tapi sekarang aku merasa berhutang karena kau membuat aku harus mencari Fika. Kau juga harus pulang bersama ku!" Sebuah pernyataan Anggi sekaligus ajakannya agar Yunita pulang bersamanya juga.
Yunita malah mematung bingung, dia tidak pernah menyangka nya jika Anggi akan mengatakan hal itu. Apa yang akan dia jawab apakah setuju atau tidak?
Ketika Yunita akan menjawab namun Anggi kembali bicara menghentikannya.
__ADS_1
"Tenanglah, masalah kampus mu Kak Fandi akan mengurusnya. Kamu jangan khawatir." Ucap Anggi kedua kalinya membuat Yunita benar-benar tidak bisa menolaknya.
"Cepatlah kembali ke kamar apartemen mu, di sini dingin sekali." Sebelum Anggi pergi perkataannya menyadarkan Yunita.
Yunita yang masih tidak bisa berkata-kata, dia mematung di sana dan melihat dengan matanya sendiri ketika Anggi turun ke arah tangga menuju lift di bawah. Yunita masih enggan turun, dia berusaha mencerna kejadian kali ini dan meyakinkan hatinya jika hal itu bukanlah mimpi semata. Dia benar-benar masih tidak percaya.
Di tengah hatinya yang bingung Yunita langsung terpikirkan Kak Fandi dia segera meraih hp nya dan menelpon Kak Fandi.
"Kak, aku ada di atap lantai 20. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucapnya cetus tanpa basa-basi. Tapi kemudian Fandi juga langsung menyetujuinya.
Yunita masih berdiri di sana padahal anginnya benar-benar dingin sekali, tapi dia harus tetap menunggu Fandi untuk datang.
Tak lama Fandi sudah tiba di sana.
"Kau sendirian, di sini?" Ucapnya tak menyangka ketika dia langsung melihat Yunita masih berdiri di sana.
"Kak, akhirnya Anggi setuju!" Ucap Yunita masih dengan ekspresi yang sama.
Fandi cukup tercengang mendengarnya, dia bisa langsung mengerti apa yang dikatakan Yunita saat itu. Artinya Anggi setuju untuk pulang.
"Kau hebat sekali! Kau benar-benar hebat, astaga!" Saking senangnya tanpa sadar Fandi memeluk Yunita sebagai ucapan terimakasih dia terus tersenyum senang larut dalam suasana keduanya.
Kali ini Yunita merasa bisa melupakan kegembiraan tadi, ternyata dia tidak bermimpi, dia bisa melakukan sesuatu yang sulit dan tak menyangka dengan cara spontan seperti tadi bisa membuat Anggi setuju untuk pulang.
"Tapi aku tidak lama di sini." Rengek Yunita kemudian. Benar saja dia baru datang ke Korea padahal untuk sampai ke negeri impiannya itu cukup perjuangan yang panjang dan melelahkan.
Senyum Fandi berubah melihat Yunita yang langsung murung dan merengek tentang liburannya.
__ADS_1
"Padahal baru pertama kali ini aku bisa pergi ke luar negeri, tapi harus pulang." Ucapnya.
Fandi mulai mencerna kata-kata Yunita dia paham artinya Anggi akan pulang begitupun Yunita.
"Kau harus pulang juga?" Tanya Fandi menebaknya.
"Anggi ingin seperti itu, bagaimana bisa aku pulang dalam waktu yang singkat tanpa menikmati sedikitnya sudut kota di sini." Ucapnya dramatis.
"Astaga kau kasihan sekali. Kenapa tadi kau setuju untuk pulang? Itu salah mu sendiri." Ucap Fandi.
Yunita langsung menatapnya kesal, dalam hati dia mengatakan jika dirinya saja tak menyangka bahwa Anggi tiba-tiba mengajaknya pulang dan dia tidak bisa menolaknya.
"Aku batalkan saja." Ucap Yunita kesal.
"Eh. Mau pergi kemana? Tenanglah! Besok kita akan jalan-jalan." Fandi tiba-tiba menawarkan sesuatu yang sangat menarik untuknya. Yunita langsung tersenyum senang mendengarkan ajakan itu, setidaknya dia harus menghabiskan satu hari untuk keindahan di kota ini. Dia ingin berbangga hati karena bisa sampai di sini lalu mengambil Poto dengan puas.
"Berhenti terus tersenyum-senyum sendirian, kau masih waras kan?" Tegur Fandi segera menarik kembali kesadaran Yunita.
Mendengarkan Fandi berbicara seperti itu membuatnya judes lagi.
"Ingat, besok kita jalan-jalan kan!" Godanya menghentikan sikap judes Yunita dan berakhir dengan senyum keduanya.
Tanpa mereka sadari dari tadi, sikap akrab keduanya, dan renyah tertawa kebahagiaan disaksikan oleh Anggi dari bawah tangga. Mereka tidak sadar jika Anggi terus memperhatikan keduanya. Karena Anggi tak ingin mengganggu jadi dia kembali lagi untuk pergi tanpa menggangu keduanya di sana.
Padahal dia berencana untuk mengajak Yunita pergi bersama, tapi rupanya Fandi sudah mendahului. Tidak Maslaah bagi Anggi, siapapun yang pergi bersama Yunita apalagi Fandi itu tak masalah, anggap saja dia sudah berhasil melakukan rencananya. Anggi tadi sempat berpikir ingin mengajak Yunita karena dia merasa sedikit bersalah tidak memperhatikan perasaan Yunita, pasti Yunita tidak bisa menolak ajakannya padahal dia sendiri ingin menghabiskan waktu dalam kesempatan yang mungkin cukup susah payah dia usahakan.
Anggi sudah masuk ke dalam lift, dia tidak akan menelpon Fandi dulu meski sekarang dia berniat untuk tidak langsung pulang. Anggi akan mampir ke supermarket dan membeli beberapa makanan juga minuman di sana. Mungkin jika Fandi mencarinya dan menelponnya baru dia akan memberitahu Fandi.
__ADS_1
Sepanjang jalan di dalam lift bayangan yunita yang sangat senang seperti tadi terus terpikirkan olehnya, membuat dia teringat sesuatu ketika dirinya, Yunita dan Fika bersama. Pasti kebahagiaan sederhana selalu terjadi di depan mata Anggi. Tapi persahabatan tak bertahan lama, dia yang sudah sangat bersalah membuat keputusan seperti itu, dia benar-benar melarikan diri dan tidak peduli dengan Fika. Kesalahannya ini sangat fatal dan Anggi sangat menyesal. Sekarang perasaan takut akan terus menghantuinya, dia takut jika tidak sampai menemukan Fika nanti. Apa yang akan dilakukannya jika seperti itu?