Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Sesuatu yang berbeda


__ADS_3

Juni 2014, 08.00


Semburat merah warna jingga mengakhiri hari Senin yang sengaja Anggi lewatkan. Dia tidak pergi ke sekolah sejak pagi, Anggi kembali membaca bukunya hingga waktu sudah berganti singkat.


Tidak mudah bagi Anggi untuk mengembalikan kewarasannya menjadi normal lagi. Biasanya dia melupakan segala hal hanya dengan mengingat Fika, dia tidak pernah merasakan hal rumit meski hanya menjalaninya sepihak. Tak peduli bagaimana perasaan Fika padanya, dia tidak mau tahu soal itu. Cukup saja bisa menyapa Fika dan diam-diam mengawasinya.


Tapi hari ini berbeda. Anggi menjadi diam saja, hal itu sebenarnya adalah pertanda jika pikirannya tidak baik-baik saja, ada beban yang membuat dia kembali diam seribu bahasa.


Anggi sudah merapihkan sebagian baju sekolahnya, menatanya kembali dengan rapih di lemari.


Tok...tok...tok...


"Tuan besar sudah datang ke rumah!"


Suara dari balik pintu kamar memberitahunya, namun ekspresi Anggi langsung berubah karena biasanya butuh satu pekan penuh bagi ayahnya untuk tidak datang ke rumah. Kali ini berbeda.


Anggi sangat penasaran dengan kedatangan ayahnya. Dia buru-buru melihat dirinya di balik cermin dan segera pergi ke ruangan lain.


Ketika menegakkan kepala dan membagikan pandangannya sesuatu yang tak biasa membuat batinnya menerka-nerka. Ada seorang wanita dan anak lelaki itu, dia sudah tidak asing lagi bagi Anggi karena selama di sekolah Anggi pasti bertemu dengannya.


Anggi tidak berkomentar apapun saat itu, dia duduk di kursi yang tersisa di ruangan tamu, bersikap sopan seperti yang selalu diajarkan oleh ayahnya ketika ada tamu penting yang datang.


Dari tadi Anggi hanya menundukkan kepala, benar-benar bersikap seolah dia tak mengenal Edo yang duduk di sebelah wanita itu.


"Dia anakku. Masih kelas XI SMA." Ucap ayahnya tampak memperkenalkan Anggi.


Ketika mendengarkan kata-kata itu terlontar dari mulut ayahnya, Anggi sudah menebak sedekat apa ayah dengan wanita Yanga da di hadapannya, cara bicaranya yang memperlihatkan jika mereka sangat akrab.


"Dia sangat tampan sekali, kau pasti membesarkannya dengan penuh wibawa." Jawab wanita itu.

__ADS_1


Dari tadi Edo terus melihat ke arah Anggi, namun seperti apa yang dilakukan Anggi saat itu, Edo juga tidak berani mengobrol meskipun dia yang paling mengenal Anggi di sekolah.


"Dia seumuran dengan Edo, boleh saya tahu dimana dia bersekolah? Saya sangat penasaran." Obrolan itu masih berlanjut. Anggi mulai mengerti dari pembicaraan keduanya, mereka hanya saling mengenal satu sama lain namun tidak dengan kehidupannya.


"Anakku ini kebetulan bersekolah di SMA.... Dia sangat bersemangat sekolah di sana." Jawab ayahnya Anggi.


Tampak mendengarkan sesuatu yang mengejutkan, perempuan yang ada di hadapan Anggi langsung terperanjat kaget. "Astaga, kau bersekolah di sana juga kan Edo?"


Edo hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun, dia benar-benar menjadi pendiam dan dingin ketika tahu ibunya memiliki kenalan seorang pria dan tak lain adalah ayah dari Anggi, teman satu sekolahnya.


"Apa kalian sudah saling mengenal?" Ayahnya Anggi mencoba menebaknya. Dia juga melihat puteranya itu mulai melihatnya kesal.


"Saya sampai tidak bisa mengenalimu, padahal saya sangat sering sekali datang ke sekolahnya." Ucap ibunya Edo tampak sungkan.


"Syukurlah jika kalian sudah saling mengenal, sebaiknya seperti itu." Ayahnya Anggi tampak lebih senang.


"Anakku akan pindah sekolah hanya tinggal setengah semester lagi, aku berencana menyekolahkannya ke luar negeri. Dia sedikit bosan dan memintaku untuk bersekolah di sana." Ucapnya tampak mengarang cerita. Padahal siapa yang ingin pindah sekolah, itu hanya kesepakatan ayahnya sendiri dma entah apa yang dipikirkan oleh ayahnya itu dengan membuat rencana yang tak masuk akal.


"Tentu saja anakmu juga hebat. Jika diizinkan oleh Ibunya apakah Edo juga ingin pergi sekolah bersama Anggi?" Tanya ayahnya membuat Anggi hanya bisa kesal sambil meremas bagian baju yang dia pakai. Tentu saja mengapa semudah itu membiarkan orang lain untuk masuk dan menjadi bagian keluarganya.


Anggi tak tahan lagi, dia harus pergi dan beralasan dari obrolan yang hanya untuk kedua orang saja.


"Em... Aku pamit pergi ya Bu. Aku ada kelas latihan dengan teman-teman ku sekarang." Ucap Edo tampak ramah.


Ibunya langsung bereaksi aneh, dia tidak terima jika perkenalan singkat itu akan cepat berakhir.


"Kau ingin pergi sekarang? Boleh aku antarkan saja?" Tawarnya pada Edo.


Anggi masih diam saja dan membiarkan Edo sendiri yang mengakhiri pertemuan yang tak diinginkan itu.

__ADS_1


"Tidak perlu! Maksudku terima kasih. Saya bisa diantarkan Ibu kan?" Jawab Edo.


Ibunya tampak ingin bicara basa-basi namun Edo benar-benar sudah menyudahi pertemuan itu.


"Sayang sekali namun sepertinya aku harus pergi sekarang juga. Terimakasih untuk jamuannya." Ucapnya canggung.


"Wah, sayang sekali padahal aku ingin bercerita cukup lama tadinya. Tapi baiklah hati-hati di jalan." Ucap ayahnya Anggi yang akhirnya sudah menyetujui untuk segera membiarkan mereka pergi.


"Kita pasti akan bertemu lagi." Ucapnya lagi membuat reaksi senang dari wajah Ibunya Edo.


******


Meja makan yang mewah cukup untuk beberapa orang keluarga di sana. Namun hanya ada Anggi dan ayahnya.


Anggi masih saja diam dari tadi, dia juga tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Di sisi lain ayahnya tampak lahap menyantap setiap hidangan di meja itu. Namun tak lama kemudian, matanya melihat ke arah Anggi yang masih diam saja.


Ayahnya menghela napas, tidak mudah baginya memahami seorang putera yang bahkan dia tidak pernah menghabiskan waktu banyak bersamanya selama ini.


"Apa kau tidak terbiasa dengan makanannya? Ayah meminta koki memasak yang terbaik dan ayah sukai." Ucap ayahnya pada Anggi.


Meskipun dia sangat tidak menyukainya untuk hal apapun itu, tapi Anggi masih berusaha untuk selalu menjaga sikapnya agar selalu bersikap sopan. Termasuk tidak meninggalkan meja makan lebih dulu meskipun dia sama sekali tidak berselera.


"Aku kurang suka, hanya sedikit saja yang aku tahu soal makanan itu." Jawab Anggi. Nada bicaranya masih sama dari tadi bahkan setiap kali Anggi berbicara dengan ayahnya dia pasti berbicara dengan nada yang sama.


"Cobalah! Ayah selalu memakannya dulu ketika tinggal di sini." Bujuk ayahnya.


Anggi tak menolak mulai meraih garpu dan sendok, menggerakkan makanan di atas piring, dan mencobanya.


"Bagian itu yang paling Ayah suka, sangat renyah dan lumer di mulut." Ucap ayahnya menjelaskan apa yang biasa dia makan.

__ADS_1


Tapi karena Anggi tidak begitu banyak bicara tidak ada lagi obrolan dari keduanya. Anggi masih tetap diam saja membolak balikkan makanan yang sama sekali tidak dia makan.


"Ayah pamit tidur lebih dulu, ayah sudah kenyang dengan makanannya." Perkataan ayahnya itu langsung membuat Anggi pergi juga dari meja makan.


__ADS_2