
Acara di hotel sudah berakhir, sekarang mungkin bisa terhitung satu atau dua orang tamu yang masih terlihat dan sebagian besarnya sudah pulang.
Anggi juga masih duduk di salah satu kursi di sana, dia duduk melihat kesibukan ayahnya dengan tamu-tamu yang datang. Di sampingnya Fandi yang selalu setia kemanapun Anggi pergi tentunya.
Di kursi lain ada Edo dma ibunya yang juga nampak saling diam, dan salah satu kursi lain yang berkumpul di sana angin menebaknya jika mereka adalah keluarga dari Edo mungkin karena mereka tampak tidak akan meninggalkan hotel dalam waktu yang dekat.
Anggi masih duduk tenang hingga ayahnya sudah selesai melayani salah satu tamu terakhir yang datang. Ayahnya terlihat berjalan ke arah Anggi duduk dia tidak memperlihatkan ekspresi lain selain dari tampak capek.
"Kita akan pindah ke ruangan lain bersama keluarga Edo. Kau ikut dengan salah satu pelayan di sana." Ucap ayahnya begitu datang ke meja Anggi. Setelah mengatakannya kemudian tampak ayahnya menghampiri Edo dan ibunya yang duduk di meja lain.
Anggi tidak memperdulikan ayahnya, dia melihat sudah ada salah satu pelayan menunggu seperti yang dikatakan ayahnya tadi dia hanya tinggal mengikuti pelayan itu untuk pergi ke ruangan lain kan. Lebih cepat lebih baik, yang dipikirkannya harus sampai kapan dia mengikuti rangkaian acara ayahnya itu.
Anggi menebaknya jika ruangan yang dipilih tentu saja tempat makan VIP. Dia sudah masuk lebih dulu dan duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan, namun cukup disesalkan di sana tidak ada kursi terpisah harusnya Anggi duduk di meja yang berbeda karena dengan begitu dia akan lebih nyaman.
Cukup menunggu sebentar baru kemudian ayahnya tampak sudah masuk dan disusul dengan beberapa orang dari keluarga Edo.
Ayahnya duduk di samping Anggi, walau keberatan Anggi tak ingin mengatakannya. Ada beberaoa orang keluarga Edo yang kemudian duduk di kursi kosong.
Tak lama pelayan lain masuk mengantarkan menu makanan yang mungkin sudah dipesankan lebih awal sehingga begitu semua masuk makanan pun datang tepat waktu.
"Maafkan aku sekali lagi, tadi putera ku sudah mengatakannya lebih dulu padahal aku ingin membuatnya menjadi kejutan keluarga." Ucap ayahnya tentang ucapan Anggi tadi.
Anggi menoleh ke arah ayahnya, dia seperti melihat sosok lain saja.
__ADS_1
"Maaf, paman tidak bisa hadir dia seperti biasanya selalu sibuk." Ucap ibunya Edo di hadapan semua orang.
"Padahal aku sangat ingin bertemu hari ini. Tapi mungkin bisa di lain waktu juga." Jawab ayahnya Anggi tampak seperti orang yang lebih mengharapkan pertemuan itu.
Anggi tidak bicara ketika dia tidak diharuskan bicara, dari tadi sepasang matanya hanya beberapa kali melihat ke arah Edo ya g juga diam saja dari tadi. Mungkin Edo memiliki perasaan yang sama tentang sebuah pesta dan acara pertemuan keluarga ini, sama-sama merasa bosan dan ingin cepat pulang.
"Terimakasih karena Oma juga berkenan untuk datang." Ucapnya pada seorang wanita yang lebih tua dari yang lain, benar saja dia adalah neneknya Edo.
Ketika mendengarkan ayahnya bicara satu persatu Anggi bisa tahu keluarga Edo, ternyata mereka cukup lengkap dan menurutnya terlihat antusias sekali dalam acara pertemuan keluarga ini.
"Dia anakku, namanya Anggi seperti yang sudah disebutkannya tadi beberapa kali." Ayahnya mulai memperkenalkan Anggi pada orang-orang.
Hal terpenting adalah makanan, Anggi tidak bisa tahan dengan rasa bosan dan juga makanan yang sudah dihidangkan.
"Silahkan untuk yang lain jika ingin makan kita bisa bicara sambil mengobrol." Ucap ayahnya sengaja menutupi kesalahan Anggi saat itu.
Padahal Anggi tidak memintanya terlalu repot-repot untuk melakukan hal semacam itu.
"Bisnis paman mu yang pertama kali aku dengar, apakah itu semacam bisnis keluarga atau pribadi?" Terdengar ayahnya bicara mengenai paman dari Ibunya Edo yang tidak hadir di acara, ayah terlihat penasaran dan Anggi bisa menebaknya mungkin pernikahan itu karena ada satu alasan yang paling kuat di dalamnya.
"Oh, tentu saja. Itu adalah bisnis pribadi miliknya dan juga bisnis keluarga. Di keluarga ku tidak ada yang namanya milik pribadi, siapapun yang memiliki aset, bisnis, dan kesuksesan seperti paman maka keluarga lain memiliki hak yang sama juga untuk keuntungannya, karena kami benar-benar melakukan semuanya dari awal bersama-sama untuk bisnis itu." Dengan bangga Ibunya Edo mengutarakan bisnis yang dilakukan oleh pamannya. Sedangkan bagian hidupnya tidak perlu ditanyakan lagi, ayahnya Anggi lebih tahu jika Ibu Edo tidak bekerja dia hanya tinggal dengan keluarganya.
"Sungguh luar biasa, sayangnya keharmonisan keluarga seperti itu jarang sekali." Ayahnya Anggi memberikan pendapatnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Oma, kali ini apakah Oma memiliki rencana terbaik untuk pernikahan kami?" Tanyanya nampak memberikan kesempatan bagi keluarga besar untuk menentukan.
"Secepatnya. Tentu saja lebih cepat lebih baik kan Bu?" Timpal Ibunya Edo mendahului Ibunya untuk bicara, bahkan dia terkesan tidak membiarkan siapapun untuk berpendapat di sana.
"Untuk pernikahan aku serahkan sepenuhnya pada Anita, dia yang akan menjalaninya." Ucapnya untuk menjawab pertanyaan tadi.
Tidak ada yang bicara lagi selain hanya beberapa orang karena yang lainnya sudah sibuk dengan makanan yang dihidangkan di atas meja. Termasuk Anggi, dia sibuk makan karena dia baru saja memiliki waktu untuk makan, tadi dia tidak sempat makan karena acaranya terlalu ramai.
"Anakku akan pergi ke luar negeri, secepatnya dia terbang ke sana karena Anggi pikir ada sebuah rencana pembelajaran yang menarik di sana." Ayahnya kembali merasa bangga pada Anggi. Wataknya benar-benar sudah berubah saat itu.
"Waw. Aku dengar dia satu kelas dengan Edo kan? Tapi kalian dari tadi hanya saling diam saja." Seru salah satu dari orang-orang itu menanggapi.
Dari pernyataannya sudah menjelaskan jika keluarga Edo mungkin sebagian lebih banyak tahu tentang keluarga Anggi. Tidak ada Maslaah harusnya, tapi jika disindir seperti itu membuat Anggi menjadi bingung sendiri. Dalam acara seperti ini apakah dia harus berakting juga seperti ayahnya itu, apakah dia harus menjadi seseorang yang tampak baik dari luar.
"Dia teman ku Bibi, tapi kami hanya satu kelas di satu semester ini. Kami jarang mengobrol karena itu sudah menjadi kebiasaannya menjadi pendiam." Edo mulai bernicwra menjawab ucapan bibinya tadi.
Memang benar, Edo dan juga Anggi tinggal di kelas yang sama namun keduanya tidak saling mengobrol.
"Oh, seperti itu. Kau cukup baik dengannya kan? ingat satu hal, kalian sebentar lagi akan menjadi saudara kan." Sindirnya lagi.
Edo tampak bingung untuk menjawab.
"Terimakasih Bibi, tapi Edo benar-benar baik." Ucap Anggi akhirnya dia bicara juga.
__ADS_1