
Di tengah perasaan dilema, ada banyak Masalah yang tiba-tiba harus melibatkannya, ada banyak orang yang tidak di kenal dan harus dia pahami satu persatu, dari semua hal itu Fandi masih tidak bisa mengerti sampai detik ini. Apa yang dipikirkan kakaknya selama hidup? Mengapa harus terlibat dalam keluarga orang lain, apalagi mementingkan keselamatan orang itu dengan cara apapun, bahkan sampai akhir hidupnya Kak Han masih mengorbankan dirinya.
Fandi berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit. Dia tidak pergi lagi ke ruangan dimana Anggi dirawat di sana. Tidak ada keberanian tersisa setelah perkataan orang tadi padanya.
Mendengarkan Ayahnya Anggi bicara seperti itu langsung membuat mentalnya takluk.
"Siapa yang harus aku hubungi." Batinnya. Fandi masih bingung apa yang ahrus dilakukannya saat ini.
Teringat dengan seorang teman Anggi, harusnya dia masih menyimpan kontak hp gadis itu.
Fandi terpikirkan tentang Fika, dia pernah meminta nomor Fika tanpa sepengetahuan dari Anggi.
Buru-buru Fandi merogoh hp nya mencari nama kontak yang dia lupa-lupa ingat pernah menyimpan nomornya dengan sebutan nama apa.
Meski memakan waktu tapi dia melakukannya. Dan akhirnya bisa menemukan nama tidak asing di kontak hp itu. "Fika." Segera dia melakukan panggilan suara.
Tak disangka nomor yang dia simpan masih aktif.
"Hallo, dengan siapa?" Terdengar suara perempuan dengan cara bicaranya yang tidak asing bagi Fandi.
"Fika? Kau Fika kan?" Fandi mengatakannya berulangkali.
"Siapa?" Terdengar Fika meresponnya.
"Fandi. Aku yang selalu menjemput Anggi. Kita sudah bertemu beberapa kali kan?" Fandi menjelaskannya.
"Oh, kau tidak bersama Anggi?" Fika terdengar begitu hati-hati.
"Dia mengalami kecelakaan fatal. Kita bisa bertemu lagi?" Tanya Fandi tidak banyak basa-basi.
"Kecelakaan? Anggi? Di rumah sakit mana?" Terdengar cemas.
"Kita harus bertemu di tempat lain." Fandi kekeh dengan rencananya. Tidak mungkin dia dan Fika bertemu di rumah sakit.
"Baiklah, pergi sekarang juga. Di sekolah?" Fika tiba-tiba memutuskan pilihannya.
__ADS_1
"Aku akan menjemput mu!" Fandi menawarkannya karena khawatir.
"Tidak. Kita bertemu di gang rumah Yunita. Di sana." Fika meminta mereka bertemu di sana.
"Aku tutup telponnya!" Pit Fika. Kemudian tidak terdengar lagi suara sambungan telpon dengan Fika.
Fandi menghela napas, meski tidak tahu rencana apa yang akan dilakukannya sekarang ini, dia hanya asal menghubungi Fika karena dia adalah salah satu teman Anggi. Fandi berharap jika Fika tahu sesuatu dan bisa membantunya.
Fandi kemudian berjalan ke mobil milik Anggi, dia masih butuh mobil itu dan tidak berniat untuk menyerahkannya. Sampai tugasnya benar-benar selesai. Semua yang diajukannya hanya karena Kakaknya saja, tidak ada yang lain.
Mobil sudah melaju dan tidak butuh banyak waktu untuk sampai ke alamat yang disebutkan Fika tadi, hanya beberapa menit saja dengan mobil.
Fandi sudah tiba di depan gapura perumahan itu, dia memarkirkan mobil dan menunggu di dalamnya. Beberapa saat memang belum terlihat Fika, dia berharap Fika segera datang dan tidak membuatnya lebih lama menunggu.
Beberapa menit berlalu, mata Fandi terus beredar mencari seorang gadis dengan postur tubuh Fika di sana, harusnya Fika sudah datang namun mengapa masih belum juga.
Sudah setengah bosan, bahkan hari jemarinya hanya bisa terus menepuk kemudi mobil terus menerus. Raut wajahnya berubah dia merasa jika Fika tidak benar-benar akan datang.
Saat dia hampir putus asa, tampak bayangan seseorang dari jarak beberapa meter jauhnya. Dia melihat sosok yang ditunggu semakin jelas dan dekat.
"Buka pintu mobilnya!" Ucap Fika. Fandi mengangguk.
Fika buru-buru masuk ke dalam mobil saat itu, Fandi bisa melihat sudut mata Fika yang beberapa kali menoleh ke arah lain. Apa ada sesuatu yang tidak bisa Fika katakan dan membuatnya harus secara diam-diam datang, atau Fika sedang berusaha menghindari perhatian seseorang yang mengikutinya.
"Kita jalan saja sekarang." Pinta Fika. Mobil kembali melaju.
"Kita kemana?" tanya Fandi cetus, padahal seharusnya dia yang sudah memikirkan tempat.
"Kita akan bicarakannya di mobil. Aku tidak bisa keluar rumah terlalu lama." Fika mengatakannya dengan penuh takut.
"Seseorang mengikuti mu?" Fandi menebaknya. Fika hanya bisa langsung terdiam saat itu juga.
"Kita pergi ke arah hotel. Kita akan mengobrol nya di sana." Fika tiba-tiba meminta sesuatu yang dia pikir cukup aneh bagi Fandi. Anak SMA sepertinya sudah mengenal hotel dan tidak canggung ketika mengajaknya ke sana.
"Kenapa harus di sana?" Fandi bertanya lagi dengan curiga.
__ADS_1
"Tolong lah! Seseorang mengikuti ku terus!" Fika langsung memohon. Fandi bisa melihatnya jika Fika sangat ketakutan saat itu.
Meski bukan Kak Han tapi Fandi bisa langsung menebaknya jika ada sesuatu Masalah yang disembunyikan Fika.
"Baiklah kita pergi ke sana!" Ucap Fandi.
"Jalannya santai saja, kita akan bicara sepanjang jalan." Ucap Fika.
Fandi segera mengerti saat dia mengatakannya.
"Seseorang benar mengikuti mu?" Fandi bertanya lagi sesuatu yang sama.
Fika benar-benar terjebak dengan pertanyaan itu sampai dia tidak bisa menjawabnya.
"Dia mengikuti ku kemanapun, dimanapun. Aku tidak bisa keluar dengan cara lain. Sekarang ceritakan kondisi Anggi." Fika benar-benar tidak bisa membuang waktu dan terlalu lama pergi.
Fandi berinisiatif membawa Fika ke arah hotel yang cukup jauh dari sana. Tidak apa-apa kan jika itu hanya pergi ke hotel.
"Anggi mengalami kecelakaan. Dia ditabrak oleh mobil yang sampai saat ini belum ditemukan siapa pelakunya. Seseorang mungkin sengaja ingin membuat dia Dalma kondisi seperti itu." Fandi berbicara dengan cara yang singkat.
"Apa Anggi akan pulih kembali? Dia tidak cukup serius karena tabrakan itu kan?" Fika benar-benar berbeda. Jauh sekali seperti yang dikatakan Anggi, Fika di hadapan Fandi seperti orang yang benar-benar peduli dengan Anggi bahkan mungkin dia cukup kesulitan bisa sampai pergi keluar dari rumahnya.
"Orang itu tidak akan berhenti, jangan membuat Anggi menderita lebih banyak lagi. Kalian harus pergi ke luar negeri saja." Fika tiba-tiba memperdengarkan sesuatu yang cukup sulit dipahami, terdengar seperti teka-teki, intinya seseorang terus mengincar hidup Anggi.
"Kau tahu banyak hal. Sepertinya seseorang di dekat mu bukan orang biasa-biasa saja. Sudah sejauh mana terlibat?" Fandi sengaja memancingnya dengan klu, dia tahu jika Fika akan mengatakannya karena terdesak.
Fika terdiam, dia seperti memikirkan sesuatu untuk dikatakan lagi. "Tolonglah, kau harus segera membawa Anggi pergi dari kota ini. Hanya itu saja." Ucapnya.
"Berhenti di depan sana." Ucap Fika.
Fandi tidak sadar jika perjalanannya sudah hampir sampai. Di depan adalah sebuah hotel yang terdekat dia belum pergi ke hotel yang dia maksud.
"Aku akan turun di dalam, kau pulang saja." Ucap Fika.
Fandi tidak bertanya lebih banyak, dia yakin tidak tidak akan mengatakannya sangat panjang.
__ADS_1
Mobil masuk ke halaman depan hotel, Fika keluar dari mobil karena dia meminta diantarkan sampai tempat itu. Namun pandangan Anggi mulai terganggu, dia melihat Fika benar-benar pergi dan masuk ke dalam hotel. Entah urusan seperti apa yang mengharuskan dia pergi ke sana.