
Pagi hari di hari Senin, harusnya kegiatan sekolah diisi dengan persiapan perpisahan kelas XII dan kenaikan kelas X,XI. Tapi di pagi hari itu tepat pukul 08.00 WIB sekolah tampak sepi tidak ada siswa yang datang tepat waktu. Anggi merasa heran baru pertama kali ini dia datang di hari-hari yang harusnya tidak membuat dia pergi ke sekolah. Karena rasa penasaran tentunya Anggi harus datang melihat situasi di sekolah, terutama dia ingin memastikan apakah berita itu sudah menyebar luas ke lingkungan sekolah.
Ada dua orang satpam seperti biasa yang tadi sempat dia temui di gerbang sekolah, beberpaa orang tukang, namun tidak terlihat kepala sekolah yang datang. Anggi berjalan menyusuri jalan biasa yang dia lewati ketika pergi ke kelasnya. Di sepanjang kelas semuanya tampak masih sepi padahal jam sudah cukup bagi siswa untuk datang. Matanya melihat ke arah lantai dua di sana adalah perpustakaan sekolah, seolah pikirannya langsung menarik ingatannya kembali ketika bertemu dengan Fika di sana. Itu membuatnya merasa ingin bertemu Fika.
Beberapa kali Anggi menatap layar hp dan nama Fika sudah muncul, dia belum berani untuk menghubungi Fika padahal sudah dua hari berlalu. Tapi dia butuh keberanian sekarang, setidaknya dia ingin tahu kabar Fika bukan untuk mencari kebenaran tentangnya.
Ketika sibuk mempertimbangkan sambil menatap layar Hp Anggi merasa sudah menabrak seseorang secara tak sengaja, dia spontan menoleh dan orang itu adalah Edo yang berdiri tepat di hadapannya.
Anggi terdiam beberapa saat melihat ekspresi Edo yang begitu dingin saat itu. Dia menunggu sebentar sampai mendengarkan Edo akan berbicara apa padanya sekarang.
Tidak ada yang diharapkan Edo masih tetap diam saja, dia terus berpura-pura tak menyadari jika Anggi sudah berdiri di dekatnya.
Tak ada cara untuk menghadapi orang angkuh seperti Edo, begitulah yang Anggi rasakan jika Edo semakin angkuh dan sombong entah dendam apa yang membuat Edo langsung berubah sekaligus.
"Kau mencari Fika?" Edo bicara dengan nada dingin, dia sengaja bicara ketika Anggi sudah berbalik untuk pergi.
Anggi hanya berhenti sebentar tapi dia tidak memperdulikannya ketika Edo bicara Anggi kembali berjalan untuk menjauh.
"Kau mencari pelacur itu!" Teriak Edo.
Kata-katanya membuat dada Anggi sesal dengan emosi yang sudah naik. Anggi berbalik dia ingin tahu alasan apa yang akan dikatakan Edo setelah mengatakan hal itu.
Tak bisa dihentikan kakinya spontan berjalan dan mendekat lagi ke arah Edo berdiri, bahkan Anggi tak membiarkan sejengkal pun batas dirinya. Dia tidak terima ketika Edo berteriak seperti itu pada Fika.
"Katakan sekali lagi!" Ucap Anggi masih berusaha menahan diri.
Edo tersenyum puas. "Kau sangat peduli sekali padanya. Lihatlah dengan cara apa kau bisa peduli padanya." Ucapannya terdengar seperti sebuah tantangan dan entah apa artinya dia berbicara seperti itu.
Anggi mematung tak bereaksi, sungguh dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Edo, padahal dari awal Edo bersikap baik dan lebih perhatian tapi apa karena pernikahan itu? Apa karena pernikahan Ibunya?
__ADS_1
Edo kemudian pergi membiarkan Anggi berdiri sendirian di sana, dia nampak tidak peduli apapun termasuk sikapnya selama ini hanyalah kebohongan semata, Edo tidak peduli pada Fika bagaimana bisa dia mengatakan Fika seperti itu di belakangnya, lantas arti dari pertolongan Edo pada Fika apa?
Seketika Anggi tampak cemas, dia memikirkan Fika dan menebak sesuatu yang tidak biasa. Fika berbohong tentang rumah yang diberikan Edo mungkin dia tidak tinggal di sana, Fika berbohong juga tentang kebaikan Edo bisa jadi itu sebaliknya.
Tak menghiraukan apapun lagi, Anggi berlari menuju gerbang sekolah dia juga sempat melihat Edo memperhatikannya, namun itu tidak berarti apapun dan tidak akan menghentikannya lagi untuk berjalan ke arah Fika. Kali ini saja dia akan berani menemui Fika dan benar-benar membantunya dalam kesulitan yang mungkin tidak dia ketahui. Bukan saat nya lagi terus menghindari Fika karena keinginan yang dikatakan mulut Fika sendiri, Anggi tidak akan percaya lagi. Kali ini dia hanya ingin benar-benar melakukan apa saja yang sudah dikatakan oleh hatinya, sebelum segala sesuatunya terlambat.
Tiba di depan gerbang Anggi terlihat menelpon, dia meminta Fandi untuk menjemputnya di sekolah. Sembari menunggu seperti biasa dia masuk ke dalam warung yang ada di depan sekolah.
"Yunita!" Ucapnya tak menyangka karena melihat Yunita sudah ada di dalam.
"Warung di depan sekolah kan? Aku selalu menunggu di sini." Ucap Yunita.
Anggi terdiam mulai mengerti apa yang dikatakan Yunita. Benar, dia pernah berjanji untuk bertemu lagi di warung ini dan tak disangka seperti yang dikatakan Yunita jika dia selalu datang dan menunggu di warung itu.
"Aku minta maaf." Ucap Anggi.
"Kau sudah menghubungi Fika kan?" Bukannya mendengarkan Anggi bicara tapi Yunita langsung membahas Fika. Mungkin kedatangannya juga karena kabar miring itu.
"Astaga!" Yunita tampak kesal.
"Kau sudah tahu berita itu?" Tanya Yunita, sekarang dia sangat terlihat gusar, lebih terlihat khawatir dari pada dia mengkhawatirkan Fika.
Anggi mengangguk tanda membenarkan.
"Apa yang kau tunggu kita cari Fika sekarang juga!" Tegas Yunita.
Memang itu yang akan Anggi lakukan tapi bersyukur sekali karena kebetulan Yunita juga ikut.
"Tunggu Kak Fandi datang!" Anggi menahan Yunita agar tetap menunggu.
__ADS_1
Yunita kembali ke tempat duduknya.
"Aku akan menelpon Fika semoga saja dia mengangkat telponnya."
" Baiklah cepat lakukan." Anggi tidak bisa melakukan apapun. Tapi kini hatinya mulai bimbang apakah Yunita juga harus tahu tentang Edo?
"Nomornya aktif!" Seru Yunita membuat Anggi segera menoleh.
"Tidak diangkatnya, aku coba lagi!" Ucapnya.
"Yun, biar aku yang menelpon!" Anggi kemudian bicara dan menghentikan Yunita yang dari tadi terlihat kesulitan menghubungi Fika.
"Cepat!" Yunita masih terlihat khawatir.
Tangan Anggi sedikit gemetar, dia mengangkat hp nya dan dari layar sudah muncul nama Fika. Sekarang saatnya, Anggi bisa memberanikan diri menelpon Fika.
Sepasang matanya melebar ketika melihat panggilan itu langsung terhubung.
Pelan-pelan Anggi menempelkan telpon itu ke telinganya. "Apa kabar Fika." Ucapnya. Sedangkan Yunita dari tadi terus memberikan isyarat agar cepat menanyakan dimana Fika sekarang.
"Anggi, ibuku dirawat di rumah sakit. Sudah beberapa hari Ibu sakit. Aku. Aku tidak bisa pergi ke rumah sakit hati ini." Suara Fika bercampur dengan tangisannya. Anggi tahu jika saat itu Fika sedang menangis dan dia tidak bisa pergi ke rumah sakit pasti karena sesuatu hal.
"Aku akan pergi ke sana, tenanglah. Apa kau bisa menemui ku?" Tanya Anggi saat itu.
Beberapa saat Fika tidak terdengar menjawab.
"Fika kau baik-baik saja?" Anggi bertanya lagi.
"Aku baik-baik saja, sekarang aku tidak bisa pergi kemanapun. Aku mohon tolong pergi ke rumah sakit. Akan aku kirim alamatnya!" Ucap Fika.
__ADS_1
Dan kemudian telpon terputus.