
4 Tahun berlalu...
Suasana musim dingin di awal bulan, tak terasa waktu juga sudah lama berlalu. Sejak kejadian itu Anggi yang tinggal di Korea terpisah dengan ayahnya dan sampai sekarang Fandi tidak pernah memberitahu kabar tentang ayahnya.
Anggi melamun di balik kaca jendela yang sedikit terbuka, padahal suhu minus di musim dingin tidak pernah membuat siapapun akan membuka kaca jendelanya dan membiarkan udara dingin menyeruak masuk.
Bagian pentingnya sekarang Anggi sudah lulus kuliah di salah satu universitas yang terkenal di sana, Dalma waktu 3 tahun dia sudah menyelesaikan perkuliahannya. Namun selama itu berlalu kuliah hanya salah satu alasan Anggi untuk menyibukkan diri dan perlahan membuat pikirannya tidak memikirkan lagi apapun meski hanya satu detik memikirkan nasib ayahnya. Terutama Fika.
"Kita akan pulang sekarang, aku sudah mendapatkan tiketnya!" Seru Fandi yang baru saja masuk. Fandi berjalan ke arah Anggi yang masih duduk di sana. Sebelum itu dia memperhatikan banyak sekali formulir di atas meja.
"Kau tidak akan pulang tahun ini lagi?" Tebak Fandi nampak syok.
Anggi hanya diam saja, dia memang dari awal tidak berniat untuk pulang rasanya untuk apa pulang.
"Hei. Sadarlah kita sudah 4 tahun di sini. Dan sekarang kau tidak ingin pulang?" Fandi mungkin mengulangi kata-kata nya tepat satu tahun yang lalu. Fandi diam lagi dan tidak berkomentar seperti biasanya. Dia pernah berpikir harusnya Anggi yang memaksanya untuk pulang atau dari awal dia menolak pergi ke luar negeri, tapi aneh sekali karena yang terjadi adalah sebaliknya.
"Kak Fandi!" Panggil Anggi menghentikan langkah kaki Fandi yang baru saja kan keluar dari ruangan itu.
Fandi terdiam dan dia sudah siap akan mendengarkan Anggi.
"Kau bisa cari tahu dimana Fika dan Yunita? Aku ingin tahu kabarnya. Jika sudah kau dapatkan aku berjanji akan pulang." Terdengar seperti tawaran dan ucapan Anggi langsung dipercayai Fandi. Dengan syarat yang sudah dikatakan Anggi akhirnya dia harus melakukan pekerjaan dulu dengan sungguh-sungguh. Sebelumnya Anggi tidak menyebut nama mereka dan mengapa baru kali ini dia menyebut nama mereka lagi.
Fandi keluar dari ruangan itu dan seperti biasa membiarkan Anggi di sana sendirian.
Ketika membuka pintu rumah di depan pintu terlihat lagi ada orang yang sama datang. Fandi akan menutup pintunya lagi namun segera ditahan. Ternyata seorang perempuan dari salah satu perusahaan ternama di sana. Tujuannya ingin menawarkan kerjasama yang baik untuk Anggi karena dia adalah lulusan terbaik namun belum juga mengambil kerjasama dengan salah satu perusahaan yang diimpikan oleh mahasiswa lain.
"Pergilah! Anggi tidak akan mendengarkan mu." Ucapnya pada wanita muda itu. Dengan kata-katanya seperti itu membuat wanita yang berdiri di sana kebingungan. Namun pastinya dia tertekan karena itu adalah tugas pertama di hari pertama dia bekerja.
Pintu sudah kembali tertutup, Fandi pergi ke arah lain meninggalkan wanita tadi yang berdiri di sana. Bukan pertama kalinya ada orang yang berdiri di sana dan menawarkan sebuah tawaran perusahaan yang datang ke rumahnya. Dan untuk kesekian kalinya Anggi akan menolak lihat saja nanti apa yabg akan dilakukannya.
__ADS_1
Berjalan di musim dingin bukanlah kabar baik yang masih dilakukan. Lihatlah salju turun dari langit namun orang-orang tetap keluar rumah.
Fandi menelpon seseorang, dia akan melakukan tugas yang diminta Anggi tadi. Beruntung kali ini dia sudah memiliki jaringan akses ke negaranya dan mempunyai kenalan yang akan menuruti setiap permintaannya, tentu saja semua bisa selesai dengan uang.
Fandi sudah melakukan tugasnya dan tinggal menunggu waktu, dia akan kembali ke rumah dan entah apa yang akan dilakukan mereka berdua kali ini.
Hanya beberapa menit lagi sampai di rumah, Fandi mengintip ke balik langit di musim dingin. Mungkin sekarang adalah musim dingin terakhir yang dia lewati di kota ini, kali ini dia akan kembali dan tempat pertama yang harus dikunjungi tentu saja makam kakaknya.
Sudah lama namun segala sesuatunya masih membekas di ingatan. Fandi masih tidak menemukan siapa yang bekerjasama dengan kakaknya, dia sudah bersikeras mencari tahu dan dia berharap setelah pulang nanti dia akan menemukan jawabannya.
Matanya kemudian teralihkan ketika melihat taman kota yang begitu sepi, padahal jika musim panas tiba semua orang akan berjemur dan berkumpul di sana. Beginilah jadinya jika sudah memasuki musim dingin seluruh kota mendadak sepi.
Sudah 4 tahun berlalu, dia tidak sabar kembali pulang ke tanah airnya meski itu belum dibicarakan dengan ayahnya Anggi dan Anggi sendiri terlihat masih tidak setuju, namun sampai kapan lagi dia akan menunggu di negeri orang seperti ini?
Puas melihat-lihat sekitar Fandi kembali berjalan untuk segera pulang ke rumah, dari tadi dia sudah membuang waktu.
Fandi berjalan mendekat dan tiba-tiba wanita itu menoleh karena mendengarkan langkah kaki Fandi mendekat.
Pertama kali yang dilihat adalah bentuk kelopak mata perempuan itu, caranya melihat dan kemudian tersenyum. Tiba-tiba Fandi ingat dengan sosok salah satu orang yang dia kenal.
"Kak Fandi!" Serunya riang.
Fandi terkejut karena dia berbahasa Indonesia.
"Kak Fandi, aku gak nyangka bisa ketemu Kakak di sini. Ngomong-ngomong Anggi di rumah?" Tanyanya akrab.
"Astaga. Yunita!" Seru Fandi tidak percaya.
"Kau bisa sampai di sini juga." Dia tak menyangka melihat Yunita tiba-tiba di depan pintu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Anggi ada di rumah? Wah jadi penasaran dia seperti apa sekarang." Ucapnya menghiraukan ucapan Fandi tadi.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar keluar seorang lelaki yang memakai kaos polos berwarna putih, celana pendek, dan rambut yang berantakan.
Fandi dari tadi langsung memejamkan mata ketika sadar Anggi yang selalu berpenampilan cuek tiba-tiba keluar rumah.
Anggi melihat ke arah Yunita kemudian ke arah Fandi.
"Kak Fandi kau sudah mencarinya kan? Fika dan Yunita?" Tanya Anggi.
"Kau mencari ku?" Wanit ayang berdiri di samping Anggi langsung bicara spontan Anggi terdiam karena kaget mendengarnya suara familiar yang sedikit berubah.
Anggi menoleh dan melihat wanita di sampingnya saat itu. "Kau Yunita?" Tanyanya datar.
"Ternyata kau masih mengenal ku." Jawab Yunita.
"Kau sengaja membawanya kemari?" Anggi bertanya pada Fandi namun Fandi menggelengkan kepala.
Dengan ekspresi terkejut namun wajahnya memang selalu tidak normal dan tampak datar saja ketika melihat Yunita tiba-tiba ada di hadapannya.
"Aku melakukan tour ke sini, kebetulan aku tahu kau kuliah di universitas itu dan tahun ini kau sudah lulus kan." Yunita berbicara dengan akrab namun tidak dengan Anggi. Situasinya cukup kikuk.
"Astaga aku belum mandi." Ucap Anggi kemudian dengan cueknya dia langsung masuk ke dalam rumah.
Fandi yang melihatnya merasa bersalah sekali. "Dia belum siap-siap. Kau bisa masuk dulu sekarang!" Ucap Fandi menawarkan.
"Ah tidak perlu. Terimakasih, aku harus kembali sekarang!" Ucapnya sambil pergi dari tempat itu.
Fandi mematung dan hanya terdiam saja melihat Yunita yang baru saja datang kemudian sekarang sudah pergi lagi. Berulangkali batinnya bertanya-tanya apakah itu benar Yunita? Dia tak menyangka melihat perubahan Yunita yang sangat jauh berbeda.
__ADS_1