Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Fika


__ADS_3

Di pagi buta, semburat Pajar belum juga menghiasi langit pagi. Hanya tampak langit mendung dengan bintang Pajar satu-satunya yang paling terang.


Hanya secangkir kopi hitam pahit yang tersaji di meja kecil, jendelanya terbuka dari semalam dan seseorang duduk di kursi menghadap jendela. Pemandangan hingar bingar lampu neon dari tiap rumah tampak begitu beda, kebisingan jalan raya tidak terlalu terdengar karena rumah pribadi miliknya memiliki jalan dan halaman sangat luas. Rumah-rumah tetangga terletak paling jauh di ujung jalan.


Anggi menghela napas dan meneguk beberapa kali kopi di cangkirnya. Tatapannya jauh menghadap langit, seperti sedang mengharapkan sesuatu.


Beberapa hari setelah hari ulang tahunnya sekaligus hari kematian Ibunya. Sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana wajah Ibu yang sudah melahirkannya itu. Ayah tidak menyimpan satupun foto yang ditinggalkan untuknya di rumah, di kantor, dimana pun.


Setelah mendengar kabar dan permintaan ayah secara langsung padanya, membuat Anggi langsung tidak bisa tidur pada malam yang panjang itu. Apakah harus memiliki keluarga lain? Anggi selalu mempertanyakan hal itu di hatinya, tapi tidak pernah dia bertanya tentang alasan ayah ingin menikah lagi. Dia tidak memiliki keberanian sampai kata-kata itu terucap darinya.


Rasanya aneh sekali, dia tumbuh tanpa dampingan seorang Ibu pengganti dari kecil, ayah sibuk dengan pekerjaannya dan itu tidak menjadikan masalah untuknya. Tapi mengapa kini setelah dewasa ayah tiba-tiba meminta persetujuannya untuk perempuan lain yang mungkin akan ayah jadikan seorang isteri. Apa ayah tidak pernah berpikir jika hal itu akan menjadi masalah baginya? Bagaimanapun, untuk seorang anak tidak ada ibu yang bisa menggantikannya.


Tak terasa ketika mengangkat cangkir ke mulutnya tidak ada satu tetes pun kopi yang tersisa. Anggi berbalik untuk menyeduh kopi lagi atau mencari sarapan di dapur. Tapi ketika melihat hp nya yang tergeletak di atas kasur perhatiannya langsung tertarik, dia mengambil hp dan kembali duduk di kursi tadi .


Ada beberapa pesan yang masuk. Matanya melebar melihat Yunita yang mengiriminya beberapa pesan itu.


"Pasti tentang Fika." Batinnya.


Satu pesan yang dikirim tadi malam, Anggi sama sekali tidak mengecek hp semalaman jadi dia tidak tahu ada banyak pesan yang masuk.


"Anggi, Fika gak masuk beberapa hari ini. Kamu juga gak sekolah. Kalian ini." Satu pesan yang dikirimkan Yunita.


"Kalau tahu kabar Fika hubungi aku, aku jadi khawatir dari kemarin."


"Anggi tolong cari tahu kabar Fika dong, kamu kemana sih?"


"Anggi!"


"Anggi!"


"Kalau kamu udah baca pesannya, ingat ya hari ini masuk sekolah kita cari bareng-bareng Fika. Aku khawatir dengan Fika."


"Jangan lupa, sekolah. Hari ini juga ada kabar penting dari guru, grup sekolah mengirimkan pengumumannya."

__ADS_1


Dan pesan berakhir.


Pikiran Anggi menjadi tak menentu. Dia tidak percaya jika Fika sampai tidak masuk ke sekolah berhari-hari. Apa ada sesuatu lagi? Pasti Fika tidak sekolah setelah bertemu dengannya kan? Sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Anggi cemas saat itu, dia tidak bisa sabar menunggu waktu sampai jam sekolah tiba. Terlalu lama. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun, termasuk tidak bisa menghubungi Fika atau memastikannya dengan datang ke rumah Fika. Anggi tidak tahu dimana rumah Fika.


Hari semakin hari sesuatu yang sangat aneh membuat Anggi tidak bisa tenang, sejak Fika dekat dengan Edo dia selalu tidak bisa tenang.


Karena pikirannya semakin gusar Anggi memilih keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Kak Fandi.


Tok...tok...tok


"Kak Fandi!"


"Kak Fandi!"


"Buka pintu!"


"Kak Fandi!"


"Kak Fandi!"


Ajaib, tak lama pintu pun terbuka. Fandi keluar dari kamar dengan mata setengah sadarnya. "Ada yang bisa saya bantu? Siapa yang sakit?" Ucapnya setengah sadar.


"Kau masih tidur?" Gumam Anggi terheran melihat Fandi yang keluar kamar dan mengatakan sesuatu seperti ketika dia menjadi seorang dokter.


"Dokter bangun!" Anggi sengaja berteriak lagi sampai mata Fandi benar-benar terperanjat kaget saat itu juga.


"Astaga!" Ucapnya kesal pada Anggi.


Anggi hanya tertawa saat itu, pasti jiwa dokternya belum hilang meski sudah lama tidak melayani pasien Fandi tidak bisa mudah melupakan profesinya itu.


"Masih jam 5 pagi, mau apa kemari?" Setengah marah Fandi menanyainya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur." Jawab Anggi singkat. Dia langsung tidur di atas kasur milik Fandi.


"Setidaknya jangan mengganggu orang lain. Kau tahu tadi aku pikir seorang perawat yang datang. Astaga kau membuatku kesal." Gerutu Fandi padanya.


Tak peduli, melihat Fandi yang marah-marah tidak membuat Anggi memperdulikannya.


"Aku mau tidur lagi, sebaiknya kau pergi dari sini cepat!" Fandi tak terima jika Anggi sudah menguasai seluruh kasurnya.


"Sejak kapan kau bisa mengusir ku." Cetus Anggi bicara dengan nada menyebalkan.


Fandi hanya menggelengkan kepala. Dia tidak bisa protes lagi karena itu sia-sia saja.


"Kau bisa menemukan rumah Fika kan?" Tanya Anggi tiba-tiba membahas tentang Fika.


"Kau tahu sendiri aku tidak memiliki kemampuan untuk itu, aku ini seorang dokter." Jawab Fandi.


"Kau jadi dokter saja dan datang ke rumah Fika. Aku penasaran dan sangat ingin tahu dimana rumah Fika." Ucap Anggi terdengar bersikeras.


"Kalau begitu kau saja yang melakukannya!" Fandi cukup keberatan dengan tugas seperti itu.


"Kau harus mempunyai setidaknya beberapa pengawal dan orang yang bisa dipercaya. Kau harus berkerja dengan mereka seperti Pak Han. Jadi aku tidak akan kesulitan melakukan segalanya sendirian." Anggi terus mengeluh saat itu.


Sebenarnya bukan tidak bisa, bagi orang dewasa dia bisa melakukannya apalagi jika Anggi mendukungnya. Tapi dia masih syok dan trauma dengan kematian Kak Han. Fandi tidak bisa mudah mempercayai orang dan tidak bisa. Pesan terakhir Kak Han membuatnya tetap teguh dalam pendirian yang sama.


"Kau lakukan saja sendiri, aku benar-benar tidak bisa. Jangan menyulitkan ku seperti ini." Fandi benar-benar menolaknya.


"Pak Han selalu memiliki kepercayaan diri, kenapa kau tidak sepertinya?" Sindir Anggi saat itu yang mulai mempermasalahkan tentang Fandi. Padahal dia sangat butuh orang seperti Pak Han, tapi apa daya memang dia Hannya memiliki adiknya untuk saat ini.


"Aku akan belajar melakukannya, setidaknya untuk saat ini sulit sekali untuk mempercayai seseorang. Aku takut dan sangat jauh dari kata layak untuk bisa seperti Kak Han. Aku tidak terbiasa dan kesulitan." Fandi benar-benar mengutarakannya, dia jujur tentang semua yang dialami oleh hatinya sendiri.


"Kau juga harus bisa mengat


asi hidup mu sendiri, kau tidak bisa selalu mempercayai orang lain, apalagi mempercayakan hidup mu pada orang lain. Kau harus belajar." Fandi balik menasehati Anggi.

__ADS_1


Kata-katanya membuat Anggi melamun, benar saja dia harus belajar. Setidaknya bisa mempertahankan hidupnya sendiri dan bangga dengan kehidupannya.


__ADS_2