Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Perubahan sikap Fika, kenapa?


__ADS_3

Ada yang berubah dengan waktu, terkadang berubah juga karena alasan. Waktu pun terus berganti tidak menjamin seseorang yang kau temui pada satu detik yang lalu akan masih sama.


Sekejap mata pandangan orang-orang mulai berubah terhadap Anggi. Padahal bukan rasa bangga yang dia harapkan saat itu, Anggi hanya ingin dilihat oleh seseorang yang tidak pernah membalas tatapannya. Benar saja dia adalah Fika.


Ketika orang lain sibuk berbicara tentangnya, hanya Fika yang menundukkan wajah tak mengambil andil seperti mereka. Apalagi setelah kejadian di kelas, yang dirasakan Fika mungkin tidak seperti orang lain, dan tidak mungkin orang paham dengan perasaannya.


"Wah. Ternyata Anggi itu pintar banget ya." Puji Yunita dengan ekspresi senang di hadapan Fika.


"Kau tahu apa masalah sebenarnya, dia tidak tampak selama ini. Bahkan Anggi berhasil menyembunyikan sesuatu yang menakjubkan seperti tadi." Yunita tak berhenti bicara. Ketika sudut matanya menatap Fika baru dia berhenti bicara. Penasaran mengapa Fika diam saja tidak seperti sikap yang lain.


"Aku pergi duluan ya!" Pamit Fika saat itu.


Yunita tampak kaget dengan sikapnya, seolah Fika benar-benar menghindari Anggi.


"Fik. Fika! Tunggu!" Yunita segera berlari menyusul.


"Kau bisa-bisanya sedingin itu. Padahal semuanya merasa bangga, bahkan aku penasaran Anggi itu sepintar apa lagi." Pembahasan Yunita sepanjang dia berjalan bersama Fika.


Fika masih tetap diam saja, dia memang tidak tampak berniat untuk mendengarkan berita tentang Anggi. Dimanapun itu, seluruh penjuru sekolah dia bisa mendengarkannya, orang-orang berbicara dari satu mulut ke mulut yang berbeda hanya untuk membahas Anggi?


"Fik. Diam aja dari tadi." Yunita mulai mengeluh.


"Gak kok Yun." Jawab Fika singkat.


"Kau menjadi pendiam sekali. Ada yang salah?" Yunita mulai bertanya antusias.


"Gak ada Yun." Fika masih menjawabnya dengan kata-kata yang sama.


"Eh. Aku belum tahu sekarang kau tinggal dimana Fik?" Yunita bertanya lagi karena seminggu ini dia belum sempat membahas hal itu, apalagi Fika yang abru amsuk dua hari ini.


"Yun, aku duluan ya!" Ucap Fika.


Yunita hanya diam saja melihat Fika yang tiba-tiba pergi, tapi yang membuatnya semakin tidak bisa mengerti adalah Edo. Sejak kapan Edo dan Fika begitu dekat, bahkan sekarang Fika pergi bersamanya.


Ketika Yunita berbalik dia langsung melihat Anggi, tebaknya mungkin Anggi sudah dari tadi berada di belakangnya.


"Anggi. Kau dari tadi di sana?" Yunita langsung mendekat.


Melihat mata Anggi yang terus menatap satu arah ke tempat dimana Edo tadi bersama Fika pergi.

__ADS_1


"Aneh sekali ya, sekarang mereka akrab." Komentar Yunita.


Perkataan Yunita berhasil menghalau perhatian Anggi. "Ayo kita pulang bareng!" Anggi tiba-tiba mengatakannya. Tidak sempat menolak atau mengatakan apapun tapi Anggi sudah menarik tangan Yunita saat itu.


Tampak canggung, padahal Anggi sangat menyukai Fika. Tatapan Anggi selalu tentang sahabatnya itu, tapi kasihan juga karena tiba-tiba tadi harus melihat Edo dan Fika pergi bersama. Seharusnya yang pergi bersama Anggi juga adalah Fika. Begitulah pikiran Yunita saat itu.


"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Yunita menghalau suasana yang menjadi canggung.


"Soal Fika aku juga penasaran kenapa Edo tiba-tiba sangat begitu dekat. Kau tahu sesuatu?" Satu detik kemudian sikap Anggi kemudian berubah. Sekarang dia berubah menjadi seseorang yang tampak antusias dan sangat konyol.


Yunita langsung tertawa. "Hentikan ekspresi wajah mu itu." Ucap Yunita.


"Kau harusnya tahu sesuatu tapi kenapa kau tidak menjawabnya." Anggi masih penasaran, bukan hanya dia bahkan Yunita sendiri sangat penasaran.


"Bahkan aku tidak tahu sekarang Fika tinggal dimana." Ucap Yunita menghentikan langkah kaki Anggi.


"Kau bahkan tidak tahu?" Anggi langsung memastikannya dengan bicara di hadapan Yunita dan memegang kedua bahunya.


"Lepaskan! Aku sangat berlebihan, aneh." Gumam Yunita.


"Apa.yang ahrus aku lakukan sekarang." Gumam Anggi bicara pada dirinya sendiri.


"SMP di tahun pertama." Jawab Anggi cetus.


"Hah? SMP? Kau juga alumni SMP ****?" Seolah tak percaya ternyata Anggi juga satu sekolahan dengan dirinya dan Fika.


"Lupakan saja. Cepat supir ku sudah menunggu di luar!" Anggi mengalihkan pembicaraan.


"Kau sungguh alumni SMP itu? Berarti kalian benar-benar sudah bersama sejak lama. Dan Kau?" Tanpa bisa dipercaya, jika benar perasaan Anggi sudah selama itu bahkan nyaris tidak mungkin.


Anggi mengabaikannya.


Yunita menjadi diam ketika dia langsung percaya perkataan Anggi tadi.


"Akun media sosialmu apa?" Tanya Yunita.


Anggi langsung menatapnya aneh. "Aku tidak punya, percayalah!" Ucap Anggi.


Yunita diam lagi, ternyata Anggi memang orang seperti itu. Dia tidak berbaur dengan yang lain dan mungkin Anggi adalah orang yang tidak bisa ditebak.

__ADS_1


"Kau harusnya punya. Mana mungkin sudah SMA tidak punya sama sekali." Ejek Yunita.


Mungkin Yunita adalah orang pertama yang mengatakan hal itu.


"Baiklah aku akan membuatnya. Dan berhenti bicara terus!" Anggi mulai menghentikan mulut penasaran Yunita.


"Loh, dokter itu jadi supir pribadi mu sekarang?" Yunita masih mengoceh.


"Cepat masuklah!" Anggi tidak tahan karena Yunita benar-benar banyak bicara.


Yunita langsung tersenyum ketika dokter itu menyapanya.


Mobil pun mulai melaju ketika Anggi dan Yunita sudah masuk ke dalam mobil.


"Pergi ke komplek perum yang ada di **** " Ucap anggi.


"Memangnya dia tahu alamat itu ada dimana?" Yunita bicara lagi.


"Benar sekali, mana mungkin aku tahu. Jadi, sekarang sebutkan alamatnya!" Dokter itu tampak berbicara.


Anggi hanya diam saja membiarkan Yunita mengarahkan sendiri kemana itu perginya.


"Kau masih kepikiran Fika?" Pancing Yunita. Padahal dia hanya berpikir sebaiknya bicara dari pada diam saja.


"Lupakan saja." Anggi mulai berbicara seperlunya.


"Aku baru pertama kali melihat teman mu yang ini, kenapa kau tidak memperkenalkannya?" Celoteh dokter itu sengaja membuat Anggi bicara.


"Nanti juga kau tahu sendiri." jawab Anggi.


"Tenang lah, akan aku pastikan besok kenapa Fika bisa berubah. Kau juga tahu sendiri sekarang aku tidak tinggal di tempat yang sama lagi dengannya jadi tidak mudah untuk menemui Fika." Yunita kembali berusaha bicara pada Anggi, dia sudah tahu dari hanya melihatnya saja. Dari tadi Anggi sangat memikirkan Fika, sangat disayangkan karena Fika tidak bisa melihat kebaikan Anggi.


"Di depan Pak!" Ucap Yunita setelah melihat gapura menuju rumah nya.


"Omong-omong terimakasih ya!" Jawab Yunita. Dia juga memberikan salam pada dokter yang sudah mengantarnya pulang.


Tapi ekspresi wajah Anggi tidak juga berubah saat itu, apalagi ketika Yunita berbicara seperti tadi malah semakin mengingatkannya pada Fika.


Mobil sudah melaju jauh, sekarang Yunita hanya berjalan sendirian pulang ke rumah padahal biasanya Fika selalu bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2