Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Tentang pembicaraan Yunita


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu.


Di luar gerbang sekolah Anggi berdiri menunggu, sesekali dia menatap ke arah belakang seperti sedang memastikan sesuatu.


"Yun!" Panggilnya.


Yunita yang sedang berjalan dengan Sarah seketika berhenti. "Kamu duluan aja pulangnya ya!" Ucapnya pada Sarah. Sarah menoleh ke arah Anggi tanpa bicara apapun dia langsung pergi seperti yang diminta Yunita.


"Maaf ya. Kamu pulang sama aku lagi, bisa kan Yun?" Tiba-tiba Anggi langsung memintanya pulang bersama lagi.


Yunita tampak bingung, bola matanya bergerak ke sudut kiri dan kanan sedang memikirkan suatu alasan. "Boleh Anggi." Jawabnya canggung.


"Fika tadi udah pulang sama Edo ya." Yunita mengatakannya seolah Anggi hanya ingin menanyakan tentang Fika.


"Kayaknya ia Yun." Jawab Anggi kemudian menundukkan wajah. Jelas sekali wajah Anggi memperlihatkan bagaimana situasi hatinya saat itu.


"Kamu udah tahu dimana rumah Fika?" Yunita masih membahas Fika saat itu.


"Gak Yun, Fika kayaknya emang gak mau ngasih tahu. Katanya sih rumah itu diberikan Edo. Seperti rumah sewaan." Jelas Anggi, sebenarnya Yunita juga sudah tahu dia hanya bersikap baru mendengarnya.


"Lalu kamu ada masalah apa lagi?" Tanya Yunita.


Setelah mendengarkan pertanyaan itu Anggi langsung menghentikan langkahnya. Yunita nampak bingung dia juga ikut berhenti dan menatap Anggi, tak sengaja keduanya saling membalaskan pandangan satu sama lain. "Aku lagi bosan sendirian terus, gak apa-apa kan kali ini kamu pulangnya barengan lagi." Anggi mengatakan itu seolah ajakannya bukan apa-apa, bagi Yunita hal itu adalah sesuatu yang pertama dia tidak pernah dekat dengan teman lelaki sampai seperti dia dan Anggi sekarang.


Yunita tak menjawabnya dia kembali berjalan kemudian Anggi juga.


"Yun ayo!" Seru Anggi sambil berjalan ke arah mobil yang sudah menjemputnya.


Yunita menoleh dan melihat jika mobil yang menjemput Anggi sudah datang. Meski canggung dan tidak nyaman, bukan karena dia tidak bisa menerima hak seperti itu namun rasanya aneh saja.


Ting ...


Suara dering hp Yunita.


Ketika keduanya diam dari tadi Yunita kini sibuk dengan hp setelah menerima notifikasi dari grup wa.

__ADS_1


"Astaga... Luar biasa sekali. Anggi! Lihat!" Seru Yunita tampak merasa kaget, dia menunjukkan hp nya dengan isi pesan yang langsung dibaca Anggi.


"Oh, ia." Respon Anggi sangat santai bahkan untuk hal yang sangat luar biasa menurutnya, Anggi bersikap seolah itu bukanlah hal apa-apa.


"Kau memiliki nilai tertinggi untuk semua mata pelajaran. Kau hebat Anggi!" Ucap Yunita mengutarakan rasa bangga.


"Wah, ternyata diam-diam pintar juga. Hebat!" Ucap Fandi ikut berbicara sambil menunjukkan jempol.


"Bukan apa-apa juga." Sebut Anggi terlihat tidak ingin disanjung seperti itu. Baginya memang mudah dia hanya harus serius mengisi setiap soalnya dan mengikuti ujian.


"Kau bahkan tidak pernah mendapatkan nilai seperti ini sebelumnya. Ajaib sekali, aku saja yang sekolah tiap hari dan mati-matian tidak pernah mendapatkan nilai sempurna seperti itu. Menyedihkan!" Yunita masih tidak berhenti bicara. Sedangkan Anggi dia nampak biasa saja.


"Kebetulan saja. Aku belajar serius dan mendapatkan hasilnya." Anggi masih berusaha menghentikan Yunita untuk bicara.


"Bagaimana bisa..." Timpal Yunita.


"Yun, sekarang kamu bisa gak ikut aku duku sama kak Fandi?" Tanya Anggi.


Mendengarkan pertanyaan itu Yunita langsung diam seketika, dia menoleh ke arah Fandi yang tidak bicara dan memikirkan kata-kata Anggi padanya. "Em. Sangat penting ya? Tapi aku tidak bisa lama-lama, aku harus cepat pulang ke rumah." Jawab Yunita menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Yunita cukup terkejut dan merasa tidak nyaman. Dia pikir sudah menyinggung Anggi.


"Oke, kita menuju ke sana!" Seru Kak Fandi.


"Maaf ya Anggi!" Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian Yunita bisa mengatakan maaf.


"Gak apa-apa kok Yun, kau pasti sibuk sekali karena bibi galak ku kan?" Tebak Anggi sambil tersenyum simpul.


"Ah ia, betul sekali." Yunita mengakuinya, dia ingat ketika Anggi melihat sikap bibi yang menyebalkan. Membuat dia malu saja.


"Kabar nenek mu sekarang bagaimana?" Anggi tiba-tiba menanyakan kabar keluarganya.


"Baik-baik saja, biasa kalau sudah lanjut usia hanya sesekali sakit." Jawab Yunita. Sekarang dia merasa Anggi adalah orang yang baik. Sangat beruntungnya Fika karena Anggi baik dan menyukainya.


"Tadi aku mengobrol di perpus dengan Fika. Akhir-akhir ini sikapnya benar-benar berubah dan dia juga seperti terus menanyakan tentang ku seolah sedang mencari tahu sesuatu." Anggi bicara tentang masalah yang sudah mengganggunya dari tadi, padahal dia sudah menahan untuk tidak bicara pada Yunita. Harusnya seperti itu. Namun bagaimana lagi.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang ingin tahu tentang mu sedetail itu sampai-sampai harus bicara melalui Fika? Kau sepertinya salah sangka." Yunita melihatnya seperti itu, dari sudut pandangnya sendiri dia merasa seperti itu.


"Tidak, Fika memang sedang mengumpulkan informasi yang mungkin itu penting untuk seseorang." Anggi membantahnya.


"Seseorang? Memangnya siapa?" Yunita cukup tercengang.


"Edo. Aku pikir dia." Jawab Anggi.


Jawaban Anggi semakin membuat pikiran Yunita tidak bisa memahaminya. "Mengapa harus Edo?" Gumam Yunita pada dirinya sendiri.


"Ibunya Edo dan ayah ku memiliki hubungan spesial." Anggi langsung mengatakannya.


"Apa? Astaga!" Yunita lagi-lagi terkejut ketika mendengarkannya. Bukan hanya terkejut namun sulit dipercaya.


"Kalian? Astaga aku tak bisa mempercayainya." Yunita mulai mengeluh. Pasti tidak akan yang percaya, siapapun itu sebelum melihatnya sendiri dengan mata mereka.


"Kenapa harus Edo? Ayah mu benar-benar tidak mengetahui jika kalian satu sekolah dan saling mengenal?" Yunita mulai terus membicarakannya.


Anggi mengangguk pelan. "Itu bukan urusan ku, aku tidak akan berkomentar tentang pilihan ayah." Anggi bicara tentang keinginannnya dan apanyang akan dilakukannya.


"Semoga saja Edo benar-benar akan berubah dan baik pada siapapun. Kau sungguh sial sekali bisa bersaudara dengannya." Terdengar seperti sebuah Omelan.


Anggi mulai tertarik dengan cara bicara Yunita, entah kenapa Yunita membicarakan sesuatu yang tidak biasanya. "Apa Edo tidak baik?" Tanya Anggi.


Yunita tampak terkejut lagi. "Udah di sini aja Kak! Aku turun ya! Terimakasih untuk tumpangannya!" Yunita menyudahi pembicaraannya, apalagi ketika pembahasan itu bermula tentang Edo.


"Terimakasih Yun!" Teriak Anggi ketika Yunita sudah berjalan masuk ke dalam gapura perumahan.


Yunita membalasnya dengan lambaian tangan saja tanpa berbalik melihat ke arah Anggi lagi.


"Yu jalan lagi Kak, kita pulang saja!" Anggi memilih langsung pulang.


"Loh, gak mampir-mampir dulu?" Kak Fandi tampak seperti orang yang paling menginginkan untuk pergi keluar.


"Kita istirahat saja kak!" Anggi menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2