
Pukul 06.00 WIB.
Tampak salah satu mobil berwarna hitam berbelok ke arah sekolah SMA****. Seorang siswa berpakaian rapih turun dari mobil dan disambut oleh salah satu penjaga sekolah yang kebetulan ada di sana.
"Wah lagi sekali." Penjaga itu menegur Anggi.
Anggi tersenyum sambil menyerahkan bingkisan di tangannya, sekotak sarapan pagi, juga beberapa dari dalam mobil.
"Pak, bisa bantu untuk yang lainnya juga." Ucap Anggi. Dia sengaja membawa beberapa sarapan yang dibelinya ketika Dalma perjalanan.
"Sampai ngerepotin gini. Terimakasih pak! Terimakasih." Ucapnya sesaat menatap ke arah Kak Fandi.
"Saya bisa masuk kan pak?" Tanya Anggi saat itu.
"Oh, tentu silahkan masuk!" Jawab penjaga itu.
Beruntung sekali dia diselamatkan dengan sekotak nasi pagi. Anggi kemudian berjalan ke arah parkiran motor, sedangkan kak Fandi sudah kembali pulang.
Beberapa tukang dia sapa juga, tapi ketika melihat kepala sekolah berjalan ke arahnya Anggi segera berbalik dan kembali ke jalan lain.
"Pak, sarapan! Tadi dia bawa sarapan dari orang tuanya." Ucap pak satpam saat itu pada kepala sekolah yang sudah ada di belakang Anggi. Mau bagaimana lagi Anggi tidak bisa menghindarinya, dia berbalik lagi dan mulai tersenyum melihat kepala sekolah yang semakin mendekat.
"Wah rajin sekali sudah datang ke sekolah. Ada tugas Darii guru?" Tanyanya. Seketika mendengarkan pertanyaan itu Anggi langsung bingung. Dia spontan menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa. Kau langsung ke kelas jika ada yang diperlukan. Tapi untuk ruangan perpus dan yang lainnya masih dibersihkan ya." Kepala sekolah langsung berjalan lagi ke arah pos satpam.
Beruntung sekali kali ini dia bisa menghindar. Setidaknya Anggi tidak perlu merasa was-was ketika ditanyai seperti tadi.
Anggi melanjutkan lagi jalannya. Perlu melewati beberpaa kelas hingga sampai ke kelasnya. Namun di sepanjang jalan matanya terus beredar ke setiap sudut di sekolah itu, dia sengaja datang sekolah sangat pagi sekali berharap jika Fika hari ini masuk dan kebetulan dia akan bertemu dengannya lagi.
Ketika melewati perpus Anggi berpikir untuk naik ke lantai 2, dia akan lebih mudah jika melihatnya dari atas sana. Buru-buru Anggi berlari menuju lantai 2.
__ADS_1
Sekolah masih sangat sepi, kecuali seperti biasa semua tukang dan penjaga sekolah termasuk kepala sekolah yang sudah ada lebih awal. Anggi melihat lagi suasana ketika sekolahnya benar-benar sepi, ini adalah pengalaman keduanya. Waktu itu mungkin kebetulan Fika datang ke sekolah sangat pagi, tapi kali ini Anggi berharap yang sama juga.
Lamanya Anggi berdiri sambil membagikan pandangan ke setiap sudut sekolah, tapi perasaannya mulai kecewa karena dia tidak melihat Fika. Beberapa kali Anggi memandangi jam tangannya, sudah setengah jam sejak kedatangannya. Sekarang juga tampak ada salah satu siswa yang sudah datang lagi. Mungkin petugas PMR.
Anggi kemudian duduk bosan, masih menunggu di tempat itu. Pikirannya yang sangat gelisah, tetap fokus mengingat keadaan Fika yang tidak ada kabar. Dia tidak bisa tenang sebelum mengetahui kabar Fika.
Tiba-tiba terdengar suara pantulan sepatu dari arah tangga, Anggi terperanjat sampai berdiri dari duduknya.
Tak lama muncul wajah yang tak asing baginya, ternyata Fika. Tampak Fika tidak terkejut ketika melihat Anggi sudah ada di sana.
"Fik. Kau baik-baik saja?" Tanya Anggi langsung. tanpa basa-basi.
Fika duduk dulu di kursi itu kemudian Anggi mengikutinya duduk. "Sudah beberapa hari aku tidak sekolah, dan aku butuh beberapa catatan di perpus untuk tugas-tugas. Yunita memberitahu ku ada begitu banyak tugas." Fika mulai bicara dengan santai dan tidak menunjukkan sedikitpun dia dalam masalah.
"Oh, seperti itu." Ucap Anggi yang tidak tahu akan bicara apalagi.
"Kau juga mau ke perpus?" Tanya Fika.
"Kebetulan sekali. Semoga saja petugas perpusnya cepat naik ke sini dan membuka kunci. Harusnya sebentar lagi." Ucap Fika sambil melihat ke arah jam tangannya.
Anggi tidak bicara apapun lagi, dia merasa aneh jika hanya berdua saja dan saling mengobrol dengan Fika. Apalagi melihat sikap Fika yang berubah membuat dia merasa canggung. Kali ini saja Fika tampak lebih luwes dan bebas berbicara. Dia tidak menunjukkan sedang ada Dalma Masalah seperti sebelumnya.
"Nah, itu dia." Seru Fika cukup senang melihat petugas perpus yang baru saja datang.
Fika buru-buru mengikuti petugas perpus dari belakang, sepertinya dia tidak akan lama tinggal di perpus itu.
Anggi tampak sedikit kecewa, dia tidak bisa membohongi perasaannya dan membiarkan Fika pergi dengan singkat.
"Cepat masuk!" Ajak Fika membuyarkan lamunan Anggi.
Beberapa saat ketika pintu perpus sudah dibuka Fika langsung memburu salah satu barisan buku di sana. Anggi yang tidak tahu apapun, dari awal dia tidak bermaksud datang ke perpus untuk mencari buku. Dari pada terlihat aneh Anggi berpura-pura saja mencari sesuatu di sana.
__ADS_1
Anggi sibuk dengan beberapa buku di depannya, mulai membaca judul buku saja.
"Anggi!" Seru Fika.
Anggi cukup kaget ketika menoleh ternyata Fika sudah ada di dekatnya saat itu. "Ia Fika?" Jawab Anggi segera merespon.
"Apa Yunita selalu berbicara sesuatu pada mu?" Pertanyaan yang tak terduga. Anggi sedikit diam dulu untuk mencerna kembali pertanyaan Fika.
"Tentang apa?" Kemudian dia baru bertanya.
"Oh, tidak. Aku kira Yunita bicara banyak." Fika tampak aneh ketika mengatakannya, Anggi sudah bisa menebaknya pasti ada sesuatu yang disembunyikan namun entah apa itu. Pasti Yunita tahu, Anggi bermaksud akan bertanya nanti.
"Kau kapan mau ke luar negeri?" Pertanyaan spontan lagi yang didengar Anggi.
"Untuk masalah itu aku tidak tahu kapan. Lagi pula tanggung belum kenaikan kelas." Jawab Anggi.
"Apa kau sungguh mau pergi ke sana?" Fika masih membahas yang sama.
Anggi menoleh melihat lagi ke arah Fika. "Apa seseorang mengatakannya padamu dan kau percaya?" Anggi balik bertanya.
Fika segera memalingkan pandangannya saat itu juga. "Tidak ada. Bukankah kau dan Pak Dokter yang membicarakannya. Kalian sangat serius waktu itu untuk pergi." Jawab Fika.
Mendengar jawaban itu tidak membuat Anggi yakin. Fika seperti sedang bertanya untuk seseorang, tapi untuk apa menanyai segala hal tentang nya?
Entah mengapa firasat Anggi langsung mengarah pada Edo. Apakah karena Edo? Edo yang meminta Fika untuk menanyakannya? Tapi untuk apa?
Anggi kembali berbalik menatap Fika. Sekecil apapun hal yang berusaha Fika sembunyikan, namun matanya selalu memberitahu Anggi, hati Anggi tidak pernah salah akan hal itu.
"Fik, jika aku pergi ke luar negeri kau akan baik-baik saja kan?" Ucap Anggi membuat Fika yang sibuk memilah buku menjadi berhenti.
Fika berbalik namun matanya masih enggan membalas tatapan Anggi. "Apa yang kau katakan, memangnya ada pengaruh besar jika kau yang pergi atau tidak untukku?" Ucap Fika saat itu.
__ADS_1
"Oh, ia ya." Jawab Anggi.