Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Apa mungkin karena Edo?


__ADS_3

"Ingat, kau tidak boleh sering menjemput ku ke sekolah." Sepanjang berjalan ke rumah hingga dia sudah masuk ke dalam rumah, Anggi tak berhenti terus mengatakan apa yang dia mau. Namun matanya langsung berubah ketika melihat wajah wanita yang sama, bahkan ketiganya duduk dan mengobrol santai.


Kedatangan Anggi membuat ayahnya langsung berhenti bicara. "Kau baru pulang? Kapan-kapan lagi kalian bisa pulang bersama kan." Ucap ayahnya yang tiba-tiba.


Anggi terus menatap Edo yang tak bereaksi saat itu. Tapi kali ini Anggi sedikit berbeda melihatnya. "Aku akan pulang bersamanya? Aku pikir Edo tidak mau ayah karena kami tidak akrab di sekolah." Ucap Anggi sambil berjalan melewati ketiganya.


"Justru itu, kau harus bisa akrab dengannya." Ucap lagi ayahnya masih kekeh dengan permintaan tadi.


"Karena apa ayah? Apa aku harus tahu alasannya kenapa harus tiba-tiba akrab?" Padahal Anggi tidak pernah bicara lantang di depan ayahnya. Justru karena perubahan itu ayahnya tak bicara apapun lagi.


Anggi tak tertarik untuk berlama-lama tinggal di ruangan yang sama, apalagi kedatangannya bisa merusak acara khusus itu.


"Sudahlah, anak-anak biasanya akan akrab dengan sendirinya kau tidak perlu ikut campur. Mereka berbeda mempunyai pemikirannya sendiri." Timpal wanita yang duduk di samping ayahnya, tak lain dia adalah Ibunya Edo.


"Aku harus pergi sekarang, Bu!" Edo mulai bicara.


Mendengarkan Edo bicara Anggi segera menoleh.


"Apa yang kau katakan? Kau selalu saja begitu astaga." Keluh Ibunya yang tampak tidak puas dengan sikap Edo.


"Tinggallah lebih lama, kau harus mengenal ayah ku kan!" Celoteh Anggi tidak membiarkan sedikit pun kesempatan ayahnya bicara saat itu. Setelah mengatakannya Anggi benar-benar pergi meninggalkan ruangan bersama Fandi.


"Maafkan anakku hari ini. Kalian jadi tidak nyaman karena kata-katanya." Ayahnya sangat canggung, dia begitu baik memperhatikan orang lain tapi naif karena tidak memperhatikan niat mereka.


"Tidak apa-apa, lagipula aku akan pergi bersama Edo. Tadi Edo memiliki urusan yang mendadak kan?" Tanya ibunya pada Edo membenarkan.


Edo tak menjawab saat itu.


"Maafkan aku, aku tidak tahu dia akan berbicara seperti tadi. Aku tidak tinggal dengannya jadi aku tidak terlalu memahaminya." Ucap ayahnya Anggi sebagai alasan.


"Jangan merasa bersalah, kami sepertinya yang salah karena sudah datang lagi ke rumah ini." Timpal ibunya Anggi.


Benar-benar sangat pintar membolak-balik situasi hingga membuat seseorang merasa iba dan bersalah di hadapannya.

__ADS_1


"Aku sangat tidak enak sekali. Bagaimana jika besok kita jadwalkan untuk makan di luar? Kau suka itu kan?" Tawar ayahnya Anggi sebagai permintaan maaf.


"Baiklah, sampai jumpa besok!" Akhirnya dia pergi bersama Edo anaknya.


Melihat kepergian orang lain karena ucapan Anggi membuat emosinya sedikit meluap. Dia Hanya perlu bicara sebagai seorang ayah.


Tak menunggu waktu dia berjalan ke arah kamar Anggi dan membuka pintunya.


"Anggi kau baik-baik saja?" Ucapnya merasa khawatir karena melihat Anggi yang terbaring dengan pemeriksaan.


"Tadi dia sedikit kurang enak dengan keram di perutnya, bukan masalah hak itu terjadi mungkin karena kecelakaan yang mengakibatkan ototnya belum benar-benar pulih." Ucap Fandi menjelaskan.


"Baiklah, jaga diri mu baik-baik." Kemudian ayahnya kembali dari kamar tanpa mengatakan apapun yang sudah dia rencanakan tadi.


Dalam situasi seperti itu memang lebih baik diam saja, tidak ada hal yang lebih baik selain harus secara perlahan membuat Anggi paham dan bisa menerima keluarga Edo untuk menjadi keluarganya.


*****


"Tidak perlu, aku tidak bisa pergi ke sana." Jawab Anggi sebagai alasannya.


Benar saja, siapa yang berani pergi ke rumah sakit apalagi setelah kematian Pak Han, mungkin itu alasan Anggi tidak bisa pergi ke sana dalam waktu yang dekat.


"Keluarlah, kau mau terus-menerus di sini?" Anggi sedikit emosi karena melihat Fandi yang benar-benar tidak bisa pergi sedikit menjauh.


Fandi tampak bingung berdiri di depan Anggi. "Apa yang akan aku lakukan?" Tanyanya.


"Tenang saja di rumah ku aman, semuanya terjaga baik. Pergilah ke kamar mu." Ucap Anggi.


Berhasil, setelah mengatakan alasan seperti itu membuat Fandi keluar dari kamarnya. Setidaknya sekarang Anggi bisa menghela napas lega, dia membutuhkan waktu untuk sendirian selain harus terus ditemani seperti itu.


Secepat kilat Anggi langsung terpikirkan lagi tentang Fika. Setelah sekolah Fika pergi dengan Edo, namun Edo juga sudah berada di rumahnya, lebih mungkin Edo hanya membutuhkan waktu sedikit untuk mengantar Fika.


Anggi benar-benar merasa penasaran, dia ingin tahu dimana Fika tinggal untuk saat ini. Andai saja Fika menerima rumah itu mungkin dia tidak harus merasa khawatir seperti sekarang.

__ADS_1


Anggi meraih hp nya yang dia simpan di dalam tas. Ketiika membuka layar ternyata sudah ada beberapa pesan yang masuk. Matanya terbelalak ternyata Yunita sudah mengiriminya pesan. Pikir Anggi pasti tentang Fika.


"Anggi, aku sudah tahu dimana Fika tinggal."


"Kau pasti penasaran sekali."


"Fika pergi dengan Edo kan? Pantas saja dia pergi dengannya."


"Fika mengatakan tinggal di rumah sewaan milik Edo, dia juga bisa membayar sewaannya setelah mendapatkan uang."


"Tapi aku tidak begitu tahu detailnya dimana karena Fika tidak membicarakannya lagi."


"Sekarang kau tidak penasaran lagi kan? Tugas ku sudah berhasil."


Beberapa pesan yang dikirimkan oleh Yunita.


Anggi tampak sedikit emosi, mengapa harus Edo yang ikut campur dengan urusan Fika? Lagi pula Anggi sudah menawarkan rumahnya secara suka rela maupun sewa, tapi kenapa Fika tidak ingin menerimanya dan malah memilih Edo.


Setelah dipikirkan lagi olehnya, Anggi berpikir perubahan sikap Fika memang karena Edo. Fika lebih banyak diam bahkan terlihat sangat menghindarinya.


Anggi semakin bingung, dia tidak bisa berpikiran buruk tentang orang lain, karena alasan itu dia tidak tahu alasan Edo di balik semua tindakannya.


Dan perasaan kecewanya membuat Anggi tidak bisa tenang. Dia merasa selalu salah di mata Fika.


Hampir menyerah, Anggi tidak yakin dia bisa akhirnya sedikit dekat dengan Fika, padahal dia sangat ingin hal itu terjadi sebelum dia harus pergi ke luar negeri. Jika dia sudah berada di sana, mungkin Fika juga akan melupakannya.


"Kau belum tidur?" Tiba-tiba sebuah sura cukup mengagetkan Anggi, karena dari tadi dia hanya melamun saja.


"Astaga, setidaknya kau harus mengetuk pintu untuk masuk ke kamar." Gerutu Anggi kesal.


"Aku tidak bisa terus tinggal di kamar itu. Kau tahu kan apa rasanya ketiika menjadi diriku sekarang." Ucapnya ada Anggi.


Anggi menggelengkan kepala tanda tak percaya, mengapa dia beralasan seperti itu lagi di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2