
"Kau ingin bertemu dengannya?" Fandi tiba-tiba muncul saat Anggi melamun di dalam kamar.
"Apa yang kau katakan." Anggi mengelak dia beranjak pergi melewati Fandi.
"Aku tahu dimana Yunita sekarang. Dia menjalani pertukaran pelajaran dan terpilih ke salah satu universitas di sini. Kurang lebih selama 3 bulan dia di sini." Fandi menjelaskan meski itu tak diminta.
Anggi menghela napas perasaannya memang terjebak dilema, dia ingin sekali menemui Yunita, sudah terlalu lama dan entah mengapa rasanya aneh saja. Apa yang akan dikatakan Yunita jika tahu dia masih mencari tahu tentang Fika.
"Datangi dia sekarang, atau kau akan menyesal nanti." Fandi terus memberikan keteguhan hati Anggi agar dia bisa membuat Anggi pulang kembali ke tanah air.
"Akan aku pikirkan." Jawabnya singkat kemudian Anggi keluar dari kamar apartemennya itu.
Anggi melihat cuaca di luar tidak bersahabat dia masih salju tebal turun dari langit. Jika dipikirkan lagi setiap hari yang dia lewati masih sama apakah dia akan melewati hari esok yang sama juga?
Wajahnya sedikit menengadah membiarkan dingin salju jatuh ke wajahnya.
"Itu membuat kulitmu dingin." Terdengar ucapan seseorang membuat Anggi segera menarik kembali wajahnya dan dia melihat sosok wanita yang tadi sempat menjadi bahan pembicaraan Fandi.
"Apa kabar? Kita bertemu lagi, setelah tadi kita bertemu." Ucap Yunita terlihat dia senang sekali.
Fandi mematung dia masih bingung akan bereaksi seperti apa ketika Yunita tiba-tiba muncul lagi. "Oh, aku baik." Jawab Anggi susah payah. Dia kehabisan kata-kata.
Yunita tersenyum. "Kau ingin pergi keluar? Hari ini adalah hari pertamaku jadi tadi aku juga pergi ke sana di bawah salju itu dan duduk di sana, ternyata menyenangkan sekali." Jelasnya dengan bicara santai. Fandi melihat Yunita yang masih sama dia kemudian tersenyum membalas cara bicara Yunita itu padanya.
"Aku seperti bermimpi bertemu teman lama. Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu." Akhirnya Anggi bisa bicara normal setelah menarik napas dan membuang jauh-jauh rasa canggungnya.
"Kau sudah berubah ya." Ucap Yunita lagi. Kornea matanya melebar Menatap aneh Yunita yang berbicara itu padanya. Padahal selama ini Anggi berpikir tidak pernah ada yang berubah apapun itu.
"Kau tambah tinggi sekali." Lanjut Yunita menjelaskan kata-katanya tadi.
"Oh, seperti itu." Anggi masih membalas ucapan Yunita dengan garing. Dia tidak bisa sesantai dan senyaman seperti Yunita ketika berbicara dengan siapapun.
"Setelah kau ke sini, Fika... Aku tak tahu bagaimana kabarnya." Nada bicara Yunita terdengar sedih.
__ADS_1
Anggi mematung mendengarkan kabar buruk itu, padahal dari tadi dia ingin mendapatkan kabar tentang Fika tapi tak menyangka jika seperti itu.
"Kau pasti ingin tahu tentang kabarnya kan? Aku selalu mencari tahu sejak itu, tapi Fika seperti di telan bumi dia tidak ada dimanapun." Yunita menjelaskannya lagi.
Anggi seperti sedang menelan pil pahit di tenggorokannya, dia sama sekali tidak bisa berkomentar apapun.
"Edo juga, dia masih bersekolah sampai tamat SMA. Aku sudah mendesaknya tapi dia bersikeras menjelaskan tidak tahu." Yunita berbicara sambil menatap ke arah Anggi, mencari sesuatu dari raut wajahnya dan menunggu Anggi bicara.
Ada perasaan kesal yang tiba-tiba menjadi sesak di dadanya, semua karena Edo dia pasti yang sudah membuat Fika pergi. Tapi ini juga adalah kesalahannya, Anggi pergi sebelum memastikan Fika akan baik-baik saja.
"Itu membuat mu tidak sedih kan?" Tanya Yunita.
Tak disangka tiba-tiba kedua tangan Anggi menarik tubuh Yunita hingga terdiam beberapa saat dalam pelukannya.
Yunita hanya membulatkan mata tak percaya dia bisa merasakan kehangatan dan mendengarkan detak jantung Anggi.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Anggi kemudian tak lama melepaskan pelukan itu dan berjalan tenang melewati Yunita.
Meski salju turun membuat rambutnya memutih sepertinya Anggi tak peduli, dia menerobos salju itu berjalan di bawahnya dengan tenang.
Yunita kemudian berjalan menuju kamar apartemennya yang kebetulan ada di gedung sama dengan Anggi, dia tak menyangka jika bisa kebetulan seperti itu.
"Yun!" Panggil seseorang.
Yunita melihat ke sisi lain mencari sumber suara, ternyata yang memanggilnya adalah Kak Fandi. Kemudian dia tersenyum ramah masih seperti dulu.
"Kau tinggal di gedung ini juga? Wah kebetulan sekali." Fandi mengawali pembicaraan nya.
"Ternyata Kak Fandi masih sangat setia dengan Anggi." Puji Yunita.
Fandi tersenyum mendengarkan pujian. "Astaga itu harus sekali. Lagi pula bagaimana aku hidup tanpa melakukan hal seperti ini." Fandi terlihat sedikit murung.
"Kakak sudah mendapatkan pilihan yang tepat, pasti Pak Han kini sudah tenang di sana karena melihat Kak Fandi bersama Anggi." Tanpa dijelaskan Yunita bisa langsung menebaknya. Perasaan Fandi memang seperti yang dikatakan yunita tadi.
__ADS_1
"Apa kak Fandi dan Anggi berencana untuk kembali?" Yunita langsung berbicara menyinggung tentang rencana yang sebenarnya sudah dibuat Fandi namun seperti yang tampak, Anggi sangat sulit diajak untuk pulang.
Fandi menghela napas. "Sulit sekali, Anggi masih tidak memiliki rencana untuk kembali." Fandi membicarakan masalahnya. Mendengarkan penjelasan itu Yunita terus mengangguk paham dengan situasinya.
"Ngomong-ngomong aku ingin bercerita banyak apakah kak Fandi ada waktu?" Yunita memberanikan diri untuk bertanya kepastiannya.
Fandi terlihat mempertimbangkan sesuatu. "Sekarang saja. Di lantai bawah ini ada sebuah restoran kita akan mengobrol di sana." Fandi langsung mengajak Yunita pergi, lagipula dia tahu Anggi tidak akan pulang dengan cepat juga.
"Baiklah. Bagus sekali jadi aku bisa mengetahui sesuatu tempat ini dari kakak." Yunita menyetujuinya dengan gampang.
Kemudian keduanya berjalan bersama menuju lantai bawah di gedung itu, harus turun melalui tangga sebelum sampai di sana.
"Berapa lama kau tinggal di sini?" Fandi bertanya.
Yunita menoleh ke arahnya. "Sekitar 3 bulan aku di sini. Tapi jika satu bulan sudah cukup bisa jadi aku pulang lebih cepat sayang sekali ." Terangnya.
Fandi mulai sedikit was-was setelah mendengar kenyataan langsung dari Yunita. Artinya kepastian Yunita tinggal di Korea masih dalam pertimbangan, bagaimana jika menjadi lebih cepat sayang sekali.
"Sangat ramai sekali, aku kira tidak ada tempat seperti ini karena dari luar tidak begitu tampak." Yunita cukup takjub melihat keramaian di sana.
"Kau tinggal turun ke lantai dasar dan turun lagi dari sana, tempat makannya cukup kan?" Ucap Fandi.
Yunita mengangguk. Keduanya sudah duduk kebetulan ada salah satu meja yang kosong.
Seorang pelayan datang dia berbicara Korea sambil menawarkan menu makan, Yunita memang sedikit mengerti tapi ketika dia akan memesan makanan Fandi sudah lebih dulu menjawab pelayan itu dengan bahasa Korea yang pasih.
"Di sini ada makanan halal juga tenang saja. Kau bisa melihat daftar menunya di bagian yang ini." Fandi menjelaskan sambil memperlihatkan daftar menu buku yang harus dipilih Yunita.
Obrolan ringan dan santai keduanya memang cukup nyambung. Yunita orang yang terbuka dengan siapapun, dia baik menurut pandangan Fandi, entah apa yang membuat Anggi tidak melihat sisi baik Yunita.
"Kau bisa kan membujuk Anggi untuk kembali? Aku sangat pesimis sekali, dia bahkan tidak ingin memulai karirnya." Obrolan inti mulai dibicarakan.
Yunita terlihat berpikir, dia sudah tahu tidak ada yang bisa membuat Anggi kembali selain Fika. "Satu-satunya cara adalah Fika, kita harus menemukannya dan membuat Anggi kembali." Ucap Yunita.
__ADS_1
Fandi tidak tahu jika Yunita akan berpikir seperti itu. "Bagaimana caranya?" Tanya Fandi.