
Anggi masih berdiri memandangi rumah sakit di hadapannya. Dia merasa kebakaran itu tepat terjadi saat dia mengalami kecelakaan, entah mengapa pikirannya mengarah ke sana.
Dia akan pergi dan membicarakannya dengan kak Fandi, harusnya dia juga mendengarkan pendapat orang lain juga.
Braakk...
Seseorang menabraknya tiba-tiba, Anggi terjatuh saat itu ke tanah. Matanya menatap orang itu namun sangat janggal, harusnya orang tadi meminta maaf atau bahkan mengatakan satu atau dua kata padanya. Tapi malah pergi dengan begitu saja.
Terlalu banyak kejadian yang mengganggunya, dia tidak tahu pasti apakah rumah sakit yang mengalami kebakaran itu ada kaitannya dengan kematian Pak Han.
Tiing...
Suara Hp nya berbunyi. Kebetulan sekali Fandi menelpon di saat seperti itu.
"Kau dimana?" Seru Fandi terdengar cemas.
"Aku di luar, ada apa?" Jawabnya.
"Sekarang kau dimana? Aku sudah menemukan sesuatu yang penting." Fandi terdengar serius mengatakannya.
"Aku pulang sekarang." Anggi segera menutup telpon itu. Kini dia fokus harus menemukan angkutan umum secepatnya, atau sebuah taksi untuk pulang.
Dia akhirnya sudah keluar dari rumah sakit tadi, dia berdiri di pinggir jalan berharap sesuatu akan lewat dengan cepat. Matanya terus menerawang ke satu arah. Anggi kecewa karena tidak semudah itu menemukan taksi di dekat ruang sakit.
Matanya terus mencari kesana kemari, harusnya dia bisa memesan online kan. Ketika cemas dan bingung dia turun ke jalan raya niatnya akan menyeberang di sana. Setelah arus kendaraan mulai ada celah dia berjalan tapi sesuatu terjadi tanpa diduga. Anggi mendengarkan bunyi klakson yang terdengar panjang, dia menoleh ke satu sisi sebuah mobil dengan kecepatan tanggung melaju kencang ke arahnya. Anggi tidak sempat menghindar sekaligus dalam hitungan detik tubuhnya langsung ditabrak hingga terpental keras. Mobil sempat berhenti namun langsung kabur.
__ADS_1
Orang-orang berkerumun saat itu, tubrukan mobil menyebabkan tubuhnya terpental cukup jauh dan membuat dia tersungkur dengan banyak darah dari kepala.
*****
Sekelompok orang dengan salah satu orang penting diantara mereka, berlari dengan wajah panik memburu pintu rumah sakit dan menanyakan kabar tentang kecelakaan yang terjadi di depan gedung rumah sakit.
Raut wajahnya cemas, bola matanya menatap nanar ke arah pintu ruangan yang di dalamnya adalah Anggi. Terbaring lemas tidak sadarkan diri, karena lukanya di kepala tentu saja meninggalkan bekas fatal.
Tidak lama muncul wajah tak asing yang selalu bersama Anggi, dia adalah Fandi. Ketika Fandi terburu-buru melangkah kemudian kakinya teratur berjalan ketika melihat Rendra ayahnya Anggi sudah berdiri di depan pintu.
Ayahnya langsung menatap ke arah Fandi, lalu dia mendekat dan menatap tajam ke arahnya. "Kenapa dia bisa kembali ke rumah sakit?" Tanyanya.
Mendengarkan pertanyaan itu Fandi hanya bisa mematung tidak tahu apapun. Dia tidak pernah berpikir jika Anggi akan pergi ke rumah sakit itu.
Fandi diam saja, tak lama Rendra melepaskan tangannya juga. Dia masih mondar-mandir nampak gusar saat itu, tapi jika dilihat lagi matanya nampak sangat marah entah karena apa.
Fandi berusaha menyusun setiap kata yang membuat dia merasa gugup saat itu. "Tidak. Anggi tidak mengatakan apapun." Ucapnya gugup.
"Kau selalu bersamanya kan?" Rendra terdengar tidak cukup puas dengan jawaban itu.
Fandi nampak gugup sekali, dia merasa seperti itu karena sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan Anggi pergi sendirian. "Anggi. Dia menyuruhku untuk menjemputnya sore, dia menemui temannya aku tidak tahu jika dia pergi ke rumah sakit." Fandi berusaha mengatakannya. Dia tidak melebihkan sesuatu pun yang diketahuinya, mengungkapkan semua yang dia ketahui kecuali tentang penemuan mereka di kamarnya.
"Kau benar tidak tahu apapun?" Rendra tampak menegaskan lagi.
"Astaga. Dia seharusnya tidak berkeliaran di luar." Gumam Rendra. Dia melihat ke sekeliling kemudian menarik lengan Fandi untuk bicara di tempat lain.
__ADS_1
Sedangkan dua pengawalnya menunggu di ruangan Anggi dirawat.
Fandi tidak mengatakan apapun dia hanya menurut saja.
Setibanya di tempat yang dirasa aman Rendra mulai menatap Fandi lagi, melihat sedikit keseriusannya.
"Apa kau benar adiknya Han? Kau tidak mirip dengannya. Kau tidak banyak tahu dan ceroboh." Terdengar seperti suatu luapan emosi.
Fandi tidak bisa menolak kata-kata itu, dia merasa semuanya benar.
"Kau tahu kenapa Han menyuruh kalian untuk pergi ke luar negeri? Kau tahu alasannya?" Rendra bertanya lagi.
Fandi mematung, dia hanya tahu jika asumsi kakaknya itu tentang keselamatan Anggi, dengan pergi ke luar negeri mungkin Anggi akan selamat.
"Oh, astaga kau tidak tahu apapun." Keluh Rendra memperlihatkan kekecewaannya.
Fandi menghela napas, dia benar-benar tidak terbiasa dengan situasinya sekarang. "Kak Han, dia sangat peduli dan mengorbankan segalanya untuk Anggi. Dia ingin Anggi selamat dan mungkin itu alasannya." Fandi mengatakannya dengan susah payah, dia sebenarnya tidak berharap jika ucapannya benar namun setidaknya dia ingin bisa seperti Kak Han.
"Buat Anggi pergi secepatnya ke luar negeri, dan kau sebaiknya hidup menjadi seorang dokter lalu lupakan kami semua. Jangan terlibat lagi, cukup dengan Han saja kau tidak bisa sepertinya dan berakhir sepertinya juga." Rendra mengatakannya sangat serius. Setelah bicara dia kembali berjalan ke arah tadi, mungkin akan pergi lagi ke ruangan Anggi dirawat.
Mendengarkan kata-kata itu sedikit hatinya merasa putus asa. Benar, jika dia tidak akan seperti Kak Han lagi pula dia hanya ingin menjadi seorang dokter bukan seperti Kak Han. Tapi Fandi tidak bisa mengabaikan keinginan Kak Han di akhir hidupnya. Dia tidak bisa mengabaikan hal itu, selain karena kakaknya dia tidak memiliki alasan lain untuk hidupnya. Bahkan dalam situasi ini dia sendiri yang paling dirugikan, dia yang kehilangan tapi orang-orang tampak mulai menyalahkan, terlihat memberinya sebuah beban.
Fandi akhirnya duduk di pojokan rumah sakit. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang di hadapinya sekarang. Sudah terlanjur menjalaninya, dia juga sudah terlanjur memilih jalannya jadi tidak ada alasan untuk mundur dari semua skenario yang ada, tidak semudah itu.
Lamanya Fandi melamun dia masih memikirkan, sesuatu yang tidak dibicarakan oleh kakaknya itu. Apakah penting? Dari sekian banyak pesan penting yang bisa disampaikan tapi kakaknya memilih dia harus melindungi seseorang yang entah akan membuat hidupnya lebih berarti setelah dia sudah kehilangan semuanya.
__ADS_1
Sekarang hatinya terus bertanya, dia tidak tahu harus bagaimana dan harus memulainya dengan apa. Untuk kejadian hari ini memang dia yang bersalah karena membiarkan Anggi bertindak sendirian. Dan alasan Anggi pergi ke rumah sakit ini? Dia sama sekali belum mengerti.
Fandi berharap Anggi akan segera sadar dan menceritakan semuanya.