Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Agenda makan malam


__ADS_3

Anggi sudah menutup pintu kamarnya lagi. Bohong sekali jika dia mengatakan jika tulisan tadi bukan apa-apa. Nama yang dituliskan langsung membuat dia merasa jantungan, Anggi menganggapnya jika ada arti tersendiri yang tersimpan dari nama itu. Untuk selebihnya dia harus menanyakan langsung pada neneknya, dan Maslaah terbesar adalah dia tidak tahu rumah neneknya tinggal dimana.


Napasnya masih memburu, namun ketika matanya menoleh ke arah jam dinding dia rasa tidak ada waktu lagi untuk berdiam diri dan memikirkan hal lain. Anggi sudah harus siapa dalam waktu setengah jam lagi, dia harus berangkat dan datang lebih awal di sana setidaknya dia tidak akan terlambat dan malu.


Anggi berjalan lagi ke arah cermin di sana, ketika asyik bercermin matanya tidak bisa diam terus meneliti ke seluruh permukaan cermin sampai dia merasa terganggu oleh pikiran itu. Karena penasaran dan merasa ingin lebih lega saja jika dia memastikan sesuatu yang mengganggu. Anggi berjalan semakin dekat ke arah cermin, dia meraba permukaan cermin dengan teliti sekali dan tidak melewatkan sedikitpun celah di sana meskipun cerminnya sangat lebar dan panjang ke atas.


Ceklek...


Suara pintu dibuka.


"Kau sedang apa?" Tanya Fandi yang tiba-tiba masuk dan langsung melihat Anggi melakukan sesuatu.


Jurus secepat itu tidak mungkin bisa membuat Anggi menghindari tatapan Fandi, jika sudah ketahuan basah seperti itu dia tidak akan bisa mengelak lagi.


"Kebiasaan masuk kamar gak ketuk pintu dulu." Gerutu Anggi sengaja marah, dia hanya ingin Fandi tidak fokus pada aksi tadi.


Fandi menatap Anggi penuh tanya. "Kau sudah siap?" Tanyanya pada Anggi. Ternyata Fandi tidak membahas hal lain, tentu saja karena dia baru melihat jam dinding dan waktunya tidak tersisa lama.


"Ayo kita pergi sekarang!" Anggi ingin langsung pergi saja saat itu. Dia berjalan lebih awal kemudian Fandi menyusulnya.


"Kau tidak mengunci pintunya dulu?" Tiba-tiba Fandi mengingatkannya.


"Aku sampai lupa." Anggi terpaksa berjalan mundur lagi dan mengunci pintu kamarnya dulu sebelum pergi.


"Kau tidak apa-apa bertemu dengan keluarga baru mu?" Fandi tidak begitu menyenangkan dia membahas tentang keluarga di hadapan Anggi yang sama sekali tidak mengharapkan keluarga seperti itu.

__ADS_1


"Kau benar-benar banyak bicara." Anggi bicara pelan menyindir Fandi agar bisa diam.


Fandi tidak tampak mempermasalahkannya, dia sebenarnya sengaja dan ingin melihat respon dari Anggi lagi.


Anggi dan Fandi sudah masuk kembali ke dalam mobil. Fandi yang menyetir dan anggi hanya duduk tenang, mengobrol, menemani perjalanan yang cukup panjang saat ini.


Perjalanan membosankan karena Anggi pergi tidak dengan kemauan dan niat hatinya sendiri. Dia terpaksa sekali, jika tidak apa jadinya nanti apakah dia akan mendapatkan amarah yang sama dari ayahnya.


30 menit perjalanan. Pemandangan hotel mewah langsung tampak memikat mata untuk terus memandanginya.


"Sepertinya aku akan jalan-jalan saja untuk menunggu mu, tidak akan membosankan jika seperti ini." Fandi langsung bicara ketika dia sudah sampai dan memarkirkan mobil di ruangan parkir yang ada di basemen.


"Kau ikut dengan ku." Anggi mengatakannya dengan dingin seolah tidak ada lagi kesempatan bagi Fandi untuk bisa menolaknya. Tak bisa dibayangkan bagaimana Anggi akan marah jika permintaannya dia abaikan.


Fandi Hannya berjalan saja menemani Anggi pergi ke arah manapun dia pasti ikut. Hingga tiba di restoran hotel, Anggi berjalan ke arah meja di ruangan VIP yang sudah disediakan pihak hotel, di sana ayahnya sudah memesan makan malam yang harusnya akan dilakukan setengah jam lagi.


"Kau sudah datang? Aku kira kau tak akan datang. Cepat masuklah!" Seru ayahnya pada Anggi.


Anggi melihat sorot mata ayahnya yang ceria, ekspresi bahagia dengan mereka masih tersisa di lukisan wajah ayahnya. Ketika bersama dengan orang lain saja ayahnya bisa memperlihatkan wajah seperti itu.


Anggi ragu untuk melanjutkan dan menjadi orang tak penting di sana, tapi dia sudah terlanjur datang apalagi ketika mengingat Edo emosinya langsung naik.


"Oh, kau mengajak dia juga?" Tanya ayahnya ketika Fandi kemudian nampak akan masuk.


"Tidak tuan, saya hanya mengantar saja. Saya akan menunggu di tempat lain." Fandi penuh hormat mengatakannya.

__ADS_1


"Dia bersama ku ayah!" Ucap Anggi langsung menghentikan ayahnya untuk bicara lagi.


"Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!" Anggi tak segan meneriaki Fandi agar masuk dengannya dan tidak akan menolak itu.


Melihat pemandangan itu ayahnya cukup tercengang, di satu sisi bersamaan dia tidak bisa menghentikan Anggi dan di posisi yang sama pentingnya nampak suasana mulai berubah.


Edo tidak banyak bicara, dari awal.juga dia tidak begitu banyak bicara. Sedangkan Ibunya nampak sedikit tak nyaman berada satu ruangan dengan orang asing seperti Fandi. Harusnya makan malam keluarga tidak seperti itu kan.


Edo nampak ingin berdiri saat itu, namun tangan ibunya berhasil menahannya saat itu. Edo berniat untuk pamit pergi lebih dulu tapi akhirnya tidak bisa melakukan rencana itu.


"Ayah, aku ingin makanan ku. Tidak apa-apa kan?" Anggi langsung bertanya.


"Oh, ia kau pesankan makanan mu. Sekalian dengan Pak dokter juga." Jawab ayahnya. Saat itu matanya tidak berhenti menoleh ke arah ibunya Edo yang sudah menyimpan garpu dan sendok di atas piring.


"Kau mengubah jadwal makan malamnya. Padahal harusnya aku datang lebih awal." Tiba-tiba Anggi membahas soal kedatangannya.


"Oh,.ia. Ayah lupa tidak memberitahukan kabarnya lagi jika makan malamnya diadakan lebih awal." Jawab ayahnya terdengar seperti bukan masalah.


Anggi tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia hanya diam saja sambil sesekali.melihat Fandi di hadapannya sekarang.


Tak lama makanan datang, sekitar 10 menit untuk menunggu singkat. Anggi tampak senang dia segera mencoba suapan pertama pada makanan yang tersaji.


Satu menu makan sudah disajikan, kemudian kedua muncul lagi seseorang dengan makanan yang berbeda.


Ayahnya Hannya diam saja dan melihatnya dengan santai, bukan masalah jika memesan beberapa makanan.

__ADS_1


Tapi tak lama berselang, seseorang muncul lagi dengan makanan penuh yang kemudian disajikan di atas meja. Sekarang seluruh mejanya penuh dengan makanan. Anggi diam saja menyantap satu makanan di tangan. Dia tidak peduli jika ayahnya mulai syok dan menatap sebal ke arahnya saat itu.


Apalagi dengan Ibunya Edo, sejak kedatangan Anggi dia langsung menghentikan untuk makan, rasa kurang berselera dan tidak begitu nyaman dengan sikap Anggi.


__ADS_2