
Bel sekolah sudah berbunyi. Anggi masih ingat dengan jelas bagaimana Fika memberikan janji itu.
Tanpa berpikir panjang Anggi pergi segera, dia sudah memastikan sebelumnya jika Edo juga sibuk dengan anak-anak lain, harusnya Edo tidak sempat memperhatikannya pergi.
Anggi melihat ke arah gerbang sekolah khawatir jika Kak Fandi sudah menjemput, sebelumnya dia sudah memastikan untuk menjemputnya setelah semua anak pergi dari sekolah, namun hal itu tidak cukup membuatnya tenang.
Tampak terburu-buru dan panik, Anggi juga sangat hati-hati, dia terus melihat ke sekeliling memastikan tidak ada Edo yang melihat kemana dia pergi sekarang.
Ketika sudah berhasil melewati gerbang sekolah dia sedikit bernapas lega, tinggal beberapa meter lagi hingga sampai di depan warung.
"Warungnya udah mau tutup!"Ucap pemilik warung.
Tidak berpikir panjang, Anggi menyerahkan uang yang ada di saku celananya 2 lembar 100 ribuan. "Jangan dulu tutup Bang!" Ucap Anggi dengan segera masuk ke dalam warung.
Rejeki yang tak disangka-sangka, ketika menerima uang dengan nominal itu pemilik warung setuju sekali. Anggi juga berpikir tidak apa-apa mungkin hanya beberapa menit saja dia menunggu di dalam warung, kemudian Fika juga akan muncul.
"Mau sekalian dibikinin Mie hangat? Teh manis? Atau jus?" Pemilik warung menawarkan makanan saat itu.
"Jus seperti biasa ya!" Ucap Anggi.
Tidak aneh pemilik warung langsung mengerti, Anggi biasanya selalu pesan jus yang sama dan tiap hari tidak terlewatkan dia juga selalu datang untuk jajan.
Jus sudah diminumnya beberapa kali tegukan hingga menyisakan setengah gelas lagi. Anggi semakin tampak gusar saat itu, dari tadi dia terus memeriksa ke arah jam tangan. Padahal sudah hampir setengah jam tapi tidak terlihat Fika. Untuk saat ini Anggi tidak bisa memastikan keluar warung dia khawatir jika Edo juga tiba-tiba muncul. Hanya perlu bersabar beberapa waktu lagi.
Rasa bosan sudah mulai menyiksa, dicek nya beberapa kali layar ponsel tapi tidak menunjukkan ada pesan yang masuk. Lalu Anggi terpikirkan untuk menghubungi Yunita harusnya dia tahu jika Fika sudah pulang atau belum.
"Yun, lihat Fika?" Tulisnya lalu dikirimkan ke Yunita.
"Udah, dia pulang biasa dianterin sama Edo. Kenapa?" Jawab Yunita.
Anggi tak percaya Fika benar-benar sudah pulang? Apakah mungkin sudah dari tadi, lantas kenapa dia lupa dengan janji nya? Apa dia benar-benar sengaja?
Emosinya tiba-tiba meluap saat itu, dia bimbang sebagian hatinya mengatakan untuk tetap menunggu saja, namun sebagiannya lagi dia berpikir untuk menghubungi Kak Fandi dan menyuruhnya datang ke sekolah dengan begitu dia tidak perlu lagi bosan menunggu sesuatu yang tidak membuatnya berguna seperti ini. Terlebih dia sangat kecewa, apa yang dilakukan Fika? Apa yang dipikirkan nya saat ini?
Membayangkan bagaimana Edo mulai dekat dengan Fika, bahkan sekarang Fika pulang bersama lagi dengan Edo. Rasanya tidak ada harapan, Anggi tidak bisa dekat dengan Fika bahkan mungkin itu tidak boleh saja.
__ADS_1
"Bang, ini aku bayar buat jusnya. Makasih!" Ucap Anggi sambil menyerahkan uang untuk membayar jus.
"Loh, udah? Kemana temannya belum datang?" Ucapnya pada Anggi.
"Gak jadi Bang. Aku pulang aja!" Ucap Anggi.
"Nunggu dijemput? Di sini aja nunggunya!" Tawar lagi pemilik warung.
Anggi sebentar berpikir, tidak ada salahnya kan jika menunggu di dalam warung itu lebih baik dari pada nunggu di luar.
Harusnya Kak Fandi sampai sekitar 10 menit saja, berarti sisanya dia hanya menunggu kembali di dalam warung.
"Anggi, kamu dimana sekarang?" Pesan muncul dari Yunita.
Anggi tidak membalasnya saat itu, dia sangat tidak nyaman setelah diberikan harapan palsu seperti ini hatinya menjadi sedikit menyerah.
"Fika di jalan menuju ke sana! Kamu masih di sekolah kan?" Pesan selanjutnya dari Yunita.
Membuat matanya melebar seketika ketika melihat isi pesan yang kedua. Anggi tak percaya, tapi jika yang mengatakannya adalah Yunita mungkin tidak juga berbohong kan.
Beberapa pertanyaan muncul saat itu.
"Bang ada...." Tiba-tiba suara tak asing itu membuat Anggi terperanjat hingga dia berdiri, melihat Fika yang datang membuat hatinya menjadi tenang saat itu. Fika tampak sudah mengganti seragam sekolahnya, ternyata benar dia sudah pulang ke rumah.
Fika berhenti bicara ketika Anggi terlihat oleh matanya.
"Maafkan aku!" Ucap Fika sambil matanya saat itu menoleh ke arah Abang pemilik warung.
"Bang aku pergi duluan!" Pamit Anggi pada pemilik warung.
Kemudian Fika langsung keluar juga dari dalam warung. Fika masih bersikap aneh dia benar-benar terjaga sangat hati-hati, matanya menoleh ke beberapa arah memastikan sesuatu.
"Apa yang kau cari? Kita kembali saja ke dalam warung?" Tanya Anggi saat itu.
"Coba kamu Wa Yunita, jika Edo tanyain aku bilang aja aku di rumahnya!" Ucap Fika tiba-tiba.
__ADS_1
Anggi mematung tak mengerti, tapi tanpa bertanya dia melakukan apa yang diminta Fika saat itu.
"Yun, kalau ada Edo bilangin Fika ada di rumah kamu." Dikirimnya pesan singkat itu.
Ketika keduanya ingin berjalan mobil tak asing milik Anggi kebetulan muncul di depan matanya. Sangat beruntung.
Sebelum Anggi mengatakannya Fika tampak sudah menunggu di depan Anggi dan segera masuk ke dalam mobil.
"Wah pas banget ya kalian lagi. Pasti gak langsung pulang kan?" Tanya Fandi ketika keduanya masuk.
"Jangan ke rumah Anggi ya!" Pinta Fika.
Tampak Fandi mengerutkan dahi tak mengerti.
"Ke tempat lain saja yang jaraknya lebih jauh, atau kita bisa jalan ke arah lain dari sini!" Anggi membantu Fika mengutarakan maksudnya.
Anggi paham Fika mungkin benar-benar sedang menghindari sesuatu, entah siapa tapi pikirannya saat itu tetap mengarah pada Edo. Kemudian Fika tidak membuka hp nya sama sekali, Anggi curiga jika hp nya tidak dia bawa.
"Kita jalan sekarang ya! Kalian lagi mau kencan kan?" Celoteh Fandi asal.
"Tidak kok."
"Ia."
Keduanya bersamaan mengatakan hal yang berbeda, Anggi tampak mengatakan ya tadi dan itu jelas bisa didengar oleh Fika.
"Udah kak cepet jalan sekarang!" Ucap Anggi berusaha mengalihkan perhatian.
"Kemana nih harus jelas dong tujuannya?" Fandi masih mempertanyakannya.
"Ke tempat yang tidak banyak orang di sana." Ucap Anggi sambil melihat ke arah Fika.
"Siap-siap, tempat yang paling cocok ada di jalur ini." Ucap Fandi tampak tahu sesuatu.
Anggi hanya melihat Fika saat itu, begitupun Fika tampak dari binar matanya menunjukkan sisi Fika yang sebenarnya. Tatapan mata Fika, senyumnya, bahkan isi hati Fika tampak jelas dari sorot matanya. Anggi bisa membayangkan semua itu dengan mudah, seolah hatinya juga bicara apanyang dirasakan Fika saat itu.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita sampai ya!" Ucap Fandi sambil sedikit mengintip ke arah Anggi duduk. Dia sengaja sekali membuyarkan suasana.