Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Rencana Fandi.


__ADS_3

Fandi mematung mendengarkan sebuah alasan dari mulut Anggi. Begitu dia mendengarnya Fandi merasa Kak Han sedang terlibat dengan seseorang, entah siapa dan orang itu pasti benar-benar menginginkan kehidupan keluarga Anggi hancur. Entah sebagai mata-mata atau termasuk mereka, Kak Han tidak mungkin membuat hidupnya di jalan yang salah.


Fandi teringat lagi dengan kata-kata Fika tadi, dia juga seperti mengetahui sesuatu mungkin di satu sisi keadaan tidak bisa membuat dia bicara tapi Fika berusaha menggunakan segala cara untuk membuat dirinya menyampaikan sesuatu yang tidak seharusnya dia sampaikan. Dia benar-benar ketakutan dan orang itu terus memata-matainya. Tapi atas dasar apa Fika berhubungan dengan orang seperti mereka? Apakah kebetulan atau karena sesuatu hal?


"Kau sedang memikirkan apa?" Anggi berusaha menarik kembali kesadaran Fandi, dari tadi Fandi melamun dan diam saja.


Fandi segera terperanjat, dia melihat Anggi yang sudah kembali duduk. "Tidak ada. Aku hanya mengkhawatirkan kata-kata mu tadi. Apa sebaiknya kita cepat-cepat pergi ke luar negeri?" Tiba-tiba Fandi mengutarakan tujuan awal mereka.


"Tidak mungkin secepat itu." Anggi masih menyangkalnya padahal dia sudah sadar sendiri seberapa berbahaya hidupnya.


"Apa yang sedang kau pertahankan? Kau tidak perlu mencari tahu lagi, sekarang sudah jelas. Hidup keluarga mu atau dirimu benar-benar terancam bahkan aku merasa tidak aman berada di rumah, bagaimana perasaanmu sendiri ketika berada di luar rumah?" Fandi sedikit menaikkan nada bicaranya saat itu. Dia tidak bisa sabar dan mempertaruhkan hidup seperti kakaknya. Kadang keputusannya sekarang pun membuat dia menyesal.


"Lupakan saja. Aku tidak bisa pergi ke luar negeri semudah itu." Anggi masih kekeh dengan pendiriannya.


Fandi melihatnya kesal, dia mulai curiga sesuatu hal apalagi ketika Anggi terus menanyakan kabar Fika. Gadis itu, apakah karena gadis itu?


Fandi mulai menebak-nebak. Tapi sepertinya benar, tidak mungkin alasan Anggi adalah ayahnya.


"Gadis itu? Kau ingin sesuatu untuk aku lakukan? Cepat katakan!" Fandi sudah tidak bisa bicara dengan tenang, semakin diingat


lagi semakin membuat frustasi, walau bagaimana pun dia tidak bisa menerima kematian kakaknya sendiri karena satu alasan itu, alasan untuk hidup seseorang.


Anggi menoleh dan melihat bagaimana emosi menguasai Fandi. Dia menghela napas dan tampak tidak akan menyembunyikan lagi. "Kau sudah tahu sesuatu tentang Fika? Aku rasa tidak peduli bagaimanapun tentang dirinya, aku hanya merasa Fika benar-benar sedang dikekang oleh seseorang. Mungkin Edo yang melakukannya, atau orang lain. Tapi setidaknya jangan ada lagi akhir yang sama seperti Pak Han. Cukup satu kali dan tidak akan terulang lagi." Anggi akhirnya mengutarakan apa yang dia inginkan. Pada intinya Fandi paham dia tidak meminta Anggi untuk menjelaskannya lagi lebih detail.

__ADS_1


Padahal dia mengetahui sesuatu yang membuatnya akan mengatakan tidak perlu dengan Fika, tidak harus selalu membuatnya baik, bagaimana Fika dia sudah tahu tapi tidak mungkin berbicara pada Anggi dengan sejujurnya.


Fandi melihat sosok angginyang sangat menghormati setiap orang, Anggi yang selalu bersikap.jujut namun harusnya dia melupakan Fika, rasanya Fika tidak berhak memiliki Anggi yang baik.


"Apa kau sudah memikirkan rencana untuk keluar dari rumah sakit?" Tanya Anggi.


"Jangan seperti anak kecil, kau perlu perawatan dan tetaplah diam." Fandi segera menyangkal niat Anggi yang ingin pulang.


Anggi kemudian berdecak kesal dia tidak mendapatkan dukungan dari siapapun.


Keduanya terdiam lagi sedang memikirkan pikirannya masing-masing.


Di satu sisi Fandi merasa harus memberitahu tentang masalah Fika, bukan hanya satu kehidupan Fika yang salah namun cerita yang dibicarakan Fika padanya. Tapi di sisi lain Fandi bingung apakah Anggi akan menerima semua kenyataannya.


Sedangkan Anggi sibuk memikirkan bagaimana Pak Han bisa meninggal, apakah karena Pak Han tahu masalah itu dan dia sengaja mengorbankan dirinya. Jika seperti itu siapa yang paling terlibat dengan masalah Anggi, bahkan Anggi merasa kecelakaan yang dia alami sekarang Adalah ulah orang yang sama dengan tujuan sama, yaitu ingin melenyapkan Anggi. Tidak mungkin jika hanya membuat Anggi sekarat dengan luka yang ringan kan.


"Aku ingin bicara sesuatu."


"Aku ingin bicara sesuatu."


Fandi terdiam dan memberikan sebuah kode agar Anggi bicara terlebih dahulu. Anggi menyetujuinya.


Anggi nampak menghela napas dulu. "Aku ingin melakukan sesuatu, sebelum pergi ke luar negeri sana untuk waktu yang lama."

__ADS_1


Mendengarkan Anggi bicara membuat Fandi terperanjat, apakah itu artinya Anggi setuju untuk segera pergi ke luar negeri.


"Aku ingin mencari tahu dalang dibalik kematian Pak Han. Kita perlu menemui seorang polisi dan bertanya tentang kelanjutannya." Bicara Anggi yang sebenarnya tidak perlu panjang lebar karena Fandi sudah bisa menebaknya.


Giliran Fandi menghela napas berpikir sebaiknya bicara pada Anggi. "Fika tahu sesuatu, dia yang menyuruhku untuk membawa mu cepat pergi tapi aku tidak bisa menolak rencana yang dia buat susah payah untuk mengatakannya." Fandi menunduk.


Anggi hanya bisa meremas kain seprei dia tahu dan sudah menebaknya. Tapi karena kondisi itu sebaiknya Idak melakukan apapun karena seseorang di balik Fika benar-benar bukan orang sembarangan yang bisa dicari tahu.


Sadar betapa susah dan tidak mungkin lagi untuk menangani Maslaah Fika, untuk sementara Anggi tidak akan bertindak apapun.


"Kita pulang ke rumah hari ini, aku tidak bisa tenang terus-terusan berada di rumah sakit." Anggi tiba-tiba meminta sesuatu yang tidak mungkin. Namun kali ini keinginan Anggi tidak bisa dia abaikan. Fandi merasa dari awal jika Anggi tidak baik dirawat di ruang sakit. itu.


Tanpa kembali memberitahu ayahnya Anggi, akhirnya Fandi yang mewakili wali dari pasien mengajukan untuk pulang. Meski dengan beberapa pertimbangan, namun karena Fandi ahli medis juga itu sudah cukup menjadi pertimbangan. Anggi hanya diberikan pilihan untuk tidak terlibat dulu dengan kegiatan sekolah, dia harus beristirahat di rumah.


Tepat pada malam itu juga Anggi sudah bisa pulang bersama duduk di mobil Fandi sebelumnya.


"Beruntung sekali kau seorang dokter." Gumam Anggi terdengar cukup senang.


"Apa tuan tidak perlu tahu tentang kepulangan mu dari rumah sakit?" Ucap Fandi menghentikan kesenangan Anggi.


"Tidak perlu, orang tua itu sudah melupakannya. Dia lupa jika seseorang yang dikatakan anak itu dirawat di rumah sakit." Ucap Anggi.


Meski tidak menutup kemungkinan benar atau salah tapi Fandi tetap bersikap bijak dia tidak ingin karena segala sesuatu tindakannya yang asal bisa menyinggung dan membuat dia seperti mengatur segalanya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, kau akan mudah mengerti lihat saja nanti."


Mobil melaju ke arah rumah Anggi saat itu. Tidak butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai telat di rumah


__ADS_2