Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Kabar mengejutkan pernikahan Pak Rendra.


__ADS_3

Anggi lebih dulu keluar dari mobil, dia sudah menyiapkan diri termasuk mentalnya. Kejadian sebelumnya masih tidak bisa dilupakan dan sekarang Anggi masih nekat datang Meksi mungkin perlakuan sebelumnya akan dia dapatkan lagi.


"Kau tidak ingin masuk dulu ke mobil dan kita berjalan bersama?" Fandi bertanya dulu karena di luar dugaan Anggi meminta turun dan masuk sendiri dengan berjalan kaki dari luar.


"Parkiran saja mobilnya akan aku tunggu di depan pintu hotel." Jawab Anggi.


Sesuai dengan keinginan Anggi akhirnya Fandi mengalah juga.


Acaranya masih sama di dalam hotel, sekarang pun yang ada dalam pikiran Anggi adalah kejadian sebelumnya. Tapi kali ini dia sudah menyiapkan diri termasuk mentalnya juga. Anggap saja seperti sedang menghadiri suatu acara formal orang lain, artinya dia tidak perlu datang tepat waktu, tidak harus mengikuti acaranya sampai akhir, atau terlalu dekat dengan mereka yang terlibat di dalam.


Setelah sampai di lobi hotel Anggi menunggu Fandi datang, dia harus pergi bersamanya sesuai dengan yang dikatakan ayahnya kan.


Tak lama Fandi nampak sudah mendekat ke arahnya. "Cepat kita sudah hampir terlambat." Serunya sambil menarik Anggi. Tapi bisa ditebak saat itu juga Anggi menolak sikap Fandi yang terlalu berlebihan.


"Sudahlah bukan saatnya lagi, sekarang kau harus cepat pergi ke acaranya." Protes Fandi.


Anggi tidak mendengarkan perkataan itu, dia hanya ingin nyaman dan bersantai sesuai dengan caranya.


Sedangkan Fandi nampak kesal, dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Anggi yang bertingkah seperti itu.


"Kita ke lantai 3." Fandi memberitahukan tempatnya ketika berada di dalam lift.

__ADS_1


Anggi menoleh merasa aneh. "Bukankah tempatnya bukan di sana?" Ucap Anggi karena setahunya acara makan malam sebelumnya ada di restoran lantai 2.


"Aku tidak mengatakannya. Cepat pergi ke lantai 3." Fandi mendahului menekan tombol angka 3.


Anggi hanya bisa terdiam sambil berpikir lagi kenapa harus lantai 3?


Di luar dugaannya. Sebuah restoran yang disulap seindah mungkin, acara meriah dan sekali melihatnya Anggi sudah bisa menebak jika orang-orang yang hadir adalah orang penting ayah, pantas saja ayah wanti-wanti mengenai acaranya dan dia juga ikut mempersiapkan apapun yang harus Anggi persiapkan untuk acara ini.


Anggi berjalan di tengah-tengah keramaian di dalam ruangan itu, orang lain saling mengobrol dan dia bisa menebaknya mungkin sekali kedatangan mereka sudah lebih awal dan sudah sangat lama, artinya dia sendiri bersama Fandi yang datang kesiangan.


"Cepat kita akan mencari ayah mu?" Seru Fandi saat itu.


Anggi terdiam dan menoleh ke arah Fandi. "Baiklah ayo kita pergi." Untuk pertama kalinya Anggi tidak protes atau banyak bicara. Dia mungkin gugup karena acara Yanng berlangsung di luar dugaannya.


"Astaga kau baru datang?" Keluh Ayahnya yang langsung berdiri menyambut kedatangan Anggi.


"Semua di luar adalah tamu ayah, apa yang kau lakukan sampai membuat mereka menunggu di luar?" Ucapnya terlihat sangat khawatir dengan acara itu.


Anggi tidak bicara apapun, Fandi juga hanya menundukkan wajah menyesali kesalahan yang sebenarnya dibuat Anggi.


"Cepat kita akan keluar bersama dan acara akan cepat dimulai." Ucapnya memberitahu pada semua Yanga da di ruangan itu. Tentu saja ada Edo dma ibunya juga beberapa penjaga yang dibawa ayah pastinya.

__ADS_1


Ketika keluar dari ruangan itu acara memang benar langsung dimulai. Anggi terpaksa bergabung dengan Edo yang sama sekali tidak bicara apapun padanya atau bahkan menyapa sebagai orang yang mengenalinya. Percuma saja melihat, mengarahkan tatapan ke arah Anggi sedikitpun tidak dilakukannya.


"Kita semua tentu saja menantikan, seorang putera dari Pak Rendra, Putera tunggal tentunya. Silahkan kepada Anggi untuk memperkenalkan diri." Seorang pembawa acara itu memanggilnya.


Anggi sangat jelas mendengarkan pernyataan tadi untuknya, ketika nanya disebut dan diminta untuk menyampaikan sesuatu membuat dia sedikit terkejut. Kemudian Anggi menoleh ke arah ayahnya yang kebetulan ada di depan panggung acara.


Sebuah tatapan dan isyarat sederhana, Anggi mengerti isi hati yang diucapkan ayahnya itu. Dengan persiapan yang tidak begitu matang, apalagi Anggi tidak tahu jika ada sebuah acara yang mengharuskan dia bicara juga menyambut para tamu. Hal menyebalkan itu membuat dia tidak mempunyai pilihan lain dan terpaksa melangkahkan kaki ke depan mendekat ke arah panggung.


Ketika tangannya menyentuh Mike dia sama sekali tidak gemetar, satu hal yang ingin ditunjukkannya dan untuk pertama kalinya dia merasa pantas sebagai putera dari ayahnya, tidak akan ada yang lain dan bisa membuat hal itu berubah atau berganti, meski pernikahan ayah dengan wanita lain tidak bisa dihindari namun itu tidak akan mengubahnya sebagai anak kandung dan pewaris sah, pewaris tunggal. Anggi tidak akan membuat tempatnya kelam dan silau tergantikan dengan sosok Edo yang mungkin bisa lebih baik dari hal lain darinya.


Terdengar suara batuk yang disengaja. Kemudian nampak sebuah senyuman yang terlukis dari bibir Anggi, untuk pertama kalinya mungkin dia tersenyum dengan cara seperti itu. Kemudian Anggi juga melambaikan tangan mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk menyapa para tamu yang sedang menatap ke arahnya saat itu.


"Hallo. Selamat malam!" Ucapnya mengawali.


"Terimakasih dan terimakasih sekali karena kehadiran semuanya termasuk Ayah yang berdiri di sana. Anggi hanya murid SMA dan tahun ini Anggi duduk di kelas XII. Salam untuk semuanya." Ucapnya dengan nada bicara dan gaya yang santai. Mungkin jauh dari ekspektasi dari orang yang tidak pernah bisa melihatnya, yaitu Edo. Anggi tidak merasa gugup meski dia baru pertama kali ini berada di hadapan orang-orang penting ayahnya.


"Anggi ucapkan selamat kepada ayah untuk acara pernikahan yang akan datang, selamat menempuh hidup baru ayah." Diakhiri dengan sebuah senyuman. Tidak ada yang dikatakan lagi Anggi kembali berjalan turun dari panggung.


Reaksi orang-orang cukup mengherankan, satu sama lain saling pandang seperti baru pertama kali ini mendengarkan kabar pernikahan ayahnya. Anggi menoleh dan melihat semua orang, dia bisa memastikan jika dugaannya benar ternyata tidak ada yang tahu selain dia dan Fandi di ruangan itu.


"Astaga. Kabar yang sangat indah sekali. Selamat kepada Pak Rendra untuk kabar yang sangat mengejutkan ini, kabar yang sangat spesial untuk harinya yang spesial." Tutur kata pembawa acara itu sudah menjelaskannya, kemudian terdengar riuh suara gembira dari semuanya.

__ADS_1


Anggi menoleh ke arah ayahnya yang mulai sibuk menjawab setiap orang terdekat di sana mungkin bertanya tentang kabar itu. Dia tidak bersalah, dalam satu keadaan Anggi tidak pernah tahu jika ayahnya belum mengumumkan kabar itu. Tidak ada yang salah kan?


__ADS_2