
"Kita akan kemana sekarang? Tapi aku tidak bisa pergi terlalu lama. Bibi dan nenek pasti sebentar lagi pulang." Yunita cukup tidak enak, tapi lebih baik berterus terang lagipula dia juga tidak ingin mendapatkan masalah.
Anggi terdiam sebentar. "Baiklah sampai jumpa nanti di sekolah saja. Nanti aku kabari soal Fika." Anggi akhirnya mengerti.
"Maaf!"Ucap Yunita.
"Besok kau ke sekolah kan? Sepulang sekolah bisa menunggu aku di warung biasanya nanti kita bicarakan lagi." Anggi memberitahukan rencananya kemudian dia pergi tampak menelpon seseorang.
Yunita tidak sempat mengatakan apapun, tapi apakah dia harus melakukannya? Menunggu Anggi sepulang sekolah besok dan pulang bersama lagi?
Yunita tampak ragu dan tidak bisa mengendalikan perasaannya saat itu. Dia tidak bisa terus-terusan dekat dengan Anggi jika terlalu dekat?
Yunita nampak gusar dia tidak ingin melanjutkan jalan pikirannya yang tidak bisa ditebak. Dia merasa benci ketika memikirkannya lagi seperti itu.
*****
Anggi berjalan sendirian, dia tidak menelpon Fandi saat itu melainkan seseorang. Anggi juga tidak berniat langsung pulang dia perlu melakukan sesuatu.
Di perempatan jalan raya, Anggi berdiri di tepi jalan menunggu salah satu bus lewat jalanan itu. Dia sudah mengganti seragam sekolah dengan pakaian yang dibelinya. Tidak mungkin dia pergi dengan seragam SMA.
Nampak terburu-buru dari tadi matanya tidak bisa menanti ke satu arah jalan di depannya, berharap bisa yang biasa datang cepat sampai.
Dan seperti yang sudah terjadwal bus tiba tepat waktu. Anggi naik ke dalam bus kemudian duduk di salah satu kursi kosong. Beruntung tidak begitu banyak orang di sana.
__ADS_1
Pertama dia harus mengobrol dengan supir membahas tentang kecelakaan yang menimpanya waktu itu. Sudah lama memang namun tidak ada salahnya bertanya.
Bus berhenti di halte selanjutnya, namun kali ini supir sudah berganti juga. Anggi tidak meninggalkan kesempatan itu, dia segera turun mengikuti supir tadi yang turun. Sedangkan bus sudah pergi dengan supir yang berbeda.
Kedua pasang matanya tampak fokus, dia tidak ingin terlihat seperti penguntit hingga dia juga menjaga jarak dari orang tua yang sedang diikutinya.
Cukup menjaga jarak, supir masuk ke salah satu resto makanan. Anggi masuk ke dalam resto dan memesan makanan seperti biasa. Ketika supir yang diikutinya sudah duduk di salah satu meja barulah Anggi akan menghampirinya di sana.
Tepat seperti rencana, sasaran sudah duduk di salah satu meja di sana.
Sedang tenangnya menyantap hidangan sederhana untuk menghilangkan lapar setelah bekerja, supir bus yang tidak diketahui siapa namanya namun di mata Anggi dia bisa tahu supir itu adalah supir bus yang mengalami kecelakaan.
Anggi tidak bicara apapun dia langsung menempatkan makanan di meja itu kemudian duduk santai, tingkahnya itu membuat supir bus yang sedang tenang makan tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis. Anggi memakai topi saat itu cukup menutupi wajahnya.
Beberapa menit supir masih tahan tapi tidak akan bertahan lama. Ketika supir berdiri dan berniat pergi tanpa keributan, Anggi langsung membuka topi yang dia pakai hingga memperlihatkan wajahnya.
Supir sudah pindah ke meja lain, sedangkan Anggi masih duduk di meja yang sama. Anggi tidak butuh pengakuan dia adalah orang yang ping percaya dengan tatapan pertama, semua kebenaran bersumber dari mata. Meski tahu kenyataannya Anggi masih bisa tenang, dia hanya ingin memastikan saja tidak untuk melakukan hal lainnya.
Tampak normal, Anggi masih diam bersantai di meja itu dia juga tidak meninggalkan makanannya sia-sia. Otaknya terus berpikir, mengumpulkan satu persatu fakta yang dia dapatkan. Dari tatapan supir tadi menandakan jika supir itu tahu siapa dirinya, entah karena diberi tahu oleh seseorang atau melihatnya secara langsung. Ekspresi supir tadi cukup jelas memberitahu dia jika supir itu spontan ketakutan ketika melihatnya. Padahal jika supir itu tidak mengenalnya dia pasti bersikap biasa saja.
Kemudian Anggi mengeluarkan hp, menekan beberapa angka dan menelpon seseorang lagi. Tak lama percakapan itu berlangsung singkat kemudian telpon sudah berakhir.
Anggi sudah selesai dengan makanannya, kemudian dia pergi dari restoran itu. Sebuah taksi kebetulan lewat saat itu dia langsung naik taksi menuju tempat selanjutnya.
__ADS_1
Anggi kembali melihat jam tangannya, setidaknya dia hanya memiliki 2 jam lagi sebelum Fandi menjemput. Dia harus melakukannya dengan cepat.
Tak lama taksi sudah berhenti di depan rumah sakit. Ketika turun Darii taksi perasaannya mulai berubah saat itu, butuh setidaknya nyali yang kuat agar bisa masuk ke dalam, dia masih trauma dengan segala sesuatu yang terjadi.
Anggi memberanikan diri masuk ke dalam gerbang rumah sakit, dia tiba di halaman rumah sakit. Rumah sakit ini adalah rumah sakit terdekat dari tempat kejadian dia mengalami kecelakaan itu. Kemudian matanya terbelalak menyaksikan sebuah renovasi yang dilakukan di lantai VIP. Dia tahu detail rumah sakit itu karena sudah sering pergi ke sana.
Anggi tidak tahu kejadian apa yang pernah terjadi di sana sampai rumah sakit ini harus direnovasi seperti itu.
Langkah kakinya melangkah lagi, untuk pertama kalinya dia datang kembali ke dalam rumah sakit, melihat pemandangan khasnya dan bau rumah sakit tidak membuat dia bisa tenang.
Seorang petugas rumah sakit tampak sedang berbincang, dia akan mengambil kesempatan untuk bertanya.
Matanya masih mengamati, dia harus hati-hati untuk melakukannya jangan sampai seseorang sadar jika dia datang ke rumah sakit itu.
"Permisi, apa ruangan VIP nya masih tersedia untuk saat ini? Tadi saya lihat ada perawatan dengan gedungnya." Ucap Anggi pada salah satu petugas.
"Siapa yang akan dirawat? Mari saya bantu untuk memesankan kamar. Tapi untuk sementara kamar VIP masih dalam perbaikan." Jawab seorang perawat itu.
"Oh, saya kira masih digunakan. Perbaikannya masih lama?" Anggi terus bertanya.
"Kalau soal itu saya kurang tahu."
"Memangnya perbaikannya karena rusak atau bagaimana?" Anggi masih berusaha bertanya.
__ADS_1
"Setidaknya kebakaran itu merusak sebagian besar gedung dan fasilitasnya jadi kemungkinan masih lama. Bagaimana saya nanti untuk pemesanan kamarnya?"
"Tidak, terimakasih. Sepertinya saya butuh rumah sakit lain saja." Anggi cepat-cepat pergi dari rumah sakit itu. Dia tidak tahu begitu ahli ketika berakting seperti tadi, tidak mudah apalagi harus tahu sesuatu tanpa mencurigakan. Dan kini dia sudah mendapatkan fakta baru untuk dipikirkan lagi.