Cinta Di Usia Senja

Cinta Di Usia Senja
Perubahan rencana


__ADS_3

Fika tampak lemas, tatapannya kosong terlihat melamun dan dia tidak banyak bicara juga.


"Fik, Fika!" Ucap Yunita tampak berusaha menyadarkan Fika. "Tenang ya semuanya sudah baik-baik saja kok. Ibu mu juga udah dirawat di tempat yang aman." Yunita masih berusaha mengajak Fika bicara. Meski ucapannya masih dibalas dengan tatapan Fika saja.


"Kita pulang sekarang, bagaimana?" Anggi bicara, dia ragu-ragu ketika mengatakannya.


Yunita langsung melihat ke arah Anggi. "Ia, ayo kita pulang sekarang." Timpal Yunita.


Fika masih tidak merespon juga. Entah apa yang membuat dia semakin terpuruk seperti itu, Fika tidak pernah hilang kendali dengan dirinya. Apa mungkin karena gosip itu.


Pikiran Yunita terus menerka-nerka, dia kemudian berusaha membuat Fika berdiri dan bisa berjalan mengikutinya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Anggi terlihat cemas. Dia menatap ke arah Fandi saat itu, sebenarnya Anggi tidak bisa membiarkan Fika menginap di rumah Yunita, pikirannya cukup terganggu dengan sikap Yunita. Namun meski dia memikirkannya Anggi masih menjaga mulutnya agar tidak berbicara apapun di hadapan Fika. Tidak begitu baik sampai Fika mendengarkannya dan sebaiknya dia mencari kesempatan lain untuk bicara.


Akhirnya sudah sampai di dalam mobil. Anggi berlari dan menahan tangan Yunita yang baru saja akan masuk ke dalam mobil.


"Ikut dulu!" Ucap Anggi berbisik. Yunita tampak bengong tapi Anggi tidak membiarkannya diam saja dan langsung menarik tangannya pergi sedikit berjarak dari mobil.


"Yun, aku tahu pasti tidak mudah kan membawa Fika ke rumah sekarang ini? Sebaiknya aku membawa Fika ke tempat lain tapi di sana tidak mungkin dia sendirian." Anggi langsung berbicara tanpa basa-basi.


Yunita fokus melihat dan mendengarkannya, ada sebuah pertimbangan tapi dia tidak bisa menyembunyikannya. Memang benar untuk saat ini dia tidak bisa membawa seorang teman pun ke rumah, situasinya sudah berbeda.


"Dengarkan aku. Sebelumnya aku ingin minta maaf, tapi aku belum berani membawa teman ke rumah. Bibi akan sedikit terganggu dengan rencana itu. Tapi aku tidak mungkin membiarkan fisik sendirian." Yunita mengatakannya dengan hati-hati, dia tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun.

__ADS_1


"Baiklah itu tidak masalah, tapi apa kau bisa menemaninya di rumah itu? Aku mempunyai rumah di suatu tempat dan mungkin Fika tinggal di sana saja." Anggi menjelaskan solusi dan kesulitannya.


"Tapi jika itu tidak mungkin, tidak apa-apa aku akan memikirkannya nanti." Lanjutnya lagi bicara.


"Aku tidak tahu apakah untuk saat ini bibi akan mengizinkan ku pergi keluar. Sebenarnya Bibi tidak begitu benar-benar baik jika dalam situasi sekarang, kematian nenek masih membuatnya merasa terpukul." Yunita jelas menolak permohonan Anggi.


"Baiklah aku mengerti. Ayo kita pulang sekarang!" Ucap Anggi kembali menarik tangan Yunita dan kembali masuk ke dalam mobil.


"Kalian pergi kemana?" Tanya Fandi ketika melihat Anggi dan Yunita masuk bersamaan ke dalam mobil.


"Hanya berdiskusi sebentar. Kak Fandi, aku ingin pergi ke rumah ini kau bisa mengantarku ke alamatnya kan?" Anggi memperlihatkan sebuah foto dengan catatan tempat yang lengkap.


Fandi langsung melotot melihatnya, tentu saja dia cukup terkejut karena rumah yang disebutkan tempatnya ada dalam satu jam perjalanan. Apa yang dipikirkan Anggi?


Fandi tidak bicara meski saat itu dia memikirkan sebuah cara untuk memberitahu Anggi jika pilihannya salah.


"Bukannya mau pergi ke tempat Yunita? Jadi dia tidak setuju? Kenapa tidak pulang ke rumah saja bukannya ayah mu tidak akan pulang ke rumah? Tidak mungkin, tempat yang di foto begitu jauh." Ejanya dalam hati. Anggi cukup bingung, membawa Fika ke rumahnya? Terdengar seperti solusi juga namun dia tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak? Maslaah nya bagaimana jika ayahnya tiba-tiba datang.


Anggi menganggukkan kepala ke arah Fandi, berarti dia setuju dengan rencana Fandi dan akhirnya mereka pulang ke rumah Anggi.


Di sepanjang jalan Fika masih diam saja seperti tadi, Yunita yang duduk di sampingnya terus fokus melihat ke arah Fika mungkin dia memastikan sesuatu, mengamati kondisi Fika saat itu.


Setengah jam lebih perjalanan, jarak antara rumah sakit dengan rumah Anggi memang sedikit jauh karena rumah sakit yang dipilih bukan ruang sakit terdekat. Anggi sudah tidak bisa hanya sekedar menetap di rumah sakit itu, dia trauma dan keadaan buruknya ketika Anggi berusaha mengungkap kejadian di sana, kebakaran Yanng terjadi masih membuat dia tidak bisa berhenti memikirkannya.

__ADS_1


"Anggi, ke rumah mu?" Bisik Yunita.


Bola matanya bergerak ke arah Yunita berbisik saat itu, Anggi menoleh semakin jelas melihat yunita juga Fika yang tampak sedang tertidur.


"Kak Fandi mau kita pergi ke sana!" Jawab Anggi singkat. Dia tidak mungkin menjelaskan segalanya termasuk alasan dia tidak jadi membawa Fika ke rumah lain.


"Baguslah, tolong jaga Fika!" Bisik Yunita dan dia kembali duduk menyandar ke jok mobil.


Hanya Beberapa menit lagi perjalanan, dari tadi Anggi terus memperhatikan jalanan yang dilewatinya hingga dia melihat gerbang rumah. Ketika sudah sampai dia duduk lagi dan hatinya masih tidak bisa tenang.


"Apa ayah sudah pulang?" Anggi berlari ke salah satu penjaga di sana dan langsung menanyakan hal itu. Matanya terus mengecek ke arah pintu rumah, dia berharap sekali ayahnya belum pulang.


"Belum tuan!" Jawab penjaga itu.


Ketika menoleh lagi tak sengaja kedua matanya menangkap sosok penjaga berdiri di samping penjaga yang berbicara padanya. Anggi bisa langsung mengenalinya seorang penjaga yang berbicara dengan nada bicara menyebalkan. Dan penjaga itu juga membalas tatapan Anggi tanpa terlihat segan.


"Baiklah!" Ucap Anggi lalu kembali berjalan ke dekat kak Fandi.


"Semua masuk!" Ajak Anggi pada semuanya yang ikut.


Fika yang lemas dia butuh dua orang untuk memapahnya hingga bisa berjalan. Meski kesulitan tapi Fika masih tetap berusaha.


Untuk kedua kalinya mungkin diam datang lagi ke rumah Anggi. Dia terus menatap setiap sudut rumah itu yang tampak mewah, tapi dia belum juga bicara apapun atau langsung protes.

__ADS_1


Fika berisitirahat di kamar tamu Yanga da di bagian depan. Setelah dia sudah berbaring di dalam kamar Anggi kemudian pergi ke arah dapur bermaksud untuk menemui bibi asisten rumah untuk menyiapkan makanan.


Ketika dia berjalan sekalipun pikiran Anggi masih tidak bisa tenang saat itu, dia mengkhawatirkan kedatangan ayahnya. Anggi berharap sekali jika ayahnya tidak dulu datang sebelum dia berhasil menelpon ayahnya dan membuat pikirannya kembali tenang. Anggi kemudian pergi keluar dari ruangan itu.


__ADS_2