
"Kamu pesan apa beb?" Gavin memilih beberapa makanan yang tertera di daftar menu.
Cantika hanya terdiam memainkan rambutnya, pandangannya kosong menatap air mancur yang ada di halaman Cafe .
"Babe .. mau pesan apa?" kembali Gavin mengulangi pertanyaannya tadi.
Merasa tidak ada jawaban, Gavin menengadahkan wajahnya mencari sosok yang dari tadi ditanya tetapi diam membisu.
Melihat Cantika asyik memainkan rambutnya, menggulung gulung nya dengan jari jemarinya membuat Gavin tidak mampu menahan senyumnya.
Kini Gavin larut dengan keasyikannya menatap Cantika memainkan rambut lurusnya.Senyum manis Gavin kembali tersungging di bibirnya.
Sampai akhirnya pelayan membuyarkan lamunan Cantika.
"Permisi bisa saya catat sekarang untuk pesanannya ?"sang pelayan sudah bersiap untuk mencatat.
Cantika melihat ke arah Gavin yang sedang tersenyum penuh arti
Cantika menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
Gavin kembali tersenyum pada Cantika",Kamu mau makan apa? tuh dah ditungguin mbaknya.'
"Ehmm kakak pesan apa?" Cantika balik bertanya sambil membolak balikan daftar menu makanan.
"Nasi goreng Jawa, lemon tea satu mbak' pesan Gavin.
"Mie pangsit, dan lemon tea" timpal Cantika.
Akhirnya setelah mencatat pesanan mereka sang pelayan berlalu dari hadapan mereka.
Gavin memajukan kursinya menata duduknya. lalu menatap intens Cantika.
Cantika yang ditatap seperti itu, merasa jengah dan menundukkan wajahnya.
Gavin semakin tajam menatap Cantika.Berusaha memahami bahasa yang tersirat dari wajah kekasihnya.
Cantika semakin menundukkan kepalanya.
Gavin meraih dagu Cantika dan menengadahkan wajahnya, matanya menatap lekat ke dalam mata Cantika.
"Apa yang terjadi?" tanya Gavin serius pada Cantika.
Gavin melihat adanya kesedihan yang amat sangat terpancar dari sorot mata Cantika.
Mata adalah pancaran langsung dari hati kita, seberapa kuatnya kita berusaha mengelabui orang lain tentang perasaan kita tentang apa yang kita rasakan tetapi Mata tidak pernah berbohong.
Seringkali bibir kita mengatakan i am okay. tapi apa yang dirasakan sesungguhnya berbanding terbalik dengan kenyataan.
"Ada apa denganmu? mau kah kamu berbagi cerita denganku?"Gavin menatap serius kedua mata Cantika.
Cantika masih terdiam membisu hatinya sudah ingin menjerit menangis.
Sejak kepergian orang tuanya, Cantika sudah terbiasa memendam perasaan.
Semua cerita dan kisah hidup yang ia alami sudah biasa ia rasakan dan simpan sendiri.
Sekarang ketika ia punya Gavin, haruskah dan bisakah ia berbagi cerita dengannya?.
"Panjang kak ceritanya" sahut lirih Cantika.
Gavin kembali membetulkan posisi duduknya," Oke... cerita saja aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya."
Cantika terkejut dengan jawaban Gavin, ia sebenarnya belum siap untuk bercerita terlalu detail tentang keadaan keluarganya.
Melihat Cantika masih terdiam, Gavin berinisiatif untuk memulai membuka diri.
"Permisi kak" pelayan Cafe datang membawa pesanan mereka.
Setelah semua makanan yang dipesannya terhidang dihadapan mereka, pelayan pun pergi meninggalkan Gavin dan Cantika.
"Terima kasih mbak" sahut Gavin sopan
__ADS_1
Kemudian Gavin melanjutkan pembicaraannya dengan Cantika.
"Cantika terkadang kata orang rumput tetangga lebih terlihat hijau itu benar. Kita seringkali hanya melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri tapi belum tentu itu benar adanya." Gavin memulai memutus perasaan paling tidak beruntung di pikiran Cantika.
"Kamu pikir hidup aku sempurna? aku juga punya rahasia tentang keluarga aku, dulu awal mula aku mengetahuinya ada perasaan berontak marah kenapa aku tidak diberitahu dari dulu tapi kini aku sadar mungkin saat itu waktunya belum tepat untukku." jelas Gavin menerawang ke depan.
Perlahan Cantika mulai menyimak apa yang diceritakan Gavin pada dirinya.
"Semua orang hanya melihat aku karena papa, pengusaha sukses di Surabaya, perusahaannya ada dimana mana baik di dalam dan di luar negeri. Nathanael Jevaro Reynaldi Pranata anak tunggal sekaligus pewaris langsung Bapak Pranata pengusaha terkenal yang disegani pada masa nya.Dan mama, pemilik Perusahaan Design Grafis ternama di Surabaya, siapa yang tidak kenal dengan mamaku Kimberley Ryan? hmm mereka berdua pasangan yang disegani dikalangan pembisnis tapi tidak ada yang tahu, ada rahasia besar yang mereka jaga hingga kini." jelas Gavin.
"Rahasia apa?" Cantika mulai tertarik dengan cerita hidup Gavin, masa iya cowok yang diidolakan banyak cewek di sekolahnya yang notabene kedua orang tuanya adalah donatur tetap sekolah mereka mempunyai suatu rahasia besar di keluarganya.
"Cantika aku benar-benar ingin serius denganmu perasaan ku ini bukan main-main.Aku harap kita bisa saling terbuka karena sedih mu sedihku, bahagiamu adalah bahagiaku juga" timpal Gavin .
Cantika menarik nafas dan membuangnya, berat baginya menceritakan kisah hidupnya, terlalu menyesakan.
Tapi Gavin saat ini adalah kekasihnya, ia baik dan memang sudah menjadi hak dia untuk mengetahui tentang siapa dirinya .
Setelah berpikir keras dan menimbang nimbang apa yang harus ia lakukan, akhirnya Cantika memutuskan untuk menceritakan pada Gavin sejujur jujurnya tentang kisah hidupnya.
"Aku adalah anak yang terbuang, sampai saat ini aku sendiri tidak tahu siapa kedua orang tua aku.' lirih Cantika menceritakan kisah hidupnya.
Gavin memandang lekat Cantika. Ia mencoba mencari kebenaran dari kisah yang diceritakan padanya.
Ternyata benar setiap manusia selalu memikul masalah hidupnya sendiri-sendiri.
Dibalik keceriaan yang selalu terpancar dari seorang Cantika ternyata terselip kisah hidup yang begitu menyesakan .
Setelah Cantika menceritakan kisah hidupnya ia menghela nafas.
"Begitulah kak, sekelumit kisah sedih hidup aku, itu jugalah yang membuat aku hari ini marah dan kecewa pada papa.Setelah sekian tahun menghilang kenapa baru hari ini muncul kembali, dimana dirinya saat aku dan Reno membutuhkannya ?"
"Kemana dia saat Reno masih bayi? saat butuh biaya banyak untuk susu, popok, bubur dan obat-obatan bila sakit. Sekarang setelah Reno sudah gede, ia baru muncul. Kalau gak mau ngurus aku karena memang aku bukan darah dagingnya its ok tetapi Reno?? ia darah dagingnya sendiri, mama meninggal saat melahirkan Reno. Sungguh besar perjuangan dan pengorbanan mama tapi sayang suaminya seorang pengecut." Cantika meneteskan air matanya mengingat adiknya sejak lahir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang mama dan papa ." air matanya tidak terasa sudah menetes menuruni pipinya yang halus .
Gavin hendak menghapus air mata Cantika, tetapi Cantika mengambil tissue dari tangan Gavin dan menghapusnya sendiri.
Gavin mengangguk angguk tanda ia mulai paham dengan kisah Cantika.
"Iya sih papa bilang. ia trauma kalau melihat kami ia terbayang bayang mama, itu sebabnya ia pergi.tapi bagiku itu alasan klise dan kekanak-kanakan. Saat ini
aku belum bisa memaafkan papa.Walau tadi Oma memintaku untuk menemuinya aku belum bisa" ucap Cantika bersamaan dengan isak tangisnya.
"Jadi itu penyebab kamu langsung bersedia, sewaktu aku mengajakmu ke Cafe? menghindar dari papa kamu, biasanya kan kamu selalu punya segudang alasan untuk menolak ajakan dariku" celetuk Gavin menggoda Cantika agar melupakan kesedihannya.
"Bukan begitu kak" sahut Cantika berusaha mengelak, merasa tidak enak dengan Gavin.
"Hahaha santai saja, kan tadi sudah bilang diantara kita tidak ada lagi rahasia oke?'" Gavin berusaha membuat kesepakatan dengan Cantika.
Cantika mengangguk tanda sepakat.
"Kakak sendiri belum cerita rahasia besar apa yang ada di Keluarga kakak?" tanya Cantika hati-hati.
Gavin terlihat menarik nafas berat.
Menatap Cantika lalu mengalihkan pandangannya ke halaman luar.
"Kalau aku cerita masih maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Gavin
"Kakak ini bilang apa sih sekarang saja yang ada apakah kakak tidak salah memilih? saya yang hanyalah anak terbuang tanpa tahu kedua orang tuaku siapa? dibanding dengan Viona yang sederajat dengan kakak dan punya segalanya!?.' sahut lirih Cantika
Gavin menempelkan jari telunjuknya pada Cantika.
"Ssst kamu ini ngomong apa aku tuh suka kamu, cinta kamu, ya sama kamunya bukan dengan embel-embel di belakang kamu" jelas Gavin.
"Terima kasih kak," sahut Cantika.
Setelah menyedot es lemon tea yang dipesannya tadi, Gavin menarik nafas dalam-dalam.
"Hanya kamu nantinya selain aku, mama dan papa yang tahu rahasia kami" ucap Gavin.
Cantika semakin penasaran rahasia apa yang tersimpan di keluarga seharmonis dan semakmur keluarga Gavin.
__ADS_1
"Papa aku bukanlah papa ku" lirih Gavin menjelaskan.
Cantika setengah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gavin, dia hanya terdiam membisu sambil menatap Gavin.
Gavin menaikkan kedua alisnya menatap Cantika, mencoba menganalisa reaksi Cantika.
Mereka terdiam hening.
"Papa aku sudah meninggal saat aku masih ada dalam kandungan mama" lanjut Gavin.
"Ada kisah cinta yang indah diantara mereka, panjang untuk diceritakan tapi aku suka." senyum tersungging samar di bibir Gavin
"Papa sangat menyayangi mama, ketika papa mengetahui mama sedang mengandung diriku, papa tetap bertekad untuk tetap mencintai dan menerima mama apa adanya."
Cantika mengeryitkan dahinya berusaha untuk memahaminya.
Gavin menatap Cantika dan tersenyum.
"Tapi kamu jangan pernah berpikir jelek tentang mama aku, dia wanita hebat dan tangguh, sejak awal saat mama tahu dirinya mengandung, papa juga sudah mengetahuinya, tapi dasar papa sangat mencintai mama ia tetap nekad menikahinya." kembali Gavin tersenyum mengingat ke bucin an papanya.
"Kapan-kapan aku akan ceritakan padamu kisah cinta mama, papa Aro dan papa Yasir." sahut Gavin.
"Papa Yasir? dia papa asli kamu? apa penyebab meninggalnya?'" tanya Cantika.
Gavin menganggukkan kepalanya pelan.
"Papa meninggal karena kecelakaan, ada luka dalam yang infeksi, yang mengakibatkan papa meninggal. Padahal mama bilang, papa sempat sehat. Bahkan dokter bilang papa sudah boleh pulang tiga hari lagi. Papa dan mama saat itu, juga telah merencanakan untuk menikah. Rencananya mereka akan menikah setelah papa keluar dari Rumah Sakit.Tapi sayangnya maut terlebih dahulu menjemputnya'" Gavin meneteskan air matanya.
Cantika yang terenyuh mendengar kisah hidup Gavin, ia mengambil tissue dan mencoba menghapus air mata Gavin.
"Maaf kan aku kak, telah membuka luka kakak" ucap lirih Cantika.
Gavin menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
"Tidak apa apa Cantika, papa Yasir pasti sudah bahagia disana, ia pasti saat ini melihat mama dan aku bahagia bersama papa Aro, seperti harapannya dulu, saat ia menyatukan papa Aro dan mama" Gavin mencoba tersenyum sambil membayangkan papa nya juga tersenyum saat ini.
"Sekarang aku mau kamu bangkit Cantika, yang punya kisah hidup pilu bukan hanya kamu saja, mungkin orang-orang disekitar kamu yang kamu anggap hidup nya baik baik saja, justru mempunyai masalah hidup yang jauh lebih besar ." Gavin berusaha menyadarkan Cantika.
Cantika mengangguk dan tersenyum.
"Yuk kita pulang, Oma pasti sudah was-was menunggu cucu kesayangan nya " goda Gavin.
Cantika pun tertawa
"Kak .. terima kasih ya sudah percaya sama Tika, kakak sudah menceritakan hal besar dan penting dalam hidup kakak" ucap Cantika.
Senyum manis Gavin kembali tersungging.
"Kan sudah aku bilang tadi diantara kita sekarang tidak boleh ada rahasia oke!? sedihmu senangmu adalah sedihku senangku juga begitu sebaliknya." Gavin mengacak-acak rambut Cantika lalu mengangkat tangan meminta nota pembayaran pada pelayan.
Kemudian Gavin mengantar Cantika pulang.
Cantika sudah mulai berani memeluk Gavin saat dibonceng sepeda motor.
Entah mengapa setelah membuka kisah hidup masing masing, mereka merasa lebih dekat dan nyaman. Mereka pulang dengan perasaan bahagia.
.............🌹🌹🌹🌹...........
Hai hai Cantika hadir lagi nih
Bawa kisah mengejutkan tentang kehidupan kekasihnya Gavin .
Kalau ingin tahu kisah lengkap kehidupan orang tua Gavin dan kisah cintanya bisa dibaca di novel aku yang sebelumnya
Find the Perfect Love disitu kalian akan menemukan kisah lengkap orang tua Gavin yang begitu indah dan penuh liku.
Jangan lupa ya like komen dan favorit kalo ada vote bisa dibagi untuk Cantika.
Happy Reading all
.............. ❤️❤️❤️❤️................
__ADS_1