
Pagi ini adalah pagi yang sangat penting bagi Gavin.
Hari pertama ujian , semalam Gavin sudah sangat sangat bekerja keras untuk belajar dalam menghadapi ujian sekolah.
Hari ini ia sangat yakin sekali dalam menghadapi ujian sekolah .
Rangkuman-rangkuman yang dibuat Cantika special untuk dirinya banyak membantu Gavin dalam belajar.
"Vinn .... sudah hampir setengah tujuh lho!" teriak mama dari dapur.
"Iyaaa ma, bentar" jawab Gavin.
"Kak Gavin! ditunggu papa tuh di mobil cepetan, ntar papa terlambat meeting.!" teriak Laura.
"Iya iya sabar!" Dengan tergopoh-gopoh Gavin memakai sepatunya lalu setengah berlari menuju halaman rumah.
"Vin .... ini sarapannya, bawa ke mobil buat amunisi ujian! " perintah mama Gavin.
Gavin mengerem sejenak langkahnya, lalu menghampiri mamanya dan mencium kening mamanya.
Mengambil sandwich kegemarannya dan sebotol air putih .
"Makasih ma, Gavin sayang mama.Doain Gavin ya ma semoga bisa mengerjakan ujian hari ini" mohon Gavin pada mamanya.
"Iya sayang, mama pasti doakan yang terbaik untukmu." Sambil mencium kening Gavin.
"Hmm, doa saja tanpa usaha mah mana bisa, belajar tidak semalam paling juga pacaran ma kak Cantika, telpon-telponan." goda Laura.
"Ihhh kamu yaaa" Gavin mencubit kedua pipi adiknya itu, ia tahu adiknya hanya menggoda dirinya.
"Auchh ma kak Gavin penganiayaan!" jerit Laura lari bersembunyi di belakang mana.
"Sudah ... sudah, kalian ini selalu saja bikin keributan. Ayo Vin cepat berangkat! sudah ditunggu papa tuh!" ucap mama mengingatkan Gavin.
"Iya ma" Gavin lalu berjalan cepat menuju mobil.
"Pagi pa...maaf pa nunggu lama." ucap Gavin
"Tidak apa-apa Vin , lain kali bangun lebih pagi, biar gak buru buru untuk persiapan nya."
"Kamu sudah sarapan kan Vin?!"
"Iya pa, nih pa sarapan Gavin.Papa sudah sarapan?" tanya Gavin.
"Sudah tadi" jawab Papa sambil melajukan mobilnya.
Sesampainya di depan sekolah, papa menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.
"Selamat menempuh ujian ya, semoga lancar " Sambil mencium kening Gavin sebelum Gavin turun dari mobil
"Siap pa, terima kasih."
......................................................
Setelah masuk ke halaman sekolah, Gavin langsung menuju ke kelas nya .
Dengan hati yang berdebar, Gavin mulai mengerjakan soal ujian .
Semua hening dan fokus pada soal soal ujian.
....................................................
Beberapa hari setelah ujian selesai.Cantika mencoba menghubungi Gavin tapi nomer yang dituju selalu saja tidak aktif.
Cantika mencoba untuk menghubungi teman-teman nya, dan bertanya pada mereka.
"Sepertinya ujian sudah selesai deh sejak hari Jumat kemarin" jelas Vera.
'Iya harusnya emang sudah selesai, tetapi dari kemarin aku coba menghubungi Gavin .... tidak ada jawaban" sahut lesu Cantika.
"Hmm kita tunggu saja besok Tika, besok kan semua sudah mulai masuk kembali kecuali kelas dua belas." jelas Vera.
"Hmm, baiklah." jawab singkat Cantika.
__ADS_1
"Okay Vera... aku tidur dulu ya" pamit Cantika, lalu memutuskan hubungan telepon.
Cantika berjalan menuju ke arah jendela.Di depan Jendela Cantika menatap bulan yang sedang sendiri di langit gelap, persis dengan keadaan dirinya saat ini.
Cantika teringat akan kata-kata yang Gavin utarakan waktu itu.
"Bulan yang kita lihat dimana kita berada adalah bulan yang sama dengan bulan yang berada dimanapun."
"Vin dimana kah kamu??kenapa kamu susah di hubungi? wahai bulan bila kamu bertemu dan melihat Gavin ku , katakan padanya aku merindukannya"
.,................................................
(Rumah Gavin)
"Vin, kamu yakin dengan langkah yang kamu ambil ini?" tanya papa Gavin.
"Maksud papa?"
'Menurut papa, apa tidak lebih baik kamu pamit pada Cantika,bahwa kamu akan kuliah di luar negeri "
"Pa ...., Gavin tidak sanggup untuk ngomong ke Cantika kalau akan meninggalkan dia dalam waktu yang lama. Gavin bisa nangis pa .... Gavin sayang banget dengan Cantika " ucap lirih Gavin.
"Hmm, tapi bukannya semakin menyakitkan Vin, bila kamu pergi begitu saja tanpa pamit.?"
"Gavin sudah persiapkan pa, Gavin ada surat buat Cantika, disana Gavin tulis semua yang terjadi dan apa yang Gavin rasakan. Kalau Gavin sudah berangkat besok tolong pa berikan surat itu pada Cantika." pesan Gavin.
Sesaat suasana menjadi hening.
"Maafkan papa ya Vin? gara-gara papa kamu jadi terpisah dengan Cantika."
"Papa sudah berusaha memikirkan solusi lainnya, tetapi.... tidak ada selain memang kalian harus berpisah untuk sementara." gumam papa merasa bersalah.
"Pa Gavin paham kok, mungkin dengan begini Gavin belajar untuk tidak egois, Gavin harus belajar untuk punya rasa empati pada orang lain." jawab Gavin sambil memeluk papanya.
"Kamu benar-benar anak yang luar biasa. Rasa peduli dan empatimu pada kehidupan karyawan papa sungguh patut papa acungin jempol"
"Maafkan papa sayang, maafkan papa"
Gavin memeluk papanya erat.
"Yang sabar ya Vin,"
"Iya pa.Gavin akan berusaha keras untuk dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan dengan nilai yang memuaskan.!"
"Terima kasih nak, atas pengorbananmu papa yakin kamu bisa, dan kelak akan bersama lagi dengan Cantika dan berbahagia untuk selamanya."
Kemudian mereka pun saling berpelukan dan menangis.
"Maafin Gavin ya pa tidak bisa bantu papa jaga mama dan Laura." gumam Gavin.
"Kamu ini bilang apa! Papa adalah kepala keluarga disini di keluarga kecil kita. Papalah yang bertanggung jawab penuh terhadap kalian. Terhadap kamu, mama dan Laura."
"Tugas kamu cuman satu saat ini ... belajar"
"Lho ternyata kalian disini!" sapa mama.
Gavin dan papa menghapus air mata mereka.
'Hmm ada apa ini kok mama tidak diajak ngobrol, kalian tidak sayang mama ya" goda mama.
"Tidak ma .... Gavin sayang banget sama mama dan papa" Sambil memeluk Mama dan mencium mamanya berulangkali.
"Ma ..... selama Gavin Kuliah nanti, jangan lupa, ingatkan papa jangan terlalu banyak minum kopi. " pesan Gavin.
"Eitss Gavin" Jevaro berusaha memberi kode pada anaknya .
Kimberley yang mengetahui ada yang disembunyikan memasang wajah curiga
"Enggak ma .... papa sudah jarang minum kopi kok, ya kan Vin" senggol papa Gavin.
"Ehm i ... iya ma, papa sudah jarang kok minum kopi cuman Gavin tadi ingatkan lagi siapa tahu mama lupa." ucap Gavin sambil tersenyum seadanya.
"Kalian berdua ini, memang tim kompak kalau ngelabui mama" lalu Kimberley pura pura ngambek.
__ADS_1
Lalu Gavin dan Jevaropun menahan Kimberley untuk pergi lalu mereka memeluknya.
"Papa sayang mama"
"Gavin juga sayang mama"
Kemudian mama pun memeluk papa dan Gavin bersamaan .
"Mama juga sayang kalian" Sambil mencium kening masing-masing.
"Laura tidak," lirih Laura bersuara.
"Heii sayang .... tentu saja mama sayang Laura" Kemudian mama pun memeluk Laura.
Disusul papa dan Gavin.
"Papa juga sayang Laura"
"Kak Gavin juga"
Tiba-tiba Laura memeluk erat Gavin dan menangis tersedu sedu.
"Hei kelinci kecil kakak, ada apa sayang?" tanya Gavin.
Semakin menjadi tangisan Laura dalam pelukan Gavin kakak nya.
'Kak Gavin jangan pergi, Laura sama siapa? kalau gak ada kakak?."
"Siapa yang akan jagain Laura di sekolah?, Siapa yang akan jahilin Laura?. Kakak jangan pergi ya Laura sayang kakak! Kak Gavin sekolah disini saja jangan jauh-jauh." kembali Laura menangis di pelukan Gavin.
Papa dan mama yang melihatnya pun ikut meneteskan air mata.
Ini adalah perpisahan pertama kalinya bagi keluarga Jevaro.Mereka terbiasa selalu bersama sama jadi wajar bila kepergian Gavin untuk kuliah di Luar negeri membuat keluarga ini merasa ada yang hilang .
Gavin terus memberi pengertian pada Laura bahwa mereka akan selalu tetap berkomunikasi mereka bisa teleponan ataupun Video Call bila kangen.
Setelah meyakinkan Laura bahwa mereka semua masih tetap bersama, walau terpisah jarak tapi hati mereka satu.
Akhirnya setelah semua selesai menumpahkan segala kegalauan perasaan mereka.
Akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Vin yakin tidak perlu dibantu untuk packing ?" tanya mama.
"Terima kasih ma... Gavin bisa kok!" jawab Gavin sambil tersenyum.
"Baiklah setelah packing langsung tidur ya,besok pagi paman kamu datang kalian bisa keliling keliling Bandung berdua ajak Laura juga sebelum kamu meninggalkan Indonesia." pesan mama.
"Baik ma, selamat malam love you" Gavin mengecup kedua pipi mamanya
"Love you too Gavin"
Suasana kamar kembali hening.Tiba tiba ada rasa rindu yang sangat dalam diri Gavin pada Cantika.
Gavin memandang bulan yang terlihat di langit dari kamarnya."Wahai bulan apakah kamu melihat Cantika ku? sampaikan padanya aku merindukannya, sangat merindukannya"
Gavin kembali menghela napas, terdiam .... lalu Ia meraih ponselnya, ada keraguan di hatinya untuk menghubungi Cantika atau tidak.
.................................................
Akankah Gavin menghubungi Cantika?
Akankah kerinduannya pada Cantika mampu ia abaikan begitu saja demi menjaga perasaan Cantika agar tidak terluka terlalu dalam?
Tunggu jawabannya di Bab berikutnya ya...
jangan lupa like komen bintang dan bunga-bunga serta hadiah yang lainnya ya....biar author semakin bersemangat untuk menulis.
Sambil menunggu up yuk intip karya teman aku yang berjudul
Miss Black: Pewaris CEO yang Terbuang
Sebutan anak haram melekat pada diri Rose sejak kecil karena ia tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah sang ibu meninggal, Rose diasuh oleh paman dan bibinya. Namun bibi dan sepupunya yang kejam selalu memperlakukan Rose sebagai pembantu. Hingga pada usia empat belas tahun, nasibnya berubah total. Seorang pria bernama Denzel mengatakan bahwa Rose adalah pewaris dari Louis Brown, CEO Brown Group yang terbunuh secara misterius. Namun demi keselamatan dirinya Rose harus tetap menyembunyikan identitas aslinya. Rose memilih menjadi mahasiswi biasa di fakultas seni. Tidak ada yang mengetahui bahwa Rose sesungguhnya adalah pemilik perusahaan property Brown Group yang bernama Miss Black, sekaligus seorang violinis terkenal. Namun identitas aslinya hampir terbongkar ketika Luke, anak angkat Louis Brown datang untuk menuntut haknya. Akankah Rose dan Luke terlibat persaingan atau hubungan mereka justru berubah menjadi cinta?
__ADS_1