
Siang terasa sangatlah terik, terlalu terik bahkan, seterik dan sepanas perasaan Cantika.
Sejak kejadian di kantin sekolah tadi, hati dan perasaan Cantika berantakan tak beraturan. Antara marah, sedih, bingung. dan kecewa.
Semua bertabrakan di hati Cantika saat ini.
Ingin rasanya Cantika berteriak, dan menangis sekeras-kerasnya.
Hingga habis rasa amarah di dada.
Tetapi apa daya tubuhnya tak mampu melakukan semua itu, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.
Vera dan Amanda menuntun Cantika turun dari mobil Vera.
diikuti William dan Rio yang menggunakan montor..
"Kak Cantika..." sambut Reno
"Lho kak Cantika...kakak kenapa?Omaaa----" tiba-tiba Cantika membungkam mulut Reno.
mmpphh
"Diam tidak? kalau kamu tidak berisik kakak lepaskan!" bisik Cantika.
Reno pun akhirnya hanya bisa mengangguk, menyetujui syarat yang diajukan kakaknya untuk tidak lagi berteriak.
Akhirnya Cantika pun melepaskan bekapannya pada Reno.
"Ihh kakak, kan Reno cuman khawatir tadi, sama kakak, kok malah Reno dianiaya sih??'" sungut Reno.
"Maaf Reno, kakak cuman tidak mau Oma bingung dan sedih, maafin kakak ya" Cantika memeluk adiknya dan mencium ujung kepalanya.
Reno menatap lekat wajah kakaknya.Walaupun Reno dikenal Jahil dan tengil, namun sebenarnya Reno anak yang baik perhatian dan sayang sekali pada Kakaknya.
Reno menyentuh mata dan pipi kakaknya, "Basah...,kakak nangis ya?"
"Hmm sedikit" sambil berusaha mengeringkan pipinya.
"Kakak dimarahi guru kakak? kakak dapat nilai jelek atau kalah lomba sains?" selidik Reno
Aneh bagi Reno kalau kakaknya pulang sekolah menangis karena kakaknya adalah juara kelas sekaligus juara umum disekolah. jadi mana mungkin kakaknya bermasalah dengan urusan sekolahnya.
"Gara-gara kak Gavin tuh!" celetuk Amanda.
"Ups!" Amanda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya merasa bersalah karena mendapat tatapan tatapan tajam dari Cantika, Vera, William dan Reno.
"Kak Gavin?? kak Gavin bikin sedih kakak? bener kak?" Reno menggoyangkan pundak kakaknya.
"Tidak sayang, bukan----" belum selesai Cantika melanjutkan kalimatnya Reno sudah berlari ke dalam .
"Renooo.....!' panggil Cantika.
Reno terus meninggalkan kakaknya di teras depan rumah.
"Kamu sih Manda, pakai keceplosan segala" gerutu Vera pada Amanda.
"Yaaa maap" sambil menggaruk kepalanya lalu memeluk Cantika.
"Sabar ya Cantika ...atau mungkin saja kak Gavin tadi tidak melihatmu, jadi dia langsung balik badan dan pergi" ucap Amanda ragu.
"Gak lihat bagaimana? kita kan duduknya bersebelahan dengan meja nenek lampir. tidak mungkin Gavin tidak melihat kita." bantah Vera yakin.
"Dia tahu...dia lihat...," lalu Cantika pun menangis
"Tika..jangan nangis" Amanda pun ikut menangis.
Betapa tidak, selama mereka bersahabat, Cantika tidak pernah sekalipun menangis seperti ini, kalaupun ia sedih hanya berkaca kaca saja lalu tersenyum lagi. Tapi tidak kali ini Cantika benar benar menangis .
__ADS_1
Vera sadar Cantika sangat mencintai Gavin. Jadi wajar bila ia menangis, diapun merasa sakit saat melihat reaksi Gavin tadi.
Kembali ingatan Vera tertuju pada pesan Gavin kemarin, "Hmm, ada apa ini apa pesan Gavin itu ada hubungannya dengan sikapnya tadi?" batin Vera
"Hallo semua, sudah makan belum? " Tiba-tiba ayah Cantika sudah berdiri di hadapan mereka.
"Cantika, teman-teman nya sudah diajak makan belum?" tanya ayah sekali lagi.
"Cantika.... kenapa kamu nak?" sambil melihat ke arah Vera dan Amanda bergantian mencari jawaban.
"Cantika..ada apa?" tanya Aqib sambil mengusap punggung Cantika lembut
Ayah Cantika memeluk dan berusaha menenangkan perasaannya.
"Gara-gara kak Gavin tuh" sungut Reno yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Serentak ayah dan Aqib menoleh ke arah Reno, lalu Aqib dan Ayah pun saling berpandangan penuh arti.
"Benar Cantika kata Reno?" tanya ayah.
"Gavin cuekin Cantika om, buang muka lagi, sakit hati kan Cantika" cetus Amada tanpa henti
"Manda..," seru kompak William Vera dan Rio.
Lalu Rio pun menarik tangan Amanda untuk mengikutinya .
"Apaan sih Rio.., aku kan mau menemani Cantika." bantah Amanda.
"Ayoo sini ikut aku sebentar aja" sambil berusaha memeluk Amanda lembut
"Jason aku pamit dulu ya, ada yang mau aku briefing" pamjt Aqib
"Sebentar Qi tunggu!''
Jason pun berlari mengejar Aqib
"Qi tunggu! jangan emosi" pinta Jason.
"Tenang qi tenang...jangan grasa grusu semua harus dipikirkan matang matang sebab dan akibatnya." cegah Jason pada sahabatnya itu
"Aku harus bicara dengan Jevaro!"
"Jevaro tidak salah Qi jangan kamu salahkan dia, aku yakin bila ada jalan keluar yang lain dia akan ambil itu dia tidak akan biarkan Gavin dan Cantika berpisah." lanjut Jason.
Aqib menghela napas berat.
"Aku hanya tidak tega melihat mereka jadi korban sifat manja anak Gunadi, Gemes jadinya, mengingatkan aku pada Kiki, sakit jiwa mereka." gerutu kesal Aqib
"Okay Jason, urus anak kamu , tenangkan dia, aku akan coba cari solusinya." jawab Aqib.
lalu menghilang lah Aqib dari pandangan Jason
"Semoga kamu menemukan solusi yang terbaik" batin Jason.
..................................................
Jason kembali ke dalam rumah tetapi Cantika dan teman-temannya tidak terlihat lagi di teras rumah, sepertinya mereka sudah berada di lantai atas semua.
Terdengar suara berisik di lantai atas berasal dari kamar Cantika.
Jason pun tersenyum, berbahagia lah kau nak, mempunyai teman-teman yang sangat peduli dan sayang padamu.
"Reno benci kakak! kakak jahat! "
"Haii Reno ada apa? kenapa kamu membenci kakak" sahut suara di seberang.
"Kakak dulu sudah janji sama Reno untuk ngejaga kakak aku. dan tidak akan bikin kakak aku menangis. Tetapi ternyata kakak bohong! kakak jahat ,! Reno benci kakak! jangan datang dan ganggu kakak Reno lagi,?" Reno mengungkapkan kemarahan nya, lalu menutup teleponnya.
__ADS_1
Papa Reno yang mendengar Reno berdebat kecil dengan seseorang di seberang yang sangat bisa dipastikan bahwa seseorang itu adalah Gavin Bintang Pamungkas.
..................................................
Mendengar perkataan Reno yang polos yang mengatakan bahwa Cantika sedang menangis, membuat perasaan Gavin menjadi semakin terluka.
Brakkk
Bunyi meja dipukul dengan sangat kerasnya.
Tok... tok... tok
"Gavin ! buka pintunya ini paman Vin ayolah ada yang harus kita bicarakan mengenai hubungan mu dengan Cantika .
Mendengar nama Cantika disebut, tanpa menunggu lebih lama lagi, Gavin lalu membukakan pintu untuk pamannya .
Melihat dari tangan Gavin menetes darah segar. Aqib pun menatap tajam kearah ponakannya itu.
"Kenapa tangan kamu?"
Gavin hanya terdiam membisu.
"Dimana kotak Pertolongan pertama?" tanya Aqib serius sambil menatap tajam Gavin.
Gavin hanya menunjuk ke arah meja dekat lemari baju nya.
"Sini paman bersihkan luka kamu" Aqib berjalan ke kotak Pertolongan pertama dan mengambil beberapa obat dan keperluan untuk membalut luka.
"Vin apapun yang terjadi apapun masalah yang kamu hadapi paman pesan jangan sakiti diri kamu sendiri, ingat itu! kita cari solusi bersama-sana ok?!" Aqib membersikan luka Gavin dan membalutnya dengan kain kasa.
Gavin hanya bisa terdiam dan pasrah. Membiarkan pamannya yang mengobati lukanya.
'Vin. apa yang kamu lakukan hingga membuat Cantika menangis?" tanya serius paman Aqib.
"Aku....??" sambil menunjuk pada dirinya sendirinya.
"Iya"
"Aku tidak melakukan apa-apa !"
"Hmm, aku dengar kamu sekarang mulai tidak peduli lagi dengan Cantika, bahkan kamu tidak lagi menyapanya." desak paman menyelidiki.
Gavin menarik napas panjang.
"Kata papa aku tidak boleh lagi bersikap manis pada Cantika, terutama di depan Viona. Sakit paman harus bersikap cuek dan dingin pada Cantika aku tidak sanggup paman " ucap Gavin bergetar dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm berat memang Vin paman bisa merasakanya, paman tadi ke rumah Cantika, dia menangis, kata Amanda karena kamu membuang muka saat bertemu di kantin tadi." kata Aqib.
"'Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi paman, aku merasa sebagai pecundang tidak bisa memberi kebahagiaan pada seseorang yang kucintai tetapi justru memberikan airmata dan luka." tangis Gavin.
"Sabar ya Vin, semoga waktu cepat berlalu hingga cepat selesai urusan sekolah kamu, sehingga kamu bisa bebas berhubungan lagi dengan Cantika." doa tulus paman.
"Biarlah seiring waktu berjalan dengan perginya kamu dari sini, Viona melupakan dirimu dan menemukan target obsesi barunya dan kamu bisa bebas menjalin kasih lagi dengan Cantika." harapan paman yang terbaik untuk ponakannya.
"Vin hari Minggu besok, paman kembali ke Kashmir.? kemudian dua Minggu lagi setelah kelulusan, paman jemput kamu, kamu siap siap untuk berangkat ke Kashmir ya" ujarnya
Gavin hanya pasrah menurut apa yang diminta dan direncanakan oleh kedua orang tuanya, bahkan dia tidak peduli lagi dengan perasaanya. Gavin hanya ingin Cantika tidak salah paham dan membenci dirinya.
......................................
Jangan lupa bagi like, favorite dan bintang bintang di langit dan hadiah hadiahnya ya kalau masih punya vote silakan di bagi
Ditunggu kelanjutannya ya....
Sambil menunggu UP nih aku kenalin karya Ay Nissa yang berjudul Ratu Dominant Menikahi CEO Cacat.
Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?
__ADS_1
Happy Reading ❤️❤️❤️❤️❤️❤️