Cinta Online

Cinta Online
Rahasia yang terkuak


__ADS_3

Kimberley dan Rose adalah dua sahabat yang lama terpisah bahkan sempat kehilangan kontak selama hampir dua puluh tahun.


Kini Rose tiba-tiba hadir lagi dalam kehidupan Kimberley.


"Sebentar. Kamu bilang kamu punya anak gadis,? Tapi dia tidak mengenalimu? Apa maksudnya?" Bingung Kimberley dengan cerita Rose.


"Panjang ceritanya" Lalu Rose tertunduk sedih.


Kimberley dan Jevaro saling berpandangan."


"'Ehem..Rose kamu nginap disini kan? Menurut aku kamu lebih aman disini daripada disana hanya ada si Jason terlalu lama bersama, bisa jatuh hati lho. Jason kan duda klop deh!" Jevaro mencoba menggoda Rose untuk mencairkan suasana.


Rose hanya tersenyum getir.


"Aku mengenal Jason sudah sangat lama. Dan sepertinya aku bukan selera dia. " Rose terkekeh.


"Ya sudah kalau begitu, kalian berdua ke kamar saja kalau mau bernostalgia. Pasti banyak cerita yang ingin diceritakan. Dua puluh tahun lho kalian terpisah." ucap Jevaro.


"Ma...." panggil Laura.


"Haii Cantik! Sini sayang, mama kenalin sahabat lama mama." ujar Kimberley saat melihat Laura menghampirinya.


Laura lalu mendekat.


"Rose ini Laura, adiknya Gavin!"


"Wow cantik! Mirip kamu lho Kim! " seru Rose takjub.


"Hai namanya siapa sayang?" tanya Rose.


Rose dan Laura pun bersalaman.


"Laura Tante"


"Benar-benar fotocopy dirimu Kim.Lembut dan sopan." ucap Rose terus mengagumi kecantikan Laura.


"Terima kasih tante" Laura tersenyum lembut.


"Jiaahhh senyumnya .... senyumnya Pak Jevaro!" seru Rose melihat sepasang lesung pipi tersungging indah saat Laura tersenyum.


Jevaro dan Kimberley pun tertawa kompak."Namanya juga hasil kolaborasi kami. Rose!" ucap Jevaro.


"Oh iya ya." Lalu mereka bertiga tertawa bersama.


"Ma ... Laura ijin pergi dulu ya, mau ke toko buku." ijin Laura.


Kimberley mengangguk lembut."Hati-hati di jalan. Jangan terlalu sore pulangnya."


"Diantar Pak Gio kan Laura?" tanya Jevaro.


"Iya pa!'


"Okay! Hati-hati.Hubungi papa atau mama kalau ada apa-apa." pesan Jevaro.


"Baik pa .. ma.Permisi Tante, Laura pamit dulu." sambil menyodorkan tangan pada Rose lalu mencium tangan Rose.


"Hati-hati Cantik." Lalu setelah berpamitan juga pada Jevaro dan Kimberley. Laura pun pergi bersama pak Gio sopir keluarga mereka.


"Anak yang sopan. Kalian keren lho jadi orang tua yang berhasil mendidik anak-anak yang hebat." puji Rose pada kedua sahabatnya itu.


"Anak kamu usianya berapa Rose.?" tanya Jevaro.


"Oh ya bagaimana Cantika?" tanya Kimberley.


Dada Rose seperti terhantam sebuah batu besar.


"Cantika itu juga anaknya manis, pintar dan sopan. Kasihan Cantika dan Reno masih kecil sudah jadi piatu. Untung Jason lelaki yang bertanggung jawab dan sayang keluarga." puji Kimberley.


"Oh ya kamu sudah tahu belum, Cantika dan Gavin itu sepasang kekasih lho.?"


"Pa... Cantika sudah diberitahu kan kalau Gavin akan pulang Minggu depan.?"tanya Kimberley.


"Gavin sendiri yang bilang langsung ke Cantika." sahut Jevaro.


"Ohh bagus kalau gitu. Coba tadi kamu ajak Cantika kemari Rose."


Rose terdiam mendengar semua pembicaraan dua sahabatnya itu tentang Cantika.


"Haii Rose! " Kimberley melambaikan tangannya berusaha menyadarkan Rose dari lamunannya.


"Hmm sepertinya dia punya banyak cerita yang ingin ia ceritakan ke kamu. Aku tinggal ke kantor ya sayang. Kamu ajak Rose ke kamar bikin ia sesantai mungkin biar beban pikirannya plong" bisik Jevaro pada istrinya Kimberley.


Kimberley pun mengangguk setuju dengan ide suaminya itu.


Jevaropun mencium kening istrinya lalu berpamitan.


"Rose .....aku pamit dulu ya ada kerjaan di kantor .Kamu nginap disini saja temani Kimberley." pamit Jevaro. Sambil menyentuh pundak Rose.


"Oh i.. iya Pak Jev .Sukses terus ya dengan pekerjaannya." sahut Rose baru tersadar dari lamunannya.


Lalu berangkat lah Jevaro ke kantor.


"Lho Kim, Jevaro bawa mobil sendiri?" tanya Rose.


"Iya. Kan sopir lagi dipake Laura." ucap Kimberley sambil membuat sesuatu di dapur


"Nih aku bikinin roti isi favorit kamu . Kita ngobrol di kamar aja yukk. Pokoknya kamu harus nginap disini. Kamu pake baju aku aja gak apa-apa. " jelas Kimberley.

__ADS_1


"Terima kasih Kim, ntar minta tolong sopir kamu, ambil tas koper aku di rumah Jason bisa kan?." Rose meminta bantuan untuk mengambil pakaiannya di rumah Jason.


"Okay setelah Laura pulang. Pak Geo aku suruh mampir ke rumah Jason." sahut Kimberley.


Rose manggut-manggut tanda mengerti.


"Terima kasih!"


"Rose ... cerita dong kemana aja kamu selama menghilang?"


"Panjang Kim ceritanya." tatap nanar Rose.


Tersirat banyak kesedihan di dalam sorot mata Rose.


"Kamu sendirian ke Surabaya?"


"Iya." Sambil berusaha tersenyum


"Kamu pasti bahagia bersama Jevaro. Yasir pasti bahagia juga karena ia telah menitipkan kamu pada orang yang tepat " ungkap Rose


"Amin. Semua berkat doa mu juga." sahut Kimberley tersenyum.


"Anak kamu dimana? Gak ikut kamu?" tanya Kimberley lebih lanjut


"Sudah usia berapa?" lanjut Kimberley.


Rose tersenyum getir.


Kimberley yang sempat menangkap senyuman getir itu lalu bertanya "Kamu cerai Rose?"


"Anakku sudah berusia enam belas tahun." sahut Rose lirih.


"Ia tumbuh menjadi anak yang cantik, sopan dan pintar.Sahabat- sahabatnya juga banyak." lanjut Rose


"Dan aku baru bisa memeluknya sekarang." Airnata Rose mulai mengalir.


Kimberley memberinya tissue. Untuk menghapus air matanya yang mulai mengalir deras.


"Enam belas tahun? Seumuran dengan Cantika " gumam Kimberley..


Rose pun tersedak.


"Rose ..!!" Kimberley pun mengambil segelas air putih untuk Rose


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kimberley khawatir melihat wajah Rose yang pucat.


"Aku tidak apa-apa kok!" ucap Rose meyakinkan Kimberley.


Kimberley menatap lekat Rose.


"Ada apa Rose? Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bercerai? Anak kamu bersama papanya?" Kimberley memberondong Rose dengan berbagai pertanyaan.


Kimberley semakin mengerutkan keningnya.


"Terus anak kamu?"


Rose menangis menyesali diri.


Kimberley memeluk Rose erat dan mengusap punggungnya.


"Aku mabuk saat itu dan tidak ingat bagaimana awalnya hingga akhirnya aku tersadar aku tertidur dalam keadaan polos bersama teman Bisnisku."


Kimberley menghela napas.Dan terus mengusap punggung Rose memberikan kekuatan.


"Bukan salah anakku, bila ia terlahir tidak memiliki ayah" Airmata Rose kembali deras mengalir.


"Anak aku tidak salah Kim. Dia juga tidak memilih untuk terlahir dari orang tua tunggal seperti ku." Isak tangis Rose semakin menjadi.


"Aku benar-benar merasa sebagai ibu yang tidak berguna. Dan andai ia tahu aku yakin ia akan membenciku. "


"Dimana ia sekarang.?" tanya Kimberley tegas.


"Demi menebus kesalahanku dan aku tidak ingin ia merasa beda dengan teman-temannya. Aku titipkan dia kepada ---" Rose menyeka air matanya.


Kimberley semakin serius mendengarkan kisah hidup sahabatnya itu, yang sempat tidak ia ketahui keberadaannya.


"Kau titipkan pada siapa?" tanya Kimberley serius.


"Aku ingin ia mendapatkan kehidupan yang layak Kim. Mempunyai orang tua utuh. Mempunyai keluarga yang utuh.!" jelas Rose ditengah-tengah Isak tangisnya


"Okay aku paham. Aku tahu kegalauan dan kepanikan situasi yang kamu hadapi saat itu. Tapi boleh aku tahu kamu titipkan pada asiapa anak kamu? Dan sekarang ada dimana? " Kimberley kembali ingin tahu keberadaan anak Rose.


"Aku titipkan pada sahabat dekat ku. Dia yang selalu menemani aku disaat aku depresi." ucap lirih Rose.


"Dimana sekarang anak kamu? Masih bersama sahabat kamu?" Kimberley terus mengintrogasi Rose.


"Sahabat aku sudah meninggal. Anak aku sekarang tinggal bersama nenek, ayah dan adiknya." jelas Rose sambil menatap Kimberley tajam.


Entah kenapa sorot mata Rose membuat bulu kuduk Kimberley berdiri.Jantungnya berdetak cepat seperti ada yang membisiki dirinya siapa anak Rose sesungguhnya.


Tiba-tiba Kimberley memeluk Rose dan menangis bersama.


"Yang sabar Ya Rose. Anak kamu anak yang luar biasa dia hebat seperti mamanya. Percayalah ia tidak pernah membencimu." ucap Kimberley sambil memeluk sahabatnya itu


"Terimakasih Kim."


"Dan kita akan berbesan nantinya ." ucap Kimberley menghibur Rose.

__ADS_1


Lalu mereka saling berpelukan dalam tangis.


......................... ............................


Haii Ikuti terus kisah Gavin dan Cinta.


Jangan lupa komen dan dukungan lainnya agar Cinta Online terus bertahan.


Sambil menunggu up bisa mampir ke karya teman aku Yanktie Ino dengan judul Tell Laura I Love Her


_'i really miss U Mom,"_  Laura yang sedang serius memperhatikan materi seminar di sebuah hotel di Bandung merasakan ada getar di tasnya. Dilihatnya ada pesan masuk dari Nazwa.


_'Kamu sedang istirahat? Mengapa bisa bawa ponsel ke sekolah?'_ cepat Laura menjawab karena jam sekolah Nazwa tidak diperbolehkan membawa ponsel oleh sekolahnya.


_'i'm at home. I’m sick Mom,'_  balas Nazwa.


_'Share lock alamat rumahmu ya, nanti sesudah seminar selesai Mommy ke rumahmu. Mommy sedang seminar,'_ Laura membalas chat Nazwa dan menjanjikan akan mengunjungi putri kecilnya. Laura tahu, sebagai dokter anak tentu Syahrul tahu apa yang diderita anaknya sehingga merasa tak perlu di rawat di rumah sakit.


Seminar hari ini selesai pukul 17.00 dan akan dilanjutkan esok hari pukul 08.00. Laura segera keluar hotel dan menuju ke supermarket sebelum mengunjungi Nazwa. Dia membeli bahan salad, bahan puding serta ice cream untuk kedua buah hatinya. Walau dia belum bisa membalas cinta Syahrul, tapi sejak 4 tahun lalu masih ada Tommy dia memang sangat menyayangi kedua anak itu.


“Assalamu’alaykum,” sapa Laura ketika sampai di rumah Syahrul dan disambut pekik manja Fahri. “Mommyyyyyyyyyyyy!”


“Jawab salam Mommy dulu Jalu,” jawab Laura. Seringkali orang tua di wilayah Jawa Barat memanggil anak lelakinya dengan sebutan Jalu.


“Hehe … wa’alaykum salam Mommy,” sahut Fahri sambil mendekap Laura yang langsung memberikan kotak ice cream padanya. Selain itu Laura menurunkan belanjaannya lalu masuk ke dalam mengikuti Fahri.


Di ruang tamu ada dua gelas sirop dan tas wanita. Laura jadi tidak enak hati karena datang di saat yang tidak tepat. “Fahri, ini di taruh di mana?” tanya Laura sambil menunjukkan bahan puding dan bahan salad yang dia beli.


“Taruh sini aja Mom,” Fahri mengajak Laura yang memang baru 1 kali itu datang ke rumah Syahrul. “Ayok kita ke kamar Kakak,” ajak Fahri sambil menggenggam jemari Laura dan menariknya ke lantai 2 rumah itu.


“Mommy …,” Nazwa langsung berteriak saat melihat Laura di depan pintu kamarnya ditarik Fahri.


“Assalamu’alaykum,” sapa Laura. Dia melihat ada perempuan cantik di ruangan itu selain Syahrul dan Nazwa.


“Wa’alaykum salam,” Syahrul dan perempuan cantik itu menjawab hampir bersamaan. Laura menghampiri untuk berjabat tangan baru dia menghampiri Nazwa.


“Thank’s for coming. I really miss you Mom,” Nazwa langsung mengambangkan tangannya minta dipeluk. Laura duduk di ranjang dan memeluk erat putri kecilnya.


“Princess Mommy sakit apa?” tanya Laura lembut sambil membelai pipi Nazwa.


“Cuma demam aja Mom, kemarin siang aku kepeleset dan jatuh di kolam ikan sekolah,” sahut Nazwa lirih.


*“Tell me the truth,” *bisik Laura. Tak mungkin Nazwa bisa jatuh terpeleset. Nazwa yang mengetahui tak bisa berbohong pada Laura langsung menangis terisak dipelukan perempuan yang dia harap bisa menjadi ibu sambungnya itu. Hanya Laura yang bisa langsung tahu kalau cerita yang dikatakannya adalah kebohongan.


Syahrul yang kaget akan kedatangan Laura di rumahnya menjadi serba salah karena saat itu dia sedang bersama perempuan lain. Ditambah lagi sekarang dia melihat Nazwa menangis dipelukan Laura. Syahrul semakin merasa bersalah terhadap putrinya. Dia mengajak Fahri dan teman perempuannya keluar dari kamar Nazwa. Dia ingin memberi kesempatan pada putrinya untuk bercerita dengan Laura.


“Mommy bisa kunci pintu kamar?” pinta Nazwa pada Laura. Tanpa membantah Laura mengerjakan apa yang Nazwa minta.


“Sekarang ceritakan, mengapa kamu sakit,” pinta Laura.


“Aku sedih Mom,” Nazwa memulai ceritanya. “Seminggu lalu Nenek dari Padang menghubungi Daddy. Meminta agar Daddy segera menikah lagi dan Nenek menjodohkan Daddy dengan tante tadi. Aku enggak suka,” Nazwa kembali terisak.


Laura kaget mendengar alasan Nazwa sakit. Dia tak menyangka gadis kecilnya mengalami tekanan batin hingga membuatnya demam. “Kita tak boleh mencampuri urusan Daddy dan Nenek. Mereka sudah dewasa dan tentu sudah berpikir yang terbaik untuk mereka. Sejak dulu Mommy sudah bilang ‘kan? Mommy akan tetap ada untuk kalian walau Mommy tidak menikah dengan Daddy. Kalian tak akan pernah Mommy tinggalkan. Jadi kamu tenang saja. Biarkan Daddy menentukan keputusannya. Jangan kamu membuat Daddy menjadi anak yang membantah orang tuanya,” dengan lembut Laura menasihati gadis kecilnya.


“Tapi Mom …,” bantah Nazwa. Ia tidak rela perempuan yang dikirim neneknya menjadi istri daddynya. Karena sejak bertemu pertama Nazwa mempunyai kesan tak baik pada perempuan itu. Dia langsung tak suka saat pertemuan pertama dengan dirinya dan daddynya,  perempuan itu langsung bergayut manja pada lengan daddynya. ‘Baru kenalan saja sudah begitu kelakuannya.’ Walau masih remaja, tapi Nazwa bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan perempuan nakal dengan perempuan baik-baik.


“Enggak ada tapi! Kamu sudah makan?” tanya Laura cepat.


“Belum.”


“Kita turun yok, kita makan lalu kamu minum obat. Bisa jalan ‘kan?” tanya Laura.


“Bisa Mom,” Nazwa menjawab lalu mengenakan sandal rumahnya, dan bergandengan tangan menuju ruang makan. Laura kaget saat asmpai di ruang makan. Di sana dilihatnya Syahrul sedang diambilkan nasi oleh perempuan itu.


_'Bagaimana bisa dia makan tidak mengajak anak-anaknya!'_ Laura jadi bingung melihat Syahrul yang sepertinya bukan seorang ayah yang dikenalnya selama ini.


“Kamu duduk dulu, Mommy siapkan makanmu ya,” tanpa menyapa kedua orang yang ada di meja makan Laura menyuruh Nazwa duduk dan menyiapkan piring, tapi dia lalu ingat Fahri.


“Bik, bisa minta tolong panggilkan Fahri?” pinta Laura sopan.


“Baik Non,” sang bibik segera memanggil Fahri di kamarnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Laura manis.


“Belum Mom,” jawab Fahri sambil menggeleng.


“Makan bareng Kakak ya, sini Mommy ambilkan,” Laura langsung mengambilkaan Fahri nasi dan sayur serta ayam goreng.


“Mommy enggak makan?” tanya Fahri.


“Mommy cukup kenyang melihat kalian makan,” jawab Laura sambil tersenyum manis. Dilihatnya selintas perempuan itu makan tanpa peduli sedang Syahrul hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa menyuap sama sekali.


Selesai anak-anak makan Laura langsung menuju dapur. Cepat-cepat dia membuat puding coklat dan fla nya.  Lalu dia minta bibik menyimpannya di kulkas. Tadi dia meminta bibik juga membantunya memotong aneka buah untuk salad. Sekarang dia mengaduk buah dengan bumbu salad lalu ditaburi parutan keju. Salad itu sengaja dia letakkan dalam mangkok kecil-kecil lalu dia minta bibik simpan di kulkas. Dia akan segera pamit karena tak enak mengganggu Syahrul.


“Mommy sudah membuatkanmu salad buah dan puding coklat. Sekarang Mommy kembali ke hotel ya. Mommy masih banyak kerjaan karena sedang seminar,” pamit Laura pada Nazwa dan Fahri yang sedang di kamar Nazwa.


“Kenapa Mommy tidak menginap?” tanya Nazwa. Dia berharap Laura bisa tinggal lebih lama.


“Mommy sedang seminar sayang, kamu selalu kabari Mommy ya. Dan jangan membantah. Turuti semua yang Daddy perintahkan. Promise?” Laura  memeluk Nazwa lalu diciumi pipi dan kening gadis kecilnya itu.


“Yes Mom,” jawab Nazwa lemah.


“Salad dan pudingnya dimakan ya?” Laura mengingatkan keduanya. “Ayok Fahri temani Mommy turun,” Laura tentu agak sungkan pamit pada Syahrul yang sedang berdua dengan calon istrinya.


“Maaf, saya pamit. Assalamu’alaykum,” Laura menyodorkan tangannya untuk pamit. Dia rasakan Syahrul agak mengeratkan jabat tangannya, tapi dia tak menggubrisnya. Dia langsung keluar rumah itu ditemani Fahri. _'Bahkan kamu tidak memperkenalkan calonmu padaku Bang.'_


_'Tapi aku memang tak bisa marah, bukankah aku belum menerima cintanya, walau dia berjanji akan menunggu jawabanku sampai kapan pun. Dia masih pria lajang. Sehingga tidak salah kalau dia memilih bosan menunggu dan berpaling pada perempuan pilihan ibunya. Aku tidak boleh marah dan bersedih!'_ Laura langsung memberi motivasi untuk dirinya sendiri agar tidak lemah dan melupakan Syahrul. Dia melajukan mobilnya menuju Dago. Dia ingin menenangkan hatinya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2