Cinta Online

Cinta Online
Ancaman dari papa Viona


__ADS_3

Malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Tidak sengaja, sewaktu Gavin ingin mengambil minum di dapur melihat mamanya tertidur di meja makan.


Sesaat Gavin terpaku, terdiam.


Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam.


"Hmm kalau mama tertidur disini ,berarti papa belum pulang. Kemana papa? gak biasanya papa pulang selarut ini.?" batin Gavin.


Tidak tega Gavin melihat mamanya tertidur di meja makan. Ingin sekali ia membangunkannya dan menyuruh mama tidur di kamar


"Aku telepon papa dahulu, untuk memastikan sebenarnya ada apa kok papa belum pulang selarut ini." batin Gavin.


Gavin mengambil ponselnya dari saku. Berulang kali Gavin mencoba menghubungi papanya tapi tidak terhubung.


"Kemana nih sih papa?, Gavin gak tega ngebangunin mama, tapi kalau ia gendong mamanya masuk ke kamar blm kuat." batin Gavin


"Malam Gavin, kok belum tidur?" tanya Aqib yang tiba-tiba muncul di belakang nya.


"Oh eh paman, Gavin haus mau ambil minum tapiii--" ragu Gavin meneruskan


Kedua alis Aqib bertemu


"Ada apa Gavin? kamu mimpi buruk?" tanya Aqib sambil menghampiri Gavin dan menyentuh pundak Gavin.


Dengan ragu-ragu Gavin menunjuk mama nya yang tertidur di ruang makan.


"Kim...mama kamu kenapa Vin?" tanya Aqib panik dan langsung menghampiri Kimberley.


"Mama ketiduran paman menunggu papa pulang." jelas Gavin lirih takut mamanya terbangun .


"Ayo Vin kita pindahkan mama kamu ke kamar. Tolong buka pintu kamarnya.paman gendong mama kamu ke kamar" Aqib kemudian menggendong Kimberley masuk ke kamarnya.


Sesampai di kamar Kimberley, Aqib menidurkannya di kasur dan menyelimutinya.


Untuk sesaat jantung Aqib berdebar tak beraturan, ada hasrat untuk mencium dan membelai Kimberley melepas kerinduan yang selama ini ia pendam rapat rapat dan berusaha untuk melupakannya.


"Gavin ...kamu belum tidur nak?" Jevaro yang baru datang, melihat Gavin sedang mencuci beberapa piring dan gelas.


"Mama kamu mana?" tidak biasanya Kimberley tidak menyambutnya saat ia pulang.


ceklik...


suara pintu kamar dibuka dan keluar lah Aqib dar kamar Kimberley dan Jevaro.


"Kamu----" Jevaro langsung terbakar cemburu darahnya langsung berdesir ke atas umbun-umbun. Membuat kepalanya tiba-tiba terasa panas.


Gavin yang merasakan suasana panas papanya, lalu berusaha menjelaskan pada papanya apa yang sesungguhnya terjadi.


Gavin berusaha meyakinkan papanya bahwa pamannya tidak bersalah, dialah yang tidak tega melihat mamanya tertidur di luar dan meminta tolong pamannya untuk membawa mamanya masuk ke kamar .


Sambil memberi kode pada Gavin untuk kembali ke kamarnya. Aqib meminta maaf pada Jevaro bila apa yang ia lakukan tadi membuat Jevaro tidak nyaman


Gavin paham akan kode pamannya kemudian pamit pada papa nya untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah Gavin kembali ke kamarnya. Aqib menghampiri Jevaro dan meminta maaf.


"Maafkan aku Jev, telah lancang mengendong istri kamu ke kamar, aku hanya kasihan melihat dia tertidur di meja makan." jelas Aqib yang mencium aura cemburu dan amarah Jevaro, melihat dirinya keluar dari kamarnya.


Perlahan amarah Jevaro berangsur menurun walaupun masih ada perasaan cemburu dan tidak ikhlas istrinya digendong lelaki lain.


Walaupun Jevaro tahu, Aqib adalah kakak Yasir tapi bagaimana pun juga tetap saja ada perasaan cemburu.


"Tidak apa-apa Kak, aku yang salah hingga menyebabkan kekacauan ini, seharusnya aku memberitahu istriku kalau aku pulang malam dan menyuruhnya untuk tidak usah menunggu ku. Karena Istri aku memang begitu, tidak akan tidur atau masuk kamar sebelum aku pulang." jawab Jevaro mencoba menetralkan suasana.


"Kamu sering pulang selarut ini?, kenapa kamu biarkan dia menunggumu? kan kasihan dia, sudah lelah seharian kerja, mengurus rumah tangga masih terbebani untuk menunggu dirimu pulang" sahut Aqib tidak terima Kimberley begadang demi menunggu Jevaro pulang


"Tidak kak, baru hari ini saya pulang selarut ini.maaf ' ucap Jevaro menyesal, perkataan Aqib memang benar seharusnya aku tidak membuat Kimberley begadang menunggu dirinya.


...................................................


Sinar pagi telah memasuki kisi kisi jendela kamar Kimberley dan Jevaro.


Jevaro sudah terbangun sejak subuh tadi, kata-kata Aqib semalam benar-benar mengganggunya.


Jevaro merasa sangat berdosa pada istrinya, telah membuat khawatir dan tersiksa rasa ngantuk karena menunggu dirinya.


Kimberley menggeliat meregangkan seluruh persendian tubuhnya.


Jevaro hanya tersenyum dengan bangga melihat kecantikan Kimberley yang tetap terpancar, sekalipun baru bangun tidur.


Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Kimberley membuka matanya perlahan.Dan tampaklah wajah ganteng rupawan suaminya tercinta yang sedang tersenyum ke arah dirinya.


Kimberley terkejut sekejap ingatannya terlintas, terakhir ia merasa ngantuk berat saat menunggu suaminya pulang dan tiba-tiba sekarang ia sudah berada di kamar bersama suaminya


"Semalam kamu pulang jam berapa? maaf aku ketiduran ya" tanya Kimberley sambil mencium pipi suaminya.


"Maaf ya sayang aku semalam tidak mengabari mu." balas Jevaro sambil membelai rambut istrinya perlahan dan sesekali mencium kening nya.


"Memangnya ada apa sih, kok sampai pulang larut malam? ada proyek baru bersama partner kerja kamu? pak-- pak Gunadi " tanya Kimberley.


Jevaro tidak tahan untuk tidak mencium istrinya, sambil bercerita dan ngobrol ia selalu menyelinginya dengan kecupan di kening, pipi dan bibir Kimberley.


Tiba-tiba Jevaro menghembuskan nafas dengan sangat kuat, serta tampak wajah kebingungan tersirat di wajah gantengnya.


Kimberley yang sangat hafal dengan dengan setiap perubahan pada suaminya itu. akhirnya bertanya.


"Ada apa sayang? ada kerjaan kantor yang bermasalah?," tanya Kimberley sambil membetulkan posisi duduk dirinya dalam dekapan suaminya.


'Pak Gunadi memberiku tugas yang sangat sulit bagiku dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perkerjaan dan proyek yang sedang kami kerjakan." lamjut Jevaro gamang.


"Tetapi karena sifat manja anaknya serta rasa sayang yang berlebihan dan cara didik yang salah lah semua ini terjadi" geram Jevaro bila mengingat nya.


Kimberley menatap serius Jevaro, berusaha menggali dan menganalisa apa yang terjadi.


"Katakan ada apa sebenarnya sayang, biar aku mengerti dan mungkin aku bisa membantumu." ucap lirih Kimberly


"Pak Gunadi kemarin mengundangku makan, special hanya untuk membicarakan permintaan aneh. Dasar anak manja semua yang diinginkan harus terpenuhi kalau tidak yaa seperti sekarang mengancam papanya." ada sorot kebencian dan amarah tersirat dari sinar mata Jevaro


'Kamu tahu Kim, apa yang diminta pak Gunadi ?" Jevaro mengurut pelipis kepalanya

__ADS_1


Kimberley mengubah posisinya menjadi duduk dan merebahkan Jevaro dalam pangkuannya, kemudian memijit kepala Jevaro.


"Apa yang dimintanya?" tanya Kimberley penasaran.


"Hmm.... dia ingin anak kita tidak berhubungan lagi dengan Cantika," Jevaro memejamkan matanya serta tetap memijit kepalanya.


"Bila Gavin tetap berhubungan dengan Cantika proyek yang sedang kami kerjakan akan dia ambil alih semua. Dan untuk proyek baru yang sedang kami lobby sudah sangat bisa dipastikan bukan untuk perusahaan kita" ucap Jevaro lirih.


"Itu sebabnya semalam aku pulang terlambat, aku tidak sanggup bertemu Gavin dan mengatakan kalau dia harus putus dengan Cantika, sedangkan kita tahu kalau Gavin sangat mencintai Cantika " mata Jevaro berkaca-kaca.


"Cantika anak yang baik pintar sopan bagaimana mungkin aku tega memisahkan mereka" Jevaro menutup matanya dengan kedua tangannya


Kimberley berpikir keras , melihat suaminya dalam dilema yang cukup berat antara pekerjaannya serta kebahagiaan anak mereka, ia mencoba mengalihkan sejenak segala keruwetan ini.


Kimberley mencium kening Jevaro, pipi kemudian bibir.


Melihat perlakuan istrinya, Jevaro pun langsung menyambutnya dengan pelukan hangat serta bercunbuu mesra.


Tak terasa mereka sudah terbakar dalam gairah asmara yang membara.


Tiba-tiba suara ponsel Jevaro berbunyi.


Sambil berusaha menata nafas agar bisa berbicara normal, Jevaro mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari pak Gunadi yang menanyakan tentang syarat kontrak mereka lanjut atau tidak.


Bila Jevaro menginginkan kotrak ini, wajib bagi Jevaro melarang anak mereka berhubungan dengan Cantika.


"Saya minta waktu pak, saya masih berunding dengan istri saya." sahut Jevaro.


Lalu hubungan telepon terputus.


Kembali Jevaro merasa, kali ini sikap bijaksana dirinya harus diuji.


"Bagaimana kalau kita libatkan Kak Aqib, mungkin dia bisa memberi saran untuk kebaikan semua" saran Kimberley pada Jevaro.


"Kak Aqib?? iya benar biasanya kak Aqib adalah orang yang bijaksana dan tidak buru-buru dalam mengambil keputusan" batin Jevaro.


"Bagaimana?" tanya Kimberley sambil mengangkat alisnya.


"Ide yang bagus bagaimana pun juga ia paman Gavin dan sudah mengenal Cantika juga" ucap Jevaro.


"Yaa benar." jawab Kimberley


"Okay setelah kita mandi dan sarapan kita ajak ngobrol Kak Aqib" sahut Jevaro dan mengakhiri dengan mendaratkan beberapa ciuman di tubuh Kimberley.


"Aahhh.... Aroooo! ih geliii" ucap manja Kimberley.


Jevaro tidak menghiraukan jeritan manja istrinya, dan tetap meneruskan kejahilannya mempermainkan setiap bagian tubuh istrinya


....,...............................................


Maaf ya bila agak terlambat up


Bila tidak bentrok dengan RL author janji akan lebih sering up


tetap ikuti kisah Cantika dan Gavin yaaa

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2