Cinta Online

Cinta Online
Rindu yang terpendam.


__ADS_3

Angin dingin menerpa tubuh Gavin hingga menusuk ke dalam tulang tulangnya. Berdiri di pinggir sungai yang begitu jernih membuat dirinya merasa lebih bisa untuk berpikir jernih.



Bercermin pada pantulan alam yang begitu indah.Membuat Gavin belajar akan kesalahan yang ia perbuat pada Cantika.


Cantika ... gadis manis energik yang punya pesona terpendam.Tidak ada yang menyangka gadis seceria Cantika ternyata mempunyai latar belakang kehidupan yang begitu menyedihkan. Gavin merasa sangat bersalah karena kehadiran dirinya justru makin membuat Cantika terpuruk.


Gavin masih ingat saat Cantika mengungkapkan semua kepedihan hatinya tentang asal usul dirinya dan pandangan orang sekitar tentang keberadaan dirinya yang sempat membuat Cantika menjadi pribadi yang kurang percaya diri.


Tetapi ketangguhannya dan kebaikannya mampu membuat ia menjadi gadis tegar dan disukai banyak teman.


"Cantika aku kangen kamu, tidak kah kamu merasakan hal yang sama?" batin Gavin sambil memeluk dirinya sendiri, menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan.


Angin dingin yang mengandung air menerpa dirinya hingga membuat baju Gavin basah tiap kali angin berhembus Membuat dirinya semakin merasa dingin .


Tiba-tiba baju hangat biru, menyelimuti tubuhnya dari belakang dan berhasil menghangatkan tubuh Gavin.


Gavin pun menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang telah berbaik hati memberinya baju hangat.


Dihadapannya sekarang telah berdiri sosok laki laki tinggi dengan wajah yang menawan dan masih menyisakan kegantengannya semasa muda dulu.


"Paman ... thank you!" ucap Gavin saat mengetahui ternyata yang memberinya baju hangat adalah pamannya.


"Berterima kasihlah pada papa kamu. Itu baju hangat Yasir .... ia paling suka dengan baju itu. Katanya tidak ada baju hangat yang sehangat baju hangat itu. " Aqib tersenyum samar.


Gavin pun tersenyum. "Betul paman baju hangat ini memang mampu memberikan kehangatan dan membuat nyaman yang memakainya."

__ADS_1


Paman Aqib menarik nafas dalam-dalam.


"Pulang yuk ... udara dingin makin menusuk " Aqib menengadah ke atas melihat awan mendung berjalan beriringan tertiup angin.


"Sepertinya hujan akan segera turun. jangan sampai kita terperangkap dalam badai ini." lanjut Aqib.


"Benar paman" Gavin pun ikut mengamati keadaan alam disekitarnya yang nampak mulai tidak bersahabat.


"Yuk kita balik" ajak paman Aqib dan mulai melangkah meninggalkan Gavin.


Gavin pun mengikuti langkah pamannya menuju ke mobil.


"Yuk Vin kita harus bergegas sebelum kita terjebak dalam badai malam ini." ajak paman agar Gavin segera masuk ke dalam mobil.


Akhirnya mobil pun mulai meninggalkan Central Park dan meninggalkan sungai jernih nan indah yang tadi mereka datangi.


Gavin pun mengangguk yakin sambil mengagumi pemandangan indah yang terbentang sepanjang perjalanan mereka menuju rumah keluarga Aqib.


"Yaah aku tahu perasaan kamu, paman dulu juga pernah merasakan begitu."


"Dan kamu pasti merindukan mama, papa dan adik kamu." tebak paman.


Gavin tersenyum samar


"Sangat paman sangat rindu."


"Gavin kangen masakan mama, kekonyolan papa dan kecerewetan Laura serta ----" Gavin terdiam dan menarik nafas.

__ADS_1


"Serta kamu juga kangen Cantika bukan?" Kembali paman menebak.


Aqib menoleh ke arah Gavin sambil tetap fokus menyetir mobilnya..


Mereka sudah mulai memasuki perkebunan keluarga besar mereka.


"Cantika ..." Tatap nanar Gavin ke arah pegunungan dan perkebunan yang ia temui sepanjang perjalanan mereka.


"Liburan semester ini, pulanglah Vin temui keluarga kamu dan Cantika. Paman yakin mereka juga sangat merindukan kamu." saran Aqib.


Senyum merekah lebar dari bibir Gavin.


"Pasti paman! Gavin akan temui mereka." sahut Gavin antusias.


'Tapi ingat dengan ancaman Viona tetap hati hati dan waspada jangan sampai dia tahu kedatangan mu.. Akan sia-sia saja semua pengorbanan mu ini " Aqib berusaha mengingatkan akan ancaman yang masih berlaku selama Gavin belum selesai kuliah.


"Asyiapp ... Gavin akan berhati-hati dan waspada paman, percayalah" sahut Gavin.


"Paman percaya kamu bisa. Anak papa Yasir dan Jevaro memang hebat!"


"Anak mama Kimberley juga paman !" seri Gavin mengingatkan.


"Pastinya" sambil mengoyak rambut Gavin.


..........................................................


ikuti terus ya kisah Cantika dan Gavin

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2