Cinta Online

Cinta Online
Hari buruk dan hari baik


__ADS_3

Sinar pagi telah menampakkan diri, waktunya setiap orang memulai segala aktifitas pagi nya.


Di sebuah Sekolah Menengah Umum nampak Viona dan anak buahnya. Mereka suka usil dan sedikit membully anak kelas satu .


Semua warga sekolah tahu siapa Viona dan group nya, serta sepak terjang perbuatan mereka.


Terutama Watak pimpinan mereka, yang begitu manja dan tidak bisa menerima penolakan .


"Heii Vi lihat! arah jam tiga! bukannya itu----" seru Kinan.


"Gavin dan si aneh kutu buku!" ceplos Bella


Viona secepat kilat menoleh ke arah yang ditunjuk Kinan dan Bella.


Terlihat Gavin menggandeng mesra Cantika, mereka berdua terlihat bahagia, saling bercerita dan tersenyum serta saling menatap mesra.


Ada perasaan marah, geram dan cemburu terselip di hati Viona.


Tiba-tiba Viona berlari melesat ke arah Cantika dan...


Plak..


Auchh


Aaaaahh


Dengan membabibuta Viona menampar Cantika dan menarik rambut Cantika dengan sangat brutal.


Cantika yang tidak menyangka dengan datangnya serangan tiba tiba yang dilancarkan Viona padanya, hanya bisa menjerit kesakitan dan mempertahankan diri dan memberikan sedikit perlawanan dengan menangkis sebisa mungkin serangan serangan yang ditujukan pada dirinya


Gavin yang juga terkejut kekasihnya mendapat serangan pagi mendadak dan brutal, spontan berusaha melerai dan memisahkan Viona dari Cantika.


Cantika yang akhirnya sadar siapa yang menyerang dirinya, akhirnya melancarkan serangan balik, untuk membela diri.


"Heii Vi stop! Vi! Lepaskan Cantika!" Gavin terlihat sudah sangat marah sekali pada Viona. tanpa ada sebab tiba tiba Viona menampar dan menarik rambut kekasihnya.


William dan Ario yang diberitahu temannya ada keributan di halaman sekolah dengan biang masalah si Viona yang tiba-tiba menyerang Cantika, langsung melesat berlari menuju halaman sekolah diikuti Vera dan Amanda.


Setibanya mereka di halaman sekolah, mereka melihat sahabat mereka dianiaya Viona, sedangkan Gavin terlihat kewalahan memisahkan mereka, William dan Rio pun dengan cekatan berlari untuk membantu Gavin memisahkan Cantika dan Viona.


William menarik tubuh Viona untuk menjauh dari Cantika.


Rio berusaha melepaskan cengkraman tangan Viona pada rambut Cantika.


Tanpa menyianyiakan waktu lebih lama lagi, Gavin langsung menarik dan memeluk tubuh Cantika .


Gavin memeluk erat Cantika yang menangis karena syok, ia membelai rambut Cantika dan mencium kening Cantika berulang kali, dihadapan seluruh siswa yang melihat perkelahian itu


"Kamu sudah aman sayang, kamu sudah aman sekarang dalam pelukku. Maafkan aku yang lengah menjagamu." bisik Gavin berulang kali di telinga Cantika.


Melihat sahabat sahabat Cantika berdatangan, Gavin memberi isyarat untuk menjaga Cantika.


Setelah Vera mengambil alih pelukan Gavin.


Dengan wajah yang memerah, marah, kesal dan benci bercampur menjadi satu.


Gavin mendatangi Viona yang berusaha berontak dari cengkeraman William.


"Lepaskan! aku tidak ada urusan dengan kalian!" jerit Viona.


"Diam Vi!" suara Gavin menggelegar ke seluruh halaman.


"Gila kamu! kamu sungguh gila! kenapa kamu selalu menyerang Cantika, apa salah Cantika?!" Hampir saja Gavin lupa diri dan menampar Viona. Tangan Gavin sudah terayun di udara


"Jangan kak!" jerit Cantika.

__ADS_1


"Kak Gavin laki laki baik jangan cemari tangan kak Gavin. ingat kata-kata kak Gavin waktu itu lelaki sejati tidak bertindak fisik dalam menghadapi wanita." Cantika berusaha menyadarkan dan menenangkan hati Gavin.


Mendengar perkataan Cantika hati Gavin terasa sejuk, tangannya yang tadinya sudah siap untuk mendarat di wajah Viona kemudian menutup mengepal lalu perlahan ia menurunkan tangannya yang sudah ia ayunkan ke udara.


Gavin menatap jijik dan benci pada Viona "Kamu dengar Vi. itu sebabnya aku mencintainya, Cantika gadis sederhana, berhati lembut dan tulus. Walau kamu sudah menyiksanya tapi ia melarang aku untuk menamparmu. Ya betul seperti kata kamu bahwa dirinya memang tidak selevel dengan dirimu, yang culas penuh iri hati dendam dan jahat! sungguh tidak selevel sama sekali." Gavin seperti hendak meludahi wajah Viona kemudian meludahkannya ke tanah.


"Cuihhh"


Kemudian Gavin menghampiri Cantika kembali memeluk dan menciumnya lalu pergi menjauh dari Viona.


William dan Rio pun melepaskan cengkramannya lalu bergantian mencibir jijik dan meludah di depan Viona


"Jangan berani macam macam dengan Cantika, hadapi kami dulu bila ingin mencelakai Cantika." lalu mendorong tubuh Viona tersungkur di tanah, dan meninggalkannya begitu saja.


Vera dan Amanda pun mengacungkan jari tengah dan menatap sinis pada Viona, lalu mengikuti Cantika dan Gavin.


Melihat kepala gengnya tersungkur, Bella dan Kinan pun menghampiri Viona dan berusaha membantu Viona untuk berdiri.


"Huuuuhh dasar maklampir syukurin tuh" riuh suara siswa siswi yang melihat kejadian itu.


"Kasihan ya, ditolak Gavin jd gila" bisik bisik beberapa siswi dengan tatapan kasihan pada Viona.


Bella dan Kinan melotot ke arah siswi siswi yang berbisik-bisik di depan mereka, tetapi mereka malah mendapat balasan cibiran dan tatapan merendahkan dari beberapa siswa siswi yang masih berkumpul di halaman sekolah.


Beruntung nya hari masih terlalu pagi sehingga belum ada guru yang mengetahui kejadian tersebut.


"Aaarggh Gavin!! kamu milikku hanya milikku!" jerit kalut Viona.


..................................................


(Di rumah Gavin)


"Bi ..jangan lupa ya karii nya dijaga santannya biar tidak pecah" Kimberley mencoba mengingatkan asisten rumah tangganya untuk berhati hati dalam membuat karii.


"Memangnya ada acara makan siang lagi Bu dengan kolega bapak?" tanya asisten rumah tangga Kimberley.


"Oh bukan bi, ini ada saudara jauh dari negeri seberang datang" jelas Kimberley.


"Negeri seberang Bu?bule? saudaranya bapak atau ibu?" tanya bi Ina.


"Bule itu sebutan untuk orang yang tinggal di Eropa," jelas Kimberley.


"Nah ini bukan bule? trus negeri seberang nya dimana Bu?" desak bi Ina pemasaran.


"Di negerinya Nadish Sindhu " jawab Kimberley sambil tersenyum dan memasukan adonan ke dalam oven.


"Oohhh Acha Acha Acha" sambil menirukan gerakan tari yang biasa ia tonton di televisi.


Kimberley dan bi Ina pun tertawa bersama.


"Waduhh bi Ina diam diam ternyata jago menari rupanya? ada apa nih kok sepertinya gembira sekali?" tanya Jevaro sambil mencium pipi istri tercintanya.


Bi Ina memerah wajahnya karena malu terlihat sedang menari oleh Jevaro.


Kimberley yang melihat bi Ina tersipu malu, menghampirinya dan mengusap punggung bi Ina"Tidak apa apa bi, gak usah malu sama bapak" sambil melirik suaminya .


Jevaro yang mengerti arti lirikan istrinya akhirnya buka suara juga untuk menghibur dan menyakinkan bI Ina bahwa bukan suatu masalah bila ia menari.


Ting ..... Tong


Suara bel rumah berbunyi.


Kimberley dan Jevaro saling memandang.


"Kak Aqib?" tanya Jevaro.

__ADS_1


"Mungkin" jawab Kimberley singkat.


Bi Ina kemudian berjalan menuju ruang tamu dan melihat siapa yang datang.


"Bu ..itu... tamu nya ...Nadish ..mirip Bu, sudah bibi suruh tunggu di ruang tamu" jelas bibi.


"Nadish? siapa Kim?" tanya Jevaro kebingungan.


Kimberley tersenyum menahan tawanya.


"Tuh tanya bi Ina, siapa Nadish?" goda Kimberley sambil nunjuk ke arah bi Ina .


"Hmm?'" sambil memandang ke arah Kimberley dan bi Ina bingung.


"Bi..? siapa Nadish?" tanya Jevaro.


"Anu tuan.. itu aktor pilem di televisi." sahut bi Ina.


Jevaro mengeryitkan keningnya, tanda berusaha memahami.


"Hahaha .. yuk ah Aro kita temui kak Aqib" sambil meraih pinggang Jevaro.


"Oh pak Aqib namanya" bibi mangut-mangut tanda mengerti.


Kimberley tersenyum melihat tingkah pola bi Ina.


"Bi jangan lupa pesan saya tadi, dan titip kue browniesnya ya bi, dua puluh lima menit lagi." pesan Kimberley.


"Baik bu" jawab bi Ina.


"Nadish ..siapa?" tanya Jevaro berbisik penasaran.


"Kan sudah di bilang bibi tadi nama aktor pilem" sahut Kimberley menahan tawa sambil menutup mulutnya, melihat wajah kebingungan Jevaro.


"Sudah.... ga usah dipikirin si Nadish, itu idolanya bi Ina" sahut Kimberley asal dan menarik tangan Jevaro.


Lalu mereka berdua pun menemui Aqib.


"Haii kak Aqib ...pa kabar?" sambut Kimberley sambil menjabat tangan dan memeluk Aqib.


"Baik Kim..kamu makin---"


"Ehemm .." suara Jevaro berdeham.


Mendengar Jevaro berdeham, Aqib tidak meneruskan perkataannya.


"Oh haii Jev, kalian luar biasa." ucap Aqib kagum sambil menjabat tangan dan memeluk Jevaro.




Sudah lama mereka tidak bertemu, hampir tujuh belas tahun seumur Gavin sekarang. Waktu yang bisa dibilang cukup lama sekali.


Akhirnya untuk beberapa saat mereka tertawa dan berbagi cerita serta pengalaman selama mereka tidak bertemu.


.....................................................


Terima kasih tidak terasa sudah memasuki bab ke 20


Terima kasih sudah selalu menanti kisah Cantika dan Gavin .


Jangan lupa like komen dan fav yaa ...


Happy Reading 🌹

__ADS_1


__ADS_2