
Hari beranjak makin siang, Jevaro, Kimberley dan Aqib pun masih terlibat pembicaraan panjang, sesekali mereka tertawa, terkadang serius.
"Hmm itu Gavin?" tunjuk Aqib pada foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu.
Aqib menatap serius foto keluarga yang terpajang di dinding. Ada sedikit perasaan nyeri di dada karena cemburu.
"Yasir ternyata pilihanmu tepat, Jevaro memang mampu membahagiakan Kimberley dan anak kamu" batin Aqib dalam hati.
Kimberley dan Jevaro pun saling berpandangan.
"Iya itu Gavin, sekarang sudah tujuh belas tahun, sebentar lagi lulus dan rencananya dia mau melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi belum ada pandangan sih mau kuliah dimana? masih nunggu expo pendidikan." jelas Jevaro.
"Oya? sudah mau kuliah? gak terasa ya? bagaimana kalau Gavin kuliah di negara papanya." ucap Aqib.
"Apa! maksud kamu?" tanya Jevaro agak terkejut dengan perkataan Aqib.
"Iya bagaimana kalau Gavin kuliah di kampung halaman papanya." ijin Aqib pada Kimberley dan Jevaro.
"Ikut kamu?" Kimberley agak terkejut dengan ide Aqib.
"Iya, sudah cukup Jevaro selama ini yang membiayai, mendidik dan membesarkan Gavin. Sekarang giliran aku sebagai perwakilan papanya, ingin ikut bertanggung jawab juga untuk kelanjutan pendidikannya.Bila diijinkan" jelas Aqib.
"Bukannya aku meremehkan kalian, bukan! hanya saja aku terpanggil sebagai paman Gavin, by the way....apakah Gavin sudah diberitahu tentang---" Aqib memandang bergantian ke arah Kimberley dan Jevaro
"Sudah. Gavin sudah tahu siapa papanya yang sebenarnya.Jangan khawatir aku tidak akan menutupinya, kalau aku bukan papa kandungnya." jawab Jevaro agak emosi.
Kimberley yang melihat gelagat tidak nyaman suaminya, kemudian mengusap punggungnya perlahan, berusaha untuk menenangkan perasaannya.
"Bukan itu maksudku, tolong jangan salah paham" Aqib merasa Jevaro salah paham.
"Jev aku atas nama Yasir sangat sangat berterima kasih atas segala ketulusan dan kebaikan kamu dalam mengasuh dan membesarkan Gavin.Tapi karena sekarang Gavin sudah besar apalagi dia sudah tahu tentang papa kandungnya, ijinkan aku memperkenalkan Gavin pada keluarga kami, aku hanya ingin Gavin pun tahu tentang asal usul papa nya , mengenal kampung halaman dan semua keluarga di Kashmir .
Hanya itu " jelas Aqib.
"Jangan khawatir Jev, Gavin sampai kapanpun tetaplah anak kamu dan kamu tetaplah papa nya walaupun bukan papa kandungnya, dan aku yakin Gavin akan selalu mencintai dan menyanyangi mu" lanjut Aqib.
"Selamat siang" Gavin dan Laura tiba-tiba sudah ada di depan pintu memberi salam.
"Oh hei sayang kalian sudah pulang?kok tumben bareng ?" tanya Kimberley pada anak-anak nya.
"Pacar Laura hari ini gak masuk sekolah ma, jadi Laura telepon Gavin, minta dijemput pulang bareng, Gavin Jadi batal kencan deh" sungut Gavin yang disambut cibiran bibir oleh Laura.
"Laura...," Kimberley menatap tajam ke arah Laura.
"Iya maaf....,makasih kak dah dibarengi pulang" ucap Laura lirih sambil kakinya menyenggol kaki Gavin.
"Makanya lain kali kalau punya pacar tuh dua, jadi kalau yang satu gak bisa, punya cadangan" ledek Gavin sambil menjulurkan lidah.
"Tuh ma ...pa..kak Gavin tuh" rajuk Laura.
Jevaro dan Kimberley pun tersenyum bahagia melihat keakraban anak-anak mereka yang terbungkus pertengkaran kecil. Pertengkaran karena rasa sayang biasa mereka sebut .
"Oh iya... sini sayang, kenalkan ini paman Aqib, kak ini kenalkan anak-anak kami, Gavin dan Laura" ucap Jevaro.
__ADS_1
"Laura" Laura mengulurkan tangannya pada Aqib dan disambut hangat oleh Aqib
"Panggil saja om Aqib. nama kamu cantik secantik orangnya" jawab Aqib sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih om" sahut Laura tersipu.
"Lho ..om Aqib?" seru Gavin terkejut, sambil menunjuk Aqib.
"Hei Vin...kita bertemu lagi" sahut Aqib sambil tersenyum.
Jevaro dan Kimberley saling berpandangan.
"Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?? dimana?" tanya Jevaro bingung.
"Di rumah kekasih Gavin" sahut Aqib datar.
"Cantika??" jawab Kimberley dan Jevaro bersama
Gavin mengangguk perlahan.
"Ayah Cantika teman baik aku, sewaktu aku masih kerja disini " sahut Aqib.
"Ohhhh" jawab Jevaro
"Om Aqib beneran paman kami pa?'" tanya Gavin meyakinkan.
Tiba-tiba telepon genggam Jevaro berbunyi, Jevaro pun pamit untuk menerima telepon
"Iya sayang..., om Aqib ini, paman kamu. Kakak papa kamu" jawab Kimberley.
Gavin kembali melihat Aqib dan Kimberley.
"Maksud mama kakak dari papa---???"
"Yasir !" sahut Aqib singkat tapi cukup membuat Gavin kembali melihat ke arah Aqib beberapa detik dan kemudian mamanya.
"Iya nak, Om Aqib ini kakak kandung papa Yasir" jelas Kimberley.
"Okay sekarang kamu sudah bertemu paman kamu, acara temu kangennya kita lanjutin setelah makan siang,. Sekarang kita mulai makan siang bersama dulu yuk, tapi sebelumnya untuk kalian berdua, Gavin...Laura...,kalian ganti baju dulu! sudah sana ganti baju dulu" perintah Jevaro .
"Oya sayang, setelah makan siang aku mau menemui pak Gunadi ya, barusan dia menelpon ada yang harus dibicarakan saat ini juga katanya." ucap Jevaro khawatir, "Ada apa nih tumben pak Gunadi mengundang makan dirumah,apa ada proyek baru.?" pikir Jevaro
Kimberley menganggukan kepala tanda mengerti.
.........,....................................
(Di rumah Cantika)
"Cantika maaf ya, kami datang terlambat tadi" Amanda merasa bersalah karena terlambat mengetahui Cantika dianiaya Viona.
"Auch" jerit Cantika saat luka akibat cakaran membabi buta Viona diobati oleh Vera.
"Pelan donk! sakit nih" protes Cantika
__ADS_1
"Coba Viona itu cowok udah habis aku hajar dia tadi" sahut William geram.
"Iya jadi orang julid amat sih" timpal Rio.
"Dia gitu kan karena iri dengan Cantika, gak terima tuh Cantika yang sederhana ternyata lebih bisa mendapatkan cinta Gavin" jelas Vera.
"Hatinya busuk sih" sahut Amanda.
Tiba-tiba Reno masuk kamar Cantika sambil memakai sepatu roda.
"Kak Cantika lihat !...nih Reno dah bisa main sepatu roda." pamer Reno.
Semua menoleh ke arah Reno.
"Lho wajah kakak kenapa? kakak berantem ya?...Omaaaa...kak Cantika----"
Dengan sedikit kode dari Cantika yang panik takut membuat Oma khawatir. William dan Rio pun langsung membungkam mulut Reno.
Reno memberontak hingga Wiiliam dan Rio pun kewalahan .
"Reno stop! kami akan melepaskan mu, tapi janji jangan beritahu Oma" perintah Cantika.
Akhirnya Reno mulai memperlambat gerakannya.
Dan akhirnya Reno dilepaskan dari bekapan William dan Rio.
"Reno .., kakak mohon jangan beritahu Oma ya. kakak gak mau Oma khawatir..Kakak baik baik saja kok" mohon Cantika.
"Bagaimana kakak bisa bilang kakak baik baik saja, muka dan leher kakak banyak goresan luka sepertinya habis dicakar seseorang" Reno mengamati dengan serius goresan goresan luka yang ada di tubuh Cantika.
"Kak Gavin mana? hmm.. ini bukan akibat cakaran kak Gavin kan?" sambil bergaya bagai detektif yang sedang memecahkan sebuah kasus
Spontan lemparan gulungan kertas melayang ke arah Reno.
'Tuh kan... tuh kan, teman kakak ganas ganas! aku lapor Oma ahhh." goda Reno sambil sok sok an berlalu pergi dengan sepatu rodanya.
"Heiii mau kemana ?" Cantika menarik kerah baju Reno.
"Aduhh kak Cantika ahh" sahut Reno.
"Janji dulu kamu gak akan bilang Oma" ucap Cantika memohon setengah mengancam.
"Iyaa kak, Reno janji! awas ya kalian semua,! kalau sampai kakak aku tergores dan terluka lagi, akan aku laporkan Oma dan kak Gavin." ancam Reno yang kemudian pergi bersama sepatu rodanya.
Cantika hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum, melihat tingkah lucu adiknya itu. Walaupun tengil tapi Cantika tahu Reno sangat menyayanginya, begitu juga sebaliknya.
.................................................
Happy Reading guys ...
ditunggu like komen dan favorit nya ....
Ikuti kelanjutannya yaa .......
__ADS_1