
Saat selesai sholat isya Andini langsung mengatur tempat tidurnya dilantai. Hari ini rasanya badannya terasa sangat lelah karena seharian bekerja dirumah tanpa diberi waktu untuk istirahat. Bu Marni masih berada didapur membereskan piring karena tuan dan nyonya yang ada didalam rumah ini baru selesai makan. Andini memejamkan matanya dan tertidur dilantai.
****
Saat telinganya mendengar suara azan berkumandang dengan cepat dia bangun dari tidurnya. Andini melihat jam diponselnya ternyata memasuki waktu subuh. Bu Marni masih tertidur diatas kasur, dengan pelan Andini berjalan keluar dari kamar untuk mengambil wudhu. Habis sholat subuh Andini langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Belum seorang pun tuan dan nyonya terbangun Andini sudah berangkat kerja dengan memesan taksi.
Sesampainya dikantor dia karyawan pertama yang tiba diruangannya. Andini duduk bersandar di kursinya memegang kepalanya sambil menunduk. Sedikit lama dia melamun sampai sentuhan lembut terasa dibagian kepalanya. Andini sempat berdiri kaget lalu memandang orang yang menyentuhnya.
"Alex? oh astaga kamu mau membuatku mati?" Ucap Andini sambil memegang dadanya.
"Hehehe kenapa kamu pikir aku Bima?" Alex duduk disampingnya.
"Aku berharap itu dia Lex, andai saja dia masih hidup dan berada disini pasti aku akan bahagia." Andini memeteskan air matanya.
"Heii.. tak baik wanita cantik menangis dipagi hari." Alex menghapus air mata yang mengalir diwajah Andini.
"Aku merindukannya Lex, sangat merindukannya."
"Din kamu ada masalah?"Tanya Alex.
Andini menggelengkan kepalanya. "Aku ingin menceritakan kepadamu bahwa aku sudah menikah dengan Bisma, tapi aku takut Bisma akan marah." Gumam Andini dalam hatinya.
Cukup lama Andini menutup wajahnya dengan kedua tangannya berusaha menyembunyikan air matanya yang mengalir deras dikedua pipinya.
"Dini?"Dini?" Panggil Alex.
"Iya." Jawabnya masih menutup wajahnya.
"Ehemm." Suara berdehem.
Andini membuka telapak tangannya dan melihat orang yang berbatuk dengan sengaja.
"Ikut keruanganku sekarang!" Bisma dengan memakai jas sedang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Iya." Jawab Andini datar tapi dia belum beranjak dari tempatnya duduk.
"Sekarang nona Andini." Bisma meninggikan nada suaranya.
"Iya pak Bisma!" Andini lebih meninggikan nada suaranya.
"Kau?" Bisma menunjuk Andini dengan ujung jarinya.
"Din sana pergi!" Perintah Alex.
"Baik." Sedikit memukul meja dan menghela nafasnya Andini beranjak dari duduknya.
Bisma berjalan didepan dan Andini mengikutinya dari belakang. Setibanya diruangan Bisma duduk dikursi kebesarannya dan Andini berdiri didepannya.
"Ada apa pak?" Andini masih merasa sangat kesal dengan Bisma.
"Mulai malam ini kita tidur bersama, jangan senang aku melakukannya dengan terpaksa. Pengacara Sunan akan menyuruh orang untuk menyelidiki apakah kita benar-benar menjalani rumah tangga dengan sungguh-sungguh.
"Hemm." Bisma Kembali berdehem.
Saat Andini keluar Sarah berada didepan pintu dengan wajah murung.
"Puas kamu!" Teriak Sarah kepada Andini.
"Puas? semakin hari mereka semakin aneh saja!" Andini meliriknya lalu pergi meninggalkan Sarah yang masih termenung didepan pintu.
Andini kembali lagi ketempat duduknya untuk bekerja. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya tanpa ada aktifitas mengobrol.
"Mengapa dia terlihat sangat manis." Alex menatap Andini sejak tadi.
"Pak Alex?"
"Iya." Jawab Alex tanpa menoleh ke arah orang yang bicara.
__ADS_1
"Ini laporan keuangan bulan ini."
"Hah? oh letakan saja dimeja." Sahut Alex tapi matanya masih menatap Andini.
"Hei... ada kabar baru ternyata mba Sarah dipecat?" Teriak seorang wanita didepan ruangan mereka.
"Sarah dipecat? pantas saja wajahnya murung tadi. Tadi kok pak Bisma bisa memecatnya? ada apa sebenarnya?" Gumam Andini.
Setelah kabar pemecatan Sarah terdengar hampir disetiap telinga karyawan, kini kabar bahwa Alex akan mengantikan posisi Sarah sebagai menejer. Jam makan siang telah berakhir semua karyawan kembali sibuk dengan aktifitas mereka.
"Din pulang nanti aku yang antar." Pesan yang dikirimkan Alex kepada Andini. Andini melirik Alex yang tidak terlalu berjauhan darinya.
"Ada apa lagi dengannya?" Batin Andini. "Kita bisa bicarakan nanti selepas pulang kantor tapi aku lebih suka naik taksi." Jawab Andini dipesannya. Wajah Alex berubah cemberut saat melihat pesan dari Andini.
"Baiklah, aku menunggumu." Alex kembali mengirimkan pesan.
Setelah jam pulang kantor tiba Alex berdiri dihadapan Andini sambil memutar-mutar kunci mobilnya dihadapan Andini.
"Maaf Lex aku pulang naik taksi saja." Andini beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya.
"Tapi kenapa Andini? aku tidak keberatan mengatarmu pulang." Alex masih berusaha memaksa Andini ikut pulang dengannya.
"Ehemm maaf Alex dia akan pulang bersamaku!" Bisma tiba-tiba berdiri disamping mereka. Alex dan Andini terkejut bersama kerena ajakan Bisma yang mau pulang bersama Andini.
"Tapi aku.." Andini terbata saat berbicara.
"Aku tidak suka menunggu jadi jangan membuatku mengulangi ajakan ini." Jawab Bisma lalu berlalu pergi meninggalkan Andini dan Alex.
"Aneh, sunguh aneh seorang Bisma bisa mengajak karyawannya pulang bersama?" Pikir alex.
"Dah Alex." Andini langsung berlari mengejar Bisma.
"Hei Andini, astaga aku kehilangan kesempatan untuk mengantar Andini pulang." Batin Alex kesal.
__ADS_1