
Saat matahari sudah bersinar, Bisma membuka matanya melihat tubuhnya yang terbungkus oleh selimut tanpa sehelai kain yang menutupinya. Suara tangisan kecil terdengar dari sudut ruangan, Bisma terdiam sejenak saat melihat Andini sedang menggunakan mukena duduk tersudut sambil menyatukan lututnya dan badannya menjadi satu. Wajahnya tertutup oleh kedua lututnya dan kedua tangannya dia lingkarkan dikakinya.
Bisma beranjak untuk mengambil handuk dan berjalan lalu berjongkok dihadapan Andini.
"Apa aku berbuat salah semalam?" Tanyanya, tangannya ingin menarik Andini dalam dekapannya tetapi dia mengurungkan niatnya. Bisma takut Andini akan bertambah marah jika dia menyentuh Andini.
Andini menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak ingin berbicara.
"Lalu mengapa kamu menangis?"
"Andini?" Suara Bisma masih melemah menyesuaikan dengan kondisi Andini.
"Oke aku minta maaf kalau semalam kita melakukan itu dan kamu tidak menyukainya. Aku sungguh minta maaf Andini." Bisma merasa bingung apa yang akan dia perbuat. Dia pikir dengan Andini menyerahkan hidupnya akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Andini masih menggeleng. Belum mengangkat wajahnya menatap lelaki yang telah bersatu dengan tubuhnya semalam.
"Andini ayolah? Orang tuamu ada diluar sana. Mereka sedang menunggumu, bagaimana reaksi mereka jika mereka tahu kamu sedang menangis didalam sini. Jangan membuatku bingung, aku tidak tahu harus berbuat apa. Andini? Katakan apa salahku... aku janji tidak akan menyentuhmu lagi tapi aku mohon berhentilah menangis!"
"Aku mau pulang pak!" Suara Andini bergetar.
"Andini? Apa yang kurang dariku? Mengapa kamu kekanak-kanakan seperti ini? pernikahan ini tidak main-main Andini."
"Kamu sangat sempurna, aku yang tidak bisa mendampingimu." Sahut Andini.
"Oke berdirilah, kita akan membahas ini." Bisma meraih tubuhnya Andini mengangkatnya dari sudut berjalan ke tempat tidur. Suara tangisan itu hampir menghilang tetapi mata Andini sudah terlanjur bengkak sepertinya dia telah lama berada disudut sana.
Sabar Bisma, tenangkan dirimu. Anggap saja kamu sedang membujuk adikmu yang sedang merengek minta ice cream.
__ADS_1
Sambil menyeka air mata Andini, lalu dia mendekap Andini kedalam dadanya. Bisma tak menggunakan baju hingga sangat terasa kehangatan wajah Andini didada Bisma.
"Dini? Aku bukannya tidak mengizinkanmu pulang bersama orang tuamu tetapi kita sudah menikah sekarang. Semua wanita yang telah menikah wajib mengikuti suaminya. Jika kamu ingin pulang aku akan ikut bersamamu tetapi bukan untuk tinggal hanya berkunjung beberapa hari. Orang tuamu pasti tidak mengizinkan kamu pulang bersama mereka, karena mereka tahu kamu adalah milikku sekarang." Suara Bisma begitu pelan seraya mengelus kepala Andini. Sesekali sebuah kecupan dilayangkan untuk menenangkan hati Andini.
Andini bukannya diam dia kembali terseduh didalam dekapan Bisma. Bisma beberapa kali menarik dan menghela nafasnya.
Andini kamu mampu membuat aku begelut dengan batinku. Kamu tahu, aku tidak pernah melalukan ini sebelumnya. Belum ada wanita yang ingin lari dari hidupku dan baru kamu seorang dan gilanya aku tidak pernah membujuk wanita baru kamu satu-satunya Andini. Lihat aku sudah seperti orang yang sangat bodoh dihadapanmu.
Bisma terus mendekap Andini hingga suara tangisan itu menghilang. Setelah merasa Andini sudah dalam keadaan baik barulah dia melepaskan pelukannya.
"Ayo temui orang tuamu. Mereka pasti merindukanmu. Aku akan menyusul setelah aku mandi." Ucap Bisma lalu mencium puncak kepala Andini.
Andini mengangguk. Tanpa melepaskan kerudungnya dia berjalan keluar kamar.
__ADS_1
"Astaga aku seperti bapak-bapak yang sedang membujuk anak gadisnya. Sabar-sabar hanya itu yang bisa kamu lakukan Bisma." Sambil mengelus dadanya.