
Selesai mandi Anel dan dan Nathan sudah berada di meja makan. Sejak tadi Anel hanya diam karna kesal akibat ulah Nathan yang se enak nya saja.
"Sayang kamu masih marah? Ayolah itu hal yang biasa, kenapa kamu jadi sangat marah pada ku." ucap Nathan cepet. Dia tau istrinya saat ini tengah dalam fose marah karna ulahnya.
Anel menatap tajam ke arah Nathan."Mungkin bagi mu itu biasa mas, tapi bagi ku itu memalukan." ucap Anel dengan wajah kesalnya.
"Heyyy, apanya yang memalukan sayang. Kita ini suami istri." ucap Nathan cepat. " Baiklah aku minta maaf, sudah ya jangan marah lagi. Ku tau kenapa aku tidak ke perusahaan hari ini, Itu karna hani ini kita akan melihat keadaan bayi kita." ucap Nathan cepat. Ia tidak ingin Anel Terus terusan marah kepadanya.
Anel Tidak menjawab ucapan suaminya. Dengan cepat Anel melahap makan yang ada di atas piringnya. Beranjak dari kursi lalu pergi, membuat Nathan terheran melihat tingkah istrinya.
"Sayang tunggu." mengejar Anel." Kamu ini kenapa lagi?" tanya Nathan cepat sambil memegang tngan sang istri agar tidak pergi.
"Jadwal cek kandungan ku itu minggu depan mas,bukan sekarng." ucap Anel dengan nada kesal
"Hahhhhh." Nathan menghela nafasnya." Sayang itu hanya masalah Jadwal saja, kenapa harus di besar besarkan." ucap Nathan cepat.
" Tentu saja itu penting, itu karna mas tidak perhatian dengan jadwalku. Tapi sudahlah, mas tidak akan mengerti. Jangan bicara padaku." Anel menarik lengannya yang di pegang oleh Nathan dan langsung pergi ke arah halaman belakang.
Nathan menghela Nafasnya yang terasa berat.
"Kenapa aku harus melupakan Jadwal Cek kandungan Istriku sendiri." Gumam Nathan
Nathan berjalan menuju taman belakang, ia harus membujuk Ibu hamil yang tengah kesal. Mungkin ini akan lebih sulit dari pada menaklukan se ekor singa lapar. Nathan melihat Anel tengah duduk bersandar dngan kaki lurus. Di belakang rumah Nathan memang terdapat taman yang cukup luas dan banyak pohon di sana.
Nathan mendekati Anel yang tengah asyik melamun, Nathan duduk di sebelah Anel, menatap lurus ke depan.
"Maaf kan aku." ucap Nathan. Anel tidak merespon ucapan suaminya.
"Aku benar-benar minta maaf. Belakangan ini pekerjaan di kantor begitu banyak. Aldo juga lupa mencatat jadwal cek kandungmu sayang. Tolong maafkan aku." Kali Ini Nathan berjongkok di depan istrinya, menjewer telinganya sendiri agar Anel mau
Anel menatap wajah Nathan yang terlihat serius dengan permintaan maafnya. Hal itu membuat Anel tidak bisa marah terlalu lama.
"Baiklah, aku maafin mas." ucap Anel cepat.
Mendengar pernyataan istrinya Nathan langsung menghambur ke pelukan Anel." Trimakasi sayang, aku berjanji setelah ini aku akan lebih teliti."
Anel mengangguk tapi tidak membalas ucapan suaminya. Nathan melepas pelukannya lalu melihat wajah istrinya masih terlihat muram.
"Hey, ada apa, hmm?" tanya Nathan cepat.
"Hiks, aku rindu Ibu mas." jawab Anel sambil menangis. Entah kenapa Anel sangat merindukan Ibunya. Ingin sekali Anel berkunjung kesana.
"Kalau begitu hari ini kita berkunjung kesana." ucapan Nathan membuat Anel mendongak, matanya berbinar seakan baru saja menemukan sesuatu yabg sudah lama hilang.
"Mas serius? Tapi bagaimana dengan pekerjaan mas di kantor." ucap Anel cepat
"Sayang, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadwal ku. Ada Aldo dan Amel yang bisa di andalkan. Ini untuk menebus kesalahan mas karna tidak terlalu memperhatikan mu. Dan mas janji mulai hari ini mas akan jadi suami yang siaga. untuk kamu dan anak kita." ucap Nathan sambil mengelus lembut perut buncit Anel.
"Trimakasih ya mas." ucap Anel sambil menangis bahagia.
__ADS_1
"Jangan nangis dong sayang, kenapa kau jadi sangat cengeng sayang." ucap Nathan
"Aku begini karna ulahmu." ucap Anel cepat
"Iya iya, semua kesalahanku, sekarang berhenti menangis dan cepat bersiap." ucap Nathan sambil mengajak Anel pergi dari taman belakang.
Mereka berdua bersiap untuk pergi ke rumah Anel. Karna begitu senangnya Anel sampai tidak sabar untuk segera berangkat.
*****
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil yang di kendarai sendiri oleh Nathan, sedangkan Anel sudah tertidur sejak tadi. Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekitar satu jam Perjalanan akhirnya mobil yang di kendarai Nathan tiba di rumah Anel.
Nathan membangunkan Anel, karna ia sudah tertidur cukup lama.
"Sayang bangun, kita sudah sampai." ucap Nathan sambil mengelus lembut pipi Nathan.
Anel mencoba membuka mata nya yang masih terasa berat." Hmmm, Kita sudah sampai ya mas?" tanya Anel melihat sekelilingnya.
"Ia kita sudah sampai Sayang." jawab Nathan sambil membukakan setbel milik Anel." Ayo turun." ajak Nathan.
Nathan membukakan pintu mobil, menuntun Anel turun dari dalam mobil. Sebelum masuk ke rumah, Nathan mengambil beberapa oleh-oleh yang dibelinya sebelum mereka berangkat.
Tok, tok
Anel mengetuk pintu Rumah Ibunya. Beberapa menit kemudian pintu rumah itu terbuka.
"Kakak." triak Ani dan langsung memeluk tubuh Anel
"Ahhhh kakak, aku kan rindu kakak." ucap Ani Manja
"Tapi kakak tidak merindukan kamu." ucap Anel cuek.
"Ihhhhhh, kakak sungguh kejam." ucap Ani dramatis.
"Sudah jangan alay." ucap Anel." Kamu gak ingin menyuruh kakak dan Mas Nathan masuk." ucap Anel lagi.
"Hehehehe, Iya kak, gak usah di suruh juga masuk aja kali. Kan ini juga rumah kakak. Ayo masuk kak Nathan." Ajak Ani cepat
"Trimakasih Ani." ucap Nathan sambil mengikuti langkah Ani dan Anel masuk ke dalam rumah mertuanya.
Anel dan Nathan duduk di sofa rung tamu,sedangkan Ani membuatkan minuman untuk Kakak dan kakak iparnya. Ani menaruh minuman di atas meja beserta dengan celiman.
"Silakan di minum kak Nathan." ucap Ani. Dia ikut duduk di depan kakaknya.
"Ahhhh ia, Trimakasih." ucap Nathan cepat
"Apa Ibu gak ada di rumah dek?" tanya Anel saat tidak melihat Ibunya.
"Ibu sedang ke pasar kak." jawab Ani cepat
__ADS_1
"Tapi ini sudah siang dek, tidak mungkin Ibu ke pasar siang siang begini." ucap Anel tak percaya.
"Ibu kepasar sehabis memasak sarapan, kata ibu ia langsung mampir ke rumah Tante meli setelah dari pasar." ucap Ani lagi
"Ohhhh." ucap Anel singkat.
"Ohhh ya kak. Setelah lulus Ani ingin langsung bekerja saja." ucap Ani cepat
"Kenapa kamu ingin bekerja. Kamu gak mau Kuliah gitu?" tanya Anel. Dia ingin adiknya juga memdapat gelar Sarjana seperti dirinya.
"Aku ingin sih kak, tapi Ani tidak ingin mberatkan ibu kak. Setidaknya Ani kerja dulu, nah kalau Ani udan punya uang sendiri baru Ani rencanain kuliah. Kayak kakak dulu." jawab Ani
" Itu memang bagis Dek, tapi kakak tidak ingin kamu putus belajar. Kamu harus lanjut kuliah, kakak masih ada tabungan untuk kamu dari hasil kakak bekerja selama ini." ucap Anel sambil mengelus lembut rambut sang adik
Mendengar perkataan Anel, Nathan baru sadar jika selama ini dirinya tidak pernah memberi Anel uang bulanan kepada Anel.
"Jika kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kakak membiayai kuliah kamu. Lagi pula kamu itu adik istri kakak, jadi kamu juga Adik kakak kan." ucap Nathan menimpali
Ani menatap kakaknya, dia tidak mungkin mengiyakan begitu saja. Dia juga harus meminta persetujuan dari kakak dan Ibunya.
"Mas, kau tidak perlu melakukan itu, tabungan ku masih sangat cukup untuk kuliah Ani." ucap Anel. Dia menolak etikat baik dari suaminya.
"Aku melakukan ini karna aku menganggap Ani sebagai adikku juga. Aku tidak akan membiarkan keluarga istriku sampai kekurangan." ucap Nathan." Lagipula untuk apa kau menikah dengan pria kaya, kalau kuliah adikmu saja masih kamu fikirkan sendiri." lanjutnya.
Nathan beralih menatap Ani, gadis manis itu terlihat ragu." Ani, kau tau. Kakak ini anak tunggal, kakak tidak punya Adik ataupun kakak. Jadi biarkan kakak menganggap mu sebagai adik kakak dan merasakan bagaimana rasanya punya saudara." ucap Nathan pada Ani.
"Mas, kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami.Jadi jangan pernah menganggap jika kau itu sendiri. Lagi pula mas masih punya orang tua lengkap walalu sekarang mereka sedang jauh." ucap Anel.
"Aku tau, dan sekarang izinkan kakak membantumu. Memberi pendidikan paling tinggi untuk adik kakak yang cantik ini." ucap Nathan
Ani kembali menatap Anel, meminta persetujuan pada kakaknya itu. Anel pun mengangguk, dia tau jika adiknya itu masih ragu.
"Trimakasih kak Nathan, trimakasih." ucap Ani dengan mata berkaca- kaca
bukkkkk
Anel melempat bantal sofa ke arah Ani dan mengenai kepala sang adik. Anel tertawa puas melihat Ani kesakitan.
"Aduhhh kakak, sakit tau." ucap Ani dengan wajah cemberut
"Habisnya, pakai acara mewek segala." ucap Anel
"Ye biarin, kan Ani terharu aja gitu." ucap Ani membela diri.
Saat Anel sedang asyik menggoda adiknya, tiba tiba ada yang berlari ke arah Anel dan langsung memeluk tubuh Anel tanpa melihat situasi.
"ANEL"
.
__ADS_1
.
[Bersambung]