CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 31


__ADS_3

Sekitar jam empat subuh Andini dengan pelan keluar dari kamarnya sambil membawa handuk. Matanya sibuk melihat keseluruh penjuru rumah dan setelah dia merasa aman barulah dia masuk kedalam kamar mandi. Setelah mandi junub karena semalam mereka selesai bergulat diranjang. Andini berjalan pelan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


"Sumpah aku tidak akan melakukan ini besok malam. Untung saja tidak ada yang melihatku mandi sesubuh ini." Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil Andini menggerutu.


"Kamu sudah bangun istriku?"


"Sana mandi bersih mas lalu kita sholat bersama." Pinta Andini.


"Emang ini jam berapa?" Tanya Bisma masih bertelanjang dada.


"Jam empat lewat mas."


"Apa? aku masih mengantuk istriku."


"Mas? Aku tidak suka kamu seperti itu." Andini cemberut.


"Baiklah." Masih setengah sadar Bisma berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa handuk dilengannya.


"Eh nak Bisma sudah mandi subuh-subuh." Ucap mamanya Andini.


"Eh iya biasa udara dingin jadi begitulah." Jawab Bisma dengan santainya. "Kalau begitu aku mandi dulu bu." Sambung Bisma.


Setelah mandi Bisma langsung masuk kedalam kamar. Andini kembali berbaring sambil menunggu adzan subuh.


"Ternyata mama sudah bangun istriku." Ucap Bisma.


Andini langsung duduk mendengar perkataan Bisma. "Jadi dia melihatmu masuk kedalam kamar mandi."

__ADS_1


"Bukan hanya melihat, kami mengobrol. Dia tanya kalau aku mau mandi subuh?"


"Jadi kamu jawab apa?" Perasaan Andini mulai tidak enak.


"Ya aku jawab seadanya. Aku bilang karena udara semalam dingin jadi kita begitulah."


Andini langsung bangkit dan memukul lengan Bisma dengan keras. "Ahh mas Bisma! Aku sengaja bangun lebih awal agar kita tidak ketahuan semalam. Kamu? Ahh sana pakai bajumu!" Andini terduduk kembali ditempat tidur.


Pasti ini sangat memalukan. Apa yang mama pikirkan ya? Mas Bisma bodohnya kamu!


"Kenapa dia? kalau ketahuan juga kenapa? Lah kita kan sudah menikah? Aku rasa dia mulai gila karena terlalu mencintaiku." Bisma membatin melihat tingkah Andini dengan wajah yang cemberut.


Setelah selesai sarapan bersama mereka pergi kesawah untuk melihat pemandangan hijau. Bisma beberapa kali terjatuh karena tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan jalan kecil dan licin. Andini tertawa melihat seorang Bisma penuh dengan becek dibajunya.


"Istriku tempatmu sangat indah tapi aku tetap tidak menginzinkan kamu kembali kekampung halamanmu." Bisma berucap tanpa menoleh ke Andini.


"Aku takut kamu tidak akan kembali lagi kepadaku, aku takut kamu pergi dari sisiku, aku takut kamu kembali tergoda dengan mantanmu. Jujur aku cemburu saat dia datang menemuimu tapi setelah melihat ekspresimu dan kamu tidak memberi respon lagi padanya itu membuat perasaanku sangat lega."


Andini hanya diam dengan kata Bisma.


"Ya mungkin aku terlalu cepat mencintaimu sama seperti kakakku yang terlalu cepat jatuh cinta padamu. Bukannya kami mirip? Apa kamu tidak merindukannya? Jika kamu merindukannya tinggal peluk saja aku, karena aku dan dia adalah satu." Sambung Bisma.


Andini bersandar dibahu Bisma.


"Kamu dan mas Bisma sangatlah berbeda, dia tidak menyukai Sarah sedangkan kamu sangat menggilai Sarah. Maaf aku sempat melihat pesan chatmu bersama Sarah dan kamu masih merespon pesannya. Apa aku hanya pelarian? Aku tahu kamu belum bisa melupakannya. Aku tahu kamu juga menyukainya sejak dia masih tinggal dipanti asuhan." Sahut Andini dengan polosnya. Kali ini Bisma yang terdiam sejenak.


"Maafkan aku tapi kami hanya sebatas teman sekarang."

__ADS_1


"Pantas saja hari itu kamu tidak ingin menemuinya saat Sarah katakan dia akan keluar kota. Harusnya aku tidak sepolos itu percaya dengan ucapan Sarah. Apa kamu yakin tidak pernah menemuinya sejak hari itu?" Tanya Andini kembali.


"Andini maafkan aku." Bisma hanya bisa mengatakan maaf. Kali ini Andini tidak bersandar lagi dibahu Bisma. Dia meluruskan pandangannya, matanya melihat dengan dalam ada banyak pertanyaan didalamnya.


"Aku tahu kamu beberapa kali menemuinya dan maaf lagi aku memeriksa pesanmu. Yah mungkin kamu mengatakan kalian hanya teman tapi sebenarnya lelaki dan wanita tidak bisa berteman? jika mereka berteman maka rasa cinta akan tumbuh diantara mereka. Aku juga tidak yakin Sarah bisa menganggapmu teman tapi aku tidak akan diam jika dia masih terus mengejarmu. Itulah alasanku mengapa aku ingin pulang kekampung halamanku, aku sakit dengan pertemuanmu dengan Sarah. Apa kamu begitu bodoh hingga tidak menyadari perasaanku tuan Bisma?" Andini membiarkan angin meniup matanya yang terbuka lebar hingga tetesan bening keluar dari sudut matanya.


"Andini?" Panggil Bisma.


Tanpa menoleh Andini kearah Bisma, Andini hanya bisa menarik nafasnya.


"Jika kita kembali dari kampung halamanku aku harap kamu bisa melepaskan hubunganmu dengan Sarah, aku tidak nyaman dengan itu. Aku tidak nyaman melihat suamiku duduk bersama dengan seorang wanita di bar dan tersenyum ke arah wanita itu." Sambung Andini. Rasanya dia sedang melampiaskan semua amarah yang dia simpan didalam hatinya salama ini.


"Siapa yang memberi tahumu tentang itu?" Balas Bisma dengan terkejut.


Ternyata Andini tahu apa yang aku lakukan selama ini? Mengapa dia terlihat begitu tenang didepanku dan berpura-pura biasa saja.


"Sarah yang memberi tahuku semua aktifitasmu dengannya. Saat malam pertama itu aku sudah menyerahkan hidupku padamu. Aku merelakan tubuhku untuk mengikatmu karena aku tahu kamu bisa kembali lagi kepada Sarah jika aku tidak melakukan itu. Aku harap itu yang terakhir kalinya kamu mencium Sarah dibar, karena aku tidak yakin akan bertahan lebih lama lagi jika kamu terus melakukan itu dibelakangku. Maaf aku terbawa emosi karena aku tidak mampu membendungnya lagi didalam hatiku." Ucap Andini menyeka air matanya.


Bisma diam seribu bahasa sedangkan Andini bisa bernafas lega karena bisa mengeluarkan semua perasaan sakitnya.


"Jangan salah paham dengan sikapku yang polos bagimu. Aku tidak membantahmu ataupun memberontak karena aku sangat menghargaimu sebagai suamiku tapi itu bukan sifat asliku. Kamu akan melihat sifat asliku jika kamu masih ingin mengulangnya bersama Sarah. Jika kamu ingin tahu siapa aku maka bertemulah dengan Pras, tanyakan kepadanya bagaimana aku membencinya. Dia pun tidak akan pernah mendapatkan maaf dariku."


"Kamu sepertinya sedang mengancamku istriku." Bisma meraih pinggang Andini.


"Sepertinya seperti itu, aku sudah pernah dikhianati jadi aku tidak akan membiarkan hatiku tersakiti lagi." Sahut Andini. Senyuman Bisma menghilang seketika.


"Maafkan aku." Ucap Bisma.

__ADS_1


"Hemm ayo pulang, aku sudah lega sekarang." Andini berdiri sedangkan Bisma masih terduduk melihat istrinya.


__ADS_2