CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 27


__ADS_3

Dua pekan telah berlalu dan benar saja Bisma tidak menyentuh Andini. Dia juga jarang berbicara kepada Andini karena saat melihat Andini rasanya dia ingin menerkam gadis itu dan mengulangi malam yang pernah mereka lewatkan. Bukan tanpa alasan dia hanya ingin Andini merasakan kenyamanan berada didekatnya tetapi apa daya sebagai laki-laki normal dia tidak bisa melawan hawa nafsunya setiap melihat Andini. Orang tua Andini telah kembali kekampung halamannya sedangkan selama kepergian orang tuanya Andini sesekali menangis ditengah malam. Bisma berpura-pura tidak tahu jika Andini sering menangis tetapi dia sudah bingung mau melakukan apalagi agar Andini bertahan dengannya.


"Sepertinya kesabaranku telah habis dibuat olehnya." Batin Bisma berbaring disamping Andini.


"Besok pagi kamu boleh pulang kekampung halamanmu." Ditengah kesunyian malam Bisma bersuara. Andini membalikkan badannya berhadapan dengan Bisma.


"Pak Bisma mengusirku?" Andini bertanya.


Lihatkan kenapa jadi aku yang salah? Padahal aku sudah mengizinkan dia bertemu orang tuanya.


"Bukan seperti itu maksudku, kamu selalu menangis dan itu membuatku tidak nyaman."


"Anda tidak punya perasaan!"


"Hahaha mengapa jadi aku yang salah." Bisma berusaha tertawa mencoba mengerti sikap Andini yang terlalu kekanak-kanakan baginya.


"Mengapa anda tertawa? Pasti anda berpikir aku terlalu kekanak-kanakan." Andini kembali menangis.


"Oke-oke aku yang salah. Sebenarnya maumu apa Andini?" Bisma berbicara nada tinggi.


"Pak Bisma jahat. Mengapa setelah malam itu kamu bersikap dingin kepadaku. Kamu tidak berbicara kepadaku saat dikantor begitupun dirumah. Apa pak Bisma sudah puas mengambil keperawananku lalu ingin meninggalkan aku begitu saja? Pak Bisma memang bisa mendapatkan wanita cantik diluar sana dengan mudahnya tetapi aku ini istri sahmu dan mengapa anda tidak mau menyentuh lagi setelah malam itu. Apa aku hanya jadi bahan permainan pak Bisma?" Andini berteriak beradu dengan tangisannya.


"Ha? Apa katamu? Jadi kamu menangis bukan karena merindukan orang tuamu? Jadi kamu menangis karena aku bersikap dingin? Hahahaha rasanya aku benar-benar akan gila karenamu Andini."


Andini menggeser tubuhnya lalu membenamkan wajahnya didalam dada Bisma. Wajahnya memerah untung saja lampunya mati saat itu. Sebenarnya dia sangat malu mengatakan ini kepada Bisma, awalnya dia senang Bisma tidak menyentuhnya tetapi setelah dia pikir-pikir Bisma seperti membuangnya setelah malam pertama mereka.

__ADS_1


Bisma memeluk Andini. Dikeluarkannya wajah Andini dari dadanya lalu mencium dibibir secara lembut. Andini menutup matanya merasakan ciuman yang begitu lembut yang Bisma berikan malam itu. Suara nafas mereka saling beradu, Bisma memimpin permainan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Andini berikan kepadanya. Malam itu mereka kembali bersatu diatas ranjang membuat suasana dingin didalam ruangan itu menjadi sangat panas.


***


Seperti biasanya Andini terbangun lebih awal untuk menunaikan sholat shubuh. Kali ini dia membangunkan Bisma untuk sholat bersama. Mereka mandi wajib setelah pergulatan hebat semalam. Seakan malu-malu Andini tidak berani menatap Bisma lama-lama.


Ya ampun mengapa aku bisa mengatakan isi hatiku semalam? Keberanian dari mana hingga aku bisa melakukan itu. Pak Bisma pasti sedang tertawa karena karena aku minta disentuh olehnya.. betapa menjijikkan aku semalam.


"Pak soal semalam aku hanya terbawa emosi, kata-kataku semalam soal itu 'menyentuhku maksudnya' jangan dipikirkan. Aku hanya bercanda." Wajah Andini memerah, Bisma hanya tersenyum melihatnya.


"Mendekatlah!" Perintah Bisma, mereka sedang duduk dilantai karena selesai sholat. Andini menggeser secara perlahan ke arah Bisma. Bisma memeluk Andini dari belakang.


"Kita akan melakukannya setiap malam." Bisik Bisma.


"Apa?" Andini tercengang.


"Serius pak?"


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu."


"Aku menyukainya." Sahut Andini.


"Aku tidak menyukainya Dini!" Balas Bisma.


"Maunya apa?" Andini Bertanya.

__ADS_1


"Suamiku!"


Suamiku? Kok kedengaran manja banget ya? Batin Andini.


"Mas aja boleh?" Andini mencari alasan.


Bisma menggeleng "Aku ingin kamu memanggilnya dengan sebutan itu dan aku akan memanggilmu dengan sebutan istri."


Sumpah ini lelucon. Pasti orang kantor akan tertawa dengan sebutan gilanya.


"Aku ingin mendengarnya untuk pertama kalinya kamu memanggiku istriku."


"Pak Bisma?" Andini Memohon. Bisma melototkan matanya. "Baiklah suamiku." Timpal Andini.


"Istri yang baik." Bisma mengecup bibir Andini.


"Ayo lakukan lagi sebelum berangkat kekantor?"


"Apa?" Andini pura-pura tidak tahu.


"Ronde kedua istriku, rasanya aku ingin melakukannya seharian denganmu. Apa kita tidak perlu kekantor hari ini?"


"Tapikan aku...?"


"Menolak ajakan suamiku itu dosa, kamu tahukan?"

__ADS_1


"Ha...? Baiklah." Jawabnya dengan pasrah. Bisma mengangkat tubuh Andini ke atas tempat tidur dan tubuh mereka kembali menyatu. Bisma tak henti-hentinya tersenyum didalam hati karena bisa meluapkan segala gejolak batinnya yang telah lama dia tahan.


"Aku men..cintaii..mu Andini." Ucapnya disela-sela permainan.


__ADS_2