CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 21


__ADS_3

Saat tangannya memegang handle pintu, suara hatinya kembali terombang ambing didalam dadanya. Perasaan yang tidak jelas itu kembali muncul membuatnya ragu untuk masuk kedalam kamar itu. Bersama orang asing didalam satu ruangan membuatnya sangat canggung setiap harinya.


Kreekk... dengan perlahan Andini membuka pintu. Bisma duduk tenang sambil menunduk menatap foto kakaknya. Tak ada kata-kata yang bisa Andini ucapkan setiap dia melihat laki-laki yang menjadi suaminya itu di dalam keadaan seperti itu. Bisma terlihat keras dari luar tetapi beberapa kali Andini mendapatinya dalam keadaan sedih bahkan dia sering mengeluarkan air mata.


"Bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia?" Kata Bisma tanpa menoleh. Andini terhenti tepat berada dibelakang Bisma.


"Anda bertanya kepadaku pak?" Dengan polosnya Andini bertanya kembali kepada Bisma.


"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti perasaanku." Sahut Bisma, dia meletakkan kembali foto Bima dimeja. Beberapa foto masa kecil mereka terpampang dimeja tersebut.


"Keluargaku tidak pernah sebahagia yang kamu pikirkan. Kami bukan dari orang yang berada maka dari itu terkadang masalah ekonomi yang membuat kami menjadi tidak bahagia. Apa yang kita dapatkan didunia terkadang tidak sesuai dengan kita inginkan, tapi aku diajarkan oleh orang tuaku untuk selalu mensyukuri apa yang kita miliki sekarang." Sahut Andini lalu duduk di sudut tempat tidur.


"Alex sepertinya menyukaimu, apa perasaanmu kepadanya juga sama?" Bisma masih tak menoleh hanya berpangku kaki dengan kedua tangannya dia tumpukan kepada lututnya.


"Aku tidak menyukainya pak."


"Kenapa? Bukannya kalian terlihat sangat akrab." Bisma kembali bertanya.


"Aku akan membatasi untuk bertemu dengan Alex jika anda tidak menyukainya pak." Balas Andini.


"Apa kamu menyukaiku?" Kata-kata Bisma kali ini mampu membuat Andini melotot berada dibelakang Bisma. Andini memilih bungkam dengan pertanyaan Bisma kali ini.


"Kenapa kamu tidak menyukaiku? Bukannya banyak wanita yang ingin menjadi istriku sedangkan kamu sama sekali tidak tertarik kepadaku. Aku memiliki segalanya apa kamu tidak tertarik dengan semua kemewahan ini?" Andini belum menjawab tetapi Bisma terus bertanya.


"Anda salah paham terhadap wanita pak. Tidak semua wanita seperti itu yang menikahi laki-laki hanya karena hartanya. Aku ingin bahagia dengan cinta, aku mencari seseorang yang bisa menjadi imamku dan membimbingku ke jalan yang lebih baik. Walaupun aku belum menggunakan hijab tetapi aku akan berusaha untuk lebih baik kedepannya." Ucap Andini.

__ADS_1


Bisma terdiam dan berdiri dari tempat duduknya.


"Maafkan aku telah banyak bertanya. Kamu tidak perlu memasak untukku karena malam ini aku akan makan diluar bersama teman-temanku." Sahut Bisma dan berjalan keluar dari kamar.


Andini menghela nafasnya saat Bisma keluar dari dalam kamarnya.


"Aku bisa gila jika ini terus terjadi. Mengapa dia selalu seperti itu, terkadang dia baik terkadang pula dia sangat dingin kepadaku. Dia pikir aku apa? Apa dia tidak memikirkan perasaanku yang terkurung didalam rumah ini dan aku tidak mempunyai siapa-siapa dikota ini untuk dikunjungi." Andini berkata dengan keras, seakan ingin memberontak dengan sikap Bisma.


Pintu kembali terbuka dan Bisma berdiri didepan pintu sambil menatapnya. "Kamu ingin ikut bersamaku?"


"Ha? Tidak pak. Aku akan menjaga bi Marni sampai ART yang baru datang kerumah ini. Bukannya anda bilang akan ada ART yang baru datang kerumah inikan?" Andini terbata-bata saat berbicara. Kali ini dia ketahuan memaki Bisma.


"Lain kali jika ingin pergi kamu tidak perlu mamakiku dibelakang. Apa susahnya jika kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu ingin ikut bersamaku." Sahut Bisma lalu menutup kembali pintu kamar.


***


Keesokan harinya Andini terbangun lebih awal dari biasanya mendapati Bisma kembali tertidur di sofa yang ada didalam kamar mereka.


"Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu jika sikapmu sedingin itu kepadaku. Bagaimana aku jatuh cinta kepadamu jika kamu tidak pernah mau menjadi imamku, bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu jika kamu hanya mementingkan dirimu saja. Apa pantas kamu bertanya apakah aku menyukaimu atau tidak?" Andini berdiri disamping Bisma yang masih tertidur pulas.


Setelah selesai sholat Andini menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat didapur bi Marni sedang berdiri sambil menjelaskan kepada dua orang asisten rumah tangga baru. Andini tersenyum ke arah mereka yang terlihat masih seumuran dengannya. Diluar sana masih sangat gelap tetapi mereka sudah berkumpul didapur.


"Oh non Dini sudah bangun? Ini Lili dan Siska asisten baru dirumah ini. Mereka tiba semalam saat non Dini sudah tidur." Ucap Bi Marni.


"Bi Marni boleh istirahat setelah itu biar aku yang akan menjelaskan kepada mereka semua pekerjaan dirumah ini." Kata Andini.

__ADS_1


"Maaf non, tuan Bisma mengatakan anda tidak perlu membantu didapur. Anda hanya perlu menyiapkan baju-baju tuan Bisma sebelum berangkat kekantor." Balas bi Marni.


"Benarkah? Baiklah aku kembali kedalam kamar bi." Sahut Andini.


Saat Andini membuka pintu dia mendapati Bisma sedang sholat subuh. Dia sedikit terkejut karena sejak dia menginjakkan kakinya dirumah itu tidak pernah sekalipun dia melihat Bisma sholat. Andini masih berdiri dibelakang Bisma sampai Bisma selesai berdoa. Setelah selesai, Bisma berdiri dan menyodorkan tangannya agar Andini mencium punggung tangannya. Andini tak bergeming hanya berdiri termenung hingga Bisma sendiri yang meletakkan punggung tangannya dibibir Andini.


"Mengapa wajahmu seperti itu? Bukannya ini yang kamu inginkan? Kamu mau aku menjadi imammu kan?" Bisma masih tersenyum melihat ekspresi Andini.


"Haa?" Dengan mengerutkan dahinya Andini kembali tercengang dengan perkataan Bisma.


Bisma masih tersenyum sedangkan Andini berdiri seperti orang bodoh dengan wajah tidak percaya dengan apa yang dilakukan Bisma. Selama mereka menikah Andini selalu berganti pakaian didalam kamar mandi dan Bisma selalu membuka bajunya dihadapan Andini tanpa peduli dengan Andini yang selalu membuang wajahnya jika Bisma melakukan itu.


"Kita akan berangkat kekantor bersama pagi ini."


"Baik pak." Jawab Andini.


"Kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan suami, mas atau sayang?" Bisma berbaring ditempat tidur sedangkan Andini sibuk menyiapkan pakaian Bisma. Andini masih diam dengan semua pertanyaan Bisma yang menurutnya tidak masuk diakalnya.


"Baiklah jika kamu belum siap aku akan menunggumu memanggilku dengan sebutan kesayanganmu." Timpal Bisma.


"Aku hanya belum terbiasa pak, maafkan aku karena harus bersikap formal kepada anda. Anda selalu dingin kepadaku baik itu dikantor ataupun dirumah. Sikap anda itu membuatku selalu takut jika aku berada didekat anda."


"Maafkan aku yang belum mengumumkan pernikahan kita kepada semua karyawan dikantor." Balas Bisma.


"Oh bukan itu maksudku pak." Kata Andini. "Aduh mengapa dia jadi salah sangka sih? Apakah dia pikir aku bersikap formal karena marah dengan pernikahan kami yang tersembunyi ini." Batin Andini.

__ADS_1


__ADS_2