CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 34


__ADS_3

Sudah pukul 11 pagi Bisma masih terbaring tak berdaya ditempat tidur. Suara deringan ponselnya beberapa kali berbunyi. Andini tidak menghiraukannya karena tidak ingin mencampuri privasi Bisma lagi. Andini duduk ditempat tidur berada disamping Bisma. Ponsel Bisma terus berdering dan akhirnya Andini memberanikan diri untuk mengangkatnya. Tertera nomor yang tidak dikenal pada panggilan telfonnya.


"Halo?" Sapa Andini dengan pelan.


"Maaf ini dengan pak Bisma?" Jawab lelaki pada panggilan telfon.


"Pak Bismanya sedang keluar, ada yang bisa saya sampaikan kepadanya?"


"Kami dari pihak kepolisian ingin mengabari bahwa pacarnya atas nama Sarah sedang di rawat dirumah sakit X karena mencoba bunuh diri. Kami menghubungi nomor ini karena mba Sarah sedang membutukan pertolongannya saat ini. Hanya nomor ini yang mba Sarah berikan kepada pihak kepolisian."


"Apa? Iya pak akan aku sampaikan kepada pak Bisma."


Andini menjatuhkan ponsel ditangannya. Dia menatap Bisma sekali lagi sebelum dia membangunkannya.


"Aku menyerah jika kamu ingin kembali kepadanya. Aku tidak akan menahanmu lagi untuk kembali dengannya mas Bisma." Batin Andini


"Mas bangun." Andini menyentuh lengan Bisma.


"Hemm sudah jam berapa ini?" Bisma berusaha membuka matanya.


"Sarah mencoba bunuh diri, dia ada dirumah sakit sekarang." Ucap Andini


Bisma langsung duduk dan sadar seketika. Dia langsung berlari kekamar mandi dan tak lama berselang dia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Terlihat wajahnya sedang panik, Andini hanya bisa memperhatikannya yang sibuk mencari pakaiannya. Bisma mengacak-acak bajunya karena tidak mendapatkan yang dia cari.


"Dimana kaos dalamku?" Tanya Bisma menoleh ke arah Andini duduk sambil bersandar ditempat tidur.


Andini terlihat meneteskan air mata melihat Bisma.

__ADS_1


"Aku akan mencarikannya mas." Sahutnya lalu berjalan ke arah Bisma berdiri.


"Andini, aku hanya..."


"Aku tahu kamu menghawatirkannya mas. Pergilah, aku baik-baik saja." Andini mencari kaos dalam Bisma. "Inikan aku menemukannya." Andini menyeka air matanya lalu berusaha tersenyum dihadapan Bisma.


"Aku tidak akan pergi!" Bisma memeluk Andini dan menciumi kepalanya. "Maafkan aku sayang." Bisma mempererat pelukannya.


"Aku serius mas pergilah, dia butuh bantuanmu saat ini." Kata Andini.


"Mari pergi bersama, aku hanya niat membantunya tidak lebih dari itu."


"Mas aku baik-baik saja."


"Aku menunggumu ganti baju, aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu!" Bisma duduk ditempat tidur sambil menunggu Andini yang terlihat berpikir.


Andini sebenarnya tidak ingin pergi tetapi dia masih punya perasaan jika terjadi apa-apa kepada Sarah. Sarah hanya hidup seorang diri dan hanya Bisma yang bisa dia andalkan saat ini.


"Terima kasih sayang." Bisma bangun dari duduknya lalu menciumi kening Andini.


Andini menarik nafasnya dengan dalam. "Jangan egois Andini, mba Sarah sedang membutuhkan suamimu saat ini." Batin Andini.


Setelah ganti baju Andini langsung berlari kemobil untuk menemui Bisma. Saat Andini menutup pintu mobil Bisma langsung melaju meninggalkan rumah mereka. Wajahnya sejak tadi begitu cemas dan dia tidak bisa menyembunyikan itu dari Andini. Andini mengenggam erat tangan Bisma dan tersenyum ke arahnya.


"Dia akan baik-baik saja mas." Ucap Andini mencoba melawan batinnya yang sedang cemburu buta.


"Terima kasih sayang." Sahut Bisma memaksakan senyuman keluar dari bibirnya.

__ADS_1


Seharusnya aku tidak berada diantara kalian mas Bisma. Maafkan aku ini semua salahku.


Saat tiba dirumah sakit yang dituju Bisma berlari sambil menarik tangan Andini ke meja resepsionis untuk menanyakan kamar tempat Sarah dirawat. Setelah mendapatkan informasi lengkap Bisma kembali melangkah menuju kamar yang dituju. Andini berhenti tepat didepan pintu masuk.


"Aku akan menunggumu disini mas." Seru Andini.


"Masuklah bersamaku." Sahut Bisma masih menggengam erat tangan Andini.


Saat melihat kedatangan Bisma senyuman Sarah melebar seketika tetapi dengan cepat memudar seketika saat melihat Andini dibelakang Bisma.


"Mengapa kamu membawanya?" Kata Sarah dengan keras.


"Mengapa kamu melakukan ini Sarah?" Bisma juga ikut meninggikan nada suaranya.


Andini melepaskan tangannya dari genggaman Bisma.


"Karena aku mencintaimu!" Sahut Sarah dengan lantangnya. Tangannya sedang terpasang infus, wajahnya pucat tetapi dia masih mampu berteriak dengan kerasnya.


"Kamu belum menjawabku Bisma, mengapa kamu membawanya datang menemuiku?" Tanya Sarah kembali.


"Karena aku takut kehilangannya, aku sangat mencintainya." Bisma menyahut.


Sarah membuang wajahnya terlihat meneteskan air mata. "Kamu jahat Bisma." Ucapnya.


Andini tertunduk dan terlihat bingung.


"Ini takdir Sarah. Aku akan membencimu jika kita bersama. Aku tidak bisa melupakan kejahatan orang tuamu. Maaf aku peduli hanya sebagai teman tidak lebih dari itu." Kata Bisma tegas.

__ADS_1


"Keluar!" Sarah berteriak.


"Aku akan mengurus administrasi dan membayar semua biayamu selama dirawat. Hiduplah dengan baik, aku tidak akan menemuimu lagi. Maaf!" Bisma keluar dari dalam ruangan sedangkan Sarah masih terus meneteskan air mata.


__ADS_2