
Saat mobil Bisma berada digarasi rumahnya dia termenung sesaat sebelum mematikan mesin mobilnya.
"Mengapa rahasia ini hanya aku seorang yang tidak tahu? mengapa kak Bima menyembunyikan ini kepadaku? tapi mama dan papa terlihat baik-baik saja kepada kami." Gumam Bisma didalam hatinya.
"Maaf pak Bisma, boleh aku masuk kedalam rumah?" Kata Andini sopan. Bisma masih terdiam hingga Andini menunggu jawaban yang diucapkan Bisma.
"Pak Bisma?" Panggil Andini sekali lagi.
"Kamu boleh pergi. Jangan lupa pindahkan kembali barang-barangmu didalam kamarku!" Perintah Bisma tanpa menoleh ke arah Andini.
"Tapi pak.." Bantah Andini tetapi Bisma lansung menyela perkataannya.
"Tetaplah berada disisiku!" Sahut Bisma meliriknya sesaat lalu kembali termenung duduk didalam mobil.
Andini keluar dari mobil dengan penuh tanda tanya.
"Berada disisinya? Apa maksudnya?" Pikir Andini sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Saat tiba diruang keluarga, Nyonya Maryam berdiri menghadang Andini dengan menyilangkan kedua tangannya didadanya. Matanya seakan mengancam Andini dengan melotot sempurna dibarengi dengan senyuman sinisnya.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang? Kamu pikir kamu nyonya dirumah ini sehingga seenaknya pergi dan pulang sesuka hatimu?" Teriak nyonya Maryam saat berhadapan dengan Andini.
"Dia bersamaku!" Bisma menarik tangan Andini masuk kedalam kamarnya. Nyonya Maryam terbelalak melihat Bisma menarik tangan Andini masuk kedalam kamarnya.
Saat didalam kamar Bisma langsung berbaring ditempat tidur sedangkan Andini berdiri kebingungan melihat Bisma yang sedang menutup matanya. Tangan Bisma dia letakkan sebagai sebagai tumpuan kepalanya sambil menarik nafasnya. Bisma terlihat sangat sedih membuat Andini merasa prihatin kepada bosnya sekaligus suaminya itu.
"Maaf pak Bisma aku akan pergi kekamar bu Marni." Kata Andini lalu berbalik menghadap pintu keluar.
"Aku menunggumu kembali disini?! hanya kamu yang aku punya sekarang Andini." Kata Bisma saat Andini melangkah. Andini terhenti saat tangannya memegang handle pintu mendengar perkataan Bisma. Tak mau Bisma curiga dia tidak bertanya lagi lalu pergi meninggalkan Bisma.
Sesampainya dikamar bu Marni, Andini bergegas mandi dan menunaikan sholat maghrib. Setelah sholat, Andini masih menggunakan mukena kembali memikirkan kata-kata Bisma.
Saat Andini melamun terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Andini berdiri untuk membuka pintu dan ternyata Bisma berdiri didepan pintu.
"Mengapa kamu lama sekali? Apa aku harus membantumu mengangkat barang-barangmu dari kamar bi Marni?"
"Tapi pak Bisma, aku lebih suka tidur dikamar bu Marni." Sahut Andini menundukkan kepalanya berusaha menolak halus ajakan Bisma.
"Bu Marni adalah mata-mata pengacara Sunan. Dia akan melaporkan jika kita tidak tidur bersama malam ini." Balas Bisma.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi mengapa pengacara Sunan harus mengatur kehidupan pribadi kita pak? Bukannya itu tidak ada didalam perjanjian?"
"Ayo pergi. Simpan pertanyaan itu saat kamu bertemu dengan pengacara Sunan." Bisma menarik tangan Andini pergi kedalam kamarnya. Andini yang masih menggunakan mukena berjalan mengikuti Bisma masuk kedalam kamarnya.
Tidak ada raut tegang diwajah Bisma hanya Andini yang terlihat menunduk sejak tadi saat matanya kembali bertatapan dengan Bisma.
"Mengapa kamu canggung seperti itu? Bukannya kita pernah tidur bersama saat orang tuamu beberapa hari tinggal disini?" Kata Bisma melihat raut wajah Andini.
"Bukan apa-apa pak? Aku hanya heran mengapa anda mau melakukan ini. Padahal kamu bisa mengatakan kepada bu Marni jangan memberi tahu kepada pengacara Sunan bahwa kita tidak tidur bersama."
"Bukannya berbohong itu dosa Andini?" Ucapan Bisma langsung membuat Andini terdiam.
"Malam ini kamu boleh tidur dikasurku dan aku akan tidur disofa. Mulai besok pagi kamu tidak perlu repot-repot untuk membuat sarapan untuk orang yang ada didalam rumah ini. Biarkan bu Marni dan asisten rumah lainnya yang mengurusnya. Aku mengizinkan kamu untuk membantah ucapan orang tua angkatku jika kamu merasa teraniaya oleh mereka. Satu lagi kamu harus mengurus semua perlengkapanku sebelum berangkat kekantor dan jangan lupa membangunkanku karena aku sering kesiangan."
"Baik pak!" Sahut Andini. Tiba-tiba saja dia merasa melihat Bisma dari sisi yang berbeda. Rasanya dia seperti melihat Bima didalam diri Bisma.
"Berhenti bersikap formal kepadaku!" Ucap Bisma sekali lagi.
Andini kembali mencerna ucapan Bisma tanpa bertanya kepadanya. Berhenti bersikap formal kepadanya? maksudnya apa? Ah sudahlah terserah padanya mau berkata apa setidaknya dia bisa melindungiku dari nyonya Maryam sekarang." Batin Andini.
__ADS_1