CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 18


__ADS_3

Sebulan telah berlalu setelah penangkapan nyonya Maryam dan tuan Sofyan karena terbukti bersalah atas pembunuhan orang tua angkat Bisma. Pengadilan memutuskan bahwa nyonya Maryam dan tuan Sofyan telah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Karena terlalu sibuk, Bisma lupa untuk memberi tahu kepada karyawan kantornya bahwa dia dan Andini telah menikah.


Malam hari dikamar, Bisma yang telah sebulan tidur disofa berpindah ditempat tidur karena badannya terasa sangat pegal. Bisma berbaring disamping Andini yang sedang tertidur pulas. Matanya terus menatap Andini yang ada disampingnya dan tanpa sadar sebuah kecupan lembut dilayangkan di bibir Andini. Seakan terkaget dengan sikapnya, Bisma berusaha menutup matanya sambil memegang dadanya yang berdegup lebih cepat dari biasanya.


"Apa aku sudah gila? Semoga saja dia tidak menyadari apa yang aku lakukan tadi." Ucap Bisma pelan.


Usia Bisma dan Andini terpaut agak jauh. Andini yang masih berumur 23 tahun sedangkan Bisma berumur 34 tahun. Andini yang terlihat imut-imut sedangkan Bisma terlihat sangat dewasa dimata semua orang. Sikapnya yang dingin dan tenang membuat orang segan untuk memulai pembicaraan dengannya. Jika Bima lebih suka bergaul dengan semua orang tetapi Bisma lebih menutup dirinya dari semua orang.


Andini bangun subuh seperti biasanya saat terdengar mesjid berkumandang memanggil orang untuk menunaikan ibadah sholat shubuh. Betapa terkejutnya Andini mendapati Bisma yang sedang tertidur sambil memeluknya. Andini menyingkirkan tangan Bisma dari tubuhnya lalu dengan pelan dia berjalan meninggalkan Bisma yang masih terlelap. Andini mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh.


Setelah sholat dia membantu bu Marni untuk menyiapkan sarapan. Saat ini hanya bu Marni yang menjadi asisten rumah tangga karena Lisa telah dipecat oleh Bisma.


"Non tidak perlu membantuku, bibi bisa melakukannya sendiri." Ucap bu Marni.


"Sudah tugasku untuk menyiapkan makanan untuk pak Bisma bu." Sahut Andini seraya tersenyum kepada bi Marni.

__ADS_1


"Tuan Bima tidak salah memilihkan calon istri buat adiknya. Non Dini gadis yang sangat baik." Bu Marni membalas senyuman dari Andini.


Setelah semua sarapan siap dimeja Andini masuk kedalam kamarnya untuk membangunkan Bisma. Andini menyentuh lengan Bisma dengan sedikit menggoyangkan lengan Bisma untuk membangunkannya.


"Pak Bisma sudah waktunya bangun!" Kata Andini pelan.


Bisma menarik Andini kedalam dekapannya hingga tubuh mereka saling tindih. Bisma masih menutup matanya tetapi tangannya mendekap erat tubuh Andini.


"Apa dia sedang mengigau?" pikir Andini berusaha keluar dari dekapan Bisma. Semakin Andini memaksakan keluar dari dekapan Bisma semakin erat Bisma memeluknya.


Karena tidak ada sahutan dari Bisma Andini membiarkan Bisma memeluknya hingga dia juga tertidur dalam dekapan Bisma dengan posisi dia berada diatas badan Bisma. Bisma melihat Andini telah tertidur membelai rambut Andini dengan lembut lalu sebuah senyuman terlihat dari bibir Bisma.


"Aku merasa nyaman berada didekatmu." Ucap Bisma lalu mencium puncak kepala Andini.


Bisma membiarkan Andini tertidur diatas badannya walaupun dia merasa tubuhnya terasa sangat pegal karena harus memopang tubuh Andini dengan begitu lama. Posisi Andini dengan wajah berada didada bidang Bisma membuatnya terasa sangat nyaman untuk tidur. Tak lama dari kecupan yang Bisma berikan Andini membuka matanya dan langsung menatap Bisma yang sedang melihatnya juga. Andini langsung berdiri karena tersadar telah tertidur diatas badan Bisma.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu memelukku?" Tanya Bisma pura-pura tidak tahu dengan apa yang dia lakukan.


"Maaf pak aku tidak memelukku tetapi anda yang menarikku dalam dekapan Anda. Aku sudah berusaha keluar dari dari tubuh anda tetapi anda semakin mempererat pelukan anda." Andini menunduk.


"Tapi kamu menikmati pelukanku kan?"


"Hah? Mana mungkin seperti itu pak." Andini berusaha mengelak.


"Buktinya kamu sampai tertidur didalam pelukanku?" Bisma kambali menuduh Andini tetapi sebenarnya dia yang merasa nyaman memeluk Andini.


"Astaga mengapa aku bisa tertidur didalam pelukan pak Bisma? Pasti dia sedang menertawakan aku sekarang? Lihat matanya menatapku seperti sedang menuduhku mencari kesempatan untuk memeluknya." Batin Andini. Wajahnya terlihat memerah menahan malu berdiri dihadapan Bisma yang masih berbaring dengan santainya.


"Kalau anda merasa tidak nyaman aku berada dikamar ini aku bisa berpindah dikamar lain pak. Aku bisa kok mengangkat barang-barangku lagi keluar dari kamar ini." Ucap Andini.


"Bukan seperti itu maksudku Dini." Bisma langsung bangun dan berdiri dihadapan Andini. "Aku suka kamu terus tertidur didalam pelukanku." Bisik Bisma lalu pergi kekamar mandi.

__ADS_1


"Hah? mengapa aku jadi geli dengan ucapannya." Kata Andini melihat kepergian Bisma.


__ADS_2