
Andini menatap langit luas dengan cuaca yang begitu cerah pada sore itu. Pandangannya meluas keseluruh alam yang ada disekitarnya. Hatinya merasa senang sekaligus sedih karena ungkapan Bisma sekaligus sedih melihat Sarah yang terlihat begitu kecewa. Bisma sudah berada didalam rumah sedangkan Adnini masih menenangkan dirinya diluar rumah. Setelah dia merasa hatinya sedikit tenang barulah dia masuk kedalam rumah. Bisma sedang duduk diatas tempat tidur sambil mempermainkan ponselnya. Andini berjalan ke arah suaminya dan duduk disampingnya.
"Aku minta maaf karena telah curiga berlebihan padamu mas. Aku pikir kamu tidak mencintaiku dengan sunguh-sunguh. Apakah kita begitu jahat kepada mba Sarah? seharusnya kamu tidak melakukan itu padanya. kondisinya sedang tidak stabil mas. Aku akan mengizinkan kamu memenemuinya hingga dia benar-benar pulih."
Bisma tersenyum dan menarik kepala Andini untuk bersandar dibahunya.
"Aku tidak bisa memiliki kalian secara bersamaan. Aku tahu siapa yang harus aku pertahankan untuk berada disisiku sayang. Aku tahu kamu orangnya." Jawab Bisma.
"Apa kamu menuntutku untuk memiliki anak secepatnya?" Andini juga melingkarkan tangannya ditubuh Bisma. Mencium aroma wangi dari parfum yang melekat ditubuh suaminya. Aroma itu membuatnya betah berlama-lama dalam pelukan lelaki yang bertubuh kekar itu.
"Aku sudah berumur, rasanya aku menginginkan bayi mungil itu hadir dalam kehidupan kita. Bukan hanya satu tapi aku ingin lima sekaligus." Bisma menyentuh perut Andini.
"Sesungguhnya sudah ada satu didalam sini mas?" Andini meletakan tangannya diatas tangan Bisma yang sedang mengelus perutnya.
"Kamu serius? kamu tidak sedang bercandakan sayang?" Bisma kegirangan.
Adini melepaskan pelukannya berjalan ke arah laci.
__ADS_1
"Lihat bukan hanya sekali tapi ada lima alat test pack dan semua hasilnya dua garis."
Bisma meloncat kegirangan diatas tempat tidur. "Aku akan punya anak? apa aku sedang bermimpi? kak Bima kamu bakal punya keponakan?" Katanya dengan keras hingga suaranya memenuhi seluruh isi ruangan.
"Apa kamu ingin menghancurkan ruangan ini dengan teriakanmu mas?"
Bisma turun dari tempat tidur dan memeluk Andini. "Aku mencintaimu Dini. sangat mencintaimu. Katakan mengapa kamu tidak mengatakan ini padaku lebih awal.?"
"Aku ingin lari bersama anakmu. Aku tidak yakin kamu mencintaiku saat itu."
"Jangan lakukan itu lagi, kamu perlu istirahat yang cukup. Aku tidak akan pernah berpikir lagi untuk lari darimu mas. Aku sangat mencitaimu."
Bisma mengangkat tubuh Andini ketempat tidur. "Aku menunggumu anakku." Menciumi perut Andini yang masih terlihat datar.
"Apakah kamu harus berhenti bekerja?" Sambung Bisma kembali.
"Aku mohon biarkan aku menghirup udara luar. Jangan mengurungku dirumah ini mas." Andini memohon.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati. Telfon mama dan papa tentang kabar kehamilanmu sayang. Pasti mereka sangat gembira."
"Aku sudah menelfon mereka. Aku juga lupa mengucapkan terima kasih karena kamu mengirimkan uang untuk merenovasi rumah orang tuaku."
"Mereka juga orang tuaku jadi apapun akan aku lakukan untuk membahagiakan mereka."
"Pak Bisma?" Andini menciumnya.
"Jangan mengodaku hehehe." Bisma tersenyum bahagia.
"Apa kita harus bulan madu untuk merayakan ini?" Bisma masih mempertahankan senyuman bahagianya.
"Aku menunggu itu keluar dari mulutmu mas."
"Haruskan kita pergi besok?"
"Hemm terserah padamu suamiku!" Sahutnya dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1