CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 23


__ADS_3

Setibanya dirumah Andini langsung masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Bisma masih berada didalam mobil memikirkan kata-katanya yang begitu perhatian kepada Andini.


"Tenang Bisma, bersikaplah sewajarnya, jangan membuat dia curiga kalau kamu benar-benar khawatir." Bisma menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan perlahan. "Semangat! mengapa aku jadi seperti orang kasmaran hahaha." Bisma tertawa sendiri didalam mobil.


Bisma tidak menyadari jika sopirnya masih berada didalam mobil sedang memperhatikan dia sejak tadi. Bisma keluar dari mobil sambil memegang dadanya.


Sopirnya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya. "Pak Bisma, pak Bisma tinggal bilang perasaanya ke non Andini saja susah." Ucap sopir Bisma.


"Bertahanlah, biarkan dia yang memulainya untuk mencintaimu tapi bisa-bisanya dia tidak tertarik kepadaku? Apa dia tidak mempunyai mata hingga tidak memperhatikan ketampananku. Lihat gadis-gadis lain mereka selalu menatapku dengan mulut ternganga sedangkan dia begitu santainya hidup bersamaku selama ini." Batin Bisma.


Bisma membuka pintu, matanya langsung tertuju kepada Andini yang masih menggunakan pakaian kantor. Andini masih nampak meringis sambil memegang perutnya.


"Aku akan mengambil air hangat untuk mengompres perutmu." Bisma keluar dari kamar menuju kedapur untuk mengambil air hangat.


"Aku baik-baik saja pak Bisma, mengapa anda begitu panik. Setiap bulan pasti akan seperti ini." Ucap Andini melihat kepergian Bisma.


Tak lama berselang Bisma datang dengan membawa baskom yang berisikan air hangat. Bisma duduk disamping andini yang sedang berbaring dan meletakan baskom diatas meja.


"Aku bisa melakukannya sendiri pak." Andini menarik kain yang berada ditangan Bisma. Bisma masih menunggu Andini melakukannya dengan terus menatap perut Andini. Andini masih memegang kain ditangannya tetapi matanya memperhatikan mata Bisma.


"Ayo lakukan?" Perintah Bisma.


"Pak Bisma, bisa tidak anda jangan menatap perutku seperti itu."


"Ups maaf." Bisma langsung berbalik membelakangi Andini.


"Pa Bisma tidak perlu khawatir padaku karena setiap bulan wanita akan mengalami ini." Kata Andini berbicara kepada Bisma yang membelakanginya.


"Hei siapa yang khawatir. Aku hanya..aku hanya tidak ingin kamu menyusahkan aku nantinya. Iya maksudku jika kamu sakit aku yang akan repot karenamu. Aku mau pergi malam ini kamu tidak perlu menungguku pulang." Bisma langsung berdiri meninggalkan Andini.


Lihat sifatnya begitu kekanak-kanakan. Siapa juga yang mau menunggumu lelaki kaku!


***

__ADS_1


Malam harinya Bisma datang dengan menjinjitkan kakinya agar tak terdengar suara langkah kakinya oleh Andini yang sedang tertidur pulas. Di tempat tidur baju Andini sedikit terangkat hingga terlihat perutnya yang putih dan ramping. Bisma menelan salivanya berusaha tidak memperhatikan perut Andini yang terbuka.


"Astaga mengapa ruangan ini jadi panas seketika. Oh mungkin karena ACnya kurang dingin. Bukan itu, mataku jangan menatap gadis itu." Bisma memberontak melawan hawa nafsunya. "Baiklah ayo perbaiki bajunya dan selimuti dia maka masalah akan selesai." Batin Bisma sambil berjalan mendekati Andini.


Saat Bisma memegang baju Andini untuk memperbaikinya, Andini terbangun dan dengan spontan dia menendang Bisma diperut.


"Awww." Bisma berteriak kesakitan.


"Maaf pak aku pikir tadi anda siapa. Aku sangat terkejut." Andini bangun mengangkat Bisma yang terjatuh dilantai.


"Jangan pegang-pegang. Sana pergi!" Bisma masih memegang perutnya.


"Baiklah." Jawab Andini kembali berbaring.


"Apa? Mengapa kamu tidak peduli kepadaku?" Bisma kembali berteriak masih terduduk dilantai.


"Sebenarnya mau anda apa? Aku sudah mengangkat anda tapi anda malah memarahiku." Bantah Andini.


"Angkat aku, kamu pikir ini tidak sakit?"


Andini mengangkat Bisma dan membaringkan ditempat tidur. Bisma menatapnya dengan tajam.


"Apa lagi pak?" Tanya Andini karena melihat tatapan Bisma seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Perutku masih terasa sakit." Sahut Bisma.


"Lalu?" Andini bertanya kembali.


"Mengelus seperti ini!" Perintah Bisma dan meletakkan tangan Andini diperutnya. "Jangan lepaskan ini sampai pagi!" Bisma langsung menutup matanya tetapi sebuah senyuman keluar dari bibirnya. Bisma memegang tangan Andini yang sedang mengelus perutnya sedangkan tangan Andini terperangkap diatas perut Bisma.


Saat Andini kembali tertidur, Bisma menarik tubuh Andini kedalam dekapannya. Sebuah kecupan lembut dia daratkan ke kepala Andini dengan sangat lama.


"Tendanganmu sebenarnya tidak sakit aku hanya berpura-pura kesakitan." Ucap Bisma kini dia melingkarkan tangannya ditubuh Andini dan menutup matanya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Andini terbangun tangannya melingkar ditubuh lelaki yang bertubuh kekar, kepalanya bertumpuh pada lengan lelaki tersebut, wajahnya menempel pada dada bidang. Dia mengangkat wajahnya melihat ke arah wajah lelaki tersebut, betapa terkejutnya dia dengan menutup mulutnya mengunakan satu tangannya karena hampir berteriak.


"Astaga kami berpelukan, cepat ingat kamu tidak melakukan apapun semalam Andini. Ayo coba pikirkan apa yang kamu lakukan." Gumamnya dalam hati seraya melihat pakaiannya.


Andini melepaskan tangan Bisma secara perlahan tetapi Bisma mempererat dekapannya hingga tubuhnya semakin menempel kepada Bisma.


"Kamu menyiksaku semalam, jangan harap kamu bisa melepaskan ini." Kata Bisma membuat Andini terjerat dalam dekapannya.


"Soal semalam aku sangat minta maaf pak, jika itu masih terasa sakit aku akan mengobatinya." Sahut Andini bersembuyi dibalik dada Bisma.


"Bukan itu yang aku maksud Andini, kamu menyiksaku karena hasratku sebagai lelaki yang tidak bisa tersalurkan. Ahhh lihat aku kembali berpikiran kotor sepagi ini." Batin Bisma.


"Tidak bisakan kita melakukannya walau hanya sekali?" Ucap Bisma tanpa sadar.


"Apa? melakukan? melakukan apa pak?" Sahut Andini kebingungan.


"Ahhhh sudahlah kamu boleh pergi." melepaskan tubuh Andini dari dekapannya.


Andini seperti terbebas, dengan pelan dia berjalan ke arah pintu untuk menghindari matanya kembali bertatapan dengan Bisma.


"Andini!" Panggil Bisma saat dia sedang membuka pintu.


Jangan terburu-buru Bisma, jangan!


"Iya pak ada apa?" Jawabnya tanpa menoleh.


"Buatkan aku minuman hangat." Setelah berbicara Bisma hanya Bisa menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


Bisa tidak kita melakukan hubungan sebagai suami istri? bodoh sesusah itukah kamu mengatakannya Bisma.


"Akan ku buatkan pak." Melangkah pergi.

__ADS_1


Lihat dia selalu formal dihadapanku. Bisa tidak dia sedikit bermanja-manja dan menyambutku dengan pelukan. Andini mengapa kamu sebodoh itu.


__ADS_2