CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 6


__ADS_3

Keesokan paginya Andini setengah berlari mengunakan sendal jepit dan meneteng sepatu high heelnya ditrotoar menuju kantor. Setibanya dikantor semua orang telah berkumpul dilobi untuk mengikuti apel pagi. Bima memimpin apel pagi saat ini dan Andini memasang sepatunya dan menyusup masuk kedalam barisan dibagian belakang.


Setelah apel pagi selesai Andini langsung cepat berlari dibelakang pegawai lain agar Bima tidak melihatnya.


"Dini.?" Teriak Bima saat melihatnya berlari. Dengan terpaksa Andini berhenti dan masih sangat malu untuk melihat wajah Bima saat ini.


"Iya pak." Andini membalikan badannya dan melihat Bima. Semua karyawan bisa melihat bunga-bunga cinta diwajah bos mereka saat melihat Andini.


"Sudah sarapan.?" Ucap Bima dan mengenggam tangannya.


"Pak, aku malu dilihat sama orang. Aku takut mereka berpikir buruk tentang aku."


"Sudah sarapan.?" Tanya Bima kembali dan berjalan sambil mengengam erat tangan Andini dan tak mengiraukan pandangan orang terhadapnya dan hanya Andini yang merasa malu dengan sikap bosnya itu.


"Belum pak."


"kamu lupa panggilanmu untukku.?" Ucap Bima.


"Mas maksudku." Andini masih malu rasanya dia ingin berlari keluar dari kantor itu.


Bima mengantar Andini sampai ke meja kerjannya.


"Aku akan membawakan sarapan untukmu."


"Tidak perlu pak, mas. Aku bisa membeli makanan sendiri." Andini berusaha menolak didepan karyawan lain yang sedang menguping pembicaraan dia dan Bima.

__ADS_1


"Calon istri." Bisik Bima ketelinga Andini lalu dia pergi meninggalkan Andini.


Andini tercengang dia tidak menyangka Bima akan senekat ini kepadannya dan menunjukan sifat romantisnya didepan orang banyak.


Andini menjadi bahan perbincangan dikantor karena kedekatannya dengan Bima. Bima tidak pernah berbicara sedekat itu kepada karyawan dikantor itu apalagi sampai menemui karyawam dimeja kerjanya.


"Sudah pacaran?" Tanya Alex tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Apa? nggak mungkinlah." Jawab Andini malu.


"Langsung nikah?" Ucap Alex.


"Aku nggak akan lama kerja disini Lex, aku akan balik kekampungku setelah uang tabunganku cukup. Tapi jangan bilang sama pak Bima kalau aku akan pergi." Ucap Andini.


"Kapan kamu balik ke kampung?" Tanya Bima memegang makanan ditangannya.


"Aku tinggal ada urusan mendadak." Ucap Alex.


"Kapan kamu akan balik kekampungmu.?" Bima masih berdiri dan meletakan makanan di atas meja.


"Setelah tabunganku cukup pak." Jawab Andini takut sambil menunduk


Bima menarik kursi dan duduk disamping Andini.


"Kamu yakin mau pulang kampung halamanmu..?" Ucap Bima.

__ADS_1


Semua karyawan pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka tapi mata mereka sesekali mencuri pandang dan menguping pembicaraan Bima dan Andini.


"Iya pak, aku nggak ada keluarga disini jadi untuk apa aku tinggal disini."


Bima menarik tangannya dan mengengam dengan erat.


"Aku ingin menjadi kepala keluargamu Dini."


"Apa.?" Dini tercengang.


"Aku ingin menjadi suamimu. Aku ingin menikah deganmu dan aku ingin kamu menjadi ibu dari calon anak-anaku." Ucap Bima sambil tersenyum.


"Tapi pak, aku tidak bisa."


"kenapa?"


"Aku tidak pantas bersanding untukmu mas. Aku wanita kampung dan dari keluarga biasa-biasa saja dan kamu sangat kaya raya. Aku tidak cantik dan kamu tampan jadi kita tidak akan bisa bersama.


"Aku suka padamu Andini."


"Tapi aku tidak mas." Jawab Andini.


"Tapi kemarin aku mendengarmu bahwa kamu suka kepadaku."


"Aku berbohong mas, jadi aku mohon jangan perlakukan aku spesial dihadapan karyawan lain karena aku tidak menyukainya."

__ADS_1


Karyawan lain tercengang mendengar bahwa bos mereka yang tampan dan kaya raya ditolak oleh wanita biasa dan tidak berpenampilan menarik seperti gadis kota lainnya.


Bima berdiri dan meninggalkan Andini begitu saja tanpa ada pamit. Andini menarik nafasnya dengan panjang lalu menghempaskan dengan kasar dia tidak sadar bahwa kata-katanya tadi telah menyakiti bosnya.


__ADS_2