CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 30


__ADS_3

"Apa yang aku jalani ini terkadang membuatku tidak percaya jika takdir bisa mempertemukanmu denganmu. Setelah begitu banyaknya cobaan berat yang aku jalani beberapa tahun ini ternyata Tuhan berkehendak lain. Andai bencana itu tidak ada pasti aku tidak akan bertemu denganmu, aku akan tetap berada dikampung halamanku tanpa harus jauh-jauh merantau. Mengapa aku baru menyadari jika dirimu begitu tampan sore ini, mengapa dadaku berdetak hebat saat didekatmu, mengapa rasanya aku ingin selalu memelukmu, apakah aku sudah sangat mencintaimu tuan Bisma? Kita tak begitu cocok jika dilihat dari paras wajah, kamu terlalu sempurna sedangkan aku terlalu sederhana untukmu. Kamu, ya kamu Bisma mengapa kamu ingin menikahi wanita sepertiku?" Andini menatap wajah Bisma yang sedang tertidur pulas karena kelelahan.


Dipakainya bajunya kembali lalu keluar dari dalam kamar dan membiarkan Bisma beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang mereka.


Saat dipintu kamar yang berhadapan langsung dengan ruang tamu seorang lelaki sedang duduk bersama mamanya. Mata mereka bertemu, Andini tak terkejut tetapi lelaki tersebut menunjukan raut kesedihan diwajahnya.


"Mama tinggal dulu Dini." Ucap mamanya keluar dari rasa canggung yang ada didalam ruangan itu.


Andini duduk sedikit berjauhan dari lelaki tersebut.


"Apa kabar?" Sapanya membuka percakapan.


"Seperti yang kamu lihat sekarang. Dari mana kamu tahu aku berada disini?" Jawab Andini ketus.


"Akun media sosialmu. Aku tidak sengaja melihat storymu tadi. Aku sungguh minta maaf, bukan maksudku untuk meninggalkanmu saat itu aku hanya.."


"Aku sudah menikah Pras." Andini memotong pembicaraan Pras.


"Tapi aku tidak percaya kamu sudah menikah." Sambung Pras.


"Sama, aku juga tidak percaya jika aku sudah menikah tapi itulah kenyataannya bahwa sekarang aku telah menjadi milik orang lain!"


"Tapi belum ada kata putus diantara kita Dini."


"Hahaha belum ada kata putus? Dan selama ini baru kamu mencariku? Aku mencari bantuanmu saat itu Pras tapi apa kamu pernah prihatin dengan keadaanku saat itu? Kamu malah menjauhiku Pras! Kamu sengaja menghindarinya saat aku dan keluargaku sedang terpuruk." Andini meninggikan nada suaranya.


"Tapi aku ingin kembali denganmu dan mengulangi masa indah itu Dini. Aku bisa memberikan apa yang kamu inginkan, aku punya tanah yang luas, aku punya mobil mewah, aku punya usaha yang bagus aku akan membahagiakanmu Andini. Aku mohon maafkan aku dan kembalilah seperti dulu." Ucap Pras tanpa ada rasa bersalah.


Rasanya aku ingin menamparnya dengan keras.


"Ehem." Suara berdehem. Bisma berdiri tegap didepan pintu kamar.


"Oh jadi dia yang merebutmu dariku? Aku tahu dia memang tampan tapi apa dia sekaya aku? Lihat mobilku sana pasti dia tidak memilikinya."

__ADS_1


"Istriku, siapa dia?" Bisma duduk disamping Andini lalu menciumnya.


Pras melotot melihat Bisma sesantai itu menciumi Andini dihadapan mantan kekasihnya.


"Bukan siapa-siapa suamiku." Jawab Andini.


"Oh bukan siapa-siapa?"


"Aku pacarnya Dini." Timpal Pras.


"Bukan su.." Andini mau memotong pembicaraan Pras tetapi Bisma sudah bersuara.


"Oh.. pacarnya? Ayo istriku kita masuk kembali kedalam kamar. Aku lagi ingin menciumimu diseluruh badan." Bisma menarik tangan Andini kedalam kamar.


Pras hanya bisa memukul meja yang ada didepannya lalu pergi dari rumah Andini.


Didalam kamar tatapan Bisma begitu menusuk saat mereka duduk saling berhadapan. Andini menunduk karena Bisma terus menatap penuh pertanyaan kepada Andini.


"Tidak ada hubungannya dengan Pras, suamiku. Aku dan dia telah lama berakhir!"


"Ini terakhir kalinya kamu pulang kekampung halamanmu!"


"Mas Bisma?" Andini merubah panggilannya lalu memeluk Bisma. "Aku minta maaf, aku tidak menyukainya. Aku mencintaimu dan dia hanya masa laluku. Dia belum menerima jika hubungan kami telah berakhir." Andini membenamkan wajahnya dia dalam dada Bisma. Bisma tersenyum ingin sekali dia tertawa melihat Andini yang berusaha membujuknya.


"Tapi aku sudah terlalu kecewa Andini. Lebih baik aku pergi dari sini." Bisma masih berpura-pura marah agar Andini lebih lama membujuknya.


"Mas Bisma aku mohon maafkan aku." Suara tangisan Andini telah terdengar didalam dada Bisma. Masih berada diposisi yang sama dengan memeluk Bisma dengan erat.


Rasakan itu, akhirnya kamu jatuh cinta dan tegila-gila denganku Andini. Hahaha aku tidak sanggup menahan tawa ini. Batin Bisma.


"Aku akan keluar untuk mencari udara segar. Rasanya dadaku sangat panas kali ini. ternyata ada maksud dibalik kepulanganmu kali ini. Bisma melepaskan tangan Andini dari tubuhnya. Sejak tadi Bisma ingin tertawa tetapi dia berusaha menahannya didepan Andini.


Andini tertunduk menangis karena Bisma tidak menghiraukannya. Bisma berpura-pura marah dan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Eh nak Bisma? Mana Andini? Maaf tangan bapak kotor." Papanya Andini menarik tangannya saat Bisma ingin bersalaman.


"Kak Bisma?" Sapa Dian adik Andini.


"Pasti pulang bawa ikan banyak?" Tanya Bisma.


Dian mengangguk. "Aku dan ibu akan memasak didapur untuk makan malam. Mana gadis malas itu? Suami kok dibiarkan sendiri." Kata Dian saat melihat kakaknya tidak berada disamping suaminya.


"Hehehe mungkin dia sedang lelah dan tidak ingin diganggu." Bisma hanya tersenyum karena dia tahu Andini sedang menangis didalam kamar.


Saat makan malam Bisma masih terlihat cuek dihadapan Andini.


"Udaranya sangat dingin ma." Bisma terlihat kedinginan.


"AC alami nak Bisma." Sahut papanya lalu mereka tertawa bersama kecuali Andini.


Setelah sholat berjamaah mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Berbeda dengan ibu kota, dikampung Andini jam sembilan malam sudah waktunya orang bersiap tidur. Kesunyian malam, dinginnya udara dan lelah saat bekerja di kebun dapat terbayarkan dengan menutup mata. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kendaraan membuat jam sembilan malam sudah sangat larut bagi mereka penduduk desa.


Ditempat tidur Bisma membalikkan badannya menghadap tembok.


"Mas aku minta maaf, aku tidak suka memanggilmu dengan sebutan suamiku. Aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan 'Mas'."


"Itu hanya alasanmu dan tidak ingin mengakui jadi suamimu." Bisma menjawab datar.


Andini memeluknya dari belakang "Aku mencintaimu mas Bisma. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Andini masih berusaha merayu Bisma.


Jangan memelukku Andini... rasanya aku tidak tahan untuk tidak menciummu.


"Mas Bisma?" Panggil Andini dengan lembut.


Bisma membalikan badannya karena tidak tega berlama-lama marah kepada Andini.


"Aku tidak marah, aku juga mencintaimu. Maafkan aku telah membuatmu menangis istriku. Aku tahu kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan lelaki itu. Jika dia datang lagi akau akan memberi pelajaran dengannya karen.." kata-kata Bisma terpotong saat bibirnya terbungkam oleh bibir Andini. Kecupan lembut Andini ciptakan hingga kesunyian malam membuat mereka kembali menyatukan tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2