CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 38


__ADS_3

Kepulangan mereka disambut gembira oleh bi Marni yang sedang duduk dikursi halaman rumah mereka. Raut wajah bi Marni nampak sangat bahagia melihat Andini sedang menatapnya dengan rasa rindu. Andini berjalan ke arah bi Marni langsung memeluk wanita yang terlihat banyak garisan diwajahnya karena usianya yang sudah menua.


"Aku merindukanmu bi." Ucap Andini seraya menyalami tangan bi Marni lalu mencium pipi wanita yang terlihat kuat tersebut.


"Bibi juga merindukan non Dini." Jawab bi Marni. "Masuklah, bibi masih ingin duduk menikmati suasana sore hari."


"Iya bi, aku juga membelikan beberapa oleh-oleh untuk bibi dan kedua gadis cantik itu (Siska dan Lili)" Andini lalu hendak masuk kedalam rumah setelah selesai bercengkerama dengan bi Marni.


Saat berada dipintu masuk suara klakson mobil terus berbunyi hingga Andini membalikkan badannya. Pak satpam baru selesai menutup pintu gerbang sedangkan sebuah mobil kini terparkir dihalaman rumah mereka. Bi Marni berdiri saat melihat wanita dengan menggunakan kaca mata itu turun dari mobil. Andini tidak begitu terkejut saat melihat wanita itu, dia bahkan melayangkan senyumannya ke arah wanita yang belum melepaskan kaca matanya.


Tak membalas senyuman yang Andini berikan wanita itu malah melangkah ke arah Andini berdiri. Kini mereka hanya berjarak begitu dekatnya saling berhadapan.


"Alhamdulilah mba Sarah sudah sehat." Kata Andini dengan tersenyum.


"Aku tidak perlu senyuman palsumu. Katakan kepada Bisma aku sedang mengandung anaknya." Sarah melantangkan suaranya.


Jawaban Sarah membuat Andini kehilangan pendengarannya sesaat. Seperti sedang disambar petir tubuhnya tak mampu mendengar kata-kata yang barusan dilontarkan oleh Sarah. Sarah tersenyum licik ke arah Andini yang sedang berdiri kaku.


"Haa..aku lupa jika aku salah menemui orang. Harusnya aku mengatakan ini kepada Bisma bukan kepada istrinya. Oh maaf aku tidak jadi menemui Bisma karena aku ada urusan mendadak. Kamu boleh tidak memberi tahunya kabar bahagia ini karena jika dia tahu aku sedang mengandung anaknya aku yakin dia akan kembali kepadaku! Bye." Sarah melambaikan tangannya lalu masuk kedalam mobil.


Saat Sarah pergi tubuh Andini roboh seketika didepan pintu, bi Marni langsung berlari dengan paniknya ke arah Andini jatuh. Satpam dari arah gerbang juga ikut berlari ke arah Andini tergeletak. Bi Marni berteriak hingga kedua asisten rumah tangga dan Bisma datang bersamaan. Bisma langsung mengangkat Andini masuk kedalam kamarnya. Wajahnya terlihat sangat panik melihat istrinya terbaring tak berdaya.


Bi Marni berada dibagian kepala dan kedua ART sedang memijat kaki Andini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi bi? Perasaan dia baik-baik saja setelah aku masuk kedalam rumah." Tanya Bisma.


"Bibi tidak bisa memastikan apa yang terjadi, saat Tn. Bisma masuk non Sarah juga memasuki area rumah ini. Saat turun dari mobil dia langsung menghampiri non Dini yang saat itu ikut menyusul Tn. Bisma masuk kedalam kamar."


"Apa yang dikatakan oleh Sarah bi?" Terlihat sangat marah, Bisma mengepal kedua tangannya.


"Bibi tidak bisa mendengar percakapan mereka Tn. Bisma." sahut Bi Marni juga terlihat sedih.


Mereka berempat duduk menunggu hingga Andini tersadar. Tak lama berselang Andini membuka matanya secara perlahan dan wajah Bisma yang langsung berada dipandangannya. Bisma meraih tangan Andini hendak menciumnya tetapi dengan cepat Andini menepis tangan Bisma.


"Aku ingin sendiri mas. Aku ingin istirahat." Andini memalingkan wajahnya kelain tempat agar matanya tidak bertautan dengan Bisma.


Bisma melirik asisten rumah tangganya agar mereka keluar dari kamarnya. Bisma ingin bisa leluasa berbicara dengan Andini. Mereka pergi tanpa Bisma harus mengatakan apa-apa.


"Aku mau cerai!" Jawab Andini dengan lantangnya.


"Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" Bisma masih berusaha tenang meredam amarah Andini.


"Dia hamil!" Masih menjawab Ketus tanpa memandang Bisma.


"Oh.. hamil? dia sudah menikah secara diam-diam?" Bisma masih mejawab dengan santai.


"Dia hamil anakmu mas!" Andini masih terlihat lesu.

__ADS_1


"Hamil anakku? hahaha Sarah, kali ini aku akan memukul kepalamu! hei sayang jadi kamu pingsan karena Sarah mengatakan aku menghamilinya?" Bisma masih tertawa sedangkan Andini kini lebih terlihat kesal.


"Kamu bahagia telah menghamili dia mas?" Andini melihat tajam.


"Tenang sayang, jangan menatapku seperti itu. Mengapa kamu sangat polos istriku? dia hanya mempermainkan kamu. Aku tidak pernah tidur dengannya walaupun itu hanya sekali. Jika dia hamil itu bukan anakku sayang."


"Bohong!"


"Serius sayang!"


"Kamu pasti berbohong mas!"


"Apa aku harus melaporkan dia kekantor polisi karena telah menganggu ketenangan hidupmu?"


"Kamu serius tidak menghamilinya mas?" Andini mulai tersenyum.


"Iya sayang, jika kamu tidak percaya kita akan bertemu dengannya secara langsung. Sarah memang seperti itu, dia hanya kesepian dan mencari perhatianku. Lihat saja beberapa hari lagi dia akan menelfonku atau menganggumu sayang." Sahut Bisma.


"Mengapa kamu membiarkan dia keluar masuk dengan bebas kedalam rumahmu mas?"


"Dia akan bosan dengan sendirinya sayang, biarkan saja dia. Sebenarnya hatinya baik hanya saja sikapnya terlalu kasar kepada orang. Dia juga gadis kesepian sama sepertiku maka dari itu biarkan saja dia sampai dia tahu bahwa aku tidak bisa lagi bersamanya."


"Mas maafkan aku karena membuat.."

__ADS_1


"Huss.. jangan mengatakan apa-apa lagi karena aku sangat mencintaimu!" Bisma mencium kening Andini.


__ADS_2