CINTA PENGGANTI

CINTA PENGGANTI
Episode 36


__ADS_3

Diluar sana hujan begitu deras, dinginnya udara luar menembus hingga kedalam ruangan tersebut. Disamping tempat tidur terdapat lampu tidur berukuran sedang dengan pancaran yang redup. Bisma meniupkan hembusan angin ketelinga Andini. Andini tersentak lalu dia menautkan matanya sejajar dengan mata yang tajam menyorot kearahnya. Bisma berada disampingnya mulai mendekatkan hidungnya ke arah leher yang putih bak susu yang begitu bersih. Satu tangannya menahan kepala Andini hingga bibirnya mulai menyentuh bibir wanitanya. Tak berhenti sampai disitu kini Bisma mulai menjelajahi sesuatu yang ada didalam lapisan tipis yang membalut tubuh ramping dan mulus itu.


Andini menggeliat seperti sedang tersiram sesuatu yang panas ditubuhnya. Bisma semakin bergairah mendengar desahan kecil namun terdengar sangat indah ditelinganya. Bisma mulai melepaskan bajunya dan melempar ke sembarang tempat tanpa mempedulikan dinginnya ruangan itu, Bisma melepaskan pakaian Andini secara perlahan hingga mereka kini tidak terbungkus sehelai kainpun.


Bisma memimpin permainan hingga terdengar suara desahan keras pada mereka berdua secara bergantian. Bisma ambruk disamping Andini sedangkan Andini dengan cepat menarik selimut menutupi tubuhnya yang mulai merasakan kedinginan. Bisma tersenyum dan kembali bangkit untuk mencium Andini dengan keringat yang berjatuhan dari rambutnya.


Dua insan itu lalu mulai mengatur nafas mereka dengan teratur. Senyuman mereka kembali terpancar saat mereka saling memandang dalam ruangan dengan cahaya redup. Bisma masih terkapar tak berdaya disamping Andini seperti orang yang kehilangan tenaganya untuk berjalan.


"Terima kasih Dini. Aku hanya bisa mengatakan itu setiap harinya kepadamu." Berbicara dengan nafas yang mulai teratur, Bisma masih menatap Andini.


Andini tersenyum, satu tangannya mengelus perutnya matanya kini tertuju kepada perut yang masih terlihat datar itu.


"Aku hampir melupakan bahwa ada dia diantara kita sayang." Kata Bisma kembali, tangannya juga saling menindih dengan tangan Andini.


"Apa sebaiknya kita tunda dulu bulan madunya hingga dia lahir mas?"

__ADS_1


"Aku sudah mengatur jadwalnya sayang, kita belum bisa pergi besok tetapi pekan depan waktu yang bagus untuk kita menikmati waktu yang panjang."


"Apakah ini tidak terlalu berbahaya pada kandunganku mas? Aku hanya khawatir karena ini kehamilan yang pertama untukku mas." Andini kini tidur di atas lengan Bisma sedangkan satu tangannya melingkar ditubuh Bisma.


"Kita akan pergi dokter spesialis kandungan, kita akan konsultasi terlebih dahulu. Aku juga tidak akan mengambil resiko jika itu membahayakan kamu dan calon bayi kita sayang.."


"Entah sejak kapan aku jatuh cinta pada lelaki dingin sepertimu. Dulunya aku berpikir kamu pria terjahat dimuka bumi tapi aku sekarang menarik kata-kata itu mas."


"Aku memang jahat, aku jahat karena bisa membuat wanita seimut kamu mencintaiku hehehe."


"Apa? Coba ulangi kamu mengatakan apa?"


"Itu.. aku Ingin sekali lagi melakukan itu!" Andini tersipu malu dengan ucapan yang dia lontarkan.


"Hahahaha ini bukan kamu kan Andini? Mengapa kamu jadi pintar merayuku!" Bisma tertawa dengan keras.

__ADS_1


"Sudahlah aku mau tidur jika kamu tidak ingin melakukannya." Ujar Andini membalikkan badannya membelakangi Bisma.


"Hahaha ayo lakukan." Bisma memeluknya dari belakang.


"Aku sudah tidak ingin melakukannya, aku sudah sangat malu mendengar tawamu."


"Ayolah sayang." Bisma memulai lagi sebuah kecupan lembut dibagian leher belakang Andini. Andini belum membalikkan badannya tapi sebenarnya dia sedang menggigit bibirnya mencoba menahan godaan Bisma yang kedua kalinya.


"Biar aku yang memulainya mas." Andini membalikkan badannya langsung mengecup bibir Bisma dengan lembut. Bisma melotot sempurna.


"Biarkan aku jadi wanita liarmu malam ini." Bisik Andini dengan pelan.


Bisma menahan tawanya melihat tingkah istrinya.


"Aku menyambut baik niatmu sayang." Ucapnya sambil menutup mata. Bisma membiarkan Andini menjadi wanita liarnya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2